Love Captain Handsome 2

Love Captain Handsome 2
26. Seseorang yang tidak diketahui


__ADS_3

Hembusan angin yang kencang, dan rintikan hujan yang menuruni bumi. Tapi pelukan Hiro sama sekali tidak dilepas meskipun hujan sudah begitu deras, pelukannya semakin lama semakin erat membuat Miki kesulitan bernafas.


Perkataan Hiro tentang “ Ibu, aku ada disini. Jangan menangis kembali, oke? “ membuat sikap Hiro berubah dalam sekejap. Dada Miki semakin sesak, ia memukul punggung Hiro agar melepaskan pelukannya.


“ Hi..roo... lee..passkan...aku..kessullitaan...ber..naa..fasss “ Miki dengan kesulitan berbicara. Lamunan Hiro buyar saat mendengar perkataan Miki, ia lupa bahwa yang di pelukannya ini bukanlah Ibunya melainkan Miki.


“ Maaf. “ Hiro merasa bersalah dan melepaskan pelukannya, sedangkan Miki mengatur nafasnya kembali yang terasa sangat sesak.


Lalu, tiba-tiba saja suara petir terdengar dan dengan cepat Hiro menutup tangannya keatas kepala Miki sambil bertanya. “ Kamu baik-baik saja? “


Terjadi keheningan sesaat, Miki yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Hiro hanya terdiam dengan jantung yang berdegup cepat sambil menatap Hiro.


Suara petir kembali terdengar dan hujan semakin deras membuat Hiro langsung menarik tangan Miki ke dalam mini market. Kedua tubuh serta baju mereka sangat basah, bahkan seragam Miki terlihat transparan karena terkena hujan yang begitu deras.


“ Pakai ini. “ Hiro melemparkan sebuah kaos bajunya ke wajah Miki agar ia mengganti bajunya dan memalingkan pandangannya. Miki melihat kearah tubuhnya yang terlihat transparan membuat Miki langsung menutup dadanya dengan kedua tangan. “ Tutup matamu! “ seru Miki.


“ Cepat ganti. “ Hiro tidak bisa terus memejamkan matanya. Miki berjalan mundur agar Hiro tidak memalingkan pandangan kearahnya. “ Jangan balik badan! “ tegur Miki ketakutan dan memasuki toilet untuk berganti baju.


Tidak butuh waktu lama, Miki sudah keluar dari toilet dengan kaos berwarna hitam milik Hiro. “ Ini besar sekali. “ keluh Miki karena baju yang dipakainya begitu besar.


“ Hahaha. “ tawa Hiro karena melihat tubuh Miki yang menjadi besar karena bajunya.


“ Jangan tertawa! “ kesal Miki dan langsung mengambil sebuah minuman hangat untuk diminumnya. “ Kamu akan bayar itu kan? “ Hiro ragu bahwa Miki tidak akan membayarnya.


“ Tentu saja! “


“ Ngomong-ngomong, kamu pakai baju apa? Kamu sepertinya tidak punya pakaian lagi? “ lanjut Miki yang melihat baju Hiro masih basah.


“ Aku pakai ini. “ Hiro mengeluarkan seragam sekolah yang masih utuh.


TIN-TIN


Suara klakson mobil dari luar mini market, terbuka jendela mobil yang terlihat Lim sedang menatap kearah Miki. Ia memberikan sebuah gerakan kepala yang menyuruh Miki untuk memasuki mobil.


“ Aish. “ keluh Miki yang langsung berpamitan kepada Hiro dan berjalan keluar untuk memasuki mobil Lim, ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah dari Ayahnya.


“ Untung dia sudah pergi. “ lega Hiro karena Miki yang sudah pergi, ia tidak bisa menahan wajahnya yang memerah dan jantungnya yang berdetak cepat saat Miki berada di dekatnya.


......


8:30 a.m


“ Hachim... “ Miki yang terus bersin-bersin sepanjang perjalanan ke sekolah. Kenzi yang khawatir langsung memegang dahi Miki yang terasa panas. “ Badan kamu panas, kamu sakit? “ tanya Kenzi khawatir.


“ Aku tidak apa-apa. “ jawab Miki melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah.


Sejak kemarin terkena hujan, kondisi tubuh Miki tidak seperti biasanya. Kepalanya berat, suhu tubuhnya tinggi dan Miki selalu bersin-bersin.


