Love Captain Handsome 2

Love Captain Handsome 2
15. Perubahan


__ADS_3

Perkataan yang secara tiba-tiba membuat mata Miki melotot tidak percaya, setelah pencarian lama Miki akhirnya ia menemukan siapa yang ingin menjadi pemilik dari Haru ( nama kucing ).


“ Kenapa diam? Apa tidak boleh? “ tanya Hiro.


Ketika ia ingin mencoba untuk menggendong Haru, Miki yang tidak ingin Haru pergi segera memundurkan langkah kakinya tidak ingin Haru diambil oleh siapapun meskipun seharusnya ia memberikan kucing tersebut kepada pemilik yang menginginkannya.


“ Aku tidak boleh mengurusnya? “ Hiro kebinggungan.


“ Bukan tidak boleh, tapi... “ Miki memberhentikan ucapannya dan melihat wajah Haru yang sangat lucu membuatnya tidak ingin melepas Haru. “ Izinkan aku untuk bisa melihatnya juga ya nanti. “ ucap Miki dengan nada rendah.


“ Hahaha.” Tawa Hiro dengan terbahak-bahak, senyum pertama kalinya yang diperlihatkan Hiro kepada Miki.


Bibir Miki terkatup tidak bisa berbicara, wajah tampannya terlihat sangat jelas saat Hiro tengah tersenyum. Hati Miki semakin berdebar tidak karuan, ia segera memberikan Haru kepada Hiro sambil berkata “ Itu rawat baik-baik, kalau sampai sakit aku bunuh kamu. “


Wajah Miki yang memerah dan malu membuatnya segera berjalan meninggalkan Hiro, ia tidak bisa memperlihatkan mukanya yang memerah karena Hiro.


Sepanjang perjalanan pulang rumah, hati Miki masih berdetak dengan sangat kencang. Ia terus memukul dadanya agar berhenti berdetak karena itu sangat memalukan apalagi saat berada di hadapan Hiro.


Jika, setiap saat selalu berdetak saat bertemu Hiro bagaimana jadinya nanti. Padahal Miki selalu ingin berada dekat dengan Hiro, entah kenapa di dekatnya terasa nyaman dan satu hal lagi yang masih membuat


Miki penasaran adalah sebenarnya siapa Hiro. Apakah dia anak lelaki yang telah menolongnya atau bukan?


Hiro adalah lelaki aneh, penuh rahasia yang membuat Miki selalu ingin mengetahui isi pikirannya. Walaupun baru sebentar kenal Hiro, tetapi karena sifat Hiro yang misterius membuat Miki ingin mengetahui lebih jauh tentang Hiro.


“ Kenapa wajahmu memerah begitu? “ Kenzi yang berada di depan rumah Miki dengan tangan terlipat di depan dada. Miki hanya mendesah dan mendorong tubuh Kenzi untuk minggir dari jalannya. “ Jawab! “


Kenzi menarik lengan Miki agar tidak masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya. “ Kamu ini kenapa tiba-tiba emosi begitu? “ Miki kebinggungan dan melepaskan perlahan tangan Kenzi dari lengannya. “ Hari ini jangan bertengkar, oke? Aku cape, besok sekolah jadi lebih baik hari ini istirahat saja. “


“ Tunggu. “ tahan Miki membalikkan tubuhnya melihat kearah Kenzi.


“ Besok aku tidak ingin menaik sepeda lagi, aku ingin naik bus. Jadi kamu duluan saja, dah selamat malam. “ lanjut Miki membuka pagar rumah dan memasuki rumahnya.


Kenzi merasa suatu keganjilan dari semua ini, kenapa tiba-tiba Miki ingin menaiki bus padahal dia selalu membenci naik bus saat pagi hari karena banyaknya penumpang.


“ Kenapa tiba-tiba? “ gumam Kenzi.


Pagi esoknya.


“ Aku berangkat! “ teriak Miki keluar dari rumahnya tanpa membawa sepeda, dan telihat Kenzi yang sudah berada di depan rumah Miki tanpa membawa sepedanya juga. “ Loh? “ Miki kebinggungan.


