
Langit yang cerah dengan hembusan angin membuat rambut Miki berterbangan, senyum manis yang terlihat dari Hiro membuat jantung Miki berdegup dengan cepat. Perasaannya semakin lama kian membesar, terlebih perkataan Hiro bahwa ia bisa menjadi tempat bersandar.
Siapa yang hatinya tidak goyah setelah mendengar perkataan tersebut?
Di situasi saat ini, orang yang percaya dengan Miki adalah Hiro. Ia ingin tidak percaya, tapi nyatanya memang seperti itu.
Pipi Miki memerah, ia beranjak dan melangkahkan kaki keluar dari atap dengan perasaan campur aduk.
Bagaimana pun Miki harus bisa melupakan Hiro, hatinya lelah tapi ia terus datang lagi.
Membuat Miki terus goyah.
“ Miki! “ panggil Hiro mengikuti Miki, Miki berjalan menuju kelas tapi suara-suara orang membuat tangannya bergetar ketakutan. Ia tidak bisa masuk kelas sedikitpun, Miki mengurungkan niatnya lagi untuk masuk kelas lengannya digenggam Hiro membuat langkah Miki terhenti. “ Mau kemana? “
“ Katakan pada sensei, aku tidak enak badan. “ jawab Miki melepaskan lengan Hiro dari tangannya, dan saat ia berjalan di hadapannya sudah terdapat Kenzi dengan pandangan tertunduk.
“ Ke.. “ Miki mengurungkan niat untuk berbicara dengan Kenzi, ia hanya melewati Kenzi dan pergi menuju ruang kesehatan agar tidak mendengar suara-suara orang yang menyakitinya perlahan.
Tangan Hiro terkepal, ia tidak percaya kepada Kenzi.
Seharusnya orang yang berada di samping Miki adalah dia, satu-satunya sahabat terbaik yang pernah Miliki.
Tapi lihat? Kenzi malah berperilaku dingin seperti orang-orang.
“ Hehe. “ Hiro terkekeh mendekati Kenzi. “ Orang yang tidak ingin kehilangan Miki malah orang yang tidak percaya dengan Miki, sangat tidak masuk akal. “ ejek Hiro memasuki kelas dengan tatapan sinis.
5:00 p.m
Sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa-siswi yang melakukan kegiatan club saja. Miki melangkahkan kaki menuju kelasnya, ia tidak ingin bertemu dengan orang lain.
Sampainya di kelas, terdapat banyak surat di atas meja Miki. Ia membacanya, tulisan-tulisan ejekan dan sindiran yang diberikan orang-orang kepadanya.
Bahkan mereka tidak malu dengan menaruh nama.
Terdapat juga surat dari Kenzi yang tertulis. “ Apa benar kamu pencuri? “
Mata Miki melebar, dibalik pintu Hiro sudah memperhatikan Miki dengan khawatir. Ia tidak bisa menghentikan situasi saat ini, yang harus dilakukan adalah mencari kebenaran yang terjadi.
Dengan berat hati, Miki menggendong tas dan membawa surat yang bernama Kenzi. Ia keluar dari kelas dan tidak sengaja menabrak dada Hiro yang baru saja mau masuk ke dalam kelas.
“ Aa. “ ringis Miki menjatuhkan surat dan memegang dahinya, Hiro mengambil surat tersebut dan melihat isinya, tangannya seketika terkepal.
Tidak lama kemudian, Kenzi datang ke kelas dan dengan cepat Hiro menghajar wajah Kenzi. “ Ini kau bilang sahabat? Dasar ********! “ Hiro memukul wajah Kenzi tanpa henti.
Kenzi tidak bisa membalas, tubuhnya terlalu lemas karena pukulan telak dari Hiro tersebut. “ Hiro!! “ teriak Miki mencoba menghentikan Hiro, tapi tetap saja tidak bisa.
Miki memegang lengan Hiro untuk berhenti memukul Hiro. “ Berhenti atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu!!! “
Perkataan Miki yang membuat Hiro berhenti memukul Kenzi, ia berdiri dan melihat wajah Miki yang sudah berkaca-kaca. “ Maaf, maaf. “ katanya.
“ Kamu baik-baik saja? “ Miki mengulurkan tangannya membantu Kenzi untuk berdiri, tapi Kenzi menepisnya dan hanya berjalan keluar gedung sekolah tanpa berbicara apa-apa.
Ketika Hiro ingin berlari untuk menghajarnya lagi, Miki menahan tubuh Hiro agar tidak mengejar Kenzi.
__ADS_1
Hati Miki terluka, ia tidak percaya bahwa Kenzi benar-benar dingin kepadanya.