“ Ohayo, Miki! “ sapa Rei dari depan kelas Miki. “ Ohayo, Rei. “ Balas Miki dengan suara tersumbat dan langkah kakinya terhenti saat melihat Hiro yang tengah tertidur di dalam kelas.


“ Hari ini kamu latihan? “

__ADS_1


“ Iya, aku latihan “


“ Mari kita la.. “ kesenangan Rei berhenti ketika Kenzi datang dari arah belakang Miki. “ Aku ke kelas dulu, Miki. “ Rei yang menundukkan pandangan dan memasuki kelasnya yang berdampingan.


TENG-NENG-TENG-NENG


Bel masuk berbunyi, seluruh siswa-siswi mulai duduk di bangku masing-masing dan guru pelajaran pertama dari kelas 2-1 sudah memasuki kelas, Yoshioka membawa tumpukan kertas memasuki kelas 2-1.


“ Ohayo anak-anak! “ ucapnya di pagi yang cerah.


“ Ohayo! “ ujar siswa-siswi kelas 2-1 bersamaan.


Tanpa terduga dan secara tiba-tiba, Yoshioka membagikan sebuah kertas ulangan kepada siswa-siswi kelas 2-1 untuk mengetes kemampuan murid-muridnya dan tes ini termasuk ulangan harian.


“ Sensei, ini apa? “ Kenzi mengangkat salah satu tangan keatas dengan kebinggungan.


“ Jadi, hari ini Sensei akan memberikan tes kemampuan matematika kalian sejauh mana. Sensei membuat tes ini karena sebentar lagi ujian mid semester akan dimulai, jika ada yang dapat nilai dibawah, Sensei akan membuat kelompok belajar untuk pelajaran matematika agar saat ujian tidak ada lagi yang mengikuti pelajaran tambahan. Lagipula, untuk para club olahraga sebentar lagi akan ada Inter-high bukan? Berarti kalian harus belajar dengan keras agar tidak mengikuti pelajaran tambahan. “ papar dari Yoshioka yang membuat seluruh siswa-siswi mengeluh.


Bagi Miki, tes seperti ini adalah neraka. Dia tidak pernah mengerti satu materi pun tentang matematika, dan lebih buruknya lagi kondisinya yang tidak sedang dalam suasana yang menyenangkan untuk mengerjakan soal secara asal-asalan.


“ Oke, silahkan diisi waktu kalian hanya 60 menit dalam 60 soal. “ kata Yoshioka sambil menyalakan alarm dalam handphonenya.


Para siswa-siswi pun mulai mengerjakan soal dengan sunyi, berbeda dengan Miki yang hanya memperhatikan soal-soal. Hanya dengan melihat soal Miki juga sudah tahu bahwa ia tidak akan bisa mengerjakan soal tersebut.


“ Sudah logika saja. “ Miki yang asal mengerjakan soal.


60 menit kemudian.


Alarm dalam handphone Yoshioka sudah berbunyi, Yoshioka segera mengambil kertas dari meja murid-murid kelas 2-1 dan memeriksa hasil dari tes tersebut.


Lalu, Yoshioka memberikan nama-nama untuk 5 kelompok belajar yang terdiri dari :


Kelompok 1 : Takehsi, Kuroko, Futaba, Keana, dan Yuri.


Kelompok 2 : Tashiro, Mira, Mai, Mabuchi dan Kise


Kelompok 3 : Akira, Nikki, Kenzi, Tanaka dan Ryota


Kelompok 4 : Sana, Chie, Asumi, Midorima dan Daiki.


Kelompok 5 : Hiro, Makoto, Akashi, Miki dan Makuta.


Diharapkan untuk minggu depan, setiap kelompok akan mendapatkan nilai yang bagus dan saat ujian yang akan datang 4 minggu kemudian, kelas 2-1 tidak ada satupun yang mengikuti pelajaran tambahan.


Dan kelompok tersebut pun untuk pelajaran lainnya agar lebih mudah tanpa membebani murid-murid karena memiliki banyak kelompok.


Yoshioka juga sudah memerintahkan untuk duduk perkelompok sehingga seluruh kelompok duduk bersama dengan anggota kelompok masing-masing, Kenzi yang merasa tidak suka dengan kelompoknya mengangkat salah satu tangannya keatas.


“ Saya tidak suka dengan kelompok ini Sensei. “ kata siswa-siswi kelas 2-1 bersamaan karena sudah mengetahui apa yang akan diucapkan oleh Kenzi.