“ Karena kamu tidak membawa sepeda, aku juga tidak membawa. “ kata Kenzi sambil mendorong dahi Miki dengan jari telunjuknya.


Mereka berjalan bersama menuju halte bus, banyaknya orang yang di halte membuat Miki merasa sangat risih. Ia terus menjauhkan tubuhnya dari orang-orang yang mencoba mendekatinya karena terburu-buru ingin masuk bus.


Dan saat bus datang, orang-orang yang akan berangkat sekolah, kerja atau hal lainnya mulai mendesak memasuki bus. Saat Miki ingin menaiki bus dari arah kanan, seorang pria mendorong Miki untuk tidak masuk bus.


Hampir saja ia terjatuh karena dorongan yang sangat kuat, tapi untungnya dari belakang Kenzi menahan punggung Miki agar tidak terjatuh. “ Kamu tidak suka menaiki bus tapi malah naik, kamu benar-benar aneh. “ komentar Kenzi yang membuat Miki segera berdiri dengan normal kembali.


“ Udah masuk. “ ucap Miki singkat dan mulai berjalan memasuki bus kembali.


Terlihat banyak orang yang saling mendesak satu sama lain. Namun, mata Miki terhenti ketika melihat wajah seorang lelaki yang selalu membuatnya tersenyum. Dia berdiri tegak dengan menatap kearah jendela luar.


Lelaki itu adalah Hiro.

__ADS_1


Miki mendekatinya perlahan, tetapi desakan orang-orang membuatnya tidak sengaja terjatuh tepat di depan tubuh Hiro. Terjadi keheningan sesaat, kali ini tubuh Miki bersentuhan dengan Hiro.


Kedekatan ini membuat hatinya lagi dan lagi berdetak, dan Kenzi yang berada tidak jauh dari Miki langsung menarik lengannya agar menjauh dari Hiro sambil berkata sinis. “ Seharusnya kamu hati-hati! “


Tapi Hiro tidak berbicara apapun, dia hanya terdiam dengan matanya memperhatikan kearah luar. Sikap Hiro kali ini berbeda lagi, sikap saat pertemuannya di malam hari terlihat sangat lembut.


Namun, sikapnya kali ini benar-benar terlihat dingin yang membuat Miki semakin binggung dengan perilaku Hiro.


“ Maaf. “ ucap Miki merasa tidak nyaman. “ Tidak apa-apa, itu cuman kecelakaan. “ jawab Hiro tanpa menatap Miki.


Pertemuan yang diinginkan Miki hilang sesaat, padahal keinginanya untuk menaiki bus saat pagi hari adalah karena ingin bertemu dan berbincang sebentar dengan Hiro. Tetapi, ia gagal untuk berbincang.


Keadaan kali ini untuk berbincang sangatlah tidak mungkin, kecelakaan tadi membuat semuanya terlihat canggung apalagi terlihat bahwa Hiro yang tidak menyukai dirinya disentuh oleh orang lain.


Bus berhenti tepat diperhentian halte bus SMA Seido, seluruh siswa-siswi yang berada dalam bus segera turun dari bus dan mulai berjalan memasuki gerbang sekolah. Begitu juga dengan Miki, Kenzi dan Hiro.


Pandangan Miki tidak hentinya menatap punggung Hiro yang berada di depannya, Kenzi yang merasa kesal dengan mata Miki yang tidak kunjung berhenti memperhatikan Hiro langsung berjalan tepat di hadapan Miki membuatnya memberhentikan langkah.


“ Kenapa tiba-tiba berada di depanku? Minggir! “ seru Miki.


“ Miki, lihat aku. “ pinta Kenzi.


“ Untuk apa? Kamu jelek. “


“ MIKI!! “


“ Baik, kenapa? “ Miki menatap mata Kenzi.


“ Hah, apa-apaan kamu ini. “ Miki mendorong tubuh Kenzi untuk menjauh darinya dan melihat Hiro yang tengah memperhatikan mereka.


Sesaat Miki melihat Hiro, Hiro langsung memalingkan pandangan dan melangkahkan kakinya kembali.


