
Seluruh siswa-siswi memperhatikan kearah Miki dan Hiro yang berjalan di tengah-tengah mereka, persiapan pengungkapan cinta ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Kitaro tapi Hiro datang dan membuat semuanya kacau.
“ Jaga Rei. “ kata Miki kepada Kenzi tanpa suara.
Kedatangan Hiro yang tiba-tiba juga membuat tangan Kenzi terkepal dengan kuat, bisa-bisanya ia datang dan langsung membuat kehebohan tersendiri. Apalagi, Hiro membuat kehebohannya dengan membawa Miki bersamanya.
Sampai di depan halte bus, Hiro tidak melepaskan tangannya sedikitpun. Miki yang merasa aneh dengan sikap Hiro itu langsung memberhentikan langkahnya, “ Kita mau kemana? “ tanya Miki.
Secara perlahan, Hiro melepaskan tangannya dari lengan Miki. “ Bukankah kamu memiliki banyak pertanyaan kepadaku? Kenapa tidak tanyakan aku sekarang? Tapi hanya satu pertanyaan ya. “
“ Baik, satu pertanyaan saja. “ Miki menghela nafas panjang dan duduk dibangku halte bus. “ Kenapa kamu pergi? “
Mendengar pertanyaan tersebut, Hiro ikut duduk di samping Miki. Pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Hiro, pertanyaan itu adalah rahasia Hiro yang tidak bisa ia beritahu.
“ Maaf, aku tidak bisa menjawab. “ Hiro mengigit bawah bibirnya. “ Sudah kuduga. “ duga Miki. Miki beranjak dari bangku dan menatap mata Hiro. “ Kalau memang seperti itu, tidak apa-apa. Tapi, aneh ya kamu selalu bersikap semaumu karena kamu bisa mengetahui isi pikiranku sedangkan aku menebak kamu saja tidak bisa. “
“ Bertanya apapun kepada kamu, pasti jawabannya satu “ Maaf, aku tidak bisa menjawab.” Sewaktu kamu pergi juga kamu berkata seperti itu. “
“ Karena memang jadinya seperti ini, jadi tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi. Selamat tinggal. “ ucap Miki seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Hiro dan Hiro membiarkan itu semua karena memang ia tidak bisa apa-apa.
Berbicara tentang keluarganya yang hancur pun itu tidak berguna, itu malah membuat dirinya terlihat menyedihkan di depan Miki.
“ aku akan selalu ada disisimu ketika kamu sedih ataupun bahagia. “
Perkataan masa kecil dari Miki yang teringat oleh Hiro, Hiro tersenyum kecil dan bergumam. “ Itu hanya masa lalu. “
....
“ Apa-apaan sih dia itu! “ keluh Miki yang memukul bantal di dalam kamarnya, merasa kesal dengan Hiro karena katanya ia dapat menanyakan apapun dan Hiro akan menjawab. Nyatanya? Tidak, Hiro memang sama seperti tahun kemarin.
Sifat menyebalkannya masih belum dihapuskan dalam tubuhnya. “ Aa, kesal! “ Miki menendang-nendang selimut yang berada di depannya.
“ MIKI, MARI BERLATIH!!” teriak Lim dari bawah. Mendengar perintah dari Ayahnya, Miki segera mengganti baju dan mulai berlatih dengan Lim di samping rumah.
Rumah mereka terdapat sebuah lapangan kecil yang berisi ring basket untuk Lim dan Miki berlatihan disana. Mereka pun berlatih bersama di lapangan kecil tersebut, pelatihan Lim lebih berat daripada pelatihan di sekolahnya.
Fisik lebih diutamakan, dan yang terpenting dalam permainan basket menurut Lim adalah kecerdasan. Sedangkan Miki tidak memiliki kecerdasan dalam lapangan, ia bahkan selalu bermain tanpa berpikir terlebih dahulu meskipun nyatanya Miki lebih unggul dari siapapun.
Dalam sehari ini, Miki harus melemparkan bola ke dalam ring sebanyak 500 lemparan, berlatih lompat untuk dunk sebanyak 100 kali, dan lari putar balik selama 30 menit setiap harinya.
__ADS_1
Itu adalah menu yang dibuat Ayahnya untuk dia.
Saat tangan Miki baru saja melempar bola ke dalam ring sebanyak 100 kali dan ia merasa sangat lelah, Ayahnya dengan ancaman bahwa akan memotong uang jajannya.
“ Kamu lemah sekali, potong 10. “ kata Lim seenaknya.
“ Ayah!! “ kesal Miki yang langsung melemparkan bola tersebut.
Dan akhirnya latihan tersebut selesai dalam waktu 3 jam, sama seperti latihan di sekolah tapi ini lebih berat. Bahkan, untuk pemanasan saja dilakukan selama 1 jam.
