Love Captain Handsome 2

Love Captain Handsome 2
9. Kenzi dan Hiro


__ADS_3

Udara yang dingin dengan angin-angin yang berhembus kencang dan mata yang saling bertemu satu sama lain, tidak ada sapaan dan percakapan sedikitpun, hanya ada keheningan antara mereka berdua.


Namun, semua terhenti saat Riyo mendekati Miki dan bertanya dengan sangat kencang “ Kakak, matamu sembab. Kamu habis menangis? “


Pertanyaan Riyo membuat Miki lupa bahwa ia sehabis menangis, Hiro yang berdiri dan mulai mendekati Miki. “ Dia adik kamu? “


“ Iya, kenapa kamu disini? “ Miki heran seraya memalingkan wajahnya agar Hiro tidak melihat matanya, karena kata Lim dan Riyo, Miki terlihat sangat jelek saat menangis.


Maka dari itu, ia tidak ingin Hiro melihat wajah jeleknya saat ini.


“ Kakak jelek sekali kalau menangis. “ ledek Riyo menarik lengan Miki. “ Aku sudah menunggu lama, mari pulang. “


“ Tunggu dulu. “ tahan Miki yang mengeluarkan sebuah minuman dari tasnya dan tidak sengaja menjatuhkan satu kertas robekan yang bertulis “ Edward Miki. “


Ia tidak sadar bahwa telah menjatuhkan kertas robekan, Hiro yang sadar bahwa sesuatu telah jatuh dari tas Miki segera mengambilnya. Saat ia mencoba mengembalikan, Miki sudah berjalan bersama dengan Riyo.


Jarak antara mereka tidak lumayan jauh, ia ingin mendekati tapi sebuah telepon berbunyi sehingga Hiro tidak bisa mendekati Miki.


Keesokan harinya.


Pagi yang cerah, dan kelas yang sepi. Miki datang lebih awal dari siswa-siswi lainnya, bahkan hari ini ia tidak pergi ke sekolah bersama Kenzi karena pasti Kenzi akan bertanya tentang kemarin kenapa Miki pulang terlebih dahulu dan pastinya Kenzi akan memarahi Miki karena tidak membalas perkataan yang menyakitkan dari Mayumi.


Luang waktu yang dimiliki Miki lebih banyak saat berada di sekolah, ia berjalan menuju perpustakaan mencari buku yang dibuat oleh Ibunya. Miki menyukai buku yang dibuat oleh Anna, karena hampir semua ceritanya adalah real atau asli.


Sewaktu Miki kecil juga pernah diceritakan oleh Anna, bagaimana kehidupan masa mudanya yang sangat menyakitkan dan juga menyedihkan. Anna juga berkata bahwa usia remaja akan banyak mengalami kepahitan di hidupnya, dan semua perkataan Ibunya benar.


Kini, Miki mengalami kepahitan yaitu ditolak oleh club basket. Club yang diinginkannya dan juga harapannya, tapi Miki tidak ingin menyerah begitu saja ia akan terus berusaha sampai diterima.


Saat ini, Miki mencoba merapihkan kertas-kertas yang sudah dirobek oleh Mayumi. Ia ingin mengembalikan semua kesemula, tetapi ada satu robekan kertas yang hilang. Miki mencari ke dalam tasnya, tidak ada sama sekali.


Hanya satu, yaitu tulisan Edward Miki. Ia butuh satu itu, Miki juga sampai menelepon keluarganya yang berada di rumah tetap saja tidak ada.


“ Aish... “ keluh Miki.

__ADS_1


“ Kamu mencari ini? “ suara berat tiba-tiba dari arah belakang Miki sambil memberikan sebuah robekan kertas di depan wajahnya. Miki membalikkan wajah melihat seseorang yang menemukan robekan kertas tersebut.


Dan dia adalah Hiro.


Wajah Miki tersenyum lebar dan pipinya juga memerah karena Hiro berada sangat dekat dengan dirinya. “ Kamu sedang apa? “ tanya Hiro seraya duduk di kursi depan Miki.


“ Kamu tidak bisa melihat? “ sinis Miki dengan senyum yang tertahan, ia sama sekali tidak bisa terlihat jutek di depan seseorang. Hiro melihat bacaan dari sebuah robekan kertas yang sudah diatur ulang oleh Miki. “ Club basket? “ Hiro dengan suara yang terdengar jelas.


Melihat Hiro yang membaca isi dari formulir, Miki langsung menutup formulir dengan kedua tangannya. “ Apa karena ini semalam kamu menangis? “ pertanyaan Hiro yang secara tiba-tiba membuat Miki merasa malu.


“ A..tii..tdaaak..sepert...ii..iitt..uu “ gugup Miki yang tidak sengaja mendorong seluruh kertasnya dan membuatnya berantakan kembali.


“ Berantakan lagi!! “ kesal Miki mengambil robekan kertas di bawah lantai. Lalu, Miki merapihkan kembali robekan kertasnya.


