
3 tahun sebelumnya, New York.
Setelah 4 tahun Hiro meninggalkan Jepang dan bersama berdua dengan Arlene di New York, mencoba memulai kehidupan baru serta menghabiskan waktu bersama-sama dengan kebahagiaan.
Tidak pernah terpikirkan kalau Hiro akan kembali ke Jepang karena bagaimana pun prioritas utamanya adalah Arlene, ia tidak boleh pergi jauh dari Arlene.
Tapi tetap saja, Hiro sama sekali tidak bisa melupakan sedikitpun kenangan manis antaranya dan Miki di Jepang. Ia juga berharap bahwa nanti dirinya akan kembali bertemu dengan Miki.
Tetapi bagaimana jadinya jika Miki melupakan dirinya dan perasaannya telah menghilang?
Itu adalah sesuatu yang mungkin harus diterima oleh Hiro.
Bagaimana pun ia sudah menyakiti Miki paling dalam, tapi kalau boleh egois Hiro masih ingin tetap dengan Miki.
" Kamu melamun apa Hiro? " Arlene tengah memotong apel di dapur, sedangkan Hiro memperhatikan jendela dengan keramaian orang-orang.
Tidak ada jawaban sedikitpun dari Hiro.
" Kamu merindukan wanita itu bukan? " Tanya Arlene yang sudah mengetahui Hiro, kalau dia merindukan Miki.
Satu-satunya wanita yang dicintai oleh Hiro.
" Jangan menahannya, jika kamu ingin menemuinya silahkan saja bertemu, ibu tidak apa-apa. " ucap Arlene membuat Hiro langsung membalikkan tubuh.
__ADS_1
" Tidak, aku tidak apa-apa, aku akan menjaga Ibu! " Hiro melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk bernafas sedikit meredakan rasa kerinduannya kepada Miki.
Walaupun Hiro berkata seperti itu, padahal ia ingin sekali saja.
Sekali saja bertemu, Hiro ingin bertemu kembali dengan Miki menatap senyuman manis yang tidak bisa dilupakan sedikitpun.
Hiro pikir dengan berjalannya waktu, Miki akan pelan-pelan terlupakan dan bayangannya menjadi samar. Tapi kenapa seiring berjalannya waktu bayangannya semakin jelas dan Hiro semakin merindukan Miki.
" Sepertinya keberadaanmu bagiku, tersimpan jauh lebih dalam dari yang aku kira, Miki. " Hiro menatap langit biru yang tampak sedikit berawan.
••
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Hiro masih tetap berada di luar dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa dilupakan.
Ponselnya berbunyi dari nomer yang tidak dikenal, Hiro menjawab telepon tersebut.
" Halo? "
" Your mom is at the hospital " jawab seorang perempuan dari sebrang, mata Hiro melebar ia terkejut dan langsung berlari menuju rumah sakit yang sudah tertera di pesan.
Dengan tergesa-gesa dan nafas terengah-engah, ia sampai di rumah sakit dengan perasaan sangat khawatir.
Tanpa memikirkan apapun, ia mencari-cari Ibunya di setiap ruang rumah sakit. Tapi tidak menemukan Ibunya, sampai akhirnya ia melihat seorang tetangga dari samping yang kemungkinan tadi meneleponnya.
__ADS_1
" Hiro? " panggil tetangga itu.
" My mom, where? " khawatir Hiro.
" Sorry, she passed away " jawab tetangga itu membuat kaki Hiro terasa lemas dan tubuh tidak berdaya.
Tiba-tiba seorang dokter menemui Hiro dan berkata bahwa Ibunya meninggal dikarenakan gagal jantung.
Seorang Ibu yang berharga untuk Hiro telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
1 tahun kemudian.
Kepergian Arlene masih terasa sangat menyakitkan baginya, ia bahkan sampai harus menemui psikiater untuk mempertanyakan keadaannya.
Lalu, seorang dokter psikiater berkata " Kembalilah ke Jepang dan berbahagia lagi. "
Sejak saat itu, Hiro mulai menimbang-nimbang untuk pergi menuju ke Jepang dengan perasaan ambigu sebab ia juga menyakiti Miki.
Apa nanti Miki akan menerima lagi? Atau tidak?
Dan pada akhirnya, karena Hiro ingin memulai kembali hidup dengan bahagia serta ingin membahagiakan Miki agar tidak lagi menyakiti dia.
Hiro memutuskan kembali ke Jepang setelah menimbang bertahun-tahun.
__ADS_1
Tidak perlu kenyataan yang akan dihadapinya, ia akan bersama dengan Miki lagi.