
Mata Rei melebar mendengar perkataan yang menggerakan hatinya, sedangkan Kenzi masih menatap tajam kearah kedua pria tersebut. Melihat tatapan yang menakutkan dari Kenzi, kedua pria itu langsung berlari terbirit-birit.
“ Terimakasih. “ kata Rei melepaskan tangan Kenzi dari lengannya dengan pandangan tertunduk dan kembali berjalan memasuki gedung sekolah.
“ Hei, lain kali hati-hati!! “ teriak Kenzi yang dihiraukan oleh Rei.
Perasaan Rei yang menggebu-gebu, tidak seharusnya ia seperti ini Kenzi hanya membantunya, itu saja tidak boleh berharap lebih.
Tangan Rei terkepal, ia kesal dengan harapan yang masih tersisa dalam hatinya untuk Kenzi. Sebuah harapan yang menginginkan Kenzi untuk menoleh kearahnya, tetapi nyatanya tidak akan pernah.
Karena Kenzi masih melihat kearah depan, yaitu Miki.
....
Jam sudah menunjukan pukul 6 sore, pikiran Miki yang kacau karena memikirkan tentang muntahnya dipunggung Hiro. Ia harus apa? Meminta maaf? Tidak mungkin, karena Miki tidak ingin bertemu dengan Hiro.
Dengan menimbang-nimbang papan strategi di tangannya sambil memperhatikan para tim putri Seido yang tengah berlatih.
“ Miki-sensei. “ panggil Layla dengan keringat yang mengucuri wajahnya.
Bisa dibilang kalau Layla adalah pemain andalan dari tim ini, tim Seido berhasil juara Inter-High musim panas kemarin karena permainan Layla yang sangat memukau walaupun sifatnya sedikit pemalu.
__ADS_1
“ Iya apa? “ lamunan Miki buyar.
“ Bisa tolong liat shoot three-pointku? “ pintanya dengan membawa bola basket, beberapa pemain sudah berhenti untuk berlatih sedangkan Layla masih dengan sigap.
“ Baik, tapi hanya 10 lemparan mengerti? Sehabis itu kamu pulang. “ jawab Miki memperhatikan Layla. “ Untuk yang lain silahkan kembali ke ruang ganti, sebentar lagi kita akan membahas tentang perlombaan musim gugur. “
“ Baik!! “ serentak dari tim basket putri SMA Seido.
Dan tidak berlama-lama, Miki memperhatikan tembakan Layla ke dalam ring yang terlihat berat dan tidak masuk.
“ Layla, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? “ Miki melihat sikap Layla yang tidak seperti biasanya.
“ Terus aku harus apa Miki-sensei? Aku sakit hati. “ jawab Layla membuat mulut Miki mengaga. “ Sakit hati karena? “ Miki tidak ingin terlalu banyak berbicara karena takutnya akan salah.
“ Maaf, aku tidak bisa beritahu. “ jawab Layla dengan menembak kearah ring tapi tidak masuk.
“ Jadi ini alasan tembakanmu menjadi tidak akurat? “ Miki mengambil bola basket dan melakukan dunk yang memukau sama seperti ia saat SMA.
“ Wow. “ kagum Layla.
“ Menurutku, kamu harus bisa memedakan mana prioritas utama. Kalau permainan basketmu jadi jelek karena sakit hati, apa kamu bisa terima? Tidak, kan? “ tegur Miki. “ Sakit hati dan basket itu beda ceritanya, ingat itu! “
__ADS_1
Mata Layla berubah menjadi berbinar, ia semakin menganggumi Miki.
“ Ayo kita rapat untuk pertandingan musim gugur. “ perintah Miki seraya melangkahkan kaki keluar dari gedung yang diikuti oleh Layla dari belakang.
Keesokan harinya.
Langit yang sejuk membuat Miki menatap langit dengan senyum kecilnya, kemarin ia sama sekali tidak mabuk karena terlalu lelah untuk memikirkan Hiro.
Tapi saat Miki sadar kembali, ia teringat lagi soal muntahnya di hadapan Hiro.
“ Miki, ayo masuk. “ kata Rei yang memberhentikan langkah kakinya karena Miki yang tengah terdiam memperhatikan langit.
“ Ayo. “ Miki melangkahkan kaki memasuki gedung sekolah.
Namun, banyak siswa-siswi yang mengerumuni ruang guru. Mereka berbisik-bisik soal guru pengganti baru yang katanya tampan.
“ Ada guru baru? “ tanya Miki memasuki ruang guru dengan wajah tidak perduli.
Tapi coffe yang ditangan Miki jatuh seketika saat melihat seorang wajah familiar di hadapannya dengan senyuman hangatnya.
Guru baru itu adalah Hiro.
__ADS_1