
Seluruh siswa-siswi yang berada di kelas mulai memperhatikan kearah Miki, Kenzi dan Hiro dengan kebinggungan, Kenzi dan Hiro bahkan menatap satu sama lain dengan tajam.
“ Aku yang duluan! “ seru Kenzi.
“ Aku duluan! “ balas Hiro tidak ingin kalah.
Pertengkaran dari Kenzi dan Hiro membuat Miki menggepakkan tangannya di meja dan berkata kepada Kitaro. “ Mari berbicara. “ Miki melangkahkan kakinya keluar dari kelas untuk berbicara dengan Kitaro.
Para siswa-siswi kelas 1,2,3 mulai memperhatikan kearah Miki dan Kitaro yang berjalan berdampingan. Pengungkapan cinta yang dilakukan oleh Kitaro sudah menyebar ke seluruh angkatan kelas, guru-guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, security juga tahu tentang tersebut.
Ketika Kitaro ingin berbicara kepada Miki tapi tidak nyaman karena seluruh siswa-siswi yang mulai memperhatikan kearahnya, Miki yang juga merasa sangat kasihan kepada Kitaro membawanya ke Taman belakang sekolah sehingga tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Bila tahu mungkin juga mereka tidak dapat mendengar perkataan dari Kitaro, Kitaro berjalan perlahan mendekati Miki. “ Maaf senpai karena sudah tiba-tiba menyatakan perasaan saya begitu saja, saya diperintahkan oleh Daniel-senpai untuk cepat-cepat menyatakan cinta saya. Maka dari itu saya ingin terburu-buru menyatakan cinta saya kepada Miki-senpai. “ paparnya
“ Kita bicara informal saja ya, aku tahu kok rasanya ingin seseorang mengetahui perasaan yang kamu rasakan, tetapi terburu-buru juga tidak baik. Aku disini ingin memberitahu dengan jelas agar kamu mengerti, aku tidak bisa menerima kamu karena aku memang tidak memiliki perasaan untukmu, dan aku sudah menyukai seseorang, maaf bila cara penolakan aku ini salah tapi aku tidak ingin kamu berharap sampai menungguku. Itu tidak baik. “ jelas Miki sambil mengulurkan tangannya. “ Kita jadi teman baik, oke? “
Kitaro yang sudah tahu bahwa perasaannya tidak akan terbalaskan merintikan air mata, ia tidak tahu bawah rasanya ditolak akan sesakit ini. Apalagi, Miki adalah seorang penyemangat hidup Kitaro saat ia berada diketerpurukan dalam permainan basketnya.
“ Iya senpai. “ jawab Kitaro meraih uluran tangan Miki.
Miki tersenyum manis kepada Kitaro, dan senyuman itulah yang membuatnya menyukai Miki.
“ Jangan senyum seperti itu, nanti aku suka lagi. “ keluhnya membuat Miki tertawa dengan kelakuakn anak kecilnya.
Dan dari ujung, Hiro serta Kenzi sedang berdiam-diam mengumpat melihat mereka dari kejauhan. Sesaat Miki tertawa dengan Kitaro, mereka berdua langsung menghampiri Miki dan berbicara secara bersamaan kembali. “ Sekarang, waktunya aku berbicara dengan kamu.”
“ Kenapa kamu mengikutiku terus. “ Kenzi dan Hiro berbicara bersamaan lagi.
“ Mereka ini kenapa? “ Miki kebinggungan, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena pertengkaran mereka tidak ada habisnya, saking lelahnya melihat pertengkaran tersebut Miki berjalan keluar bersama dengan Kitaro meninggalkan Kenzi dan Hiro.
__ADS_1
Sedangkan Kenzi dan Hiro masih bertengkar tanpa menyadari bahwa Miki sudah tidak ada di samping mereka, karena kepergian Miki keduanya saling menyalahkan satu sama lain dan membuat pertengkarannya semakin lama.
TENG-NENG-TENG-NENG
Bel pulang sekolah berbunyi menyaring di seluruh gedung sekolah, seluruh guru sudah keluar dari kelas dan murid-murid sudah mulai untuk melaksanakan kegiatan lain. Seperti halnya Miki yang ingin melakukan sesuatu kegiatan tapi tidak tahu harus melakukan apa.
Latihan hari ini libur dan lapangan dipakai untuk tim basket putra sparing bersama SMA Okawa, salah satu tim terbaik ke dua setelah SMA Seido.
