
Tanpa meminta izin kepada kedua orang tua Miki, Hiro sudah membawa Miki keluar untuk pergi menuju Kyoto dan berjalan bersama dengannya setelah 1 Minggu tidak keluar.
Langit yang gelap, dan beberapa orang sudah memakai baju Yukata yang mengartikan bahwa hari ini ada acara Festival Kembang Api.
Berbagai macam jajanan sudah memadati jalanan, pementasan kembang api yang dimulai dalam sebentar lagi, serta melimpahnya sake dan bir.
Keduanya mengelilingi tempat Festival Kembang Api, kaki Miki yang masih belum pulih sehingga Hiro menggenggam jemari tangan Miki agar ia tidak jatuh atau tiba-tiba menghilang.
“ Aku beli takoyaki! “ Miki memesan Takoyaki dua porsi untuknya dan Hiro, mereka kembali berjalan setelah memesan Takoyaki sambil memakan Takoyaki tersebut.
Mereka bermain pancing ikan lagi dengan seorang pedagang tua, siapa yang mendapatkan lebih banyak dia yang menang.
Alhasil, Hiro mendapatkan 3 ikan dan Miki 1 ikan karena kesulitan.
“ Hadiahku apa? “ Hiro meminta hadiah kepada Miki.
“ Kita tidak ada perjanjian seperti itu, wle. “ ledek Miki menjulurkan lidah.
“ Kalau begitu gimana dengan bermain tembak-tembak? “ ajak Hiro. “ Yang menang mendapat hadiah. “
“ Hadiah apa? “ Miki memikirkan hadiah yang akan Hiro berikan kepadanya. “ Apa saja terserah. “ jawab Hiro.
“ Deal. “ Miki mengangkat satu alisnya, Hiro tidak tahu seberapa hebat ia memainkan senjata.
Dan benar, Miki mendapatkan point 10 yang berarti paling besar berbeda dengan Hiro yang hanya mendapat point 9.
“ Kamu hebat sekali. “ kagum Hiro. “ Kamu ingin apa? “
“ Wah, ada eskrim! “ Miki membeli dua eskrim untuknya dan Hiro, ia rasa coklat dan Hiro rasa vanilla.
Keduanya berjalan lagi di tengah-tengah orang yang berdempetan.
“ Kamu ingin hadiah apa? “ Hiro telah selesai memakan eskrim.
“ Acara peluncuran kembang api akan segera dimulai. “ terdengar suara speaker yang begitu keras. “ Selamat menikmati indahnya kembang api di langit musim panas nan cerah. “
Banyak orang sudah mengerumuni bukit yang dapat melihat secara langsung kembang api yang indah, tapi Hiro dan Miki melihatnya dari jembatan karena tempat disana sudah sangat dipenuhi orang-orang.
Tidak lama kemudian, kembang api menyala dengan indah di langit.
Miki yang memperhatikan Hiro langsung menyentuh bibir Miki tanpa berkata apa-apa, Hiro memiringkan kepala tidak mengerti.
Tapi Miki semakin kesal dan terus menyentuh bibirnya.
Otak Hiro mulai bekerja, apa maksud dari Miki itu adalah hadiahnya?
Mencium bibir Miki? Pipi Hiro mulai memerah memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
Langit yang dipenuhi warna-warni yang sangat indah, suara-suara meledaknya dari kembang api membuat tubuh Hiro tidak bisa bergerak.
Apa ia harus mencium Miki disini?
Dengan malu, Hiro menarik lengan Miki menjauhi kerumunan.
“ Mau kemana? “ tanya Miki tidak mengerti, Hiro menarik lengannya sampai di sebuah tempat taman bermain yang sepi tapi masih memliki pemandangan kembang api yang berkilau di langit.
Hiro mengeluarkan medali emasnya dan mengkalungkan medali tersebut kepada Miki sambil berkata dengan senyuman kecil. “ Simpan itu ya. “
Wajah Hiro sangat dekat dengan Miki membuat pipinya memerah seketika, dan tiba-tiba saja Hiro mencium bibirnya dengan lembut.
Ciuman yang sebentar tapi membuat jantung Miki berdegup dengan cepat.
Apa ini? Pikir Miki.
“ Itu hadiahnya kan? “ Hiro memalingkan pandangan karena malu.
“ Aku belum bilang ini hadiahnya. “ jawab Miki.
“ Tapi kamu menyentuh bibir kamu terus- “
“ Bibir kamu ada eskrim nya. “
Pikirannya mulai kacau, ia berjalan kesana-kemari karena malu yang tidak tertahan.
