
"Kenzo?" Alana sedikit terkejut ketika mendapati putranya itu sedang duduk diam di atas kasur. " Kenapa belum tidur Nak? Kamu ke bangun juga." Tanya Alana sembari mengusap kepala Kenzo dan menurunkan Za dari gendongannya.
"Ken, nungguin Bunda dan Adek." Jawabnya. " Ken, mana bisa tidur kalau Bunda dan Adek belum tidur! Bunda kata Papanya Kevin Ken, ini kan laki-laki, Ken harus kuat agar bisa menjaga bunda dan adek." Lanjutnya seraya tersenyum kepada Alana. mengingat pesan dari ayah temannya, sekaligus mantri di puskesmas yang sama dengan Alana bertugas.
" Cuma bunda sama Adek aja nih! Mama nggak mau di jagain." Tanya Alana. Wanita itu kemudian duduk di atas kasur yang sama dengan Kenzo dan memposisikan dirinya diantar Za dan Ken, setelah itu mengajak mereka untuk berbaring.
Rumah yang mereka tempati hanya memiliki dua kamar, satu untuk Alena dan satu lagi untuk mereka bertiga tempati. Bahkan di kamar itu tidak ada ranjang, hanya kasur spons yang di alas dengan tikar plastik.
" Mama kan udah di jagain sama Abang Bram." Jawab Ken sembari memeluk tubuh Alana.
" Tapi mama kan, mama kalian! Bunda cuma bantu jagain kalian aja. Kalian itu harus mengutamakan mama ketimbang bunda."
" Tapi za, lebih nyama sama bunda! Za sayang banget sama bunda! Za nggak papa di tinggal mama, asal bunda jangan." Za yang sejak tadi menjadi pendengar setia kakak dan Bundanya, turut menimpali ucapan mereka.
" Ken juga merasakan seperti itu Bunda! Ken selalu berharap, bunda adalah bunda Ken, bukan mama."
" Sudah-sudah Ayo tidur." Alana sengaja mengakhiri obrolan mereka dan mengajak kedua Anak itu tidur! sebab ia tidak ingin menegur anak-anaknya itu hanya untuk sesuatu yang tidak benar adanya.
__ADS_1
Dengan mengusap punggung Za dan Ken secara bergantian! Keduanya pun akhirnya tertidur. Sementara dirinya masih terjaga memikirkan Ucapan Alena, Hingga ia teringat akan hadirnya dua malaikat itu. Semua terjadi begitu cepat tanpa dia sempat untuk mencegahnya.
Waktu itu ia benar yakin tidak membawa apa-apa dari pria itu. Ia hanya membawa apa yang dia punya. Tetapi siapa sangka waktu membuktikan bahwa dia salah, karena pria itu mampu meninggalkan jejak dalam dirinya. Dan Alana baru mengetahui hal itu saat ia selesai melakukan UAS! Itupun karena dosen paruh waktu mereka, yang merupakan seorang dokter menghampirinya, kemudian berbisik kepada Alana. " Kamu hamil ya." Kata-kata itu membuat jantung Alana berdetak dengan hebatnya. tetapi sekali dia berusaha menepis perasaan itu.
Dan tentu saja Alana langsung menyangkal hal itu. Saat mendengar Alana menyangkalnya, Sang dosen hanya tersenyum. " Da-da yang membesar! Perut kamu juga sudah sangat jelas terlihat. Tapi kamu tidak merasakan apa-apa." Alana kembali mengeleng kepalanya, karena benar ia tidak merasakan apa-apa! hanya saja ia mulai sering bolak-balik, kamar mandi. " Punya uang-kan! Pulang kuliah nanti singgahlah di Apotek beli testpack setelah itu cobalah sendiri di rumah! Kamu akan mengetahui Jawabnya nanti.
Awalnya Alana ragu, tapi rasa penasarannya membuat dia melakukan apa yang di bilang dosennya.
Terkejut, marah dan tidak percaya pada dua garis yang tertera pada benda itu. Tapi ia bisa apa! Menyingkirkannya, itu tidak mungkin. Mau tidak mau, suka tidak suka Alana terpaksa harus menerima keadaan. Ia bahkan sanggup menutup telinganya dari hina serta cemoohan teman-teman kampusnya. Dan untuk kesekian kalinya Pisik dan mentalnya kembali di uji, hingga membuat dia menjadi orang yang keras pada keadaan termasuk dirinya sendiri dan anak-anaknya.