Drett-drett
Sebuah pesan masuk dari handphone Miki, ia segera membaca pesan dari Ayahnya yang tertulis. “ Ke rumah sakit cepat, kamu harus periksa kakimu. “
“ Ish. “ keluh Miki yang tidak ingin ke rumah sakit, ia sudah menduga jika Ayahnya tahu tentang cedera kakinya Lim pasti akan membawa Miki untuk periksa kembali kakinya.
Setelah pertandingan SMP-nya saat semi-final Winter Cup, Miki mengalami cedera kaki yang harus segera diisirahatkan jika tidak kakinya akan berakibat fatal dan Miki tidak bisa bermain basket kembali.
Maka dari itu, Lim begitu khawatir dengan tubuh Miki yang terlalu dipaksakan.
Panggilan masuk dari Ayah Miki yang membuatnya langsung mengangkat telepon tersebut. “ Apa Ayah? “ tanya Miki.
“ Cepat datang! Kalau kamu tidak datang, besok Ayah datang ke sekolah dan bilang kamu tidak bisa bermain di Inter-high! “ ancam Lim dari sebrang.
“ Ayah! “ pekik Miki, tapi tidak dijawab oleh Lim.
“ Baik, baik. Aku datang “ Miki tidak punya pilihan selain menuruti permintaan dari Ayahnya. Ia menutup telepon dan berjalan menuju rumah sakit yang sudah menjadi tempatnya berkonsultasi tentang kakinya.
..............
“ DATANG KE TAMAN RUMAH SAKIT! “ tulis pesan dari nomer yang tidak disimpan oleh Hiro, Hiro yang sedang menatap foto di dinding mulai berjalan keluar rumahnya untuk menemui seseorang yang sudah memberinya pesan.
__ADS_1
Dengan baju hitam, topi hitam dan masker hitam, Hiro berjalan melewati orang-orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Orang-orang yang melihat Hiro hanya menatap dengan aneh dan takut, mereka takut bahwa Hiro adalah orang yang jahat.
Dan akhirnya, Hiro sampai di taman rumah sakit Shinjuku yang merupakan rumah sakit terbesar di wilayah Tokyo. Tempat yang ia datangi sangat sepi hanya ada sebuah bangku panjang dan tanam-tanaman kecil, karena waktu yang sudah malam sehingga tidak ada seseorang yang datang ke taman rumah sakit.
“ Kamu datang juga. “ kata seorang pria dengan suara berat dari arah belakang tubuh Hiro. Seorang itu memakai jubah dokter dan tertulis di name tag
bajunya yaitu “ Nobu Mado. “
“ Hahaha. “ tawa Hiro melihat nama keluarga dari Nobu sudah diubah. “ Tidak pakai Takahashi lagi? “
“ Diam kamu! “ seru Nobu.
“ Kamu ingin apa? “ Hiro tanpa basa-basi dan melipat kedua tangannya di dada.
“ Dimana Ibumu? “ tanya Nobu mendekati Hiro perlahan.
“ Kamu tidak perlu tahu, tidak ada alasan lagi untuk kamu menemuinya. “ jawab Hiro tidak gentar menatap tajam kearah Nobu.
“ Cepat jawab! Kamu pindahkan dia kemana? “ Nobu mencengkram kerah baju Hiro.
“ Kamu memang siapa? “ cibir Hiro tidak pandang usia. Tanpa memperhatikan sekitar, Nobu langsung memukul wajah Hiro dengan sangat keras membuat Hiro terjatuh tanpa membalas pukulan dari Nobu.
“ Pukul saja aku. “ Hiro sudah pasrah dengan keadaannya yang setiap bertemu dengan Nobu selalu terkena pukulan tanpa henti.
“ Tidak tahu malu! “ protes Nobu yang terus memukul wajah Hiro yang berada di bawah tubuhnya.
Dari arah yang tidak jauh, Miki datang ke taman rumah sakit dan melihat Hiro yang dipukul habis oleh seorang pria yang tidak dikenalinya, dengan cepat Miki langsung berlari mendorong tubuh Nobu menjauh dari Hiro.
“ Kamu gila ya?! “ tegas Miki berdiri di depan Hiro seakan-akan ingin menjaga Hiro yang sudah babak belur.
__ADS_1
Mata Hiro melebar, ia terkejut melihat Miki berada di depannya, punggung kecil yang melindungi Hiro dari belakang membuat sebuah senyuman kecil dari Hiro.