
Hujan tiba-tiba turun menjatuhi bumi, tanah mulai basah dan tetes air mata menjatuhi pipi Miki.
Pikirannya kacau karena perkataan Hiro “ Selama ada aku disisi Miki, tidak boleh ada yang mengganggunya sedikitpun! “
Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dipikiran Hiro, tadi pagi berkata seakan-akan tidak memperdulikan Miki tapi berbicara kepada Kariu seakan-akan ia sangat memperdulikan Miki lebih dari siapapun.
Sebenarnya apa mau Hiro kepadanya?
Terlebih ternyata orang yang menaruh kalung, gelang dan uang Akira ke lokernya adalah Kariu. Apa dia ingin membalas tindakan temannya melalui Miki?
Langkah kaki Miki terhenti di depan rumah, ia melihat Kenzi yang berdiri di depan rumahnya dengan memakai payung dan baju olahraga.
“ Hei, kenapa kamu hujan-hujanan? “ khawatir Kenzi mendekati Miki dan memayunginya agar tidak terkena hujan.
Suara rintikan hujan membuat Miki memeluk Kenzi seketika. “ Maaf, bajumu ikut basah. Sebentar saja. “
Pelukan Miki semakin erat, Kenzi ingin membalas pelukannya tapi tangannya memegang gagang payung. “ Masuk ke rumahku, hujan semakin deras. “
“ Kenapa aku harus ke rumahmu? “
“ Masalahnya adalah Ibu dan Ayahmu yang menyuruhnya, mereka tidak dirumah dan tidak menitipkan kunci. “ jawab Kenzi, Miki tidak punya pilihan lain selain ke rumah Kenzi yang kosong tanpa ada orang sedikitpun.
Karena orang tua Kenzi dan orang tua Miki sedang melakukan tamasya bersama.
Sudah tua, masih jalan-jalan.
Dengan memakai baju Kenzi, Miki berganti dengan pakaian sepak bola dari tim Barcelona. Sedangkan Kenzi memakai kaos polos hitam dan celana pendek hitam.
Keduanya sudah mandi dan berganti pakaian, Kenzi sudah menyiapkan ramen untuk menghangatkan tubuh Miki karena sedari kecil jika Miki kehujanan ia selalu ingin memakan ramen sebagai penghangat tubuh.
“ Terimakasih. “ ucap Miki duduk di meja makan bersama Kenzi, ia mulai melahap ramen.
Tangan Kenzi terkepal, emosinya bergejolak karena merasa bodoh tidak mempercayai Miki sedikitpun. “ Maaf. “
“ Hm? “
“ Maaf, karena awalnya aku tidak mempercayaimu. “ ucap Kenzi yang membuat Miki memberhentikan makannya dan menatap Kenzi. “ Tidak apa-apa, wajar saja kok. “
“ Tidak, bagaimana bisa seorang teman kecil tidak mempercayai temannya sendiri? Sangat memalukan. “
“ Kalau aku bilang, aku memang melakukannya bagaimana? “
Mata Kenzi melebar, tidak Miki hanya mengetesnya saja.
Ting-nong
Bel rumah Kenzi berbunyi, ia membuka pintu dan melihat Riyo yang sudah datang. “ Kakak Miki! Aku dingin! “
__ADS_1
“ Riyo? Cepat mandi air hangat! “ seru Miki menghampiri Riyo.
“ Kakak buatkan ramen ya? “ Riyo menuju kamar mandi milik Kenzi untuk menghangatkan tubuhnya terlebih dahulu. “ Maaf ya, jadi merepotkanmu. “ ucap Miki merasa tidak nyaman.
Maaf? Batin Kenzi.
Padahal hal seperti ini sudah sering terjadi, dan Miki tidak pernah meminta maaf sekalipun malah ia terus merepotkan Kenzi. Tapi kenapa sekarang Miki meminta maaf? Apa ia membuat jarak antara keduanya?
Tidak lama kemudian, Riyo sudah selesai mandi dan memakan ramen ditemani Miki dengan tatapan sendu.
“ Ka? Bagaimana permasalahan di sekolah? “ tanya Riyo.
“ Tenang saja, Ayah dan Ibu sangat hebat. “ jawab Miki.
“ Benarkah? Lagipula aku mempercayai Kakak, sejelek apapun kakak. Kakak tidak akan melakukan hal seperti itu, hanya orang bodoh saja yang mempercayainya. Benar kan Kak Kenzi? “
Perkataan tersebut tertusuk tepat di hati Kenzi, iya dia orang bodoh tidak mempercayai Miki.
Saat seluruh orang menjauhi Miki, ia juga menjauhinya.
Payah.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Riyo tidur di ranjang bersama Kenzi sedangkan Miki masih belum tertidur. Ia masih memeluk lututnya dengan menahan tangis agar tidak membangunkan Riyo ataupun Kenzi.
