
Situasi kali ini adalah situasi yang sangat pas untuk pertengkaran antara mereka berdua, apalagi mereka tidak berada di sekolah. Jadi, Kenzi dan Hiro bebas untuk bertengkar. Riyo yang berada di samping Kenzi memperhatikan dengan aneh, keduanya saling menatap satu sama lain dengan tajam.
“ Aku tanya, kenapa kamu bersama dia? “ Kenzi dengan mata melotot. “ Kenzi! Kamu kenapa sih? “ kesal Miki menghampiri Kenzi serta Hiro. Ia juga menarik lengan Riyo untuk menjauh dari tempat ini. “ Mari pulang. “ ajak Miki kepada Riyo agar tidak melihat pertengkaran yang kekanakan ini.
“ MIKI! “ panggil Kenzi dari belakang dan berlari menghampiri Miki, ia membiarkan Hiro untuk masuk ke dalam gym.
Di dalam bus, Kenzi yang berdiri sedangkan Miki dan Riyo duduk disebuah bangku. Kenzi terus memperhatikan Miki, ia tidak tahu kenapa perasaannya hari ini tidak menentu. Saat melihat Miki bersama dengan lelaki lain, perasaan Kenzi seakan-akan tidak ingin melihatnya.
“ Itu, Miki maaf. “ ucap Kenzi dengan nada rendah. “ Kalian sedang bertengkar? “ Riyo ikut nimbrung.
“ Tidak Riyo, sudah biarkan saja. “ jawab Miki yang tidak menyukai sifat Kenzi saat ini.
Tidak lama kemudian, bus sampai di halte perhentian Miki, Kenzi, dan Riyo. Mereka bertiga keluar bersama-sama, saat dalam perjalanan Miki terus menjauh dari Kenzi. Ia tidak ingin berada dekat dengan Kenzi terlebih dahulu.
Riyo memasuki rumahnya, sedangkan lengan Miki tertahan oleh Kenzi. “ Miki. “
“ Aw. “ ringis Miki kesakitan karena tangannya yang bengkak karena genggaman Kenzi terpegang olehnya lagi. Melihat Miki kesakitan, Kenzi segera melepaskan genggamannya dan melihat lengan tangan Miki yang merah.
“ Kamu baik-baik saja? “ Kenzi khawatir.
“ Aku tidak apa-apa, sudah cepat. Apa yang ingin kamu bicarakan? “
“ Tap... “
“ Sudah kubilang tidak apa-apa. “
“ Kalau begitu Miki, aku minta maaf atas sikapku saat ini. Aku terlihat sangat emosi, entah kenapa dan... “
“ Intinya aku minta maaf, kamu tahu sendiri bertengkar denganmu sehari aku sama sekali tidak menyukainya. “ kata Kenzi setengah-setengah.
Perilaku Kenzi yang sudah seperti semula membuat Miki tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. “ Ahahaha, kamu lucu sekali. “
“ Kamu meledekku? “
“ Tidak, tapi benar kamu hari ini sangat menyebalkan dan saat minta maaf sangat lucu. “
“ Aush!! “ kesal Kenzi yang ingin memukul tapi tidak bisa dan hanya mengelus kepala Miki. “ Mangkannya jangan buat aku khawatir. “
“ Hah? Kamu bicara apa? “
Perkataan Kenzi membuat wajah Kenzi memerah seketika, dan ia langsung mendorong tubuh Miki memasuki rumahnya. “ Sudah masuk, dah “
“ Kamu juga masuk, dah “ Miki melambaikan tangan dan memasuki rumahnya.
Hati Kenzi yang berdetak kencang membuatnya langsung memukul dadanya dan bergumam “ Kamu tidak bisa seperti ini! “
“ Diam! “
“ Diam! “ Kenzi terus memukul dadanya untuk tidak berdetak kembali.
8:30 a.m
__ADS_1
Pagi yang cerah dengan angin yang begitu sejuk mengenai rambut Miki, Miki sudah bersiap-siap untuk sekolah dengan pakaian rapih dan rambut yang sudah tertata. Di luar rumah Miki, Kenzi sudah menunggunya dengan membawa 2 sepeda.
