
Keesokan harinya, Saddam terbangun dan menemukan Alana sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan wanita itu sedang berdiri di depan cermin merapikan rambutnya.
Saddam menghampiri Alana kemudian memeluknya dari belakang." Selamat pagi, My sweetie." Ucap Saddam seraya mencium pipi Alana.
Sementara istrinya itu tengah sibuk mengikat rambutnya dan hanya melihat Saddam melalui pantulan kaca di hadapannya.
" Pagi paman." Sahut Alana, wanita itu pun berbalik, menarik tengkuk Saddam agar sedikit menunduk kemudian mengecup pipinya setelah ia selesai mengikat rambutnya.
" Kamu yakin mau ke sekolah hari ini?" Tanya Saddam sambil mengusap kepala istrinya itu.
Alana mengangguk dengan cepat. " Aku harus ke sekolah! Paman kan tahu sendiri, beberapa bulan lagi aku akan ujian, tapi aku malah banyak absen akhir-akhir ini." Jawab Alana.
" Ya udah kalau kamu sudah yakin Ingin kembali sekolah__ Tunggu aku disini, karena aku yang akan mengantarkan kamu ke sekolah hari ini." Ujar Saddam kembali mengecup pipi Alana.
" Paman! aku ke sekolahnya sama Naya, Boleh ya. Lagian kalau aku nungguin paman aku akan terlambat. Boleh kan paman." Pinta Alana sembari menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Baiklah, kamu boleh berangkat ke sekolah bersama Naya." Alana langsung memeluk Saddam begitu mendapat persetujuan dari suaminya itu.
" Terima kasih paman." Saddam mengangguk kepalanya. " Aku sudah menyiapkan pakaian kerja paman! Sebaiknya paman mandi dan bersiap-siap berangkat kerja, sekau." Lanjutnya sembari mendorong tubuh Saddam kearah kamar mandi.
" Oke sweetie. beri aku satu ciuman lagi." Alana langsung memutar bola matanya. sementara Saddam mengunakan kesempatan itu, untuk mengecup bibir Alana. Sebelum berlalu dari hadapan Alana.
Begitu Saddam masuk kedalam kamar mandi, Alana langsung mengambil tasnya dan segera turun kebawah untuk sarapan bersama Naya dan kedua kakak iparnya.
Saddam baru bergabung di ruang makan ketika Alana dan Naya selesai sarapan dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. " Aku akan mengantar kalian." Ucap Saddam menghentikan langkah kedua gadis itu.
" Tapi paman kan belum sarapan." Sahut Alana.
" Aku bisa sarapan di kantor! Ayo pergi sekarang, nanti kalian terlambat." Ujarnya lagi, kemudian menarik tangan Alana, menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah kakaknya itu. " Nay! Ayo cepat. Kok lelet banget jalannya." Teriak saddam, ketika alana sudah berada di dalam mobilnya, sementara keponakannya itu, masih berada di belakangnya sambil menyeret-nyeret langkahnya. Sebab ia tidak suka berangkat ke sekolah di antara oleh Saddam. Tetapi apa mau di kata dia tidak dapat melawan keinginan pamannya dan dengan terpaksa Naya harus pergi ke sekolah di antara Saddam.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Setibanya di sekolah. Naya lebih dulu keluar dari mobil Saddam dan meninggalkan Alana yang masih di tahan oleh pamannya. " Ciih lama sekali, ngapain aja sih kamu di dalam." Tanya Naya begitu Alana keluar dari mobil pamannya kemudian berjalan menghampiri Naya.
__ADS_1
" Diih kepo banget__ ayo masuk." Ucap Alana begitu mendengar bel masuk berbunyi.
" Siapa juga yang kepo! Orang cuma nanya."
" Kamu nanya karena apa? Ingin tahukan. Berarti sama saja dengan kamu kepo." Tegas Alana sambil mencubit pipi Naya, kemudian berlari meninggalkannya.
" Alana tunggu." Teriak Naya ia pun berlari mengikuti Alana. " Nyebelin banget sih! Aku malah di tinggal." Omel Naya dengan suara ngos-ngosan, begitu ia sampai di kelas.
" Maaf! Nayaka sayang. Habisnya kamu bawel sih." Sahut Alana sembari menyatukan kedua tangannya di dadanya.
" Tau ahh, aku marah sama kamu." Ujar Naya sembari duduk di tempatnya dan sengaja memalingkan wajahnya.
" Ya udah aku juga marah sama kamu." Sahut Alana tidak mau mengalah.
