Love Me

Love Me
Ancaman Alana.


__ADS_3

Satu bulan sudah Alana dan Saddam tinggal di rumah sandrina, sementara Alena saudari kembarnya itu! Tinggal di rumah mereka seorang diri! Dan sesuai pesan sang ibu Alana menjamin biaya sekolah serta biaya hidup Alena.


Alena juga sudah kembali ke sekolah, walaupun ia ketinggalan pelajaran banyak dan tidak pernah masuk sekolah selama satu semester lebih. Tetapi Alena tetap ikut naik kelas atas desakan dari sandrina. Wanita itu seakan bisa melakukan apa saja! Hanya bermodalkan latar belakang keluarganya dan sedikit mengungkit kejadian jatuhnya Alena. Ia bisa membuat Alena duduk di bangku kelas tiga SMA, sama seperti Naya dan Alana.


" Kalau bergaul itu pilih teman yang baik? Jangan asal dan jangan coba-coba untuk membuat kegaduhan." Ucap Alana ketika melihat Alena saudari kembarnya itu duduk bersama Rian dan yang lainnya di emperan kelas. " Banyak yang telah berubah selama kamu tidur dan siswa-siswa sekolah ini tidak selemah dulu." Lanjutnya memberi tahu.


" Percuma aja Al, kamu ingatin dia! Dia mana nggak akan ngerti, tapi nggak salah sih jika dia berteman sama mereka. Kan sama-sama punya otak tapi nggak tahu cara make-nya. Kalau aku ya. Udah di dorong sampai masuk rumah sakit, aku nggak akan mau maafin orang itu kalau perlu aku akan mendorong balik orang itu hingga ia merasa apa yang aku rasakan. Tapi ya__ dia kan baik dan kurang muka." Sindir Naya. Seraya menatap tidak suka kepada Alena, Rian dan teman-teman mereka.


" Hahaha, kenapa Nay! Nggak suka ya aku dekat-dekat sama Rian, kamu juga suka sama Rian. Makanya kamu kesel aku cari muka sama dia." Sahut Alena, entah pemikiran itu datang dari mana sampai Alena bisa berbicara seperti itu kepada Naya.


" Haaah, aku suka sama dia." Ujar Naya seraya menunjuk dirinya kemudian menunjuk kepada Rian." Yuuuuhh ogah. Masih mending juga aku cari sugar Daddy biar makin kaya ketimbang sama anak ingusan yang cuma tahu bikin onar sama kaya kamu yang cuma tahu nyusahin aja." Balas Naya tidak hanya membuat Alena murka tapi Rian dan teman-temannya juga ikut kesal kepada gadis itu. mereka berdiri dan hendak memukul Naya! Tapi siswa-siswa yang berada tidak jauh dari mereka langsung mendekat dan menentang Rian dan teman-temannya. Sehingga mereka pun tidak jadi menyentuh kedua wanita itu walaupun tidak ada Alfian dan Genk-nya di sekitar Alana dan Naya.


" Ingin berurusan dengan kami? Emangnya kamu bisa." Tantang Alana sembari menunjuk Rian. Kemudian berpaling kepada Alena. " Kalau kamu tidak bisa merubah sikap kamu, maka jangan salahkan aku jika aku berhenti memberikan kamu uang." Tegas Alana kepada saudari kembarnya itu .


" Kamu mengancam ku!"


" Jika itu untuk kebaikanmu! kenapa tidak." Sahut Alana seraya berbalik dan meninggalkan Alena. Setelah mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mereka yang hendak membantunya dan Naya tadi.


Dan alasan mereka membantu Naya dan Alena. Karena kedua wanita itu begitu baik kepada mereka. Alana dan Naya juga yang berperan besar sehingga pembullyan di sekolah mereka perlahan menghilang, bagaimana tidak. Kedua wanita itu selalu mengajak siswa-siswa yang paling sering di bully untuk berkumpul, seminggu sekali dan mengarahkan mereka untuk belajar melawan, bahkan jika ada yang ingin belajar ilmu beladiri tapi tidak memiliki biaya untuk menyewa pelatih keduanya akan membiayainya. Dan semua kebaikan itu berbalik kepada diri mereka sendiri dan orang lain pun dapat merasakannya dengan membantu satu sama lain.


Jika keduanya hanya mengikuti cara Alfian dan teman-temannya, yang hanya memberi ancam kepada pelaku pembullyan, bukankah tidak mungkin pembullyan itu masih akan terus terjadi, jika mereka sudah tidak ada di sekolah itu tapi dengan saling membantu, mereka dapat melindungi satu sama lain walaupun tanpa kehadiran mereka.


" Jika Alana benaran berhenti memberikan kamu uang, katakan saja kepadaku! Aku akan membantu kamu dengan mencarikan kamu sugar Daddy. Oke bye."


