Love Captain Handsome 2

Love Captain Handsome 2
7. Hai


__ADS_3

Bunga sakura yang terlihat indah dan wajah seorang lelaki yang bernama Hiro membuat musim ini semakin indah. Sebenarnya, sejak pertemuan Miki dan Hiro kedua kalinya. Miki sudah menyukai Hiro pada pandangan pertama, tapi ia selalu mengelak perasaannya sendiri dan berkata bahwa dirinya sama sekali tidak menyukai Hiro.


Perasaan itu hanyalah sebuah perasaan kagum saja dengan ketampanan yang dimiliki oleh Hiro, setiap perempuan pasti akan jatuh cinta bukan kepadanya? Karena ia memiliki senyum yang sangat manis dan Miki menyatakan bahwa rasa sukanya itu adalah hanya perasaan kagum saja.


Namun, dalam satu sisi Miki merasa bahwa Hiro adalah lelaki yang sama dengan anak lelaki yang ia temui di New York dan karena alasan itulah yang membuat Miki penasaran dengan Hiro.


“ Miki. “ sapa Hiro membuat lamunan Miki buyar dan langkah kaki Kenzi yang terhenti.


“ Hiro “ sahut Miki. Kenzi memundurkan langkah kakinya dan menoleh kearah Miki sambil berbisik “ Dia siapa? “


“ Kamu sudah pulang sekolah? “ tanya Hiro.


“ Memang kamu tidak pulang? “ Miki bertanya balik.


Hiro menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menjawab “ Aku bosan, jadi tidak ingin pulang dulu. “


“ Ngomong-ngomong, aku dan Kenzi akan makan siang terlebih dahulu, kamu ingin ikut? “ ajak Miki kepada Hiro. Kenzi menyikut lengan Miki perlahan “ Miki, apa maksudnya ini? “


Hiro memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana dan melangkahkan berjalan melewati Miki. “ Maaf, aku tidak bisa lain kali saja. “


“ Iya, tidak apa-apa “ jawab Miki tanpa membalikkan tubuhnya. “ Tch. “ desis Kenzi tidak suka melihat Hiro yang begitu sombong.


“ Sudah, tidak usah dipikirkan. Mari jalan “ Kenzi merangkul Miki dan berjalan kembali.


7:00 p.m


Udara dingin yang menyentuh tubuh dan orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan, jam saat ini adalah waktunya untuk pulang kerja dan bus sudah dipenuhi oleh para pekerja, sehingga Miki yang ingin menjemput adiknya untuk pulang hanya berdiri di dalam bus.


Perhentian pertama banyak orang yang keluar, tapi banyak orang juga yang memasuki bus kembali. Sementara Miki sama sekali tidak punya tempat untuk duduk, perjalanan untuk menjemput adiknya yang berlatih berenang lumayan jauh sekitar 30 menit dari rumahnya. Dan selama itu juga, Miki tidak dapat duduk.


Kakinya pegal karena berdiri dan berdesakan dengan orang-orang, akhirnya perhentian keempat tiba. Miki sudah turun dari bus dengan hembusan nafas yang panjang, “ Kenapa hari ini benar-benar sangat penuh “ keluh Miki yang mulai berjalan menuju gym club renang usia 6-12 tahun.


Riyo memasuki club ini sejak umurnya 7 tahun, ia berkata kepada Lim kalau Riyo ingin masuk ke dalam sebuah club. Ia juga memiliki kesukaan yang berbeda dengan Ayah dan Ibunya, waktu itu Riyo pernah diajari Lim untuk bermain basket tapi Riyo sama sekali tidak punya bakat dalam basket dan ia memiliki bakat dalam renang, sedangkan Miki tidak memiliki bakat dalam renang.


Miki sudah sampai di depan gym, beberapa orang sudah banyak keluar dan telah dijemput oleh orang tua masing-masing. Berbeda dengan Riyo yang masih berada di dalam kolam renang, ia masih membasahi berenang di dalam air tanpa kedinginan.

__ADS_1


“ Ah, kebiasaan dia itu. “ Miki sudah tahu kebiasaan Riyo dan meminta izin kepada salah satu pegawai untuk masuk, pegawai mengizinkan dan membiarkan Miki masuk.


Dugaan Miki benar, Riyo masih berenang dengan wajah bahagianya. Miki tahu seberapa Riyo menyukai renang, tapi berlatih berlebihan pun tidak baik untuk tubuh. Tubuh akan kelelahan dan mengalami cedera jika dipaksakan terus-menerus.


“ Hoi Riyo, mari pulang. “ teriak Miki yang membuat Riyo memberhentikan tubuhnya dan berjalan keluar dari kolam renang. “ Ane ( kakak perempuan ), kamu sudah disini? “


“ Disini atau bukan, cepat bersihkan tubuh kamu dan kita pulang. Ini sudah malam, jadi cepat, oke? “ Miki dengan tatapan mematikan yang membuat Riyo langsung mengambil handuk dan membersihkan tubuhnya. Miki yang menunggu Riyo hanya duduk disebuah kursi dekat kolam renang.


Tak sengaja, ia melihat seorang lelaki yang masih berenang di dalam kedalaman 2 meter. Wajahnya sama sekali tidak terlihat, karena lelaki itu menggunakan kacamata. Ketika Miki mencoba mendekati, tidak lama kemudian Riyo datang. “ Ane, ayo pulang “


Ajakan Riyo membuat Miki memberhentikan langkah kakinya dan berjalan pulang bersamaan dengan Riyo. Sepanjang jalan, Riyo terus memundurkan langkah kakinya tidak ingin berjalan berdampingan dengan Miki.