“ Hahaa. “ tawa Miki lebar melihat perilaku Hiro yang tidak seperti biasanya, Hiro memberhentikan langkah kakinya dan mencoba untuk menatap Miki tapi tidak bisa karena perilaku bodohnya tersebut.
Di lain sisi, Miki hanya tersenyum merasa sangat bahagia karena mendapatkan ciuman dari Hiro.
Tidak ingin lebih canggung lagi, Miki menggenggam jemari tangan Hiro dan berkata. “ Ayo pulang, kedua orang tuaku pasti sudah mencariku. “ Hiro mengangguk-anggukan kepala mengerti.
Mereka berjalan bersama menuju kediaman Miki, tapi sepanjang perjalanan Hiro tidak sedikit bersuara.
Tangannya juga berkeringat karena merasa gugup berhadapan dengan Miki.
“ Hiro. “ panggil Miki yang membuat Hiro terkejut. “ A..paa? “ gugupnya.
“ Katanya kamu ingin menemuiku dengan Ibumu. “ Miki memberhentikan langkah kaki karena sudah berada di depan rumahnya.
“ Benar, bagaimana kalau lusa? “ ajak Hiro. “ Aku akan menjemputmu. “
Mata Miki berbinar, ia ingin melihat Ibu Hiro yang sudah melahirkan sosok tampan seperti Hiro.
“ Iya, kabariku ya. “ Miki memasuki rumah sambil melambaikan tangan, Hiro membalas lambaian tangan sambil melangkahkan kaki menjauhi rumah Miki dengan senyum lebar.
__ADS_1
...
Ting-nong
Bel rumah Miki sudah berbunyi, ia membuka pintu dan melihat Hiro yang sudah rapih untuk mengajaknya menuju tempat Ibu Hiro.
“ Ayo. “ Hiro dengan senyum lebar, Miki menganggukan kepala dan berjalan keluar menuju kereta api bawah tanah.
Perjalanan dari Tokyo, menuju prefektur Tokushima. Sebuah daerah yang dikenal dengan wisata alamnya, dan berada di tengah pegunungan yang dikelilingi pepohonan.
Perjalanan tidak cukup lama, keduanya sudah sampai disana dan merasakan udara yang bersih dan langit yang sejuk.
Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah rumah sakit jiwa Eun, rumah sakit jiwa terpencil di daerah sini.
Mulut Miki mengaga tidak percaya, apa benar Ibu Hiro berada disini?
Tetapi Miki terus mengikuti langkah kaki Hiro dan terhenti di sebuah ruang 22, Hiro membuka pintu dan terlihat seorang wanita yang usianya sama dengan Anna.
Wajahnya masih terlihat sangat cantik dan putih, ia berbaring di kasur dengan mata terpejam.
Tertulis nama di depan ranjang tersebut. “ Hara Arlene. “
Nama seorang wanita yang telah melahirkan Hiro, dan kini ia berbaring dengan kondisi gangguan mental.
“ Dia ibuku. “ kata Hiro.
“ Selamat pagi Bibi, aku Miki. “ sopan Miki kepada Arlene yang tertidur lelap.
“ Aku selalu melarikan diri dari Ayahku, dan membawa ke tempat dimana ia tidak akan mengetahuinya. Jika Ayah tahu sedikit saja, aku membawa Ibuku menjauh lagi agar ia tidak menemui Ibuku. “ jelas Hiro mengusap wajah Arlene.
Usapannya sangat lembut yang mengartikan kalau Hiro benar-benar menyayangi Ibunya lebih dari apapun dan alasan itulah yang membuatnya menjauh dari Miki 1 tahun sebelumnya.
Karena Ibu Akira memberitahu kepada Hiro kalau Nobu sudah mengetahui tempat Arlene.
“ Apa alasan Ayah kamu ingin menemui Ibumu? Bukannya dia sudah menyakiti Ibumu? “ tanya Miki penasaran.
“ Entahlah, tapi dia selalu berusaha menemui Ibu dan aku takut Ibu akan terluka lagi. “ jawab Hiro menggengam jemari tangan Arlene. “ Yang membuat Ibuku seperti ini juga karena pria itu menikah dengan wanita lain, iya dia orang yang kamu lihat kemarin. “
Penjelasan Hiro membuat Miki mengerti kenapa selama ini Hiro membenci dengan Ayahnya.
“ No..bu.. “ Arlene membuka mata perlahan dan melihat orang yang di hadapannya bukanlah Nobu melainkan orang lain. “ Siapa kamu? “
Arlene bahkan tidak mengenali anaknya sendiri, dan hanya mengenali Nobu.
Sebegitu cintakah dia dengan Nobu?
__ADS_1
Tetapi memang pada dasarnya cinta bisa membutakan sesuatu.