Love Me

Love Me
Salah orang.


__ADS_3

Setibanya Aaron di apartemennya! Ia langsung menghempaskan tubuh Alena di atas ranjangnya begitu saja. " Ciih wanita yang merepotkan! Entah apa yang di lihat Saddam dari kamu, sampai dia begitu ingin melindungi kamu." Ujar Aaron.


Sementara Alana yang mendengar nama suami saudarinya disebut, membuat tubuhnya menegang dan seketika terdiam.*Apa mungkin dia mengira aku adalah Alana* gumam Alena dalam hatinya. Tanpa dia sadari, diamnya dia memberikan kesempatan untuk Aaron melanjutkan aksinya.


Pria itu membuka lemari pakaian, mengambil dasi dan ikat pinggang di sana, kemudian kembali menghampiri Alena yang masih terdiam dalam lamunannya itu.


" Kenapa Diam , hmmm." Tanya Aaron dengan cepat dia menarik kedua tangan Alena lalu mengikatnya, sebelum Alena sempat untuk melawan. "Aku ingin tahu sehebat apa wanita seperti kamu, sehingga membuat seorang Saddam begitu ingin melindungi kamu dan menelan ludahnya sendiri hanya untuk kamu" Lanjutnya. Seraya mencengkeram pipi Alena dan menciumnya dengan begitu kasarnya.


" Hamppt breng-sek." Umpat Alena, kemudian mengigit lidah Aaron, membuat pria itu terpaksa melepaskan ciumannya.


" Wanita si-alan." Umpat Aaron.


PLAAAK.


Satu tampar mendarat dengan begitu kerasnya di pipi Alena. Hingga membuat tubuhnya terhuyung ke samping telinganya seakan berdenging di ikuti rasa panas yang menjalar di pipinya. Dan tampar itu membuat sudut bibir Alena berdarah. " Ternyata kamu lebih suka dikasari ya." Ucap Aaron, ia kemudian menarik pakaian Alena hingga robek. Walaupun begitu, Alena tetap berusaha untuk melindungi harga dirinya, semampu yang dia bisa! Bahkan rasa sakit di pipinya tidak membuat dia berhenti melawan.

__ADS_1


" Kepada kamu memperlakukan aku seperti ini! Aku tidak kenal dengan kalian tapi kenapa kamu ingin menyakiti aku." Tanya Alena, Ia berteriak dan menendang dengan asal agar pria itu mau berhenti tetapi semuanya sia-sia dengan tangan yang terikat dan tenaganya yang tidak seberapa di bandingkan Aaron yang sudah kesetanan, Alena bisa apa.


" Kamu bisa menanyakan semua itu kepada Saddam nanti! Tapi untuk sekarang aku harus menik-mati kamu seperti ucapannya waktu itu." Ucap Aaron, membuat Alena semakin bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya, ucapan apa yang di maksud pria itu.


Sreekkk.


Baju dan celana yang Alena gunakan semakin sobek. pakaian itu kini sudah tidak berbentuk lagi dan tidak dapat untuk menutupi tubuhnya sebab pria gila itu merobeknya untuk kesekian kalinya. Hingga tersisa kain segitiga penutup lembah serta kain yang menutupi gunung kembar yang belum di ja-mah itu.


" Jangan coba-coba untuk menyentuh aku! singkirkan tangan kamu dari tubuhku." Ucap Alena, tetapi pria itu tidak menghiraukan kata-katanya, dia justru dengan santainya menyentuh gunung kembar itu dan mere-masnya.


Bahkan penolakan dan jeritan Alena tidak membuatnya berhenti. Untuk memudahkan kebeja-tannya. Aaron mengikat kedua tangan Alena pada kepala ranjang, setelah itu ia dengan kurang ngajarnya menyentuh permukaan kulit Alena mengunakan bibirnya. Dari bagian dada turun sampai pada selang-kangan Alena. Tidak terhitung berapa jejak yang telah ia tinggalkan di sana, menodai kulit putihnya.


" Cantik." Puji Aaron saat membuka kedua pa-ha Alena dan melihat secara langsung aset berharga itu yang mungkin sebentar lagi akan dia rusak.


" Jangan." Teriak Alena, mencoba menarik dirinya, tetapi Aaron dengan cepat menahan kakinya. " Aku moh__" Alena tidak dapat meneruskan kata-katanya, saat merasakan benda kenyal dan basah itu mulai menyentuh permukaan lembahnya. Alena sampai mengangkat kepalanya ingin tahu apa yang di lakukan Aaron, hingga ia merasakan sensasi yang teramat sangat asing di tubuhnya dan anehnya, tubuhnya menyukai hal itu walaupun otak dan mulutnya tidak sejalan karena terus mengeluarkan kata-kata penolakan.

