
Punggung Hiro yang semakin menjauh, dan kepalan tangan Kenzi yang tidak bisa ia tahan lagi. Bagaimana jadinya nanti Miki? Apa ia akan sangat terluka? Itu sudah pasti, dan Kenzi harus berbuat apa nantinya?
Kepergian seseorang yang dicintai adalah sesuatu yang tidak bisa Kenzi tangani, ia sudah tahu seberapa rasa suka Miki kepada Hiro dan itu tidak akan mudah.
Yang pasti, Miki akan mengalami shock berat.
Tapi bukannya Kenzi harus senang karena tidak memiliki saingan lagi? Bukan senang karena tidak memiliki saingan, melainkan ia tidak bisa melihat Miki yang akan sedih karena Hiro.
Sementara itu, Hiro yang berjalan keluar dari gedung sekolah dan memperhatikan isi kenangannya yang dipenuhi oleh Miki.
Senyuman, kesedihan dan tawa semua menyatu di sekolah ini.
Kaki Hiro terasa sangat berat untuk meninggalkan tempat ini, terlebih Hiro membayangkan senyum Miki yang berubah menjadi kesedihan. Ia tidak tahu harus bagaimana, rasanya ingin tetap disini tapi tidak bisa.
Karena sebuah takdir yang sekali lagi harus memisahkan Hiro dan Miki.
Takdir yang memang sudah menjadi penentu dari hubungan mereka.
Keberangkatan pesawat pada pukul 6 malam, sebelum itu Hiro ingin berjalan-jalan mengelilingi kota Tokyo yang memiliki banyak kenangan antara Hiro dan Miki.
Perasaannya campur aduk, ia merasakan sedih, gundah dan banyak hal perasaan menjadi satu.
Sebuah perasaan Hiro kepada Miki bukanlah main atau sekedar ungkapan saja, tapi perasaan ini adalah nyata bahwa Hiro benar-benar menyayangi, mencintai dan menyukai Miki.
Tidak perduli siapapun itu, Miki satu-satunya yang berada di hatinya dan tidak akan terganti. Wanita satu-satunya yang menyentuh hati Hiro paling dalam, cinta pertama sesungguhnya dari Hiro.
Baru saja sebentar tanpa Miki, perasaan Hiro sudah hampa. Senyuman yang tidak dapat dilupakan, dan tawa yang mengugah hatinya.
Bagaimana caranya melupakan orang yang sudah menjadi bagian istimewa dari hidup? Jawabannya waktu, tapi Hiro tidak ingin melupakan Miki sedikitpun karena ia bangga dengan perasaannya bahwa bisa menyukai Miki, orang yang sangat spesial daripada orang lain.
Waktu memang bisa dapat melupakan seseorang, tetapi tidak dengan perasaan. Jika selamanya perasaan tetap berada di hati tanpa ingin dilepaskan sedikitpun, ia akan tetap menetap sampai kapanpun dan waktu tidak bisa mengalahkannya.
Lalu, kenangan lucu menghampiri otak Hiro yang tengah berjalan di pinggir jalan dengan orang-orang yang berlalu-lalang kesana-kemari.
Kenangan dimana Hiro mencium bibir Miki saat festival kembang api, ia mengira bahwa permintaan Miki adalah sebuah ciuman tapi ternyata bukan.
“ Lucu sekali. “ gumam Hiro.
Dan kenangan dimana Hiro menyakiti Miki lagi karena kurangnya keberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
“ Seharusnya aku lebih berani lagi ya, memang aku adalah pria pecundang. “ mata Hiro mulai berkaca-kaca.
Bibirnya bergetar menahan tangisnya, ia tidak bisa meninggalkan Miki.
Tidak, tidak bisa.
__ADS_1
Rasanya jika ia meninggalkan Miki, semua
kebahagiaannya akan lenyap seketika. Ia memberantakkan rambutnya merasakan rasa putus asa untuk sekian kalinya lagi dan menatap langit yang tampak tenang.
“ Takdir lucu sekali, kalau begini rasanya tidak perlu temukan aku dengan Miki!! “ teriak Hiro yang diperhatikan banyak orang. “ Rasanya sakit sekali “
.....
Setelah pulang sekolah, Kenzi tidak juga mengatakan kepada Miki kalau Hiro ingin pergi dari Jepang. Tapi Kenzi takut, takut kalau Miki akan sangat terluka karena ucapannya.
Namun, kalau besok ia mengetahui dari guru
bukannya akan menambah rasa sakit lagi? Dan luka Miki akan semakin bertambah.
Jadi mungkin kalau Kenzi berbicara sekarang, Miki akan masih bisa bertemu dengan Hiro dan berpamitan sehingga ia tidak perlu merasakan luka yang sangat dalam karena kepergian seseorang tanpa berpamit terlebih dahulu.
“ Miki. “ panggil Kenzi membuat langkah kaki Miki terhenti, ia memutar tubuhnya dan menatap wajah Kenzi yang tertunduk tidak bisa berkata. “ Apa? Kenapa hari ini kamu aneh sekali? “ Miki kebinggungan.
