
"Lu kaga salah kesini pake gamis kesasar kali lu, tempat lu bukan disini tapi di pengajian." Ejek seorang cowok bermata sipit berkacamata.
Ke tiga cowok itu tertawa dengan penampilan seorang cewek dengan balutan gamis hijau dengan panjang melebihi kaki dan kerudung berwarna senada.
"Bener tuh kata Haikal, lo salah alamat Meni." Temanya Gifar ikut menimpali perkataan Haikal.
Meniara hanya menatap para sahabatnya datar mereka tidak tahu saja perjuangan untuk kesini penuh dengan drama layaknya sebuah sinetron. "Lu kira gue kesini buat apa?, Ayah udah curiga sama gue goblok." balas Meni sewot ia sedikit meninggikan nada suaranya.
"Tenang dong, tuan Putri jangan marah nanti babang Varo ngga cinta lagi sama putri" goda Varo sahabatnya, dengan mencolek-colek dagu Meni.
Meniara menghela berat seakan-akan ia hidup penuh dengan beban, padahal hidupnya kebanyakan santai ringan tak berbeban. Meni mendaratkan bokongnya di jok motor ia mengedarkan pandangannya ke sekitar arena balapan, tempat balapan malam ini cukup ramai berada di kawasan pinggiran kota.
"Jadi gimana ceritanya lu, bisa pake gamis." Tanya Haikal ia cukup penasaran dengan penampilan Meni malam ini, biasanya cewek itu menggunakan celana pendek serta Tangktop yang di lapisi jaket kulit. Padahal mereka para sahabat sudah melarang tapi sifat Meni yang keras kepala sangat sulit untuk di larang.
"Ayah mulai curiga, kalian taukan gue mana punya temen cewek, setiap keluar gue pasti bilangnya kerja kelompok sama temen cewek tapi ngga pernah yang namanya temen cewek gue main kerumah, yang ada kalian setiap hari yang main ke rumah gue." Ujar meni ia masih mengingat wajah penuh selidik ayahnya.
"Jadi.." Tanya mereka kompak. Mereka juga sangat takut jika sudah berhadapan dengan Ayah meni.
"Yah karena itu, gue terpaksa ijin buat ke pengajian biar ayah ngga curiga, tadi gue bawa baju ganti tapi ketinggalan yaudah deh terpaksa, sekali-kali deh gue nutup aurat" lanjutnya.
Mereka kini kembali mengobrol tentang balapan malam ini taruhan yang di dapatkan cukup menggiurkan bagi siapa yang menang akan mendapatkan satu unit mobil sport keluaran terbaru, tapi jika kalah harus menerima resiko yang di dapatkan.
Banyak orang yang memandang Meniara dengan pandangan mengejek sama seperti sahabatnya yang melihat Meniara pertama kali, meni hanya balas melototi orang yang terus memandang nya. Balapan ini bukan balapan biasa mereka yang hadir kebanyakan dari kalangan atas anak orang kaya di kota.
Begitu juga Meni, gifar, Haikal dan Varo. Mereka tentunya anak kalangan atas, pertemuan pertama mereka cukup unik karena mereka ber_empat bolos saat acara MOS berlangsung, karena tidak tahan dengan ocehan Kaka kelas acara MOS seperti ajang balas dendam kaka kelas yang dulunya di perlakukan tidak baik.
Meni yang tomboy dan tak suka bergaul dengan para perempuan lebih memilih berteman dengan laki-laki karena dari TK hingga SMP ia tak pernah punya teman cewek. Menurutnya berteman dengan sesama cewek itu merepotkan mereka kebanyakan bermuka dua.
Dan kebetulan ia di pertemukan dengan tiga cowok yang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing walau lebih banyak kekurangan dari pada kelebihan. Dan perteman mereka sangat awet. Mereka seperti tak terpisahkan dari kelas satu SMA hingga sekarang kelas tiga mereka selalu dalam satu kelas yang sama.
"Guys ada ukhti disini!!" Teriakan seorang cowok yang cukup keras membuat semua orang menatap ke sumber suara.
Meni menatap cowo di depannya bingung dan melihat tatapan semua orang mengarah kepada nya ia tersadar bahwa yang di sebut ukhti adalah dirinya.
"Ngapain ukhti kesini, mau balapan?, Ngga salah nih, lebih baik ngaji deh cari pahala sebanyak banyaknya" katanya mengejek ia tertawa di ikuti yang lainnya.