“ Kenapa menjauh? “ tanya Miki kebinggungan. “ Kalau aku berada di dekat ane, nanti teman-temanku berkata kalau aku sudah memiliki pacar. “ jawab Riyo yang membuat mulut Miki terbentuk menjadi O tidak percaya.


“ Sudah, kita pulang saja. “ Miki merangkul Riyo dan berjalan kembali, Riyo terus menolak untuk tidak menyentuhnya. “ Ane, ane!! “


“ Diam, berisik! “ seru Miki menjitak kepala Riyo.


Keesokan harinya.


Untung saja saat kemarin Kenzi menunggu di depan halte bus, jika tidak Miki akan marah besar dengan Kenzi.


“ Aaa.. “ Kenzi menguap di depan rumah Miki dengan memegang sepedanya, ia menunggu Miki untuk keluar. Tidak butuh waktu lama, Miki sudah keluar dari rumahnya dengan membawa sepedanya.


Jarak antara rumah Miki dan Kenzi sangat dekat karena rumah mereka bersebelahan, bahkan kamar Kenzi dan Miki saling berhadapan satu sama lain.


“ Lama sekali. “ keluh Kenzi kepada Miki. “ Ayo berangkat. “ kata Miki tidak memperdulikan ucapan Kenzi.


“ Ah, tunggu “ Miki lupa ingin memberitahu tentang sepedanya kepada Kenzi.


“ Temani aku. “ pinta Miki. “ Kemana? “ tanya Kenzi.


“ Sudah kubilang berapa kali, kalau sepedaku ini bermasalah mangkannya aku sama sekali tidak ingin membawa sepeda ini. Tapi kamu memaksaku dengan meninggalkanku kemarin. “


“ Di Jepang itu berboncengan tidak boleh. “

__ADS_1


“ Tapi setidaknya kamu bisa mengantarku sampai halte bus, bukan? “ kesal Miki.


Kenzi memperhatikan sepeda yang dipegang oleh Miki dan berkata. “ Menurutku, sepeda ini baik-baik saja. “


“ Aish, tidak baik. Aku ingin memperbaiki sepedanya, terutama dibagian rantai. “


“ Lihat ini, lihat. “ lanjut Miki tanpa henti yang membuat Kenzi kesal dan menutup mulut Miki dengan tangannya sambil berkata dengan wajah kesalnya. “ Berisik, tutup mulutmu itu. “


“ Mari pergi. “ Kenzi menggowes sepedanya. “ Kita harus memperbaiki sepedanya hari ini. Kita pergi bersama, mengerti? “ teriak Miki yang hanya dihiraukan oleh Kenzi.


Ditengah perjalanan, Miki memberhentikan sepedanya karena tidak bisa menggowes lebih jauh lagi. Rantai sepeda Miki lepas dan Kenzi yang berada di sampingnya hanya tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan Miki menatap Kenzi dengan penuh emosi yang bergejolak, “ Ah. Ahaha “ tawa Kenzi turun dari sepedanya. “ Hahaha? “ Miki menendang bokong Kenzi, “ Dasar bodoh! Kamu tidak tahu betapa bodohnya dirimu?! “


Kenzi terus menghindari tendangan Miki. “ Tapi, justru aku senang berarti kita tidak perlu ke sekolah, bukan? “ Perkataan Kenzi yang membuat Miki ingin terus memukulnya. “ Dasar menjengkelkan “


“ Wah, lihat jam sekarang. “ kata Kenzi. Ia memparkirkan sepedanya dan sepeda Miki disebuah toko makanan. “ Ayo cepat ke sekolah tanpa sepedanya, aku juga ingin segera sampai di sekolah, kok. “


Dengan berpura-pura baik, ia mengikatkan tali sepatu Miki agar suasana hati Miki kembali baik. Tapi semuanya tidak berguna, Miki sudah sangat kesal dengan Kenzi.


“ Sedang apa kamu? “ sinis Miki. Kenzi mulai berdiri kembali dan memanggil nama Miki “ Edward Miki. “


“ Lari. “ ucap Kenzi sambil berlari. “ Kenzi! “ teriak Miki.


“ Cepatlah, atau kita akan telat. “


Bel sudah berbunyi, Kenzi dan Miki sudah telat 10 menit. Mereka tidak dapat memasuki gedung sekolah karena gerbang sudah ditutup. Kenzi dan Miki tidak punya pilihan selain masuk melewati dinding belakang sekolah.


Miki memegang dinding belakang sekolah sambil menaiki punggung Kenzi, wajah Kenzi sudah terlihat kesusahan dan berat menahan tubuh Miki yang sangat besar itu. Miki juga berusaha keras untuk melewati dinding yang tingginya sekitar 2 meter tersebut.


“ Woi, jangan menangis! “ ledek Miki yang berada di atas bahu Kenzi. “ Aku tidak menangis, cepatlah naik. “ Kenzi yang sudah tidak kuat menahan tubuh Miki.


“ Susah! “ seru Miki yang kaki kanannya berada di balik dinding, dan kaki kirinya menjadikan muka Kenzi sebagai tumpuan untuk melewati dinding. “ Cepatlah, aku juga sudah bersusah payah sampai disini! “ Kenzi kesakitan saat kaki Miki berada tepat di lehernya.


Dan akhirnya, tubuh Miki sudah berada di balik dinding. “ Omong kosong ap.. “ ucapan Miki terhenti saat matanya melihat kearah lelaki yang sedang terbaring di bawah pohon.

__ADS_1


“ Hiro? “


__ADS_2