“ Ha.ha.. “ isak Miki pelan, saat Kenzi mencoba untuk menghampiri Miki lengannya tertahan oleh Riyo yang menggeleng-gelengkan kepala dan berkata dengan nada sangat pelan. “ Jangan biarkan Kaka dulu saja. “
Dulu, Ibunya juga seperti itu dan dapat bertahan.
Tapi ternyata lebih menyakitkan daripada yang Miki duga.
Tangan Kenzi terkepal kuat, ia tidak bisa melihat Miki menangis sendirian seperti ini lagi.
Keesokan harinya.
Bersamaan dengan Kenzi, Miki memasuki gedung sekolah. Belum saja sampai di depan kelas, banyak orang yang sudah membicarakan.
Tiba-tiba saja seseorang menaruh headphone di telinga Miki dan menggengam jemari tangannya memasuki kelas.
Dia adalah Hiro.
“ DIAM DISINI! “ teriak Hiro di depan wajah Miki, menaruh Miki di kursinya. “ TIDAK BOLEH DIBUKA! “
Hari ini adalah hari terakhir rapat displin, jika Miki memang terbukti salah ia akan dikeluarkan dari sekolah. Akira mengigit bawah bibirnya merasa sangat gelisah dan cemas tidak tahu harus apa.
Dilain sisi, Kariu menundukkan pandangannya karena Hiro mengetahui bahwa ia yang menaruh kalung, gelang dan uang Akira ke loker Miki.
Tetapi bukan karena dia juga ingin, Kariu ingin menyelamatkan dirinya lagi.
__ADS_1
Cukup sekali saja orang-orang menjatuhkannya.
TENG-NENG-TENG-NENG
Bel masuk berbunyi, Yoshioka sudah datang memasuki kelas dan berkata “ Miki, Akira, Kariu ke ruang rapat. “
“ Iya. “ Miki melepaskan headphone dan beranjak dari kursi menuju ruang rapat.
Kini adalah hari terakhir dari rapat disiplin, Kepala sekolah dan guru-guru akan menanyakan terakhir kali kepada Miki apakah dia salah atau tidak.
Terdapat banyak Guru, Kepala sekolah, dan wali murid dari Akira yaitu Ayana dan Nobu.
Mereka harus mengetahui tentang kelanjutan dari kasus ini, Miki duduk di hadapan Guru, Kepala sekolah dan wali murid. Sedangkan Akira, Kariu berdiri di dekat pintu yang ditemai Yoshioka.
“ Jadi saya bertanya untuk terakhir kali, apakah kamu mencuri kalung, gelang dan uang Akira atau tidak? “ tanya Kepala sekolah.
Kepala Miki tertunduk, ia mempertemukan kedua tangannya gelisah. “ Saya melakukannya, saya mencuri perhiasan Akira. “
Seluruh orang disana langsung terkejut tidak percaya, terlebih Akira dan Kariu. Mereka tidak mengerti apa maksud dari perilaku Miki yang tiba-tiba mengaku padahal jelas-jelas tidak melakukan kesalahan.
“ Miki!! “ seru Akira.
“ Sebelum itu, saya ingin mengatakan ini. Saya pernah berkata kepada Kariu perkataan paling mengerikan sedunia. “ Miki menatap Kepala sekolah. “ Aku bukan temanmu lagi. “Tubuh Kariu bergetar, perkataan yang membuatnya teringat Asuka.
“ Perasaan disaat semua orang di kelas membenci saya, mungkin adalah hal paling mengerikan di dunia. Saya sangat mengerti bagaimana rasanya. “ kata Miki membuat mata Kariu berkaca-kaca. “ Hanya satu orang yang kubutuhkan, tidak banyak. Kenapa tak seorang pun di sampingku? “
“ Saya yang mencuri uang Akira, jadi jangan permasalahkan dengan Kariu yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Maaf atas kelancangan saya. “ papar Miki berdiri dan menundukkan kepala hormat dengan lama, lalu menegakkan tubuhnya lagi sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Ketika keluar, terdapat banyak orang yang sudah mengumpul disana. Miki mengigit bawah bibirnya menahan tangisnya, ia melihat Kenzi yang berdiri dari jauh menatap Miki.
“ Dasar pencuri. “
“ Pergi kau! “
“ Pencuri!! “
“ Tidak tahu malu! “
“ Buat apa datang ke sekolah?! “
Miki melangkahkan kaki, dan orang-orang mulai melemparkan telur ke wajah serta tubuhnya. Namun, dengan cepat Hiro berlari dan memeluk tubuh Miki agar lemparan telur tersebut tidak mengenai Miki.
Hiro membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk dari orang-orang, punggungnya terasa sangat sakit. Miki meremas jaket Hiro dengan air mata yang menjatuhi pipinya, “ maaf Hiro.”
“ Tidak apa-apa, aku akan melindungimu. “
__ADS_1
Terimakasih, Hiro.