“ Ah cape. “ keluh Miki membaringkan tubuhnya di lantai rumah. Ibunya sudah membawakan buah semangka dan minuman untuk Miki, melihat buah-buahan yang enak untuk disantap dengan segera Miki makan. “ Emang Ibuku yang terbaik. “
“ Ayah tidak? “ Lim ingin diakui menjadi yang terbaik juga.
“ Ayah terhebat! “ Miki dengan senyum manis. “ Ngomong-ngomong Ayah, nanti 2 Minggu lagi Ayah ada tidak? “
“ Kenapa? “
“ Aku ingin meminta Ayah untuk menjadi pelatih tim putri, karena sebentar lagi Inter-high akan dimulai. “
Lim menimbang-nimbangkan permintaan dari Miki, ia melihat kaki Miki yang bergetar tidak seperti biasanya.
“ Apa maksud Ayah? “
“ Kalau kamu memang ingin ikut Inter-high, besok kamu tidak usah berlatih selama 2 Minggu. “
“ Ayah kenapa sih! “
“ Kakimu cedera bukan? Pikirkan kesehatanmu terlebih dahulu! “
Kaki Miki tidak berhenti bergetar karena menahan rasa sakit yang terdapat di lututnya, tapi bagaimana pun juga ia harus berlatih dan meningkatkan kemampuannya lagi.
“ Aku tidak bisa. “ tolak Miki.
“ Miki dengarkan Ayah! “
“ Tidak. “ jawab Miki seraya melangkahkan kakinya keluar dari rumah
“ MIKI! “ teriak Lim.
__ADS_1
Dan saat Miki keluar, ia tidak senggaja menabrak tubuh seseorang yang berada di depannya. Dia tidak lain, tidak bukan adalah Kenzi.
“ Aw. “ ringis Miki kesakitan. “ Kenapa kamu keluar? “ tanya Kenzi kebinggungan.
Mata Miki mengintip-intip kearah rumahnya, ia melihat Lim yang baru saja ingin mengejarnya dan dengan cepat Miki menarik Kenzi untuk menjauhi rumahnya tersebut karena tidak ingin bertengkar dengan Ayahnya.
“ Kita mau kemana? “ Kenzi kebinggungan karena se-daritadi, Miki terus menarik lengannya entah kemana ia membawanya.
Dan sampai lah di depan toko kecil yang biasanya dulu mereka makan ramen bersama di tempat tersebut, Miki memesan dua ramen dan memberikannya kepada Kenzi. Kalau Miki mengajaknya makan ramen, berarti bisa diartikan bahwa ia sedang bertengkar dengan keluarganya atau sedang memiliki banyak pikiran.
“ Kenapa lagi? “ Kenzi penasaran dan memakan ramen tersebut. Miki tidak menjawab, ia hanya memakan ramen tersebut tanpa berbicara sedikitpun.
Beberapa menit kemudian, Miki tiba-tiba saja merintikan air matanya yang membuat Kenzi langsung beranjak dari kursi dan memeluk tubuh Miki.
“ Semuanya akan baik-baik saja. “ ucap Kenzi menenangkan sambil mengelus kepala Miki perlahan.
Esok harinya.
“ Jadi hari ini kita ada siswa baru, mungkin kalian sudah tahu tapi disini dia akan memperkenalkannya lebih jauh lagi. “ Yoshioka memberitahu selaku wali kelas 2-1. “ Silahkan masuk, tampan. “
Masuklah Hiro dengan tampang datar seperti biasanya, tapi terlihat tampan bagi siswi-siswi. Hiro berdiri di depan kelas dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku, “ Dulu kelas 1, aku bersekolah disini dan pindah. Lalu, aku pindah lagi kesini. Namaku Takahashi Hiro, salam kenal. “
Perkenalan yang membuat siswi-siswi berteriak bahagia karena dapat sekelas dengan lelaki tampan.
“ Dia dulu disini? Tapi kok aku tidak kenal ya. “ bisik Makoto.
“ Iya dia terkenal karena menang lomba renang itu kan. “ jawab Tashiro.
“ Silahkan duduk di belakang Miki. “ kata Yoshioka menunjuk kearh kursi yang kosong di belakang Miki.
“ Baik. “ jawab Hiro segera berjalan dan duduk di belakang Miki.
Tidak butuh waktu lama, para siswi-siswi sudah berkumpul mengelilingi Hiro. Bertanya tentang hal-hal yang disukai oleh Hiro, dan bertanya tentang nomer telepon Hiro. Tapi Hiro hanya mengacuhkannya dan matanya masih menatap rambut Miki dar belakang.
“ Permisi! “ ucap Kitaro memasuki kelas 2-1.
“ Oh Kitaro! “ Tashiro berjalan menghampiri Kitaro.
“ Ada yang ingin aku bicarakan dengan Miki-senpai. “
__ADS_1
Mendengar nama Miki disebut oleh Kitaro, dengan cepat Kenzi dan Hiro berkata bersamaan kepada Miki. “ Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. “