
Kenzi? “ heran Hiro, bukannya ia harus pergi dengan Rei tapi kenapa sekarang berada di depannya.
“ Miki, kamu sombong. “ sinis pria itu yang seketika langsung diberikan pelukan hangat oleh Miki, ia tersenyum dengan lebar sambil berkata “ Kamu pulang? Dari kapan? “
Tangan Hiro terkepal, ia benar-benar heran dengan situasi saat ini.
“ Tadi siang, mau ketemu dengan kamu tapi aku lelah sekali. “ pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“ Ah benar. “ Miki melepaskan pelukannya dan mulai memperkenalkan pria yang berada di hadapannya. “ Dia bukan Kenzi, tapi kembarannya Kitaro Ken. “
“ Bukannya Kenzi anak satu-satunya? “ Hiro kebinggungan.
“ Itu sebenarnya dia punya kembaran, hanya saja Kitaro tidak ingin bersama keluarganya karena selalu bertengkar dengan Kenzi dan alasan tertentu. Jadi, saat dia berumur 11 tahun, Kitaro pindah. “ jelas Miki.
“ Alasan tertentu? “ Hiro mengerutkan dahinya, semuanya semakin tidak menentu.
“ Alasan untuk mendapatkan Miki. “ ucap Kitaro
seenaknya membuat Hiro menatap tajam kearahnya. “ Tapi pas aku kembali katanya Kenzi sudah tidak menyerah dengan Miki dan itu karena kau, benar Hiro? “
“ Bagaimana kau tahu namaku? “ heran Hiro.
“ Tentu saja tahu dari Kenzi bodoh, tetapi aku tidak seperti kakakku. “ Kitaro menggengam jemari tangan Miki “ Aku akan terus mengejarnya tidak perduli apapun itu. “
“ Hei, hei Kitaro, ayo ke rumahku kita makan malam. “ ajak Miki tidak ingin membuat situasi semakin terasa aneh. “ Maaf Hiro, sampai bertemu besok. “
Tapi Hiro sama sekali tidak melangkahkan kakinya untuk pergi, bagaimana pun ia juga bertekad untuk mengejar Miki tidak perduli apapun. Hiro akan membalas semua kesalahannya di masa lalu, dan mendapatkan Miki selamanya.
“ Kamu belum pulang? “ Miki membalikkan tubuhnya melihat Hiro masih berdiri dengan tegak. “ Baiklah, ayo ikut. “
Mendengar ajakan Miki, Hiro mengikuti langkahnya untuk pergi ke rumah Miki. Saat di tengah perjalanan setiap Kitaro ingin mendekati Miki, Hiro selalu menghalanginya dengan lengannya agar tidak bersentuhan sedikitpun.
“ Hei, kau ini memang siapanya? “ kesal Kitaro dengan wajah datar, Miki mengigit bawah bibir dan membuka pintu rumahnya sambil berkata “ Ayo masuk!! “
__ADS_1
“ Benar, kalian belum makan kan? Aku buatkan dulu, kalian berdua duduk di meja makan saja ya. “ Miki tidak ingin berada di tengah-tengah situasi yang tidak ia sukai sama sekali.
Dengan menunggu Miki masak, keduanya masih menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.
“ Apa kau menyukai Miki? “ Hiro tanpa basa-basi, padahal Kenzi sudah menyerah untuk Miki dan sekarang harusnya ia lebih maju, tapi ada lagi hambatan yang datang.
“ Tentu saja, dia supergirlku. “ Kitaro tidak bermain-main “ Bagaimana dengan kau, apa kau menyukainya? “
“ Tentu saja, aku sangat menyukainya. “ jawab Hiro
“ Terus kenapa kau menyakitinya? Memang aku tidak tahu apa yang kamu perbuat semasa SMA? Sekarang meminta dia kembali padamu setelah kamu menyakitinya? Sungguh egois! “ seru Kitaro menaruh kedua tangannya di atas meja “ Dengar baik-baik, aku tidak akan melepaskan Miki sedikitpun, ingat itu!! “
Kreak-
Pintu terbuka, terlihat Riyo yang baru saja pulang memasuki rumah “ Aku pulang. “
“ Riyo, kau sudah pulang? “ wajah Kitaro berubah menjadi berbeda.