Tanpa berlama-lama, Miki pulang kerumahnya yang diam-diam diikuti oleh Hiro. Ia memasuki rumah dan melihat kearah jendela, di depan terdapat Hiro yang sedang diam memperhatikan jendela kamar Miki.
“ Pulanglah. “ ketik pesan Miki kepada Hiro.
Teng-
Pesan masuk dari ponsel Hiro, ia membaca dan mengerti. Hiro berjalan meninggalkan rumah Miki dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku dan pandangan tertunduk.
“ Apa yang terjadi? “ suara mengejutkan dari Anna yang membuat Miki hampir terkena jantung. “ Ibu!! “ keluh Miki karena merasa sangat terkejut.
“ Katakan pada Ibu, apa yang terjadi kenapa Ibu dipanggil ke sekolah?! “ tegur Anna, pandangan Miki menunduk ia mempertemukan kedua tangannya merasa sangat gelisah.
Lalu, Miki menceritakan semua yang terjadi tadi di sekolah.
Anna tersenyum kecil, kenapa hal ini terjadi juga dengan anaknya? Sangat ironis.
“ Jadi, kamu mencurinya atau tidak? “ tanya Anna, Miki mengangkat kepalanya dan menatap mata Anna. “ Tidak! “ tegasnya.
“ Bagus, cukup seperti itu. “ Anna percaya kepada Miki karena dia adalah anaknya, anaknya tidak mungkin melakukan tindakan bodoh. “ Mandi, dan istirahatlah. “ ucap Anna mengelus kepala Miki.
“ Ibu percaya kepadaku? “ Mata Miki berkaca-kaca.
“ Tentu saja, seorang Ibu pasti percaya kepada anaknya! “
Satu tetes air mata menjatuhi pipi Miki, ia sangat bersyukur karena masih ada yang mempercayai dirinya. Anna yang tidak tega melihat putrinya menangis langsung memeluk tubuh Miki sambil menenangkan. “ Tenang, Ibu percaya dengan kamu. “
Tangis Miki pecah, tangisan yang tadi ia tahan di sekolah seketika langsung keluar di dalam pelukan Ibunya.
Keluarga Miki, Anna dan Lim datang menuju sekolah. Sekolah lama yang sudah tidak didatanginya, kenangan antara keduanya yang membuat malu Anna dan Lim.
Tempat inilah mereka bertemu dan jatuh cinta.
Bersama dengan Miki, keduanya berjalan menuju ruang bk. Banyak orang yang sudah memperhatikan kearahnya, berbisik tentang pelatih terkenal NBA.
“ Wah, ada orang terkenal tapi anaknya terkena masalah. “ sindir Anna.
Tatapan siswa-siswi yang diberikan kepada Miki dengan tajam membuat Lim memberhentikan kakinya, dan menatap siswa-siswi balik tersebut sambil mengancam. “ Sekali lagi kalian memperhatikan anakku seperti itu, kalian kubunuh! “
“ Ayah! “ seru Miki menarik lengan Lim memasuki ruang Bk bersama Anna.
Disana sudah terdapat banyak guru, dan wali murid dari keluarga Akira yaitu Ayana dan Nobu.
“ Ternyata dia yang mencuri perhiasan anakku. “ kata Nobu tidak percaya.
“ Kalian kesusahan uang? “ Ayana ikut-ikutan.
Di samping itu, Akira hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa. Anna melihat situasi ini membuatnya mengenang masa muda yang sangat menyebalkan, “ Akira apa kamu menjahili Miki? “
“ Tidak! “ jawab seketika Akira, ia memang tidak ingin menjahili Miki.
“ Lalu? Tindakan kamu ini bodoh. “ tegur Anna dengan tatapan tajam. “ Apa? Bodoh? “ Ayana kesal beranjak dari kursi dan menatap Anna.
Anna membalas tatapan dengan tajam. “ Seharusnya kau urus anakmu dengan benar, jangan jadi perundung seperti ini!! Menyalahkan orang tanpa bukti yang akurat. “
__ADS_1
Seluruh orang-orang disana merinding ketakutan karena ucapan Anna, Ayana juga tidak percaya ia ketakutan di hadapan Anna.
“ Hebat sekali Ibu Miki. “ kagum Kariu melihat sosok Ibu luar biasa yang terpancar dari Anna. “ Miki, dia bukannya Ayah Hiro? “ bisik Lim penasaran, kenapa Ayah Hiro menjadi wali murid dari keluarga Akira.
“ Apa dia nikah lagi? “ lanjut Lim. “ Iya, sudahlah Ayah diam! “ tegur Miki.