Alana menerima mereka, memberikan mereka nama, merawat mereka dan melimpahkan cinta dan kasih sayang kepada kedua anak itu, tapi ia tidak mengatakan dia adalah ibu mereka! Dia bahkan membiarkan kedua anak itu percaya bahwa Alena-lah yang melahirkan keduanya dengan sengaja membuat akte kelahiran keduanya dengan nama ibu Alena. Tapi yang namanya naluri tidak akan bisa di bohongi, kedua anak itu lebih nyaman dan merasa aman dalam dekapan Alana ibu mereka. Ketimbang Alena.
Alana memiringkan tubuhnya untuk menelisik wajah Ken, saat terpejam seperti ini, wajah Ken tidak begitu mirip dengan Ayahnya, sebab perpaduan wajah Alana dan saddam ada di sana! Tapi begitu ia membuka kedua matanya. Mata itu membuat ia terlihat sama persis seperti saddam, tidak hanya itu, kepeduliannya dan rasa sayangnya kepada Khanza sama seperti ayahnya kepada sandrina. Tetapi Ken jauh lebih lembut dari saddam! Hanya itu yang terlihat dari sifat anaknya saat ini, tidak tahu nanti akan seperti apa.
Sementara Khanza! Putrinya itu manja, emosian dan susah di kasih tahu. Kalau lagi ngambek-ngambeknya Alana pun sulit untuk membujuknya. Tapi begitu Kenzo yang turun tangan untuk mengaturnya ia akan langsung menjadi anak yang manis dan penurut. Aneh tapi itulah yang terjadi kepada kedua Anak itu.
" Sampai kapan pun kalian berdua tetap anak bunda dan bunda sudah siapa jika nanti kalian akan membenci bunda saat mengetahui hal ini." Ucap Alana kemudian mencium kening kedua anaknya yang sudah tertidur pulas itu, kemudian ia pun ikut memejamkan matanya bersama mereka.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Keesokan harinya, Alena terlihat sudah siap untuk berangkat ke kota dan Alana pun telah selesai siap-siap untuk berangkat kerja. Ia juga telah menyiapkan kotak makan anak-anaknya, karena akan mengajak ketiga anak itu untuk ikut bersama mereka sebab tidak ada yang menjaga mereka di rumah.
" Kamu sudah yakin ingin pergi." Tanya Alana untuk kesekian kalinya. Alena pun mengangguk sebagai jawaban.
" Iya, Aku titip Bram ya sama kamu__ nanti begitu aku tiba di sana, aku akan langsung menghubungi kamu." Ujarnya.
" Hmm, kamu tidak perlu khawatir, Bram juga anakku, aku akan menjaga mereka dengan baik. Jangan lupa untuk terus mengabari aku. " Ujar Alana, sambil memeluk Alana. " Ya udah aku akan berangkat kerja lebih dulu, agar mereka tidak menangis saat melihat kamu pergi. Jangan lupa kunci pintunya terus simpan di tempat biasanya." Lanjut nya.
Alena tersenyum sembari mengangguk kepalanya. " Terima kasih ya Lana, kamu sudah mau mengerti." Alana hanya membalas dengan anggukan ia kembali mengambil tas berisi kotak makan dan botol minum anak-anaknya kemudian melangkah keluar bersama Ketiga anak itu.
Mereka nantinya akan bermain bersama anak-anak yang tinggal di dekat puskesmas, seperti biasanya saat Alana mengajak mereka. Karena desa itu tidak ada mobil atau motor yang berlalu-lalang kesana-kemari, jadi alana tidak begitu khawatir saat membiarkan mereka bermain di sana.
Dibelakang sana, setelah memastikan Alana dan anak-anak mereka pergi, Alena pun bergegas pergi! Karena mini bus yang akan mengantar mereka ke kota hanya sekali jalan, kalau terlambat dia harus menunggu besok untuk pergi dan Alena tidak ingin hal itu terjadi .
Setelah mengunci pintu rumah mereka dan menyimpannya di tempat biasanya. Alena pun berjalan sedikit jauh, ke tempat dimana biasanya mini bus akan menjemput mereka yang menunggu di sana.
__ADS_1
Entah mengapa kepergiannya ini, terselip sedikit kekhawatiran di hati Alena, tapi wanita itu berusaha melawan perasaan itu, demi memastikan masa depan anak-anaknya nanti.