
Langit yang mulai menggelap, udara yang semakin dingin dan angin yang mulai berhembus dengan kencang.
Miki terus berlari dengan perasaan bersalahnya, selama ini dia egois memikirkan dirinya sendiri padahal Hiro mungkin lebih tersakiti.
Seharusnya Miki bisa mengerti kalau orang yang paling disayangi oleh Hiro adalah Ibunya, karena itulah dia harus menuruti semua perkataan Ibunya.
Tetapi Miki malah berpikir hal lain yang tidak harusnya ia pikirkan, Miki emosi karena Hiro tidak memberi penjelasan apapun kepadanya.
Tidak seharusnya ia berpikir seperti itu, dan Miki juga sudah menyakiti Hiro dengan kata-kata yang begitu menyakitkan.
" Itu karena aku marah, walaupun itu kamu atau orang lain, aku akan sama menangis. Jadi jangan berlebihan. "
Harusnya dari awal Miki bisa mengatakan kalau dirinya juga masih belum bisa melupakan Hiro dan masih sangat mencintainya, mungkin dengan ucapan itu semuanya bisa kembali semula.
Dan hari-hari Miki akan kembali berwarna.
Tapi karena keegoisannya, ia juga membuat Hiro tersakiti.
Miki terus berjalan tanpa melihat sekitar, sampai akhirnya ia berjalan di tengah-tengah jalanan membuat dirinya hampir saja tertabrak jika Hiro tidak menariknya.
" HEI, KAMU GILA!! " bentak Hiro dengan khawatir, sedangkan Miki hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang tak kunjung berhenti. " Apa Yoko berkata sesuatu kepada kamu? "
Tidak ada jawaban dari Miki.
" Miki.. " mohon Hiro dengan mata yang sendu, Miki mengangkat kepalanya dan menatap mata Hiro.
" Hiro, maafkan aku. " gumam Miki sambil memeluk tubuh Hiro dengan sangat erat, ia menangis di dalam pelukan Hiro tanpa bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Hiro yang merasa aneh hanya membalas pelukan dengan mengelus kepala Miki mencoba menenangkannya.
7:00 p.m
Setelah Miki menangis tanpa henti, ia bersama dengan Hiro berjalan bersama menuju kediaman Miki.
Mata Miki yang membengkak dan sepanjang perjalanan tanpa suara sedikitpun.
" Aw. " Miki meringis kesakitan karena high heelsnya patah. " Ah aku benci menggunakan ini! " keluh Miki melepaskan high heels dan roknya.
Kaki Miki yang tampak terluka dan memerah membuat Hiro langsung berjongkok di hadapan Miki.
" Naik. " katanya membuat pipi Miki memerah, kaki Miki terkilir sehingga untuk berjalan pun sulit. Ia tidak punya pilihan selain menaiki punggung Hiro yang lebar.
" Kamu bertemu dengan Yoko saja harus menggunakan pakaian yang rapih seperti ini. " ujar Hiro yang menggendong Miki.
" Hahaha. " tawa Hiro yang tampak sangat lega dan bahagia. " Apa yang dibicarakan Yoko sampai kamu menangis? "
" Apa dia berbicara sesuatu yang menyakiti kamu? " lanjut Hiro penasaran.
Tetapi Miki sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Hiro, ia hanya terdiam sejenak dan berkata " Maaf. "
" Kamu tidak ingin bercerita? Baiklah biar nanti aku bertanya kepada Yoko dan memarahinya. "
" Tidak perlu, aku tidak apa-apa! " seru Miki.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan kediaman Miki. Hiro yang masih menggendong Miki memasuki rumahnya dan menurunkan Miki di sofa.
Mata Hiro melihat kaki Miki yang memerah dan juga bengkak membuatnya mengepalkan tangan merasa sangat kesal.
" Lain kali kamu jangan menggunakan high heels! " protes Hiro tidak suka bahwa Miki berusaha tampil beda tapi menyakiti dirinya sendiri.
" Tenang saja, besok juga sembuh. " Miki mencoba meredakan emosi Hiro. " Aku ambilkan air ya "
Ketika Miki ingin beranjak dari kursi, Hiro menahannya agar tidak pergi kemana-mana.
" Dimana kotak P3K? Aku ingin mengobati luka kamu. " kata Hiro mencari kotak P3K.
" Tidak perlu aku bisa sendiri. " tolak Miki tidak ingin merepotkan Hiro.
" Sudah diam saja! " seru Hiro dengan nada tinggi dan mengambil kotak P3K di lemari.
Setelah itu, Hiro mulai mengobati luka Miki perlahan dan mengompres kakinya yang terkilir dengan es batu.
Mata Miki tidak bisa berpaling dari Hiro yang tengah mengobati dirinya, sudut bibir Miki terangkat betapa bahagianya saat ini.
Keadaan ini sama seperti sewaktu masa sekolah, Hiro yang tampak begitu perhatian dan baik.
Dia tidak pernah berubah sedikitpun.
Tanpa sadar Miki mengelus lembut pipi Hiro sambil berkata " Terima kasih, Hiro. "
__ADS_1