Sepeda yang berwarna hitam milik Kenzi dan sepeda yang berwarna putih milik Miki, sepertinya Kenzi sudah membawa sepeda Miki ke sebuah bengkel sepeda sehingga Miki tidak perlu susah-susah untuk pergi ke sana.
“ Ohayo. “ sapa Miki kepada Kenzi sambil berjalan membuka gerbang rumahnya. “ Ohayo. “ sahut Kenzi seraya memberikan sepeda kepada Miki.
“ Ini sudah dibetulkan? “ tanya Miki. Kenzi menganguk-anggukan kepalanya, “ Sudah pulih kembali. “
“ Kalau begitu, mari berangkat “ ajak Miki yang menaiki sepeda dan mulai menggowes sepedanya kembali.
Hari ini cuaca sangat bagus, udara sejuk mengenai kulit Miki dan itu terasa sangat menyenangkan. Hembusan angin yang mengenai rambut Miki membuat sebuah senyumannya melebar bahagia.
“ Kenapa bahagia sekali? “ Kenzi kebinggungan melihat wajah Miki yang tidak seperti biasanya. “ Tidak, hanya saja cuaca kali ini sangat bagus sayang kalau disia-siakan. “ jawab Miki.
Gowesan sepeda Miki terhenti saat melihat seorang lelaki yang memasuki sebuah bus, dia adalah Hiro.
Mata Miki terus melihat Hiro tanpa henti, Kenzi yang aneh melihat Miki tiba-tiba berhenti langsung mengikuti arah mata Miki yang sedang menatap kearah Hiro.
Bus mulai berjalan kembali, Miki mengikuti dengan menggowes sepedanya kembali dengan mata yang masih memperhatikan Hiro.
“ Miki! Cepat kita harus ke sekolah nanti kita terlambat. “ Kenzi tidak suka melihat Miki yang tidak hentinya menatap Hiro. “ Oh iya, maaf “ Miki mulai menggowes sepedanya tanpa memperhatikan kearah Hiro kembali.
Namun, saat Miki sudah tidak memperhatikan Hiro. Hiro mulai menolehkan kepalanya dan melihat kearah Miki yang sudah menggowes sepedanya lumayan jauh.
Perasaan kecewa mulai terasa di hati Hiro, ia telat 10 detik. Jika saja dirinya tidak telat menolehkan kepala kearah Miki, ia pasti sudah terus memperhatikan Miki tanpa henti.
Tapi karena Miki sudah menggowes sepedanya lumayan jauh, Hiro tidak bisa lagi melihat kearahnya.
“ Boleh saya duduk disini? “ tanya Rei kepada Hiro yang baru memasuki bus. Hiro mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai menggunakan headphonenya.
“ Kenapa kita disini? Mari masuk. “ ajak Kenzi kepada Miki karena ia terus berdiri di depan gerbang sekolah.
“ Diamlah. “ kesal Miki karena se-dari tadi Kenzi terus berbicara tanpa henti.
Lalu, saat sebuah bus berhenti dan keluar Hiro bersama dengan Rei. Miki berpura-pura untuk masuk ke dalam gedung sekolah.
“ Kamu menunggu dia? “ Kenzi tidak percaya bahwa Miki menunggu seorang lelaki selain dia.
“ MIKI!! “ teriak Rei dari arah belakang.
“ Ada apa Rei? “ Miki memberhentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya.
“ Itu... “ Rei ragu untuk berbicara tentang pertandingan hari ini antara Mayumi dengan Miki.
Miki yang melihat Hiro mulai berjalan melewatinya ingin menayapa Hiro, tapi Hiro hanya mengabaikan Miki tanpa melihatnya sedikit pun. Ia mengurungkan niatnya dan menaruh tangannya kembali ke bawah.
“ Aish! “ Kenzi yang berjalan menghadapi Hiro. Hiro memberhentikan langkah kakinya dan menatap sinis kearah Kenzi. “ Minggir! “ seru Hiro.
“ Jadi kamu sudah berbeda lagi? Kalau begitu besok sikapmu akan seperti apa? “
“ Itu bukan urusanmu. “ Hiro mendorong bahu Kenzi dengan tubuhnya agar ia bisa berjalan melewati Kenzi.
