
Sudah lebih dari 30 menit Kenzi tidak melepaskan pelukannya, ia masih ingin berada di dekat Miki sebentar lagi saja. Rasa rindu, khawatirnya belum menghilang sedikitpun, Kenzi bahkan ingin menangis karena melihat Miki terluka.
“ Aku baik-baik saja, jadi kamu berlatih dengan tenang tidak perlu memikirkan ku. “ ucap Miki menepuk punggung Kenzi perlahan, ia tahu alasan Kenzi datang kepadanya.
“ Tolong jaga diri kamu. “ Kenzi melepaskan pelukannya.
“ Tenang aku bukan anak kecil lagi. “ gerutu Miki.
“ Kalau begitu aku pergi lagi. “ kata Kenzi mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Miki. “ Terimakasih sudah baik-baik saja. “
“ Cowok itu. “ Miki tersenyum kecil karena melihat sikap hangat dari Kenzi.
9:00 a.m
Seluruh siswa-siswi sudah mulai bersiap-siap untuk pulang, begitu juga dengan Miki dan Hiro. Mereka berjalan berdampingan menuju bus, Miki bercerita tentang Anne, Yura, Aya dan Cha yang datang untuk meminta maaf.
Hampir semua Miki menceritakan kejadian kemarin, ia juga berkata bahwa sebenarnya Miki ingin bersikap jahat kepada mereka tapi tidak bisa.
Cerita itu membuat Hiro tersenyum kecil.
Dari dulu Hiro ingin sedekat ini dengan Miki, ia ingin mendengar keluh kesah Miki setiap saat. Tapi Hiro hanya takut bahwa ia akan meninggalkan Miki lagi dan membuatnya terluka lagi, maka dari itu Hiro membuat batas yang mungkin Miki akan terluka karena batas itu.
Meski sebenarnya Hiro tidak tahu apakah ia akan melepas batas tersebut atau tidak, jika perasaannya tidak bisa terbendung lagi mungkin saja Hiro akan memaksa melepaskan batas itu tidak perduli apa yang terjadi.
Saat Miki mencoba menaiki tangga bus, tiba-tiba saja lututnya terasa sakit yang membuatnya memberhentikan langkah kaki. Hiro yang berada di belakang Miki melihat gerak-geriknya yang berbeda, ia juga melihat lutut Miki yang kemungkinan juga terjadi cedera saat terjatuh.
“ Kamu baik-baik saja? “ khawatir Hiro.
“ Aku baik-baik saja. “ ragu Miki mulai berjalan kembali dan duduk di kursi sebelah Rei.
Cedera ini akan menjadi masalah apabila tim basketnya tahu, sakitnya mulai terasa. Dan rasa sakit itu terjadi karena jatuhnya Miki.
Tangan Miki bergetar ketakutan, ia takut bahwa Inter-high nanti Miki tidak bisa memaksimalkan kondisinya. Dan apalagi sebentar lagi akan ada pelatihan musim panas, ia tidak mungkin tidak ikut pelatihan tersebut.
Sementara itu, Hiro yang berada di depan Miki melirik kearah Miki dengan khawatir.
Selama perjalanan pulang menuju sekolah kembali, Miki tidak bisa berhenti memikirkan kakinya. Rasa sakitnya berbeda dengan yang kemarin, ini terasa sangat sakit sehingga Miki tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Aku harus bagaimana? Pikir Miki
Bus sudah sampai di depan sekolah, seluruh siswa-siswi mulai berjalan keluar dari bus sambil membawa barang-barang mereka.
“ Aku antar kamu pulang ya. “ pinta Hiro karena merasa Miki tidak baik.
“ Ah, aku tidak apa-apa. “ kata Miki mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Hiro.
Namun, ia tidak berjalan untuk pulang melainkan ke rumah sakit untuk memeriksa kakinya kepada Dr Kenichi dan untungnya saat ini Dr Kenichi tidak memiliki kunjungan pasien.
