
Surat yang diberikan Miki kepada Hiro membuat hatinya goyah, ia tidak tahu harus pergi atau tetap menetap disini? Tapi jika seperti itu, Ibunya akan terluka lagi.
Jadi tidak mungkin bagi Hiro untuk berada disini untuk Miki dan tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah ide bagus sebagai “ Perpisahan “ keduanya.
Dengan senyum kecil, Hiro memasukan surat yang diberikan Miki ke dalam saku untuk ia jaga baik-baik.
TENG-NENG-TENG-NENG
Bel masuk berbunyi, Hiro berjalan memasuki kelas dan melihat wajah Miki yang tampak memerah saat ia tengah menatapnya diam-diam.
Tak lama kemudian, Guru datang dan memulai pelajaran kembali. Seperti biasanya lagi, Miki tertidur dengan lelap di atas meja.
Sedangkan Hiro hanya menahan tawa melihat wajah Miki yang tertidur, mungkin nantinya Hiro tidak akan bisa melihat Miki lagi.
Benar, ia harus memandang Miki sampai puas.
Puas? Itu tidak mungkin.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, seluruh siswa-siswi sudah keluar dari kelas dan membiarkan Miki tertidur di dalam kelas sendirian karena perintah dari Guru yang menyuruh untuk tidak membangunkan
Miki sedikit pun.
Jika ada yang membangunkan, ia akan mendapat hukuman yang sama dengan Miki yaitu membersihkan kamar mandi.
Lalu, sebuah lagu yang terdengar sangat kelas membangunkan Miki. Ia membuka matanya dengan malas sambil memperhatikan kelas yang isinya sudah kosong.
Tapi tiba-tiba saja Miki terkejut karena Hiro berada di kirinya dengan wajah yang sangat dekat. Seketika jantung Miki langsung berdebar dengan sangat kencang, pipinya juga memerah karena kedekatan
antaranya dengan Hiro.
“ Kamu sudah bangun? “ tanya Hiro membuat mulut Miki mengaga tidak percaya kalau dia yang mengajak Miki berbicara pertama kali, melihat Miki yang masih tidak berbicara sedikit pun Hiro mengeluarkan surat dari kantongnya. “ Ini milikmu, bukan? “
“ Hei. “ Miki ingin mengambil dari tangan Hiro, tapi Hiro langsung mengangkat tangannya ke atas sehingga Miki tidak bisa sedikitpun mengambilnya.
“ Apa ini? Aku mencintaimu “ ledek Hiro beranjak dari kursi dengan wajah menjengkelkan, Miki yang malu terus mengejarnya.
Namun, Hiro mendorong tubuh Miki ke dinding dan menaruh kedua tangannya di sela-sela kepala Miki. “ Hiro? “ gugup Miki.
“ Besok, mari berkencan denganku. “ ajak Hiro tepat ditelinga Miki, mata Miki melebar disertai dengan perasaan bahagia.
Suratnya tersampaikan tepat dihati Hiro, ia snagat bahagia sampai tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
“ Jadi bagaimana? “ Hiro menatap mata Miki, Miki mengangguk-anggukan kepala dengan mata berkaca-kaca dan memeluk tubuh Hiro dengan sangat erat. “ Terimakasih. “
Senyum kecil Hiro terpampang dari wajahnya, kencan ini mungkin akan menjadi kenangan terakhirnya antara Hiro dan Miki.
“ Maafkan aku. “ ucap Hiro dengan nada rendah dan membalas pelukan Miki dengan sangat erat.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, Miki yang sudah menggunakan baju sabrina berwarna putih, sendal tali berwarna hitam, rok mini hitam dan tas selempang biru. Pakaian yang tampak seperti seorang perempuan aslinya.
Iya, Miki juga bertanya kepada Ibunya terlebih dahulu.
Miki dan Hiro bertemu tepat di halte bus, karena terlalu senang Miki datang lebih awal dari perkiraan begitu juga dengan Hiro yang datang tidak lama setelah Miki datang.
Pakaian yang digunakan Hiro adalah sweater putih, celana jeans dan sepatu putih. Sangat cocok dan berbeda dari Hiro biasanya, apalagi rambut Hiro yang tampak lebih rapih daripada sebelumnya.
Mata Miki berkilat sangat terpukau dengan ketampanan Hiro, sedangkan Miki masih terlihat seperti seorang wanita tomboy.
“ Kamu cantik. “ puji Hiro yang membuat pipi Miki memerah.
Ada apa dengannya? Kenapa ucapan Hiro selalu membuat jantungnya berdebar?
“ Kamu juga tampan. “ balas Miki.
Tidak lama kemudian bus datang, keduanya pun langsung menaiki bus bersamaan untuk menuju Tokyo Dome City. Sebuah tempat bermain yang paling disukai banyak anak muda, kalau kata orang Indonesia adalah Dufan.
Sampainya disana, seluruh pengunjung sudah mengantre ramai untuk memasuki Tokyo Dome City. Miki dan Hiro harus menunggu selama 1 jam untuk memasuki tempat bermain tersebut.
Dan sebelum menunggu, keduanya bermain Oyayubi Game atau Pertarungan Ibu Jari, permainan yang menggunakan Ibu jari.
Permainan ini adalah mengangkat Ibu jari dengan menebak total jumlah Ibu jari yang diangkat, jika jumlahnya tepat, maka satu tangan diturunkan dan orang yang paling dulu menurunkan kedua tangannya dinyatakan menang.