“ Kakak Kitaro? “ kaget Riyo mendekati Kitaro dan melihat terdapat Hiro juga “ Kakak Hiro? “
“ Iya, kenapa? “ ucap Kitaro dan Hiro bersamaan.
“ Ah gila!! “ Riyo mengacak-acak rambutnya. Habis sudah karena Miki tidak bisa masak sedikitpun, jika bisa pun itu berkat bantuan dari Ibunya dan selama kedua orang tuanya pergi Riyo selalu memesan makanan malam. “ Kakak!!! “ Riyo mendekati Miki dengan wajah tidak mengenakan.
“ Kenapa? “ Miki sedang memasukan bahan-bahan dengan asal.
“ Hari ini masak? Lebih baik tidak usah ya, biar aku saja. “ saran Riyo tidak ingin perutnya sakit karena masakan Miki.
“ Tidak perlu, kakak sudah masak lumayan banyak. “ kata Miki yang fokus memasak, Riyo yang memperhatikan masakan yang terlihat hitam membuatnya ingin muntah.
Tidak lama kemudian, makanan telah selesai dan tampak seperti bukan makanan.
“ Silahkan dimakan. “ Miki memberikan makanannya kepada Kitaro dan Hiro, tapi keduanya hanya terdiam melongo tidak percaya dengan masakan Miki.
__ADS_1
Namun, karena mereka tidak ingin mengecewakan Miki keduanya makan dengan paksa dan menahan rasa muntahnya.
“ Bagaimana? “ Miki merasa antusias.
“ Enak. “ Hiro dengan wajah biasanya
“ Enak sekali. “ Kitaro tidak ingin kalah, tetapi Riyo sama sekali tidak bisa menahan rasa muntahnya dan berkata “ Sudahlah kalian tidak perlu berbohong seperti itu, katakan tidak enak saja, aku saja ingin muntah! “
Wajah Miki yang tadinya antusias mulai menurun karena perkataan Kitaro.
“ Apa kakak tidak pernah menyobanya dulu? “ Kitaro terus menghujat masakan Miki.
“ Bagiku enak kok. “ jawab Miki.
“ Wah, lidah kakak emang sudah mati “ ejek Kitaro
Tringg-tringg-tringg
Telepon Kitaro berbunyi, ia segera mengangkat seraya keluar dari rumah untuk berbicang sebentar. Tapi tidak perlu lama-lama, Kitaro kembali “ Maaf aku ada urusan sebentar, aku harus keluar. “ ia keluar dari rumah Miki tanpa menghabiskan makanan buatan Miki.
Sedangkan Hiro masih mencoba menghabiskan makanan Miki secara perlahan walaupun rasanya tidak terlalu terasa.
“ Kalau tidak enak lebih baik hentikan. “ ucap Miki takut perut Hiro akan tidak enak nantinya.
“ Bukan tidak enak. “ Hiro telah selesai mengahabiskan dan meminum air putih “ Kamu hanya kurang beberapa bahan, dan nanti-nanti makai kompor harus dengan api kecil ya. “
Saran yang membuat hati Miki tersentuh, lebih baik seperti ini kata-kata yang tidak terlalu sakit.
“ Baiklah aku pulang, kamu istirahat ya. “ pamit Hiro keluar dari rumah Miki.
“ Jangan pergi “ gumam Miki yang tidak terdengar oleh Hiro, ia tidak ingin Hiro pergi dan ingin memintanya untuk tetap berada disini.
Karena kali ini Miki menyakinkan diri sendiri bahwa hatinya telah terbuka lagi untuk Hiro, perasaannya kembali dan rasa ini semakin kuat dari yang ia pikirkan.
__ADS_1
Rasanya menggebu-gebu di dalam hati Miki, jantungnya hanya bisa begetar untuk satu orang.
Dia Hiro.