" Alana, bukan begitu caranya! Harusnya kamu itu bujuk aku bukan ikut-ikutan marah. " Naya yang kesal, sengaja menarik pelan rambut Alana. Tapi dasarnya teman, Alana malah menjerit kesakitan. Sementara Gio dan Leo. Hanya melihat kedua sahabat itu bercanda, tanpa ingin mengusik kesenangan mereka.
" Naya, Alana! Ada apa ini?" Tanya guru yang baru saja masuk ke kelas mereka dan melihat Naya menarik rambut Alana.
" Ini Bu! Alana mengambil pena saya Bu." Bohong Naya.
Setelah suasana kelas kembali tenang, Naya selaku sang wakil ketua kelas berdiri di tengah dari tempat duduknya kemudian mengajak teman-temannya untuk berdoa sebelum memulai pelajaran mereka pagi itu.
Begitu doa selesai, sang guru langsung meminta murid-muridnya untuk mengumpulkan tugas yang pernah ia kasih. Dan Alana pun ikut mengumpulkan tugasnya walaupun ia tidak masuk sekolah! Tapi setiap tugas yang di minta guru untuk di kerjakan di rumah! Alana selalu mengerjakannya, bahkan catatan pelajarannya selalu lengkap.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Begitu bel pulang sekolah berbunyi. Gio langsung menghampiri Alana. " Al, pulangnya aku antar ya." Tawarnya, tapi dengan cepat Alana menolak hal itu dengan mengeleng kepalanya.
" Maaf ya Gio! Hari ini aku pulang di jemput supir majikan aku, karena aku harus belanja bulanan untuk mereka." Ucap Alana, sengaja membohongi Gio! Karena pagi tadi Saddam sudah mengatakan kalau pulang sekolah nanti ada supir yang akan menjemputnya.
" Kamu, sudah kembali bekerja?" Tanya Gio.
Alana spontan mengangguk kepalanya. " Ya. Bukankah kamu sendiri yang menunjukkan kepada aku, kalau hidup ini terus berjalan. Aku juga harus mencari uang untuk memenuhi biaya hidup ku, juga pengobatan saudari ku bukan." Jawab Alana.
__ADS_1
" Ya, kamu benar! Aku senang jika kamu berpikir seperti itu. Semangat ya. Aku duluan."
" Iya! Kamu juga." Gio mengangguk seraya mengusap kepala Alana.
" Al, Nay aku juga duluan ya." Pamit Leo, Alana dan Naya pun kompak menganggukkan kepala.
" Al, aku perhatiin! Kayanya Gio suka deh sama kamu." Ucap Naya, sembari menatap punggung kedua pria itu yang perlahan menghilang dari pandangan mereka.
" Apaan sih! Jangan ngaco deh, mana ada Gio suka sama aku. Itu perasaan kamu saja." Alana dengan cepat menyangkal hal itu. Sebab wanita itu cukup tahu diri untuk berpikir seperti itu.
" Dih, kamu aja yang nggak peka! Bahkan anak kecil yang baru kenal cinta-cintaan pun langsung peka begitu melihat tatapan mata dia ke kamu, sikapnya, perhatiannya. Seakan dunianya dia itu hanya berpusat ke kamu." Ujar Naya melebih-lebihkan.
" Halu kamu tuh, terlalu lebay." Alana mendorong pelan jidat Naya, kemudian mengambil tasnya sekolahnya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Naya.
" Alana. Kalau kamu nggak percaya, setidaknya jangan tinggalin aku juga kali." Sahut Naya kemudian menyusul langkah sahabatnya itu.
Setibanya mereka di depan gerbang sekolah, sudah ada dua mobil yang menunggu mereka di sana.
" Non, Silahkan." Ucap supir pribadi keluarganya kemudian membuka pintu mobil di belakangnya untuk Naya.
" Ayo Al." Ucap Naya sambil menarik tangan Alana.
" Maaf non! Nona Alana naik mobil yang ada di depan. Sesuai perintah tuan Saddam, nona." Potong sang supir membuat Naya berdecak sebel.
" Kok. Makin lama aku rasa, kita semakin jauh ya Al, Dan semua ini karena paman si-alan itu." Ucap Naya kesal kemudian masuk kedalam mobil itu. Dan sang supir pun menutup pintu dan membuka pintu mobil di depannya untuk Alana. Setelah itu ia masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi, siap mengantar Alana ke tempat yang di beritahu Saddam.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy Reading..💝💝...