“ Kalau orang yang kalah harus mencium orang yang menang, deal. “ lanjut Hiro membuat Miki mengigit bawah bibirnya tidak ingin kalah.
Rasanya akan pasti sangat malu kalau harus mencium Hiro di depan banyak orang seperti ini, dan 2 pertandingan Miki kalah. Ia mencium pipi kanan, kiri Hiro yang membuatnya sangat malu karena diperhatikan banyak orang disekitar.
Pertandingan ketiga, Miki kalah dan mencium dahi Hiro.
Pertandingan keempat, Miki kalah lagi dan mencium
hidung Hiro.
Sedangkan Hiro merasa sangat bahagia karena bisa dicium oleh Miki.
Dan pertandingan kelima, Hiro kalah dan langsung mengecup bibir Miki lama yang membuat mata Miki membulat terkejut.
“ Aku kalah. “ Hiro melepaskan kecupannya dan tersenyum bahagia.
Seluruh orang memperhatikan kearah keduanya, Miki yang tampak malu memalingkan kepalanya tanpa ingin menatap mata Hiro yang terlihat sangat bahagia.
1 jam telah berlalu, Miki dan Hiro sudah memasuki tempat bermain tapi bukannya bermain mereka hanya melihat kearah kanan-kiri tanpa ingin menaiki satu wahana sedikitpun karena ketakutan mereka.
Dan pada akhirnya, keduanya hanya berjalan, makan, berfoto, menonton 3D saja. Tidak menaiki wahana yang menyeramkan sedikitpun.
__ADS_1
Kemudian, sebagai kencan akhir mereka dengan langit yang gelap mereka menaiki Ferris Wheel. Pandangan kota Tokyo yang ramai dan lampu-lampu yang mulai menerangi jalanan tampak sangat memukau.
“ Miki. “ Hiro berpindah duduk menjadi di samping Miki saat sudah berada di puncak Ferris Wheel yang sangat tinggi. “ Kamu tahu legenda Ferris Wheel? “
“ Huh? Apa itu? “ Miki tidak tahu apa-apa tentang legenda lama.
“ Katanya, jika kedua pasangan berciuman di puncak tertinggi dari Ferris Wheel... “ Perkataan Hiro terhenti sesaat, ia mengusap wajah Miki dengan tatapan sayu berharap bahwa waktu diberhenikan saat ini.
Seketika Hiro mencium lembut bibir Miki, Miki yang memejamkan mata dan membalas ciumannya.
Setelah keduanya merasa sesak karena tidak bernafas, mereka melepaskan ciumannya dan membuka mata satu sama lain dengan nafas yang bersahutan.
Senyum bahagia Miki terlihat, kini mereka seperti sepasang kekasih yang habis menjauh. Lalu, Hiro kembali mencium bibir Miki dengan sebuah kecupan singkat sebelum akhirnya mendekap tubuh Miki ke dalam pelukannya.
“ Akan bahagia selamanya. “ lanjut Hiro yang memeluk dengan sangat erat.
Perasaan ini, ia tidak ingin Miki nantinya akan melupakan dia. Hiro tidak ingin Miki akan melepaskan dia, dan bersama dengan pria lain.
Namun, takdir memang sudah berjalan seperti ini.
Kedua orang yang saling mencintai tapi tidak bisa bersatu, rasanya ironis sekali.
....
Setelah kencan Miki dan Hiro, Hiro tidak masuk sekolah dengan alasan izin mengantar Ibunya pergi untuk ke rumah sakit dan Miki percaya, ia bahkan tersenyum tanpa sedikit mengetahui bahwa hari ini adalah kepergian Hiro.
Tapi Kenzi merasa aneh, ia berjalan keluar dari kelas dan tidak sengaja melihat Hiro yang memasuki ruang guru.
Dengan diam-diam Kenzi mendengar pembicaraan Hiro dan Yoshioka yang mengatakan bahwa hari ini ia akan pergi ke New York, ia juga tidak ingin berpamitan kepada banyak orang karena Hiro tidak ingin melihat Miki lagi.
Sebab, jika semakin lama Hiro melihatnya perasaannya akan meminta dirinya untuk tetap menetap disini.
Mendengar pembicaraan tersebut, Kenzi mengepalkan tangan dan menundukkan kepala. Betapa bodohnya Hiro karena melukai Miki untuk sekian kalinya, terlebih meninggalkan Miki tanpa berkata apa-apa.
Kreak-
Pintu terbuka, Hiro keluar dari ruangan dan kaget melihat Kenzi berada di hadapannya.
“ Kenapa disini? “ tanya Hiro kebinggungan.
“ Kau.. ingin melarikan diri? Hahaha. “ Kenzi mendesah kesal. “ Kau ingin meninggalkan Miki? “
“ Bukannya itu bagus? Kau mendapat kesempatan banyak untuk mendekati Miki. “ jawab Hiro dengan pandangan tertunduk.
“ Apa tidak apa-apa? kalau kamu pulang dan Miki sudah menjadi milikku? “
Tidak ada jawaban sedikitpun, Kenzi berdesis. “ Berhenti melarikan diri. “
__ADS_1
“ Aku tidak melarikan diri. “ kata Hiro berjalan melewati Kenzi dan menepuk pundaknya sambil berkata. “ Jaga Miki baik-baik! “