Varo maju ingin melayangkan tinjuan karena tak terima dengan ejekan yang di lontarkan untuk meni. Belum sempat meninju tangannya sudah di genggam erat oleh meni. Karena Meni tau Varo adalah tipe cowok yang tidak bisa menahan emosi.
Ia mengamati baik-baik wajah seorang di hadapannya wajahnya sangat familiar, tiba-tiba bayangan seorang cowok yang menembak dirinya di halaman sekolah terlintas di pikiran Meni. Ia ingat cowo di depannya sekarang regi, cowok yang ia tolak di depan umum.
"Lu Regi kan, cowok yang waktu itu gue tolak ? " Sindir meni ia menaikan sebelah alisnya. Bersedekap tersenyum sinis.
Semua orang berhenti tertawa mereka kini berbisik-bisik karena sindiran meni untuk regi.
"Maksud lu apa? "
__ADS_1
Meni memutar bola matanya malas menanggapi celotehan Regi. Bisa dilihat wajah Regi yang merah menahan malu, ia mengerti sekarang Regi menghampiri dirinya hanya untuk balas dendam. Tetapi ia sendiri yang menggali lobang.
Regi memperdekat jaraknya dengan meni.
"Jaga omong lu, awas lu ya!" acamnya pada Meni. Meni tersenyum culas menanggapi regi.
Haikal mendorong dada regi kencang, sampai regi terjungkal. Karena berani mangamcam meni. "Mulut Lo bau sumpah Re, gimana lu mau cipokan sama pacar lu kalo mulut lu bau, kasian banget dah yang jadi pacar lu."
Meni mengekspresikan wajahnya seakan ingin muntah sambil menutup mulut. Haikal serta gifar tertawa kencang. Nafas regi memburu ia sudah gatal ingin menghajar seseorang, Meniara cewek sok cantik yang berani menghina dirinya.
Bughh
Regi menonjok Wajah Varo, karena Vero yang paling dekat dengannya.
"Anjing" umpat Varo
Varo memegang sudut bibirnya yang berdarah, ia mencengkeram kaos Regi ia membalas pukulan regi.
"Anjing, ngapa lu mukul gue tai!!"
"Bangsat" Regi memakai mereka saling memukul, semua orang bersorak senang mereka berkumpul tanpa ada yang mau memisahkan keduanya.
Varo memegang kedua bahu Regi. Ia mengayunkan kakinya dan meninju perut regi berulang kali. Regi terbatuk ia mengangkat tangannya tanda menyerah,Varo mendorong kasar. Regi sadar diri ia tak akan mampu berkelahi melawan Varo sang gangster. Murid sekolah yang sering membuat ulah, berkelahi dan murid langganan BK.
"Tantangan apa?" Gifar yang sedari tadi diam, angkat bicara mendengar ucapan Regi.
"Balap" jawab regi " kalo lu, menang lu dapet mobil kalo lu kala... " Regi sengaja menggantung ucapannya. Ia ingin melihat ekspresi Ke empat manusia jadi-jadian di depannya.
"Apa?" Tanya varo. Ia memcicing curiga melihat raut regi *****, Varo bergidik ngeri.
"Meni ML sama gue malem ini" ucapnya lantang, semua orang melongo mendengar ucapan Regi, tidak heran karena mereka tau Meni masih perawan. Pacaran pun tidak pernah para cowok Ingin mendekat pun tidak berani karena Meniara punya seorang penjaga. Tiga algojo yang siap berdiri di hadapan Meni untuk membantai habis kaum pria yang lancang mendekati Meni.
"Anjing!, Bangsat lu emang " maki Varo, ia maju ingin menghajar wajah ***** regi tapi sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Gue terima" ucap Meni santai. Seakan melepaskan keperawanan adalah hal biasa bagi dirinya, mungkin untuk sebagian orang itu sudah menjadi hal yang lumrah tapi bagi Meni.
"Lu gila " decak Haikal kesal.
Meni tidak menghiraukan perkataan sahabatnya, ia mengikuti regi menuju area balap Meni menggunakan mobil Haikal. Mobil Lamborghini dengan warnah merah menyala.
Regi tersenyum sinis, malam ini ia akan menikmati tubuh meni. Mendesah sepanjang malam, menikmati wajah meni yang memohon untuk di puaskan, memikirkan nya saja sudah membuat nya horny. Regi menggunakan mobil sport berwarna hitam dengan logo lidah di bagian depan dan belakang mobil.
