
Di balik perkataan Hiro, seseorang terus mendengarnya dengan hati yang teriris perlahan. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi, tidak perduli Miki tidak menyukai sikapnya nanti dirinya tidak ingin Miki diambil oleh siapapun.
Dia adalah Kenzi.
Lelaki itu berjalan mendekati Hiro dan Miki sambil mengambil lengan Miki sehingga pelukannya lepas dari Hiro, tapi Hiro menahan lengan Miki juga. “ Apa maumu? “ kesal Hiro.
Lengan kiri Miki digenggam Kenzi, lengan kanannya digenggam Hiro.
“ Lepaskan! “ seru Miki yang hari ini tidak ingin ada pertengkaran apapun karena ia merasa sangat lelah.
Keduanya tidak ada yang melepaskan, mereka hanya saling menatap satu sama lain dengan tajam.
“ Lepaskan. “
Masih tidak di lepaskan sedikitpun.
“ Lepaskan! “ ulang Miki melepaskan tangan Hiro dan Kenzi dari lengannya dengan keras, Miki menghela nafas panjang dan memasuki rumahnya tanpa berpamit lagi.
Beberapa hari kemudian.
Setelah Hiro mengatakan kepada Miki bahwa dia menyukainya, Miki tidak pernah membalas pesannya lagi. Bahkan telepon saja tidak diangkat yang membuat Hiro merasa sedang diacuhkan.
Di sekolah juga Miki selalu menghindari Hiro dengan wajah tanpa ekspresi.
Padahal jelas-jelas Hiro sudah mengatakan dia menyukai Miki, seharusnya Miki merasa senang atau malu karenanya bukan.
Tapi bukannya Miki mengacuhkan Hiro, hanya saja ia tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Hiro.
Perasaanya terbalas, dan itu adalah perkataan yang selama ingin ia dengar.
Kebahagiaan Miki sudah tidak dapat dijelaskan lagi.
Hiro berpura-pura berlari pagi di sekitar rumah Miki, ia meregangkan tubuhnya dan berhenti di depan rumah Miki. Hiro juga melompat-lompat melihat apakah Miki ada di rumah atau tidak, ia menghela nafas panjang dan berlari lagi.
Namun, Miki yang habis melakukan senam pagi memberhentikan langkah kakinya saat melihat Hiro berada di daerah rumahnya. Dan seketika Miki datang tanpa pengetahuan Hiro, ia memberhentikan langkah lagi dan berlari mundur tanpa memutar balikkan badannya.
“ Kamu ngapain? “ Miki mendekati Hiro, dan Hiro membalikkan badannya terkejut melihat Miki berada di belakangnya. “ Menurutmu apa? Aku sedang olahraga pagi. “ jawab Hiro berpura-pura kalau sebenarnya dia ingin bertemu dengan Miki.
“ Aku sudah senam dikit, selamat berolahraga. “ kata Miki ingin memasuki rumahnya tapi puncuk jaketnya ditahan oleh Hiro sehingga ia merasa tertarik dan tidak bisa memasuki rumah. “ Oi, mau apa kamu? “
“ Temani aku senam. “ ucap Hiro.
“ Tidak mau. “ tolak Miki. “ Kenapa aku mesti temani kamu? “
“ Belakangan ini kamu sudah kebanyakan makan, jadi temani aku. “ alasan yang dibuat-buat oleh Hiro, ia memakaikan puncuk jaket di kepala Miki sambil mendorongnya untuk menemani Hiro. “ Tidak, aku lelah. “ keluh Miki.
Sepanjang perjalanan keliling rumah Miki, Hiro dan Miki tidak sama sekali berbicara. Hanya terjadi kecanggungan antara keduanya yang membuat Miki merasa sangat tidak nyaman, ia memberhentikan langkah kaki yang diikuti oleh Hiro.
“ Kenapa? Lututmu sakit? “ tanya Hiro.
“ Hiro. “ Miki menatap Hiro. “ Apa yang harus aku lakukan? “
“ Maksudmu? “ Hiro tidak mengerti.
“ Aku tidak tahu harus bersikap apa kepada kamu. “ sahut Miki menundukkan pandangan, Hiro mencubit pipi Miki dan berkata. “ Aish, bersikap seperti biasa aja. Mengerti? “
Pipi Miki memerah, Hiro melepaskan tangannya dari pipi Miki dan mulai berlari lagi sambil bersiul untuk melupakan kejadian memalukan tadi.