__ADS_1
Mata Miki membesar terkejut dengan perilaku Hiro yang sedikit kasar. “ Miki! “ panggil Rei yang membuat lamunanya buyar.
“ Apa hari ini kamu bisa? Dia kapten kita. “
“ Sepertinya tidak perlu, aku takut nanti kamu dipermalukan lagi. “ lanjut Rei.
“ Kamu takut dia menang dan nanti dia menjadi saingan kamu? “ kata Kenzi menatap tajam kearah Rei dan menarik lengan Miki untuk memasuki lobby.
“ Kamu kenapa sih? “ Miki kebinggungan.
TENG-NENG-TENG-NENG
Bel istirahat berbunyi, para siswa-siswi kelas 1-3 mulai keluar dari kelas. Tetapi sebelum keluar guru bahasa inggris memberitahu bahwa ia membuat kelompok, setiap kelompok masing-masing terdiri dari 2 anggota.
Dan mereka harus membuat sebuah cerita tentang sekolah SMA Seido menggunakan kertas karton yang dihias. Tugas itu juga akan dikumpulkan minggu yang akan datang, dan kelompok sudah tertulis di depan papan tulis.
Entah itu sebuah keajaiban atau bukan, Miki satu kelompok dengan Hiro. Kenzi satu kelompok dengan Rei.
“ Bu saya menolak kelompok ini. “ Kenzi mengacungkan tangannya tidak setuju dengan kelompok tersebut.
“ Jangan protes, ikuti saja! “ perintah Maki selaku guru sejarah sambil berjalan keluar dari kelas.
“ Kamu segitunya tidak ingin satu kelompok denganku? “ Rei yang bertanya secara terang-terangan membuat seluruh siswa-siswi kelas mulai memperhatikan mereka.
“ Hahahaha. “ tawa Kenzi. “ Aku tidak ingin satu kelompok dengamu. “
“ Kenzi! Jangan seperti itu! “ Miki yang tidak suka melihat Kenzi bersikap angkuh kepada Rei.
“ Miki, satu kelompok denganku. “ pinta Kenzi.
“ Tapi kelompok sudah ditentukan. “
“ Sewaktu kita SMP juga kita selalu menggantinya bukan? Kenapa sekarang tidak bisa? “
“ Karena dia sudah sekelompok denganku! “ tegas Hiro yang terbangun dari kebiasaannya di dalam kelas yaitu tidur.
“ Sikapmu sudah berbeda lagi ya? “ Kenzi tersenyum miring.
Mendengar pertengkaran antara mereka berdua kembali, Akira berjalan ke depan kelas dan menepuk papan tulis agar semua siswa-siswi melihat kearahnya.
“ Kalian bertengkar karena ingin menentukan kelompok saja? “
“ Kalau bertengkar seperti ini kurang seru bukan? “
“ Bagaimana dengan taruhan? “ tantang Akira.
“ Ini kelompokku, bukan kelompokmu! Aku yang urus ini, jangan ikut campur! “ ujar Miki dengan beranjak dari kursinya.
“ Taruhan apa, sepertinya seru. “ kata siswa-siswi kelas serentak
“ Ngomong-ngomong hari ini ada pertandingan antara Miki dengan kakak kelas yaitu Mayumi, dia menantang Mayumi padahal sudah jelas-jelas akan kalah dan tetap tidak akan diterima. Tapi dia tetap saja ingin masuk basket, keras kepala sekali bukan? “
__ADS_1
“ Dan jadi, disini aku ingin memberi taruhan. Bila Miki menang, dia akan tetap dengan Hiro. Jika dia kalah, dia akan satu kelompok dengan Kenzi dan para murid disini akan diam kepada Maki-sensei. Bagaimana? Bagus bukan? “ lanjut Akira dengan keegoisannya tersendiri.
“ Kalau begitu, biarkan saja dia menang. Aku tidak perlu sekelompok dengan Miki, tidak susah bukan? “ sinis Kenzi memasukan tangannya ke dalam saku dan keluar dari kelas.