
" Kamu lapar sweetie?" Tanya Saddam saat mendengar bunyi perut istrinya itu.
" Menurut paman gimana? Aku dikurung di sini dari kemarin tanpa di beri makan tapi terus dia ajak bermain! Aku bisa kenyang gitu!" Sahutnya. Wanita itu terlihat begitu kesal kepada suaminya. Pasalnya, sejak dia membuka jalan untuk menengok surga dunianya, pria itu seakan lupa jalan untuk pulang.
Bahkan saat pintu kamar mereka di ketuk beberapa kali, malam tadi, pria itu tidak kunjung membukanya. Apalagi membiarkan Alana keluar. Dia saja, hanya di biarkan tidur tiga jam sebelum lelaki itu kembali membangunkannya untuk meminta lagi dan lagi.
" Tunggu disini, aku akan meminta pelayan untuk mengantar sarapan kita." Ucap Saddam sembari mencium kening istrinya.
" Tidak, aku mau sarapan bareng anak-anak! Lagian paman harus kerjakan hari ini." Sahut Alana Sebelum pria itu turun dari ranjang.
" Hari ini aku belum masuk kerja! Aku masih merindukanmu." Balas Saddam membuat Alana memutar bola matanya." Lagian aku ini bos mereka, libur sehari, dua hari tidak akan membuat kamu dan anak-anak kita kelaparan."
" Tidak, aku tidak mau tahu, kamu harus bekerja, jika tidak aku tidak akan mau lagi, saat kamu ajak nanti." Ancam Alana, membuat Saddam terkekeh.
__ADS_1
Pria itu kemudian menghampiri Alana dan berbisik di telinganya. " Kita buktikan itu nanti." Menyibak selimut yang menutupi tubuh polos Alana. Kemudian mengangkat tubuhnya. Alana yang terkejut langsung melingkar kedua tangannya pada leher Saddam. " Kamu harus mandi, jika ingin sarapan bersama anak-anak." Lanjutnya sembari melangkah ke kamar mandi.
" Aku tidak ingin berendam." Ucap Alana saat Saddam mendudukkan dirinya di atas closed, hendak mengisi air kedalam bathtub. " Berendam sama saja dengan memberi makan kucing lapar. Sindirnya kemudian berdiri dari duduknya. Alana menyalahkan shower, membiarkan pancuran air itu mengguyur tubuhnya.
Tanpa dia sadari, di belakang sana bibir Saddam tersenyum menyeringai. " Sweetie, tidak perlu bathtub untuk memberi makan kucing, karena seperti ini pun, kucing bisa makan sepuasnya." Pria itu kemudian ikut mengguyur tubuhnya di bawah shower yang sama dengan Alana, tangan mengusap punggung istrinya, sebelum menjalar ke depan untuk menyentuh pundak gunung kenyal milik Alana dan mencium tengkuknya. Membuat Alana memejamkan matanya! Niatnya hanya untuk mandi saja tetapi Saddam berhasil membuatnya kembali mende-sah di dalam sana. Dengan membuat wanita itu sedikit menunduk agar dia mendapatkan celah untuk masuk, Sebelum mengerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat membuat mulut Alana sulit untuk tertutup.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Satu jam berlalu, Alana turun untuk sarapan dengan wajah kesalnya." Pagi bunda?" Sapa Za, Ken dan Bram secara bersamaan.
" Sudah dong bunda." Jawab Bram.
" Iya, habisnya bunda lama." Za pun ikut menjawab.
__ADS_1
Sementara Kenzo menatap tak suka pada Ayahnya. " Bun, nanti bunda nggak ya tidur sama ayah! Bunda kalau tidur sama ayah susah bangun pagi nggak seperti biasanya." Ucap Kenzo membuat Alena menahan tawanya.
Sementara kedua orang tuanya bingung harus menyahutinya seperti apa. " Anak-anak ayo kita ke depan, biarkan ayah dan bunda sarapan dulu." Ucap Alena, kemudian mengajak ketiga anak itu pergi.
" Sepertinya apa yang di katakan Ken itu, ada benarnya! Aku sebaiknya tidak tidur bersama paman deh! Sebab paman suka membawa pengaruh buruk buat aku." Ucap Alana sembari mendaratkan bokongnya pada kursi di samping Saddam.
" Kamu yakin bisa melakukan hal itu." Tanya Saddam sambil menaikkan turunkan kedua alisnya. " Sweetie, bagaimana kalau kita mencobanya disini, sepertinya akan seru." Saddam sengaja menggoda Alana. Membuat wanita itu langsung bergidik ngeri membayangkan hal itu. Tanpa sadar ia langsung berpindah dua kursi untuk menjauh Saddam.
" Kamu gila."
" Hahahhha." Tawa Saddam langsung pecah seketika. " Sweetie, aku hanya bertanya. Kenapa kamu langsung menjauh."
" Karena mencegah rasa malu itu lebih gampang dari pada mengobatinya. Tidak tahu malu, bagaimana kalau sampai ada yang melihat."
__ADS_1
" Hai, Sweetie! tenanglah aku hanya bercanda." Ucap Saddam Namun Alana tidak menghiraukannya, ia segera menyelesaikan sarapannya dan pergi dari sana.