Love Captain Handsome 2

Love Captain Handsome 2
Sekolah Dasar


__ADS_3

Bagi Miki tidak perlu ada penjelasan, semua sudah jelas bahkan Hiro tidak berkata dia menyukai Miki juga. Jadi semua itu hanyalah ilusi Miki, hanya harapannya yang ingin Hiro menyukainya sama seperti sewaktu kecil.


“ Tidak perlu dijelaskan lagi. “ kata Miki melepaskan tangan Hiro dari bahunya. “ Kamu sudah milik orang, dan aku hanya pemanismu sebelumnya. “ Miki melangkahkan kaki keluar dari gedung sekolah dengan mata berkaca-kaca.


Rasa frutsasi menghantui Hiro, ia benar-benar harus


berbicara dengan Miki. Orang lain boleh tidak percaya, tapi tidak dengan Miki.


Satu-satunya orang yang harus percaya dengan dirinya adalah Miki.


Namun, karena kesalahannya sendiri ia membuat Miki tidak percaya lagi.


Pengecut, bodoh. Batin Hiro.


Langkah kaki Miki terasa sangat berat, ia tidak bisa meninggalkan Hiro lagi. Hatinya meminta penjelasan, tetapi otaknya terlalu lelah untuk segala hal lagi.


Ini waktunya untuk berhenti, begitulah otak Miki.


Tanpa sadari, air mata menjatuhi pipinya lagi. Kakinya lemas, ia berjongkok di depan halte bus dengan menundukkan pandangannya. Miki membayangkan kembali foto Hiro dengan Kariu, tangisnya pun pecah.


Banyak orang memperhatikannya, ada orang yang bertanya dengan khawatir tapi Miki sama sekali tidak menjawab ia terus menangis dengan sangat kencang.


Lalu, seseorang berdiri di depan Miki dengan tatapan sinis. “ Kenapa kamu ini cengeng? “ suara familiar yang terdengar membuat Miki mendongakkan kepalanya, terlihat seorang wanita dengan seragam SMA Inuyashi.


Dia adalah Akemi, tampangnya sangat galak membuat Miki menghapus air matanya merasa malu di hadapan rivalnya sendiri.


“ Kenapa kamu ada disini? “ Miki berdiri dan duduk dibangku halte bus. “ Jalan-jalan saja. “ jawab Akemi duduk di samping Miki.


Terjadi keheningan sesaat, orang yang beberapa bulan lalu hubungannya canggung.


“ Bagaimana kakimu? “ Akemi menghentikan keheningan.


“ Sudah baik, tapi tetap tidak boleh bermain basket. “ Miki menaikkan kaki kananya ke atas. “ Ternyata kamu bodoh ya, demi menang kamu melukai dirimu. “ tegur Akemi menundukkan pandangan.


“ Itu karena aku ingin mengalahkan kamu. “ Miki tersenyum kecil menoleh kearah Akemi. “ Bahumu, apa baik-baik saja? “


Mata Akemi melebar, ia tidak percaya rahasia yang disimpannya baik-baik terbongkar oleh Miki. “ Tidak apa-apa. “


“ Jangan bohong, aku juga tahu dari pertandingan final. Kita sama-sama terluka tapi tetap mengarahkan yang terbaik, bodoh. “ Miki menghela nafas panjang.


“ Kamu yang bodoh. “ ejek Akemi.


“ Hah. “ Miki mendesah kesal, Akemi memegang bahunya membuat Miki mengurungkan niat untuk bertengkar lebih jauh. “ Tidak ada yang lebih mengenal diri kita sendiri dibanding musuh kita sendiri. “


“ Aku mengenalmu jauh lebih dari yang kamu tahu, Akemi! Cepat obati. “


“ Kamu tahu aku? Benarkah? Tapi kamu tidak tahu tentang aku dengan Hiro kan? “


Miki menatap galak kearah Akemi, mendengar namanya membuat hatinya terusik lagi.


Sangat menyebalkan.

__ADS_1


“ Bagaimana? Kamu ingin aku ceritakan? “ Akemi memancing Miki.


“ Tidak perlu. “ tolak Miki menundukkan pandangan. “ Ayolah, kamu tidak ingin tahu semasa SMP Hiro? Aku akan ceritakan seluruhnya dengan satu syarat. “ pinta Akemi dengan sungguh-sungguh.


“ Apa? “


“ Ajarkan aku meteor jum. “ permintaan yang tidak bisa Miki terima, ia saja belajar dari video Ayahnya.


Bagaimana bisa Miki mengajarkan orang lain?


“ Tidak. “


“ Kalau begitu aku tidak akan memberitahu. “ Akemi melipat kedua tangannya di atas perut. “ Bukan seperti itu, masalahnya.. “ perkataan Miki terhenti membuat Akemi mengangkat satu alisnya tidak mengerti.


“ Aku belajar meteor jam hanya dari video. “ Miki mengigit bawah bibirnya.


“ Apa? Gila. “ kagum Akemi kepada Miki semakin mendalam, orang yang pantas mendapat gelar “ Iblis “ adalah Miki. Mulut Akemi mengaga tidak percaya, ia menggeleng-gelengkan kepala. “ Tetap saja ajarkan aku! “


“ Aku akan minta Ayahku. “ kata Miki terpaksa.


“ Oke. “ Akemi membentuk sebuah tanda oke di jari tangannya.


Lalu, perlahan Akemi menceritakan kisah 4 tahun sebelumnya.


Akademi Junior Aikoku Gakuen, Edogawa, Tokyo.