“ Miki! “ panggilan dengan nada tinggi dari Mayumi dan Ai. Miki menghela nafas panjang, ia harus terlihat berani di hadapan mereka. “ Jangan lupa untuk berlatih hari ini. “ ujar Mayumi seraya berjalan melewati Miki.


Ucapannya yang singkat membuat Miki merasa lega karena dia tidak harus berakting kembali di depan mereka, itu sangat menyusahkan baginya.


“ Ayo masuk. “ ajak Kenzi menarik lengan Miki masuk ke dalam lobby sekolah.


Pelajaran pertama dimulai dengan mata pelajaran matematika, seperti biasa Kenzi dan Hiro tertidur di dalam kelas. Miki yang tidak bisa diam karena terus ingin memperhatikan kearah Hiro.


TENG-NENG-TENG-NENG


Pelajaran matematika telah berakhir, dan bel istirahat sudah berbunyi. Para siswa-siswi mulai berramai-ramai keluar dari kelas untuk menuju Kantin, ada beberapa siswa-siswi yang membawa bekal juga sehingga mereka tidak perlu untuk ke Kantin.


Sedangkan Miki, Kenzi dan Rei, mereka makan siang bersama-sama membawa bekal di dalam kelas. Berbeda dengan Kenzi yang selalu dibuatkan bekal oleh Anna, sehingga Miki selalu membawakan bekal untuk Kenzi.


“ Akira, kamu dipanggil Ibumu. “ ujar Takeshi selaku ketua kelas. Akira yang sedang memakan bekal segera keluar dengan tampang bahagia karena Ibunya datang, kemudian Hiro yang se-daritadi tertidur nyenyak terbangun dengan tatapan tajam.


Ia ingin berjalan keluar tapi tertahan oleh Miki yang menawarkan bekal kepada Hiro. “ Kamu mau ini? “


“ Minggir! “ seru Hiro dengan membuang bekal Miki sampai mengenai baju Miki dan berjalan keluar dari kelas.


Miki terdiam, matanya berkaca-kaca melihat bekalnya berserakan di lantai. Rei terkejut dan ingin membantunya, tetapi Kenzi selangkah lebih dahulu daripada Rei. Ia sudah mengambil nasi-nasi kotor yang berada di tanah untuk segera dibuang.

__ADS_1


Siswa-siswi di kelas mulai terkejut karena sikap Hiro tadi yang sangat kasar terhadap Miki. Miki menghapus air matanya yang mulai terjatuh dipipi, ia mencoba sebisa mungkin untuk tenang dan tidak terbawa suasana.


“ Cepat bersihkan tubuh kamu. “ Kenzi menarik lengan Miki membawanya ke luar toilet perempuan. “ Masuk, bersihkan tubuh kamu. “ lanjut Kenzi. Miki segera memasuki toilet perempuan untuk membersihkan bajunya yang terkena kotoran makanan di depan wastafel.


Sedangkan, Kenzi menunggu di depan toilet perempuan dengan tubuh yang bersandar di dinding. Tangannya terkepal melihat perilaku Hiro yang benar-benar sudah membuat emosi Kenzi menyulut.


Baru saja dipikirkan oleh Kenzi, Hiro sudah datang di depan Kenzi.Tanpa berbasa-basi, Kenzi langsung meninju wajah Hiro dengan kepalan tangannya yang sudah siap untuk memukul wajah Hiro. Hiro terjatuh di lantai, tapi anehnya bukannya merasa sakit ia malah bertampang datar.


“ Kenapa tiba-tiba? “ tanya Hiro tanpa ekspresi.


Seluruh siswa-siswi dari kelas 1,2,3 mulai memperhatikan pertengkaran antara Hiro dan Kenzi yang terjadi secara tiba-tiba. Kenzi menarik kerah baju Hiro dan mulai meninju wajahnya kembali tanpa ampun.


“ Jangan perilakukan dia seperti itu, bodoh!! “ bentak Kenzi. Miki yang keluar dari toilet dan melihat sesuatu yang tidak diinginkannya, dengan cepat ia mencoba meleraikan Kenzi yang tidak hentinya memukul wajah Hiro.


