
Sinar matahari yang begitu terik dan tarikan tangan Kenzi yang sangat kuat membuat Rei melepaskan dengan paksa.
" Lepaskan! " seru Rei memegang pergelangan tangannya yang memerah karena Kenzi menggenggam dengan sangat kuat.
" Maafkan aku. " Kenzi ingin menyentuh lengan Rei tetapi terhenti karena Rei memundurkan langkahnya.
" Ada apa? cepat katakan! " Rei tidak ingin basa-basi.
" Apa kamu tidak ingin mendengar perkataanku terlebih dahulu? " kata Kenzi, tetapi Rei memalingkan pandangan yang berarti jawabannya " Tidak. "
Ia sama sekali tidak ingin mendengar perkataan Kenzi yang pasti akan menyakiti dirinya perlahan, Kenzi mengeluarkan sebuah record dari saku celananya dan memberikannya kepada Rei.
" Kalau begitu, dengarkan ini saja. " Kenzi melangkahkan kaki pergi meninggalkan Rei dengan record yang berada di tangan Rei.
Sedangkan dilain sisi sebuah keadaan makin memanas antara Miki dengan Yoko. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan tajam, mengartikan bahwa keduanya sedang bersaing saat ini.
" Apa maumu? " sinis Miki tidak lagi canggung.
" Kau ini wanita yang tidak berhak mendapatkan cinta dari Hiro, tapi dia malah tergila-gila dengan kau dan kau hanya bisa menyakiti dia. " kata Yoko tanpa mengetahui apapun.
__ADS_1
" Kau siapa Hiro? Pacar atau tunangan? " pertanyaan yang tidak bisa dijawab sedikitpun oleh Yoko, sudut bibir Miki terangkat berarti perkiraan dia salah.
Wanita yang ada di hadapannya bukanlah pacar ataupun tunangan dari Hiro.
" Kau siapa? Bukan pacar seenaknya berkata seakan-akan kau mengetahui segalanya! " tegas Miki berjalan mendekati Yoko dan berbisik " Kau itu hanya orang biasa yang lewat di kehidupan Hiro. "
Mendengar perkataan tersebut, Yoko mengepalkan tangannya dengan kesal tanpa bisa menjawab sedikitpun.
Miki memberikan senyum kecil dan berjalan melewati Yoko tanpa berpamit terlebih dahulu, tetapi baru saja Miki ingin melangkahkan kakinya, ia tidak sengaja melihat Hiro yang berdiri tidak jauh darinya.
" Hiro? " Miki kebinggungan, Hiro menarik lengan Miki sambil berkata " Kau bau alkohol, ayo pergi! "
Dan Hiro kembali lagi membawa Miki ke dalam kediamannya, Miki yang tidak bisa apa-apa hanya mengikuti Hiro karena tatapannya yang sangat menakutkan.
Setelah selesai mandi dan rapih-rapih kembali, Miki dengan gugup berkata " Sepertinya aku harus pulang. "
" Tadi kenapa kamu tiba-tiba keluar tanpa pamit? " dingin Hiro membuat tubuh Miki kaku.
__ADS_1
" Maa-aaf. " kata Miki dengan pandangan tertunduk.
Hiro mulai beranjak dari sofa dan mendekati Miki. " Dia bukan kekasihku atau siapapun, dia hanya seorang dokter mengerti? "
" Aku mengerti, lagipula aku tidak perlu penjelasan seperti itu. "
Ya memang, Miki bukanlah siapa-siapa Hiro sehingga ia tidak perlu mendengar penjelasan seperti itu.
" Miki! " Hiro memegang bahu Miki dengan sangat erat. " Tolong sukai aku lagi "
Mata Hiro yang tampak sendu dan perkataan yang membuat jantung Miki berdebar.
Tidak perlu menyukainya lagi, memang Miki sudah menyukai Hiro dan perasaan itu tidak bisa dilepaskan sedikitpun.
Miki ingin mengeluarkan sedikit perkataan, tapi bibirnya seperti tertahan oleh sesuatu sehingga ia tidak bisa mengucapkan bahwa dirinya juga menyukai Hiro.
Luka lama yang membekas masih terasa sangat sakit untuk Miki.
" Tolong hari ini tetap bersamaku. " ucap Hiro membuat mata Miki melebar, Hiro mengulurkan tangannya tapi Miki hanya menatap tangan Hiro tanpa meraihnya sedikitpun.
__ADS_1
Dan tanpa berbasa-basi, Hiro langsung menarik Miki ke dalam pelukannya. " Aku menyukaimu, aku mencintaimu. Apa itu masih belum cukup? "