
Hari kedua ujian tengah semester.
Tertulis di depan papan tulis, bahwa hari ini ulangannya adalah Bahasa Jepang dan Sejarah. Tidak terlalu ribet seperti hari kemarin, karena pengawasnya berbeda yaitu seorang Guru baru yang bernama Kano Masayuki.
Guru muda berusia 24 tahun yang banyak disukai banyak siswi-siswi sekolah karena ketampanannya.
Masayuki sudah membagikan kertas ujian, dan para murid melakukan estafet kebelakang untuk memberikan kertas ujian.
“ Ujian dimulai! “ perintah Masayuki yang segera mengisi kertas ujian.
Banyak siswa-siswi yang kebinggungan sesaat, ada yang memperhatikan kertas dulu, ada juga yang sudah pasrah dan ada yang sudah mengejarkan soal.
Sama halnya dengan point pertama, Miki masih memperhatikan kertasnya dan berharap bahwa semua yang ia pelajari akan keluar.
Dengan tangan bergetar, ia membuka kertas dan membaca soal pertama. Dan untungnya, semua soal yang sudah Miki kerjakan, ia sangat beruntung.
Usahanya sampai tidak tidur malam menghasilkan hasil.
Sekitar 30 menit, Kenzi tiba-tiba menendang meja Miki perlahan dari arah depan. “ Nomor 27. “ bisiknya
Mata Miki mengelilingi sekitar, ia menjawab dengan nada perlahan. “ B, B ! “
Plak!
Kepala Miki dan Kenzi terpukul sebuah buku dari Masayuki.
“ Kalian sedang apa?! “ tatapan horor membuat Miki dan Kenzi merinding. “ Keluar! “
Mereka tidak punya pilihan lain selain melangkahkan kakinya keluar dan berdiri di luar selama 20 menit sebagai hukuman.
“ Heh, kamu ini kenapa sih? Apa tidak belajar? Nomor 20 sangat mudah! “ keluh Miki melipat kedua tangannya di atas perut.
Sedangkan Kenzi hanya menghentak-hentakkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan dari Miki.
“ Tidak jawab? Wah brengsek! “ kesal Miki memalingkan wajahnya.
Waktu 20 menitnya sudah habis karena hukuman, ia harus mengerjakan soal yang tersisa 30 lagi dalam waktu 10 menit.
Tetapi tiba-tiba saja, seseorang melemparkan sebuah kertas ke meja Miki dan berjalan menaruh kertas ujian di meja guru.
Siapa lagi kalau bukan Hiro.
“ Hehe. “ tawa Miki kecil karena mendapatkan jawaban tetapi saat kertas tersebut dibuka.
Isinya bukanlah jawaban melainkan tulisan. “ Cepat kerjakan bodoh. “
Senyum Miki menghilang sesaat, ia menoleh kearah jendela dan mengangkat jari tengahnya menandakan kekesalan. Kenzi yang melirik sesaat hanya mengepalkan tangan menahan emosinya.
__ADS_1
Semakin lama perasaannya tidak dapat dikendalikan.
Sebenarnya bagi Miki, Kenzi itu apa? Itulah yang dipikiran Kenzi.
2:00 p.m
Ujian telah selesai, tidak seperti hari pertama yang harinya sama dengan hari biasa. Untuk hari kedua dan selanjutnya akan pulang lebih cepat dari biasanya.
Para siswa-siswi sudah berjalan pulang, berbeda dengan Miki yang tertidur dengan kepala di atas meja dan tasnya menjadi bantalan tidur.
Selama beberapa hari ini, ia tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena harus belajar terus-menerus. Apalagi di satu sisi, Miki juga harus menjaga kondisi tubuhnya dengan berolahraga setiap hari dan berlatih basket sendirian.
Inter-High tinggal menghitung beberapa hari, Miki harus berlatih lebih dari siapapun walaupun kakinya yang tidak memungkinkan.
Dan orang yang mengetahui kerja keras Miki adalah Hiro, Hiro mendekatkan tubuhnya dengan Miki yang tertidur sambil memperhatikan Miki, ia menjadikan lengannya sebagai bantalan di atas meja.
“ Lucu. “ gumam Hiro mencolek hidung Miki yang tengah tertidur.
Lalu, kenyataan kembali menghampiri Hiro. Sebuah kenyataan yang tidak memungkinkan ia bisa bersama Miki.
Bagaimana jadinya jika ia melarikan diri lagi? Dan Miki semakin membencinya.
Hiro sudah terlalu banyak menyakiti Miki, setidaknya untuk sesaat saja ia ingin bersama Miki dan memberikan semua momen kebahagiaan yang tidak akan terlupakan oleh Miki.