“ Hubungan kamu dengan Hiro itu apa? “
“ Ha? “ pikir Miki sesaat. “ Entahlah tapi aku bahagia jika seperti ini, aku mengetahui kalau dia menyukaiku juga cukup. “
“ Apa kamu sangat menyukainya? “ pertanyaan Kenzi yang membuat Miki langsung menjawab dengan cepat. “ Tentu saja! Aku sangat, sangat, sangat menyukainya. “
“ Maafkan aku. “ lanjut Miki yang mengetahui perasaan Kenzi tapi tetap bisa berkata seperti itu.
“ Kalau begitu Miki... “ Kenzi mengangkat wajahnya. “ Pergilah berpamitan dengan Hiro. “
Miki mengerutkan dahinya tidak mengerti. “ Apa maksud kamu? “
“ Hiro ingin pergi dan tidak tahu kapan kembalinya. “ jawab Kenzi yang seketika membuat Miki langsung berlari tanpa basa-basi.
Dengan perasaan gelisah, Miki terus berlari tidak perduli dengan apapun lagi saat ini yang terpenting adalah bertemu dengan Hiro.
Namun, pikirannya kacau memikirkan kepergian Hiro. Bagaimana bisa ia pergi tanpa berkata apa-apa setelah melakukan kencan yang membahagiakan tersebut?
Benar, kalau dipikir-pikir lagi mungkin Hiro berkencan dengan Miki karena ia akan pergi meninggalkannya.
Tetes air mata menjatuhi pipi Miki, ia berlari dengan harap bahwa Hiro belum terlalu jauh dari rumahnya. Jika Hiro sudah jauh, Miki tidak tahu harus mencarinya kemana lagi.
Apalagi Hiro adalah pria yang selalu pergi tanpa meninggalkan apapun sehingga orang tidak akan bisa mencarinya.
Sampainya di depan rumah Hiro, nafas Miki terengah-engah ia menatap Hiro yang ingin memasuki taxi dengan pakaian yang amat sangat rapih.
“ Hiro!!! “ teriak Miki berlari dan memeluk Hiro sehingga ia tidak bisa memasuki taxi. Matanya melebar, terkejut melihat Miki berada di hadapannya.
__ADS_1
Bagaimana ini? Melihat Miki saja membuatnya ingin menetap.
“ Kenapa kamu ada disini? “ kaget Hiro dengan mata yang berkaca-kaca, Miki melepaskan pelukannya dengan mata yang sudah merah. “ Kamu mau pergi? Kemana? Katakan padaku! Jangan tiba-tiba pergi begitu saja! “
Tidak ada jawaban sama sekali, keduanya masih menatap satu sama lain dengan perasaan yang tidak ingin dipisahkan.
“ Tolong jangan pergi. “ pinta Miki, Hiro memejamkan matanya menahan air matanya yang hampir terjatuh di hadapan Miki. “ Maaf, aku harus pergi. “
“ Tidak, aku mohon, aku mohon!! “ rengek Miki mengenggam jemari tangan Hiro dengan penuh harapan bahwa Hiro tidak akan meninggalkannya lagi.
Hiro mengusap air mata yang menjatuhi pipi Miki, dan memeluknya dengan sangat erat. “ Kita harus berpisah Miki. “
“ Kenapa? Jangan pergi lagi!! Aku mencintai kamu, apa tidak cukup? “
“ Hiro? “ panggil Arlene dari dalam taxi.
Benar, kebahagiaan yang harus Hiro cari bukan dia melainkan Ibunya yang harus ia bahagiakan.
“ Jaga diri baik-baik. “ Hiro melepaskan pelukan dan mengelus puncuk kepala Miki.
“ Jangan pergi, aku mohon!! “
“ Hiro, aku mencintai kamu.. sangat mencintai kamu!! “
Langit yang mulai menggelap, gadis itu tersenyum dengan kristal bening yang jatuh dari ekor matanya. Sedangkan langit hanya bisa diam dengan buku jari yang mulai memutih. Bibir cowok itu terkatup rapat, sedang matanya menatap lekat bagaimana tubuh gadis itu bergetar hebat.
Andai bisa, langit ingin gadis itu berhenti berbicara dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, walau kenyataan berkata sebaliknya. Dia tidak baik, gadis itu juga tak jauh berbeda.
Langit berharap bahwa kenangan keduanya tetap disimpan dengan baik.
Detik terasa berhenti dan gadis itu kembali jatuh untuk kesekian kalinya karena melihat cowok itu memasuki taxi dan laju mobilnya yang cepat.
Sementara itu, gadis itu terus berlari dengan air mata yang terus menjatuhi pipinya tanpa henti. Ia berlari mengejar mobil yang semakin lama menjauh darinya, begitu dengan cowok itu yang sudah meninggalkan dirinya dengan sejuta perasaan yang tersimpan di dalam hati.
Tangis Miki pecah, ia menjatuhkan tubuhnya di tengah jalan. “ Aa... Hiro!! “
Sedangkan Hiro hanya menundukkan pandangan dengan air mata yang perlahan menjatuhi pipinya, ia tidak bisa menahan tangisnya lagi.
Kehilangan Miki adalah luka yang paling dalam, kenangan, senyum, semua masih tersisa dalam ingatannya dan nantinya perlahan akan memudar.
Dan pria itu telah meninggalkan sosok wanita yang paling istimewa dari hidupnya untuk kedua kalinya.
Begitu juga dengan wanita itu yang perasaan lukanya tidak dapat dilupakan.
__ADS_1