" Nayaka___" Geram Alena sembari menatap Naya yang berlari kecil mengikuti langkah Alana.


Tidak ingin membuat dirinya, berada dalam situasi sulit, Alena langsung meninggalkan Rian dan teman-temannya, kembali ke kelasnya.

__ADS_1


" Al, kamu benaran akan berhenti memberikan uang kepada Alena." Tanya Naya, setelah berhasil menyesuaikan langkahnya dengan Alana.


" Entahlah." Ucap Alana sembari menaikkan kedua bahunya. Di satu sisi ia ingin membuat saudarinya itu menjadi wanita yang mandiri dan berusaha sendiri tapi di sisi lain ia selalu teringat pesan ibunya untuk saling menjaga tapi apa mungkin Alena akan melakukan hal itu. " Huuffhh. Bagaimana caranya agar aku bisa melepaskan tanggungjawab darinya. Aku saja bisa berusaha kenapa dia tidak bisa." Sambungnya.


" Itu karena kalian berbeda! Walaupun rupa kalian sama " Sahut Gio, entah sejak kapan pria itu sudah berada di belakang Alana dan Naya. " Buat kamu?" Lanjutnya seraya memberikan Alana coklat ketika wanita itu berbalik kepadanya.


" Lagi?" Tanya Alana. Sebab akhir-akhir ini Gio paling sering memberikan dia coklat.


" Ya! Karena kamu membutuhkan ini, Agar mood kamu selalu baik." Jawab Gio. " Oh iya, hari ini aku ulang tahun yang ke delapan belas." Sambungnya.


" Wow , selamat ya! Semoga kamu selalu di berikan kesehatan dan kesuksesan. " Sahut Naya begitu Antusias.


" Selamat ulang tahun, sehat selalu ya." Ucap Alana begitu singkat.


" Terima kasih!" Balas Gio, sembari menatap kedua mata Alana. " Bolehkah aku meminta hadiah dari kamu. " Tanya Gio penuh harap kepada wanita yang berada di hadapannya itu.


Gio pun mengangguk." Hadiahnya, aku ingin kamu, Hadir di pesta ulang tahun aku malam ini__ Tenang saja, aku adain pestanya di rumah aku, bukan di club." Ucapnya meyakinkan Alana.


" Baiklah aku akan usahakan untuk datang." Sahut Alana.


" Kamu juga harus datang Nay!"


" Tentu saja, dimana ada Alana di situ harus ada aku." Sahut Naya. Membuat Alana dan Gio kompak tertawa.


" Sudah selesai kan! Ayo kita ke kantin." Alfian tiba-tiba datang dan merangkul pundak Alana kemudian berjalan ke arah kantin bersama wanita itu, begitu juga dengan Leo dan Egi yang kompak menarik Naya untuk menyusul Alfian dan Alana sementara Gio hanya geleng-geleng kepala mengikuti langkah teman-temannya. Karena bel masuk masih beberapa menit lagi. Mereka akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di kantin dengan becanda sekaligus ngemil disana.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Malam harinya, saat Saddam pulang! Alana langsung menyambutnya, wanita itu melepaskan jas yang di gunakan Saddam, Dasinya kemudian mengambil tas kerjanya dan menyimpan semua itu pada tempatnya.


Setelah itu, Alana meminta Saddam untuk mandi. Saat Saddam sedang mandi, Alana terus bolak-balik kesana-kemari layaknya setrika rusak! Wanita itu hendak meminta izin kepada suaminya tetapi dia bingung bagaimana caranya menyampaikannya. Dan ia juga sedikit takut jika Saddam tidak mengizinkannya nanti.


Tok,,, tok...


Pintu kamarnya di ketuk dari luar, Alana pun segera bergegas untuk membukanya. " Astaga, Al! Kamu belum siap?" Tanya Naya, wanita itu kini sudah sengat cantik dengan gaun malam yang melekat indah di tubuhnya.


" Aku belum izin! Sana kamu tunggu saja aku di bawah. Begitu aku mendapatkan izin aku akan langsung bersiap-siap dan menemui kamu."


" Tapi pestanya satu jam lagi Al, kita bisa terlambat. "


"Iya, aku tahu! Kamu tunggu saja aku." Alana segera menutup pintu itu begitu saja saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka." Dia bahkan tidak menghiraukan Naya yang masih mengoceh di luar sana.


" Sweetie?" Panggil Saddam sambil melihat ke arah pintu kamarnya.


" Itu tadi Naya." Ucap Alana sembari melangkah mendekati Saddam. Pria itu mengangguk kepalanya kemudian mengambil pakaiannya di atas tempat tidur yang telah di siapkan Alana. " Paman, Hari ini__"


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading...💝💝...


__ADS_2