“ Sudahlah kamu terima saja, kamu selalu menolak kelompok apabila tidak sekelompok dengan Miki. Memang kamu siapa dia selalu ingin bersama dengannya? Kamu pacarnya? “ tegur Yoshioka yang membuat Kenzi melipat bibirnya dan menoleh kearah Miki yang hanya memalingkan pandangan tidak ingin ikut campur.

__ADS_1


“ Terima saja, bodoh! “ kesal Akira. “ Ehem. “ Kenzi berpura-pura batuk sambil duduk kembali mengurungkan niatnya untuk berbicara.


“ Jadi, kita mau kerja kelompok dimana? “ Makoto berbicara lebih awal dalam kelompok 5.


“ Di perpustakaan, hari ini bagaimana? “ ide dari Makuta.


“ Jangan hari ini, aku ada latihan. “ Akashi menolak.


“ Iya, hari ini aku juga ada latihan. “ Miki ikut nimbrung.


“ Kalian pulang latihan jam berapa? Kalo bisa, bagaimana kalau di tempat kerjaku? “ saran Hiro.


“ Kamu sudah kerja? “ Makuta, Akashi dan Makoto terkejut, terkecuali Miki yang sudah tahu. Hiro menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menjawab. “ Iya, kerja part-time. “


“ Ohh. “ kata Makuta, Akashi dan Makoto bersamaan.


“ Kalau begitu, kita disana saja. “ Makoto menerima ide dari Hiro. “ Oke. “ Makuta, Akashi dan Miki juga setuju.


........


8:00 p.m


Langit sudah gelap, udara semakin dingin dan jalanan sudah sepi karena para pekerja, siswa-siswi atau lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing.


Sedangkan untuk kelompok 5, mereka masih menyelesaikan soal yang diberikan Hiro kepada Makuta, Akashi, Makoto dan Miki.


Jika mereka tidak bisa menjawab, ke empatnya tidak diizinkan pulang terlebih dahulu dan untuk Hiro hanya melayani pembeli sambil memperhatikan mereka berempat.


Soal yang diberikan Hiro sebanyak 30, dan waktu sampai dia pulang bekerja. 2 jam lebih, ke empatnya masih belum bisa menyelesaikan soal tapi ada satu orang yang sudah menyelesaikan soal tersebut yaitu Akashi.


Selanjutnya yang sudah menyelesaikan adalah Makuta, dan terakhir Makoto. Setelah seluruhnya selesai yang tersisa hanyalah Miki, pekerjaan Hiro juga sebentar lagi sudah akan selesai dan ia sudah harus pulang.


Sebelum pulang, Hiro melihat hasil-hasil dari kelompoknya dan nilai yang terbesar hanyalah 50 dari Akashi. “ Miki, kamu sudah selesai? “ tanya Hiro sambil menolehkan kepalanya kearah Miki.


Bukannya mengerjakan soal, Miki tidur dengan tangan yang berada di atas meja dan tasnya dijadikan bantalan untuk kepalanya.



“ Miki, kamu tidur? “ Hiro mencoba membangunkan Miki tapi tetap saja Miki tidak kunjung bangun.


Lalu, Hiro memegang wajah Miki yang terasa sangat panas dan keringat yang bercucuran di wajahnya.


“ Kamu sakit? “ Hiro khawatir dan tanpa basa-basi ia langsung menggendong tubuh Miki di belakang punggunya dan Miki memeluk leher Hiro dengan tubuh yang terasa tidak nyaman.


“ Aku bawa ke rumah sakit. “ ucap Hiro sambil berlari menggendong Miki.


“ Tidak, bawa aku pulang saja! “ ujar Miki setengah sadar.


Hiro tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Miki, ia berlari membawa Miki yang setengah sadar di punggungnya menuju rumah Miki.


Sampai akhirnya Hiro sampai di depan rumah Miki.

__ADS_1


Namun, Kenzi sudah berada di depan rumah Miki dengan tangan yang terlipat di dada. “ Kenapa kamu menggendong dia? “ sinis Kenzi.


Ketika Kenzi mencoba untuk mengambil Miki dari belakang punggung Hiro, tapi Hiro membalikkan badannya kearah Kenzi sambil menatap tajam kearah Kenzi dan berkata. “ Diam ditempat! “


__ADS_2