Tok-tok-tok
Ketukan pintu Miki yang disertai ucapan masuk oleh Dr Kenichi.
“ Miki, sekarang bukan jadwal kamu kunjung bukan? “ Dr Kenichi kebinggungan.
“ Tolong periksa kaki saya. “ kata Miki.
“ Kenapa kakimu? “ khawatir Dr Kenichi mendekati Miki dan mulai memegang lutut Miki yang terasa sakit.
“ Aw “ ringis Miki kesakitan.
“ Tidak, saya jatuh saat sedang camping. “ jawab Miki.
“ Ini berbahaya, cedera ini bisa menyebabkan penyembuhkan kakimu lama. “
“ Maksud Dokter? “
“ Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail, jadi bawa Ayahmu kesini dan bicarakan dengan saya untuk melakukan terapi. “
Setelah selesai berbincang sedikit bersama Dr Kenichi, Miki keluar dari rumah sakit dengan pandangan tertunduk. Ia tidak tahu bahwa jatuhnya dari lubang bisa menyebabkan cedera di lutut semakin menambah parah.
Begitu kesedihan Miki datang, hujan tiba-tiba menuruni tanah seakan-akan ia tahu bahwa Miki sedang bersedih.
Mungkin karena cedera ini, Miki bisa kehilangan cita-citanya menjadi seorang Atlet. Rintikan air mata menjatuhi pipi Miki disertai rintikan hujan.
Dan seseorang dari belakang terus memperhatikan punggung Miki, seseorang itu adalah Hiro yang sedari awal sudah mengikuti Miki.
Hiro mulai membuka payung dari tasnya dan berjalan menghampiri Miki sambil berkata dan menutup kepala Miki dengan payung miliknya. “ Kamu bisa sakit lagi. “
__ADS_1
“ Hiro? “ Miki kaget dan menghapus air matanya.
“ Jangan hapus air mata kamu, biarkan saja. “ ucap Hiro yang membuat Miki mulai menundukkan pandangannya.
Kata-kata seperti itu membuat Miki tahu seusaha apapun ia menutupnya pasti ada seseorang yang tahu.
Kemudian, hujan tidak lama berhenti. Air mata Miki juga sudah berhenti, Hiro mengajak Miki untuk berjalan-jalan dipinggir kota Tokyo.
“ Kamu tidak menanyakan aku kenapa? “ ujar Miki menghentikan keheningan antara mereka berdua.
“ Aku tidak akan bertanya, aku hanya akan menunggu kamu yang memberitahu aku. Karena mungkin kalau aku bertanya kamu tidak akan menjawab pertanyaanku, maka dari itu aku menunggu kamu yang berbicara kepadaku. “
“ Maaf aku tidak bisa memberitahu. “
“ Tidak apa-apa, tidak semuanya harus dikatakan sekarang juga bodoh! “
Teng-
Sebuah pesan masuk dari ponsel Hiro, ia segera membaca dari rumah sakit.
“ Maaf, sepertinya aku harus pergi. “ kata Hiro terburu-buru dan meninggalkan Miki sendirian lagi.
Punggung Hiro semakin lama semakin menjauh, Miki bahkan belum berterimakasih kepadanya.
“ Jadi dia meninggalkanmu lagi? “ suara perempuan dari belakang Miki, Miki membalikkan badan dan melihat Akemi yang berada tepat di belakangnya.
“ Kamu.... kenapa ada disini? “ tanya Miki.
“ Aku ingin pulang ke rumahku terlebih dahulu. “ jawab Akemi. “ Ngomong-ngomong, seberapa kamu suka dia Miki? “
“ Siapa maksudmu? “
“ Yang aku maksudkan adalah Hiro. “ Akemi berjalan mendekati Miki. “ Kamu sangat menyukainya? “
“ Itu bukan urusanmu! “ seru Miki menatap tajam Akemi.
“ Tapi aku hanya ingin memberitahu, sampai kapanpun. “
“ Hiro tidak akan berbalik menyukai kamu, karena dia memiliki batas sendiri. “
__ADS_1