Di lain sisi, seseorang dengan tatapan tajam mengumpat di balik jendela dan memperhatikan Hiro.
“ Sial. “ umpat Kenzi yang diam-diam memperhatikan dan melangkahkan kaki menjauhi tempat tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Miki membuka matanya dan mengusap sambil memperhatikan wajah seseorang yang berada sangat dekat dengannya.
Hatinya berdegup cepat, pipinya merah karena Hiro berada sangat dekat.
“ Hi.Hi.Ro? “ gugup Miki, perlahan Hiro membuka mata dan menjawab. “ Kamu sudah bangun? “
“ Kenapa kamu ada disini? “ Miki langsung berdiri dengan tegang.
“ Kamu ketiduran dan aku menunggu kamu sampai bangun. “
“ Begitukah? Mari pulang. “ ajak Miki dengan perasaan yang malu dan berjalan keluar kelas yang diikuti oleh Hiro.
Selama perjalanan, keduanya tidak berbicara sedikitpun hanya ada kecanggungan antara mereka.
Miki yang menarik sepedanya melirik sesaat kearah Hiro yang berada di belakang mengikutinya. “ Kenapa kamu mengikutiku? “
“ Aku mengantarkan kamu pulang. “ Hiro memasukkan kedua tagannya di saku.
__ADS_1
“ Tidak perlu, aku bisa sendiri! “ pekik Miki. “ Kamu cepatlah pulang, sudah mau gelap! “ Miki menaiki sepedanya dan menggowes menjauhi Hiro.
Perasaannya masih belum tenang, bagaimana bisa tadi wajahnya sangat dekat dengan Hiro. Jantungnya masih belum berhenti berdetak memikirkan hal yang sangat memalukan untuk Miki.
Dari jauh Hiro hanya memperhatikan punggung Miki yang semakin jauh, rasanya ia ingin terus memegang Miki agar jaraknya tidak sejauh ini.
Benar-benar perasaan yang gila, bagi Hiro.
Sesampainya Miki di rumah, Kenzi tengah berdiri di depan pagar rumahnya dengan menundukkan pandangannya.
“ Sedang apa disini? “ Miki turun dari sepedanya.
Kenzi mengangkat kepalanya. “ Kenapa telat? “
“ Tadi aku ketiduran di kelas. “ jawab Miki mencoba masuk ke dalam rumahnya tetapi terhalang karena Kenzi memegang lengannya. “ Ada yang ingin aku bicarakan. “
“ Apa yang ingin kamu bicarakan sampai menunggu di depan rumahku? “
“ Sesuatu. “ kata Kenzi.
“ Baiklah, aku ganti baju dulu. “ Miki memasuki rumah dan berganti baju.
Tidak lama kemudian, Miki sudah keluar dari rumahnya dengan menggunakan sweater hitam dan celana hitam-putih seatas lutut.
“ Mari pergi. “ ajak Miki yang dikuti Kenzi.
Mereka menuju tempat mini market yang selalu mereka datangi, Miki memesan dua ramen yang sudah matang dan berjalan keluar dengan duduk di salah satu kursi yang terlindungi payung besar disana. “ Ini. “ Miki memberikan ramen kepada Kenzi.
Tanpa berlama-lama, Miki memakan ramen perlahan-lahan sambil bertanya. “ Silahkan berbicara sesuka hatimu. “
Bibir Kenzi tertutp rapat-rapat, kini ia seperti seorang pecundang yang tidak bisa berkata apa-apa. “ Miki. “
“ Hm. “
Berangkat dari pertemanan, lalu terjebak perasaan.
Sering kejadian, begitulah Kenzi saat ini.
“ Bagimu aku ini apa? “ tanya Kenzi mencengkram sumpit dengan sangat kencang.
“ Kamu sedang bercanda ya? “ Miki tidak mengerti. “ Kamu itu satu-satunya teman berhargaku, puas! “
“ Apa kamu menyukaiku? “
“ Tentu saja, kamu itu sahabatku. Persahabatan kita sudah berjalin sangat lama, kadang aku membencimu, kadang kamu menjengkelkan tetapi aku tetap menyukaimu. “ jelas Miki.
Kenzi terkekeh. “ Persahabatan kita? “
__ADS_1
Miki terdiam sesaat mendengar perkataan yang sepertinya Kenzi tidak menyukai itu, ia mengangkat kepalanya dan menatap mata Kenzi.
“ Kalau aku bilang, aku menyukaimu lebih dari pertemanan bagaimana? “