__ADS_1


" Bagaimana, menyenangkan bukan! Sekarang jawab aku, antar aku dan Saddam, siapa yang lebih lihai dalam hal ini? Hmmm." Tanya Aaron begitu ia berhasil membuat Alena mencapai pele-pasannya untuk pertama kalinya. Walaupun wanita itu tidak mende-sah karena mengigit bibirnya sendiri agar suara itu tidak keluar, tapi Aaron dapat mengetahuinya dari tubuh Alena yang bergetar hebat dengan pinggul yang sedikit terangkat. " Kamu menikmatinya bukan." Lanjutnya. Seraya memposisikan wajahnya sejajar dengan Alena. Tapi siapa sangka jawab yang di berikan Alena membuat Aaron meradang.


" Cuuuiihh." Alena meludahi wajah tampan di hadapannya itu.


" Wanita tidak tahu diri, sudah di kasih enak bukannya berterima, malah melunjak. " Aaron kembali menampar Alena. Kemudian melepaskan setiap helai benang di tubuhnya sendiri. " Kamu ingin bermain kasar bukan! baiklah, mari kita bermain sesuai keinginan kamu, baby." Ucapnya kemudian memposisikan tubuhnya dia antara Selang-kangan Alena, sebelum mema-suki Alena dengan sekali hentakan dan berhasil merobek sela-putnya. Aaron tidak memberikan jeda agar tubuh Alena terbiasa dengan benda keras nan panjang itu. Ia langsung menghentakkan tubuhnya begitu kuat dan cepat, bahkan darah yang mengalir dari sela-sela penyatu-an mereka, tidak membuat Aaron iba. Ia begitu tertantang untuk menaklukkan Alena, apalagi saat wanita itu tidak mengeluarkan suara apapun. Ia hanya menatap pria itu penuh kebencian. Saat rasa sakit di bawah sana semakin menyakitkan, Alena hanya memejamkan matanya sesaat dengan tangan terkepal serta dia mengigit bibir bagian dalamnya, berharap hal itu dapat mengurangi rasa sakitnya.


" Dasar wanita angkuh, kita lihat sampai dimana kamu dapat bertahan." Ucap Aaron, ia semakin mempercepat gerakannya dan ingin meruntuhkan keangkuhan Alena. Tapi sampai ia selesai dan kelelahan! Alena hanya Diam dan memberinya tatapan kebencian.


" Jangan menatap aku seperti itu! Jika bukan karena Saddam berjanji untuk memberikan kamu untuk aku nikmati, aku juga tidak akan mau menyentuh patung hidup seperti kamu. Salahkan saja nasib kamu yang di cintai pria itu. Aku tidak tahu, saking cintanya dia, dia sampai tidak menyentuhmu. Hebat sekali." Puji Aaron, membuat Alena bingung. " Kenapa! Bingung ya, baiklah aku akan ceritakan semuanya agar kamu tidak bingung dan membencinya. Dulu waktu belum kenal kamu! Saddam pernah berkata jika ada wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta, maka dia akan menyerahkan wanita itu untuk kita nikmati. Dan kamulah orangnya." Alena pun kini mengerti maksud Aaron. Lelaki itu salah sasaran dan mengira dia adalah Alana.


Kini semua sudah tidak akan bisa kembali seperti semula, kehormatannya. Sudah direnggut. Menyesal, sedih tentu saja Alena merasakan hal itu. Tetapi ketika mengingat semua itu untuk Alana. Alena pun hanya bisa mengikhlaskan semua. Anggap saja ini cara dia melindungi saudarinya serta ucapan maaf karena telah menyakitinya selama.


Alena mengambil kaos milik Aaron kemudian memakainya begitu pria itu tertidur. Tidak hanya sampai di situ, Alena juga mengambil selembar uang seratus ribu di dompet Aaron. Sebelum ia meninggalkan apartemen itu dalam keadaan tertatih-tatih. Bahkan cairan pria itu dan darahnya yang bercampur menjadi satu, masih menetes menyusuri kulit pahanya, tetapi Alena hanya mengusapnya dengan tissue yang ia ambil di ruang tamu apartemen Aaron, sembari terus berjalan meninggalkan apartemen itu dan setibanya ia di lobby apartemen, ia berpapasan dengan Andika yang baru pulang. Tetapi Alena tidak mengenal pria itu. Andika pun ingin menegurnya tetapi Alena sudah lebih dulu masuk kedalam taksi yang baru saja mengantar pelanggannya.


" Sih Medusa, ngapain disini?" Tanya Andika entah pada siapa, sambil menatap taksi yang di tumpangi Alena, menjauh sebelum menghilang dari lingkungan apartemen itu.

__ADS_1


__ADS_2