Love Me

Love Me
Bunda!


__ADS_3

Keesokan harinya, Alana bangun lebih awal seperti biasanya. Dia terlihat lebih segar karena semalam tidurnya tidak di ganggu oleh Saddam walaupun pria itu tidur seranjang dengannya! Sementara anak-anak mereka memilih tidur bersama Alena, karena mereka kangen dengan Alana katanya, setelah satu Minggu tidak bertemu.


Alana tidak langsung bangun dari tidurnya, wanita itu justru merapatkan tubuhnya kepada saddam, sembari melingkarkan tangannya pada tubuh pria itu. Karena dia sangat merindukan setiap kehangatan dari sang suami. Hanya saja ego dan overthinking membuatnya terjebak dalam situasi yang rumit, walaupun situasi itu dia sendiri yang menciptakannya.


" Sweetie! Jangan menggodaku, kita akan kembali ke Jakarta pagi ini dan aku nggak mau kamu lelah sebelum kita melakukan perjalanan pulang nanti." Ucap Saddam dengan suara khas bangun tidurnya! Walaupun kedua matanya masih tertutup rapat. " Ayo tidur lagi, ini masih terlalu pagi untuk kita bangun." Ucap Saddam lagi, kemudian membalas pelukan Alana seraya menarik tubuh mungil istrinya itu sedikit keatas, sehingga ia leluasa mengecup kening wanitanya itu.


" Aku nggak ngantuk! Soalnya, kalau udah kebangun jam segini aku biasanya langsung buat sarapan buat anak-anak, jadi nggak bisa tidur lagi, aneh rasanya kalau tiba-tiba semuanya sudah tersedia." Sahut Alana sambil memainkan jari tangannya di atas dada bidang Saddam, seakan tengah menulis sesuatu di sana.


" Kamu harus membiasakan diri kamu sweetie." Balas Saddam. Alana pun mengangguk kepalanya. Dulu mungkin dia butuh waktu untuk menerima semua itu, tetapi sekarang dia siapa untuk menjadi istri yang baik untuk Saddam setelah mendengar penjelasan Aaron dan cerita Sultan tentang sulitnya hidup pria itu saat dia pergi! Apalagi Saddam sampai sakit, walaupun sakitnya karena ia tengah hamil waktu itu.


" Paman sudah banyak berubah! Tidak seperti dulu lagi?" Puji Alana membuat Saddam membuka matanya dan menatap wajah Alana sambil mengerutkan keningnya. " Gimana kabar adiknya! Masih sering menuntut." Tanya Alana membuat kening Saddam semakin mengerut. Tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan Alana.


"Maksudnya?"


" Itu." Ucap Alana, memberikan kode melalui tatapan matanya kearah Selang-kangan Saddam.

__ADS_1


" Hahhahahha." Tawa Saddam pun langsung pecah dan kini giliran Alana yang menatap bingung suaminya itu.


" Kenapa? Ada yang salah dengan pertanyaan aku, paman?" Tanya Alana.


" Nggak salah sweetie! Tapi aku senang aja kamu udah mulai menunjukkan perhatian kamu sama dia! Kenapa? Udah kangen di masuki." Jelas saddam, sembari menggoda sang istri.


" Diih paman apa sih! Orang cuma nanya aja." Sahut Alana kesal, seraya memukul pundak saddam, kemudian membalikkan tubuh untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


" Maaf! Aku nggak bermaksud buat kamu kesal." Ucap saddam, melingkarkan tangan pada pinggang Alana sembari merapatkan Adiknya hingga menempel pada bokongnya, Alana. " Gimana? Kamu bisa merasakan bukan! Kalau dia sejak tadi tidak sabaran."


" Emangnya paman mau banget ya?" Tanya Alana dengan polosnya sembari membalikkan tubuh sehingga dia dapat melihat wajah memelas saddam.


" Kalau nggak keberatan aku mau-lah sweetie. Nggak papa kalau cuma sekali tembakan, udah syukur banget." Jawab Saddam dengan frontalnya.


" Ya udah ayo."

__ADS_1


" Serius kamu mau! Sweetie." Alana mengangguk.


Saddam pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menjalankan aksinya pria itu mulai dari mengecup kening Alana, kemudian kedua pipinya dan terakhir melu-mat bibir yang telah lama ia rindukan itu. Ciuman yang awalnya lembut itu, semakin lama semakin menuntut lebih! Tangan saddam pun tidak tinggal diam. Ia bermain-main dengan kedua gundukan daging kembar milik Alana, sesekali mencapit dan menarik ujungnya tanpa melepaskan tau-tan bibir mereka.


Saddam baru melepaskan tau-tan bibir mereka saat keduanya sama-sama membutuhkan oksigen, kemudian membantu Alana melepaskan baju tidurnya, menyisakan kain penutup segitiga yang masih menempel di bawah sana." Sweetie aku ingin melihatnya." Pinta saddam. Pria itu kini sudah berada di antara kedua pa-ha alana seraya mengusap pa-ha dalam milik sang istri dan sesekali meramasnya.


Alana pun dengan gugup membuka kedua pahanya, wanita itu bahkan sedikit mengangkat bokongnya untuk memudahkan saddam melepaskan kain satu-satunya yang masih menempel di tubuhnya, sehingga wanita itu kini polos tanpa sehelai benang pun. Dan saddam dapat melihat keindahan di bawah sana! Keindahan yang ia rindukan selama lima tahun ini.


Saddam mendekatkan wajahnya untuk mengecup pemuka lembah itu. Awalnya hanya sekedar mengecup lama-kelamaan lidahnya mulai menari dengan lihai di atas permukaan lembah itu, sesekali menerobos untuk masuk. Membuat Alana merem melek.


" Ah... Saddam! Cukup aku nggak kuat! Aku maaauuu!"


" Bunda."


Tok ... Tok... Tok..

__ADS_1


__ADS_2