Balapan segera di mulai seorang gadis seksi berambut warna warni yang hanya mengenakan tank top dan Hotpan berjalan ke tengah-tengah balapan.
Meni serta pembalap lainnya mulai menekan-nekan gasnya dengan sangat keras, sebagai tanda bahwa mereka sudah siap.
__ADS_1
Lalu gadis si pembawa bendera pun mengacungkan bendera nya ke atas dan mengibarkan bendera nya.
Balapan di mulai.
Mobil peserta membelah jalanan pinggir kota.
Meni mengendarai mobil dengan kecepatan penuh ia menyalip pembalap lainnya dengan mudah.
"Sial!" Rutuk meni saat sebuah mobil dengan sengaja menabrakan mobilnya pada mobil yang di kendarai meni. Regi menyalip ternyata mereka bekerja sama untuk mengalahkan Meni. Memutar stir langsung menginjak gas untuk menyusul mobil sport hitam yang di kendarai Regi.
Sebelum itu ia membalas menyenggol mobil yang tadi sempat menabraknya, tak apa ia sedikit bermain kotor selama tidak mencelakai lawan.
Meni mengacungkan jari tengahnya pada Regi dari luar jendela. Saat ia berhasil menyusul.
Meni menekan gasnya semakin dalam ketik berada di track lurus menuju garis finish.
Regi berhasil menyalip kembali. Teriakan penonton semakin terdengar di telinga keduanya meneriakkan nama Regi dan Meni secara bergantian.
Mobil Regi dan Meni sejajar. Garis finish sudah di depan mata, sebentar lagi akan mereka raih.
Regi sengaja menyenggol mobil Meni. Meni sempat oleng tapi ia bisa mengatasi. Karena kesal Meni dengan sengaja menyenggol ban depan mobil Regi sampai mobil yang di kendarai Regi berganti arah.
Meni pun mencapai garis finish dengan sangat mulus, di susul oleh yang lainnya semua temannya bersorak senang tapi tidak dengan ketiga sahabatnya.
Varo mengetatkan rahangnya, ia sudah sangat sangat emosi begitupun juga dengan Haikal dan Gifar, jantung nya seakan ikut lomba lari maraton.
Mereka tidak menyangka Meni akan senekat ini dengan mempertaruhkan keperawanannya.
Untungnya hari ini kemenangan berpihak kepadanya, mereka juga takut nyawa Meni yang jadi taruhannya karena ia tau Regi akan menggunakan cara apapun untuk memenangkan taruhan, walaupun dengan cara kotor. Mereka tidak akan memaafkan diri mereka sendiri jika gagal menjaga Meniara.
"Gue menang" Teriak Meni girang, ia melompat-lompat dan memeluk ketiga sahabatnya bergantian. Namun tak ada respon sama sekali dari ketigannya. Mereka hanya diam mematung menatap Meni datar.
"Kalian pada kenapa sih?" Tanya Meni ia menatap heran ketiganya.
"Lu masih tanya kenapa?" Meni mengangguk jujur, ia sama sekali tidak tahu. Haikal menghela berat ia berbalik meninggalkan arena balapan di susul Varo serta Gifar.
Meni mengernyitkan dahi bingung. Saat ingin menyusul ketiganya tangannya di cekal seseorang ia menoleh dan melihat Regi yang sudah berdiri di sampingnya. "Ini hadih buat Lo." Regi memberikan sebuah kunci mobil, sebuah hadih untuk Meni yang sudah memenangkan pertandingan.
Walau Regi sangat kesal setengah mati karena tidak jadi mendengar suara desahan Meni sepanjang malam hingga esok pagi.
Meni menaikan sebelah alisnya, ia menarik tangannya yang di cekal regi." Gue ngga butuh" Ucap meni dingin, setelah mengatakan itu meni segera berlalu dari hadapan nya.
Meni segera menyusul ketiga sahabat yang sedang dalam mode ngambek, kalo sudah ngambek begini mengalahkan wanita yang sedang PMS.
"Sialan" Murka Regi, ia tak terima di sepelekan oleh gadis semacam Meni. Sungguh keterlaluan, akan ada saatnya ia membalas semua perlakuan Meniara kepadanya.
__ADS_1