
5:00 p.m
Mata Miki perlahan terbuka, kepalanya yang terasa berat membuatnya memegang kepala dengan mengigit bawah bibirnya.
Baru saja ia terbangun, sebuah kenangan selintas mulai teringat di kepalanya.
Ciuman dari Hiro kepadanya.
" Ini, apa ini? " kaget Miki mengelus bibirnya dengan jantung yang tak berhenti untuk berdebar.
Bruk!
Suara pintu terbuka dengan sangat keras membuat Miki langsung beranjak dari kasur dan melihat siapa orang yang membuka pintu dengan amat sangat kencang.
Dia adalah Rei, matanya merah berkaca-kaca dan pandangan tertunduk.
" Rei? " panggil Miki tetapi dihiraukan oleh Rei dan ia hanya memasuki kamar mandi tanpa menjawab panggilan dari Miki.
Sikap Rei sangat aneh, terlebih yang membuat Miki kebinggungan adalah kenapa Rei berdandan rapih untuk keluar?
Tak senggaja Miki melihat secarik kertas di atas meja makan dengan tulisan " Aku ingin pergi bersama Kenzi. "
" Pantas saja. " Gumam Miki mendekati kamar mandi dan mengetuk pintu perlahan " Rei, keluar ya? Bicara dengan aku. "
Tidak ada jawaban sedikitpun.
Tok-tok-tok
Miki terus mengetuk pintu tanpa berhenti sampai Rei benar-benar keluar dengan mata yang terlihat bengkak.
" Rei. " suara lembut Miki membuat Rei langsung memeluknya dengan erat dan menangis di dalam pelukan Miki.
" Tenang ya, aku ada disini. " Miki mencoba menenangkan Rei.
" Aku...bii.laaang..keepaa.daaa..keen..zii " Isak tangis Rei sehingga suaranya terdengar tidak jelas.
" Tenangin dulu baru kamu cerita ya. " kata Miki agar Rei bisa bercerita dengan jelas.
__ADS_1
Setelah 10 menit Rei cukup tenang dan mulai menceritakan segalanya tentang hari ini, Miki menganggukkan kepala mengerti dengan cerita yang sudah diceritakan Rei.
" Tidak apa-apa, kamu tidak salah. Wajar seorang wanita ingin memastikan apa pria yang mengejarnya mencintainya atau tidak, tapi jika terlalu lama tarik ulur nantinya pria itu akan bosan. Kamu mengerti? Jadi lebih baik sekarang kamu ungkapkan perasaan kamu dengan dia, agar semuanya kembali semula dan kisah kalian berjalan dengan bahagia. " Jelas Miki membuat sudut bibir Rei terangkat, ia bahagia bahwa ada seorang Miki di sampingnya.
" Sekarang mending kamu cuci muka, lihat mata kamu bengkak. " Lanjut Miki yang segera dilakukan oleh Rei.
Tring-tring-tring
Telepon masuk dari ponsel Miki, ia segera mengangkat tanpa melihat nama kontaknya terlebih dahulu.
" Miki. " suara serak dari sebrang membuat mata Miki melebar, seseorang yang menelponnya adalah Hiro.
Tetapi saking kagetnya, Miki sama sekali tidak bisa menjawab.
" Temui aku di taman bermain dekat sekolah. " kata Hiro seraya menutup panggilan, tubuh Miki masih kaku tidak bisa bergerak karena Hiro meneleponnya secara tiba-tiba terlebih soal ciuman yang kemarin masih terasa aneh untuk Miki.
" Hei Miki, kamu kenapa? " Rei keluar dari kamar mandi dan melihat wajah Miki yang tampak membeku.
" Tidak, aku pergi dulu ya untuk bertemu dengan Hiro. " Miki mengambil jaketnya dan berjalan untuk menemui Hiro.
" Hiro. " panggil Miki mendekati Hiro yang duduk di sebuah ayunan.
" Miki, kamu sudah datang? " Hiro mengangkat kepalanya, Miki duduk di sebelah ayunan Hiro dengan pipi yang sedikit memerah karena teringat soal ciuman kemarin.
" Ada apa? " Miki kebinggungan.
" Aku ingin berbicara sesuatu. " ucap Hiro berdiri dan melangkahkan kaki untuk berhadapan empat mata dengan Miki " Kamu sudah tidak mabuk kan? "
Deg-deg-deg.
Jantung Miki berdebar tanpa henti, mata mereka saling bertemu satu sama lain.
" Kamu belum mandi ya? " Ledek Hiro. " Bau alkohol kamu masih terasa. "
" Tch. " Desis Miki sudah gugup di hadapan Hiro.
" Ngomong-ngomong, apa kamu benar akan bertunangan dengan Kitaro? "
__ADS_1
Pertanyaan yang tidak diduga oleh Miki, apa ini Hiro cemburu dengan Kitaro?
Tentu saja.
" Abaikan ucapan dia, dia hanya berbohong. " jawab Miki.
" Berbohong? Tapi kenapa terasa sangat jelas? " Hiro mengepalkan tangannya, ia tidak ingin Miki dimiliki oleh siapapun.
Itulah keegoisannya.
" Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? " Miki terasa ini semua hanya basa-basi saja.
" Aku menyukaimu. " Ucap Hiro tanpa sedikitpun basa-basi lagi, mata Miki melebar mendengar perkataan yang selama ini ingin di dengarnya. " Tidak, aku mencintaimu. "
" Hahahaha. " tawa Miki karena ini terasa sangat aneh.
" Tidak bisakah kamu serius sedikit tentang ini? " Hiro mendekatkan tubuhnya kearah Miki. " Kamu juga menyu... "
Belum saja Hiro melanjutkan ucapannya, Miki sudah memotongnya. " Hahaha "
Lalu tiba-tiba saja, Miki teringat seberapa menyakitkannya di masa lalu saat Hiro meninggalkannya dan hari-hari Miki yang terasa gelap karena kepergian Hiro.
Dengan nada rendah Miki berkata " Aku tidak sedikitpun menyukaimu, atau mencintaimu. "
" Kamu bohong! " seru Hiro. " Ketika aku telepon kamu dari New York, kamu menangis. "
" Kamu juga... " Hiro menatap mata Miki " Mencintai aku juga, dan perasaan itu belum hilang sampai sekarang. Benar kan? "
Miki mengigit bawah bibirnya. " Itu karena aku marah, walaupun itu kamu atau orang lain, aku akan sama menangis. Jadi jangan berlebihan. "
Hiro menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya mendengar perkataan yang semenyakitkan itu.
Dirinya tahu bahwa Miki memang menyukai dan mencintainya, tapi kenapa harus mengelak?
" Aku mengatakan bahwa aku menyukaimu, apa kamu mesti berkata seperti itu? "
__ADS_1