Rapat disiplin dimulai, kepala sekolah mulai membagikan cctv saat waktu kejadian. Dan penjelasan dari kepala sekolah sudah selesai.
“ Jika pelaku meminta maaf, kami tidak akan menindak lanjuti lagi. “ kata Kepala sekolah seakan-akan ini semua salah Miki.
“ Saya tidak salah. “ kata Miki melotot, ia tidak mungkin meminta maaf padahal sudah jelas dirinya sama sekali tidak salah.
“ Apa?! “ seru Ayana, dan Kariu hanya menatap Miki tanpa ekspresi.
Ia tidak mengerti kenapa Miki terlihat sangat tenang, padahal di depannya sudah ada Kepala sekolah, guru-guru dan wali murid yang sedari-tadi sudah banyak berbicara.
“ Sebentar, apa ada bukti bahwa anak saya yang melakukan pencurian? “ Lim beranjak dari kursi. “ Kalau saya jadi pencuri itu, saya tidak akan berlama-lama di dalam kelas karena pasti tahu siapa orang yang paling terakhir atau di dalam kelas terus adalah pelakunya. “
“ Anak saya juga tidak bodoh. “ Lim memundurkan video cctv kearah Kariu dan Akira.
“ Orang yang bisa saja pencuri adalah kedua orang ini. “ papar Lim menunjuk kearah Kariu dan Akira yang membuat keduanya langsung ketakutan. “ Mereka datang sesaat lalu pergi, dan lihat gerak-gerik keduanya saat keluar kelas seperti sedang melihat apakah ada orang yang melihatnya atau tidak. “
“ Tapi tidak mungkin kalau Akira yang mencuri kalung, gelang, uangnya sendiri. Benar kan? “ Kataoka tidak percaya.
“ Bukan mencuri, melainkan menjadikan alat tersebut untuk mempermalukan orang lain. “ jawab Lim.
“ Maksudnya? “ orang-orang tidak mengerti.
“ Contoh-contoh saja, Akira mencoba untuk menaruh perhiasannya di loker Kariu. Dan saat itu Kariu mengetahui bahwa dia di jebak dan dia malah menaruh perhiasan di loker Miki. “ percontohan yang memang kenyataannya seperti itu.
Bulu kuduk Kariu dan Akira merinding ketakutan mendengar perkataan Lim.
“ Yang berarti target Akira bukanlah Miki melainkan Kariu, banyak gosip di sekolah tentang Akira yang tidak menyukai Kariu. Benar kan? “ Lim memancing kemarahan dari Ayana.
“ Tidak mungkin!! “ tolak Ayana.
“ Itu mungkin saja. “ Anna beranjak dari kursi. “ Ayo pergi, kita tidak perlu meminta maaf bila tidak salah. “ ajak Anna kepada Miki, Miki menundukkan kepala sopan dan keluar dari ruang bk bersama orang tuanya.
Sebelum kembali ke kelas, Miki mengantarkan kepergian Ayah dan Ibunya terlebih dahulu. “ Terimakasih Ayah, Ibu. “
“ Sudah masuk sana. “ kata Anna menaiki mobil, dan Lim pun mengendarai mobil keluar dari gedung sekolah.
Seperti biasa, ketika Miki ingin memasuki kelas ia mengurungkan niatnya lagi. Tangannya terkepal, Miki melangkahkan kaki keluar dari gedung sekolah dengan pandangan tertunduk.
Sesekali ia menoleh kebelakang dan melihat Hiro yang mengikutinya. Miki memberhentikan langkah kaki dna mendekati Hiro dengan wajah cemberut. “ Kamu... kenapa terus mengikutiku? “
“ Tidak, aku tidak mengikutimu. “ Hiro berpura-pura. “ Aku ingin pulang.. pulang. “ kata Hiro berjalan tapi pada akhirnya waktu belum menunjukkan pulang.
“ Bentar, belum waktunya. “ Hiro kembali menuju gedung sekolah tetapi langkah kakinya terhenti saat Miki berkata. “ Apa yang ingin kamu ketahui sebenarnya? “
“ Aku ngga ingin tahu! “ Hiro membalikkan tubuhnya menatap Miki. “ Aku ngga penasaran, aku ngga tertarik sama kamu! “ omelnya.
“ Lantas kenapa kamu terus mengikutiku dan mengangguku? “ kesal Miki yang tidak ingin berdekatan dengan Hiro karena jantungnya terus berdegup cepat.
“ Aku khawatir!! “ tukas Hiro membuat mata Miki melebar.
__ADS_1