“ Kenzi, berhenti! “ Miki memegang wajah Kenzi agar tersadar kembali.


Kenzi adalah lelaki yang tidak bisa mengendalikan emosinya, apapun itu ia selalu melawan orang dengan kekerasan. Dan Miki tahu itu, tapi kejadian ini benar-benar sudah melewati batas.


Muka Hiro saja sudah sangat babak belur, dan anehnya Hiro tidak membalas pukulan Kenzi sama sekali. Lalu, bodohnya para siswa-siswi yang hanya memperhatikan mereka tanpa meleraikannya.


“ Minggir, ada apa ini? “ suara berat yang memasuki kerumunan, dia adalah kepala sekolah. Ia melihat wajah Hiro yang sudah babak belur dan Kenzi yang emosinya tidak bisa berhenti.


“ Kalian bertiga, ikut bapak! “ perintahnya dengan mata menakutkan.


Mereka bertiga pun tidak punya pilihan selain mengikuti perintah dari kepala sekolah, Hiro yang kesulitan berdiri membuat Miki segera membantunya untuk berdiri dan memapahnya menuju ruang kepala sekolah.


Miki hanya membiarkan Kenzi berjalan sendirian karena memang perilaku Kenzi sudah kelewat batas dan Miki sama sekali tidak menyukai sifat Kenzi yang seperti ini.


Di dalam ruang kepala sekolah, pertanyaan-pertanyaan terus diajukan kepala sekolah kepada mereka bertiga. Dan setelah menjawab semua, mereka sudah boleh untuk keluar kecuali Kenzi. Ia mendapatkan hukuman dan panggilan orang tua karena sudah melukai siswa.


“ Kamu baik-baik saja? “ Miki khawatir melihat wajah Hiro yang sudah dijadikan sebagai mainan untuk pukulan Kenzi.


“ Aku baik, tenang saja. “ jawabnya yang berjalan dengan wajah yang masih terlihat baik-baik saja.


“ Bagaimana kamu masih terlihat baik-baik saja padahal sedang terluka? “


“ Aku bahkan tidak tahu kamu kesakitan atau tidak. “


“ Apa wajahmu memang seperti itu? Datar tanpa perasaan? Lalu, tawamu kemarin malam kemana? Sepertinya aku lebih menyukai wajahmu yang seperti itu. “ jelasnya dan langsung memapah tubuh Hiro kembali menuju ruang kesehatan.


“ Duduk. “ ucap Miki yang membuat Hiro duduk di sebuah ranjang, Miki mencari-cari obat untuk luka luar dan ia melihat tulisan yang tertulis di sebuah laci “ Obat luka “.


Laci itu berada jauh dari jangkauan Miki, tubuhnya tidak sampai untuk mengambil obat luka luar di atas laci yang tingginya sekitar 20 cm dari tinggi Miki. Ia tidak punya pilihan selain mengambil bangku kecil dan mulai mengambil obat luka tersebut dengan kakinya yang berjinjit dibangk


Namun, setelah ia mengambil obat P3K tersebut Miki kehilangan keseimbangannya dan hampir saja terjatuh. “ Aaa. “ teriaknya dengan memejamkan mata, tapi ia tidak bisa merasakan sakit dari terjatuh.


Matanya perlahan terbuka, Miki melihat Hiro yang menahannya agar tidak terjatuh. Wajah Miki dan Hiro berada sangat dekat, bahkan punggnya digenggam oleh Hiro sehingga Miki tidak terjatuh. Mereka bertatap mata sesaat dan tatapan Hiro membuat jantungnya berdebar kembali.


“ Terimakasih. “ Miki mencoba turun dari bangku kecil dengan perasaan canggung.


Dan secara tiba-tiba, tidak ada angin ataupun badai. Hiro memeluk tubuh Miki dengan erat, mata Miki melebar terkejut dengan perilaku Hiro. Ia ingin memeluk balik Hiro, tapi kenangan saat Hiro membuang bekalnya membuat Miki mengurungkan niatnya.


“ Maafkan aku. “

__ADS_1


__ADS_2