Sebuah sekolah menengah pertama yang Akemi jalankan, waktu itu Hiro pindah ke sekolahnya dengan wajah yang sangat dingin membuat banyak orang tidak menyukainya. Tapi karena Hiro tampan, banyak perempuan yang mendekatinya.


Tidak perduli sedingin apa Hiro, Akemi tetap mendekatinya.


Umur 13 tahun, banyak orang yang sudah mengenal kata “ Cinta “ dan seisi sekolah sudah membicarakan tentang cinta pertama.


Berjalannya waktu, perasaan Akemi yang tadinya penasaran berubah menjadi rasa suka. Ia ingin tahu apakah Hiro memiliki seseorang yang dicintai atau tidak, atau Hiro sendiri memiliki cinta pertama.


“ Hiro, siapa cinta pertamamu? “ tanya Akemi berjalan pulang berdampingan dengan Hiro.


“ Seorang gadis jepang tidak dikenal yang sendirian di sebuah gedung. “ jawab Hiro tidak masuk akal, Akemi tidak mengerti siapa gadis itu.


“ Gadis Jepang? “


“ Iya. “ datar Hiro.


Siapa itu? Akemi seketika penasaran. Tapi Akemi tidak perduli, ia yakin dengan usaha kerasnya akan membuat sifat dingin Hiro berubah menjadi hangat kepadanya.


Seiring waktu Hiro memperlihatkan sifat hangatnya, ia tidak suka melihat seseorang melukai Akemi tepatnya Hiro tidak suka ada seorang lelaki melukai perempuan.


Akemi yang kaget menganggap bahwa Hiro sudah menyukainya, sama dengan dirinya yang telah menyukai Hiro.


Tapi ternyata Hiro bersifat lembut kepada perempuan yang banyak dilukai lelaki secara fisik, harapan Akemi menghilang seketika.


Cinta monyet bagi Akemi, ia mengetahui dirinya tidak ada dalam Hiro. Dan sebenarnya Hiro selalu menjaga jagak darinya.

__ADS_1


Kemudian, seseorang yang telah ditolong Hiro menyatakan cintanya dan Hiro menolak dengan perkataan. “Aku memiliki batasan. “


Batasan?


Apa batasannya?


Hiro memang tidak melukai seorang perempuan dengan fisik karena ia tidak menyukainya, tapi Hiro bisa melukai hati seorang perempuan yang sudah berharap lebih kepadanya.


Begitulah Akemi yang telah dilukai.


10:00 a.m


Di Taman Sekolah, sudah ramai anak-anak yang bermain di taman bermain. Ada yang bermain ayunan, dan lain-lain. Langit juga tampak sangat cerah, hari ini Akemi ingin mengungkapkan perasaannya walau tidak diterima oleh Hiro.


Karena semakin lama, perasaan Akemi tidak dapat ditahan lagi.


“ Hiro. “ panggil Akemi kepada Hiro yang sedang duduk di danau memperhatikan air yang tenang. “ Sepertinya kamu cinta pertamaku. “ perkataan polos yang asal tanpa hati dengan jantung berdegup cepat.


“ Aku memiliki batas kepada orang lain. “ ucap Hiro sama seperti kepada perempuan kemarin. “ Aku tidak akan menyukai orang lain, dan tidak akan pernah bersama siapapun. “


Mata Akemi melebar, rasa suka ini hanya sementara tidak selamanya. Tapi kenapa rasanya sakit sekali?


“ Jadi bagaimana dengan cinta pertamamu? “ tanya Akemi penasaran, tanpa menjawab pertanyaan Hiro ia sudah berlari karena gelangnya berbunyi menandakan bahwa Ibunya terluka.


“ Kenapa? “ Akemi mengikuti Hiro.


“ Ibuku terluka. “ jawab Hiro menuju sebuah rumah sakit jiwa di daerah sana.


Akemi terkejut sesampainya disana, ia melihat Ibu Hiro yang sedang melukai diri sendiri sambil berkata. “ Nobu, Nobu!! “


Arlene, Ibu Hiro bahkan tidak mengenali Hiro. Ia malah menggores pisau tepat di wajah Hiro, dan saat Hiro menenangkannya Arlene baru mengetahui kalau itu adalah anaknya.


Kaki Akemi lemas, ia tidak percaya apa yang Akemi lihat. Ternyata batasan yang Hiro buat adalah karena Ibunya sendiri, ia takut tidak bisa menjaga Ibunya atau tidak bisa menjaga orang lain yang bersamanya.


Ia takut akan meninggalkan Ibunya karena orang lain, Hiro tidak bisa hidup tanpa Ibunya.


Karena Hiro mencintai Ibunya lebih dari siapapun, dan jika ada orang yang bisa mendapatkan hati Hiro.


Dia sangat beruntung.


Dan orang itu adalah Miki.


Setelah Akemi mengetahui bahwa Ibu Hiro mengalami gangguan mental, Akemi yang ingin berusaha berbuat baik dengan Hiro tapi malah membuat jaraknya dengan Akemi semakin jauh.


Tapi tidak lama kemudian, Hiro sudah pindah dan Akemi sendiri merasa bersalah.


“ Dan saat aku tahu kamu dekat dengan Hiro, aku tahu kalau kamu adalah cinta pertama Hiro yang tidak akan bisa ia lupakan. “ jelas Akemi kepada Miki, Miki mempertemukan kedua tangannya ia juga tahu seberapa cintanya Hiro dengan Ibunya.


Namun, Miki tidak minta apa-pun. Ia hanya ingin mendengar beberapa kata dari Hiro saja, katakan kalau memang Hiro menyukainya dan katakan bila ia tidak menyukai Miki.


Agar Miki tidak terus berharap pada sesuatu yang tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2