“ Geser! “ seru Hiro yang ingin membantu Miki merapihkan kertasnya kembali.


Selama 30 menit mereka terus merapihkan kertas sambil bertengkar terus-meneru tanpa henti, dan tidak lama kepala Miki terjatuh di atas meja dengan mata terpejam, ia tertidur di dalam perpustakaan.


“ Dia ini.. “ ujar Hiro karena kertas tersebut sama sekali belum rapih.


Lalu, Hiro melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8:45, 15 menit akan masuk kelas. Jika mereka bersama-sama masuk kelas, nanti akan dibicarakan oleh para siswa-siswi di kelas. Ia pun berlari keluar perpustakaan, sebelum itu Hiro berkata terlebih dahulu kepada penjaga perpustakaan bahwa untuk membangunkan perempuan yang berada di ujung.


Setelah itu, ia pergi tanpa berpamit kepada Miki.


Penjaga perpustakaan segera membangunkan Miki untuk tidak tertidur di dalam perpustakaan, Miki terbangun dengan wajah terkejut, ia ketiduran tanpa disadari olehnya. Miki menoleh kearah kiri, Hiro sudah tidak ada dan formulirnya sudah diperbaiki dengan sebuah lakban bening.


Miki tersenyum bahagia. “ Terimakasih “ gumamnya seraya mengambil formulir yang sudah benar kembali dan berjalan keluar dari perpustakaan.


Namun, saat Miki sudah sampai di dekat kelas. Kenzi sudah terlihat di depan kelas dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada, tampangnya terlihat kesal. Miki menelan ludah, ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Kenzi kepadanya.


Dengan kekuatan teguh, Miki membalikkan badannya tidak ingin bertemu terlebih dahulu kepada Kenzi. Ini adalah situasi yang sulit untuknya, apalagi untuk bercerita dan Kenzi akan terus menekan Miki agar ia lebih berani berhadapan dengan orang-orang.


“ Miki! “ sapa Yoshioka dari arah depan Miki. Sapaan Yoshioka membuat Kenzi langsung berlari menghampiri Miki.

__ADS_1


“ Kenapa kamu menjauhiku? “ tanya Kenzi penasaran. Miki tidak menjawab, ia bahkan memalingkan pandangannya dari Kenzi.


“ Apa yang kamu sembunyikan? “ Kenzi yang melihat Miki menyembunyikan sesuatu di balik tangannya.


“ Tidak ada. “ jawab Miki. “ Miki! “ seru Kenzi memegang bahu Miki.


“ Kalian masuk cepat, jangan bertengkar di tengah jalan! “ perintah Yoshioka yang diikuti oleh Miki dan Kenzi.


Selama pelajaran, Miki tidak pernah fokus karena ia ingin berterimakasih kepada Hiro. Ia terus menolehkan kepalanya sesaat, melihat Hiro yang tertidur di dalam kelas seperti kebiasaannya.


Kenzi juga terus memperhatikan kearah Miki dengan wajah kesalnya. “ Kenzi, kamu sudah menanyakan keadaan Miki? “ tanya Rei kepada Kenzi.


“ Kenapa kamu tidak tanya dia sendiri, lagipula kemarin bukannya membantu kamu malah mengacuhkan Miki. “ jawab Kenzi


“ Bukan, bukan seperti itu! “


“ Kenzi, Rei harap diam! “ tegas Yoshioka yang sedang menjelaskan pelajaran matematika, sedangkan Miki hanya melirik sesaat kepada mereka.


TENG-NENG-TENG-NENG


Bel istirahat berbunyi, Miki yang sudah tidak sabar membalikkan tubuhnya melihat kearah Hiro yang masih tertidur dengan posisi seperti biasa.


“ Hiro, terimakasih. “ kata Miki dengan nada rendah dan membalikkan tubuhnya kembali.


Rei yang ingin menghampiri Miki terhalang saat Hiro sudah lebih dahulu menghampiri Miki sambil menarik lengannya. “ Ikut aku. “


“ Tidak! “ tahan Miki tidak ingin. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Kenzi, sikap memaksa Kenzi lah yang tidak disukai oleh Miki. “ Miki! “ seru Kenzi terus menarik lengan Miki dengan kuat.


“ Aaa, sakit. “ Miki meringis kesakitan dengan tangan Kenzi yang menggengam dengan sangat kuat.


Mendengar ringsan sakit dari Miki, Hiro terbangun dari tidurnya sambil menepak meja dengan sangat kuat. “ Sial. “ keluh Hiro.


Seluruh siswa-siswi mulai memperhatikan kearah mereka bertiga, Hiro beranjak dari kursinya sambil berkata dengan tampang sinis “ Woi, berisik! “

__ADS_1


Hiro mendekati Kenzi dan mulai melepaskan tangan Kenzi dari lengan Miki dengan keras. “ Kamu tidak mendengar dia kesakitan? “ lanjutnya.


__ADS_2