__ADS_1
Saat sudah sampai di depan rumah, Miki melambaikan tangan memasuki rumahnya dan Hiro berjalan kembali ke rumahnya.
“ Aku pulang. “ Miki membuka pintu dan melihat Riyo yang sedang bermain game bersama Kenzi di ruang televisi.
“ Kamu sudah pulang? “ Kenzi masih fokus dengan stik yang berada di tangannya. “ Kenapa lama sekali? “
“ Tadi aku bertemu dengan Hiro. “
Mendengar nama Hiro, Kenzi langsung berhenti bermain dan mengikuti Miki yang memasuki kamarnya. “ Hiro? Dia mau apa lagi? “
“ Hanya berlari pagi bersama. “ cuek Miki.
“ Lain-kali kamu harus berlari pagi bersamaku. “ posesif Kenzi, Miki mendesah kesal. “ Sebenarnya kamu ini mau apa sih? Selama beberapa hari ini terus berada di rumah seakan-akan kamu mengawasiku. Jika aku berkata tentang Hiro, kamu langsung tidak suka. Kamu kenapa? “
“ Memang apa salah aku berada di rumahmu? Sewaktu kecil kamu tidak mempermasalahkan itu, kenapa sekarang menjadi beda? “ tangan Kenzi terkepal.
Semua karena Hiro, dia yang membuat Miki menjadi berubah.
Karena dia juga, Kenzi yakin dengan perasaannya sendiri kalau dia sangat menyukai Miki dan tidak bisa terus bertahan saja.
Tidak perduli dengan garis persahabatan lagi, Kenzi akan menyatakan cintanya kepada Miki jika waktunya sudah pas.
“ Sudah keluarlah. “ Miki memberantakkan rambutnya, selama beberapa hari ini ia juga terus bertengkar seperti anak kecil dengan Kenzi.
Bentar-bentar bertengkar, baikkan, bertengkar, baikkan lagi membuat Miki merasa lelah dengan hal tersebut. Kenzi melangkahkan kaki keluar dari kamar Miki, dan kembali bermain bersama Riyo.
....
8:33 a.m
Langit yang tidak terlalu cerah, udara yang sedikit dingin membuat Miki menggunakan jaketnya untuk pergi ke sekolah. Ia melihat Kenzi membawa sepeda, sedangkan Miki tidak karena hari ini ia ingin menggunakan bus.
“ Aku ingin naik bus. “ Miki melangkahkan kaki berangkat sekolah, Kenzi melemparkan sepedanya dan berkata. “ Kalau begitu aku juga naik bus. “
Tidak perduli lagi dengan sikap Kenzi, Miki hanya mengabaikannya sikap Kenzi yang seperti ini sangat menyebalkan.
“ Kenzi. “ Miki memberhentikan langkah kaki di halte bus dan memutar balik badannya menghadap Kenzi. “ Kenapa sikapmu sangat menyebalkan seperti ini? “
“ Aku? Menyebalkan? “ Kenzi berdesis tidak percaya. “ Jadi, sikapmu yang tidak menyebalkan bagaimana? “
Keduanya saling menatap tajam satu sama lain, tak lama bus datang. Miki memasuki bus yang diikuti Kenzi dengan jarak yang cukup jauh.
Tidak butuh waktu lama, mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki gedung sekolah dimana Miki berjalan di depan dan Kenzi berjalan di belakangnya dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
“ Selamat pagi. “ sapa Miki memasuki kelas yang disapa balik oleh Kariu. “ Selamat pagi, Miki. “
Sifat Miki tidak seperti biasanya, ia melihat kearah Kenzi yang wajahnya datar. “ Kalian bertengkar? “
Tanpa menjawab pertanyaan dari Kariu, Miki duduk dibangkunya dengan mood yang tidak baik. Sama halnya dengan Kenzi, jika ada seseorang yang menganggunya ia akan mengomel habis-habisan.
“ Kenzi, hari ini mau sparing basket? “ ajak Makoto merangkul Kenzi.
“ Diam, jangan menyentuhku! “ tegas Kenzi yang membuat Makoto merinding dan melepaskan rangkulannya sambil kembali ke mejanya dengan tatapan aneh.
Ketika pelajaran dimulai, Guru bahasa Inggris meminta Kenzi dan Miki berdialog bersama tapi yang diucapkan bukannya dari dialog buku melainkan dialog pertengkaran yang terjadi yang membuat Guru bahasa Inggris langsung menghukum keduanya.
“ Karenamu, kan! “ seru Miki mengangkat satu kakinya sebagai hukuman.
__ADS_1
“ Hah? Itu karenamu! “ Kenzi tidak ingin kalah.
“ Hahaha. “ tawa Miki menggema di lobbi. “ Semua karenamu bodoh! “
“ Siapa yang bodoh? “ kesal Kenzi menjatuhkan kakinya dan berdiri tegak sambil bertolak pinggang menatap sinis Miki.
Seluruh siswa-siswi mulai keluar dari kelas dan mengintip lewat jendela karena pertengkaran antara Kenzi dan Miki sampai terdengar begitu jelas.
“ Kamu yang bodoh!!! Dasar bodoh. “
“ Orang bodoh jangan mengatakan bodoh!! “
“ SIAPA YANG MENYURUH KAKI KALIAN TURUN?! “ bentak dari Guru Bahasa Inggris yang membuat keduanya langsung mengangkat satu kaki lagi.
Sedangkan Rei yang memperhatikan hanya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya, sudah beberapa hari ini mereka terus bertengkar tanpa henti.
Untung saja hari ini Hiro sedang melakukan sparing dengan sekolah luar sehingga ia tidak melihat kejadian yang pasti akan membuat hatinya panas.
TENG-NENG-TENG-NENG
Bel pulang sekolah berbunyi, Miki langsung berlari menuju kolam renang untuk menenangkan hatinya.
Di dinding atas kolam, ia menaruh kakinya di air dengan pandangan tertunduk tidak mengerti sifat Kenzi yang berubah.
Sebenarnya ada apa?
Kenapa selama beberapa hari ini Kenzi sangat menyebalkan?
Terlebih perilakunya yang posesif membuat Miki merasa risih.
“ Sedang apa? “ Hiro datang dan duduk bersebelahan dengan Miki. “ Kamu sudah pulang? “ kaget Miki.
“ Ada apa? Wajahmu kenapa muram seperti itu? “ khawatir Hiro.
“ Soal Kenzi, dia kenapa sih aku binggung sekali. Sikapnya tiba-tiba berubah menjadi menyebalkan, posesif, dan otoriter, sekarang dia selalu bertanya kemana pun aku berada. Dan lagi dia mengatur hidupku, itu bukan dia sebenarnya! “ keluh Miki.
Tangan Hiro terkepal, ia tahu alasan Kenzi mengubah sikapnya kepada Miki. Karena Hiro yang sudah mengatakan kepada Miki bahwa dia menyukainya dan Kenzi tidak ingin kalah dari Hiro untuk mendapatkan Miki.
“ Dia punya alasan tersendiri. “ jawab Hiro.
“ Alasan apa? “
Hiro tersenyum kecil, ia mendekatkan diri dengan Miki dan merangkulnya sambil berkata. “ Jangan terlalu diambil serius, dia temanmu jangan bertengkar. “
“ Tapi dia sangat menyebalkan. “
“ Lupakan saja. “ Hiro memainkan air yang mengenai tubuh Miki. “ Jangan begitu! “ Miki mencoba menghindar tapi Hiro terus memainkan air dari kolam hingga seragam Miki basah. “ Tak mau, biar kuteruskan, kuteruskan! “ goda Hiro.
“ Aish. “ kesal Miki berdiri dan membuka selang air yang sangat besar sambil menyiram air dari selang keseluruh tubuh Hiro, Hiro tertawa dan mencoba menghindarinya lagi.
Keduanya saling menyiram air dari selang dan bercanda bersamaa, senyum Miki yang terlihat begitu ceria dan senyum lebar dari Hiro yang pertama kali ia berikan kepada satu-satunya orang yaitu Miki.
Mereka tidak berhenti dan terus meledek satu sama lain.
“ Hentikan, hentikan. “ Hiro merasa kalah. “ Maaf, Pak. “ bohongnya yang membuat Miki menoleh ke belakang, tapi seketika itu juga Hiro langsung menyiram kembali dan membuat Miki berteriak.
“ Berhenti, ini sakit! “ Miki meminta untuk berhenti tapi ia juga terus menyiram airnya kepada Hiro.
__ADS_1
“ Apa yang kalian lakukan?! “ suara Kenzi yang membuat keduanya berhenti bercanda, dan mulai melirik kearah Kenzi.
“ Kenzi? “ kaget Miki karena Kenzi tiba-tiba ada disana.