
Pesta malam itu bertema garden party. Dalam satu meja terdapat delapan kursi yang mengitarinya. Alana dan Naya mendapat meja paling depan untuk tempat duduk mereka, bersama Alfian dan yang lainnya dan bersebelahan dengan kedua orang tuanya gio serta anggota keluarganya yang lain.
Begitu kedua wanita itu telah duduk di tempat mereka. MC pun melanjutkan pesta itu setelah berhenti beberapa saat untuk menyambut kedatangan Alana dan Naya. Tamu yang paling di tunggu sang punya acara.
" Oke teman-teman semua! Mari kita lanjut ke acara selanjutnya dan paling di tunggu ya itu potong kue. Dan untuk acara potong kue kali ini sedikit berbeda, karena siapapun yang menerima potongan kue pertama dari Gio. Berarti dia harus menjawab ya atau tidak. Hanya dua kata itu. Tidak boleh jawaban lain." Ucap sang MC." Ya sudah tanpa membuang waktu mari kita berdiri dan menyambut sahabat kita gio, Silahkan." Lanjutnya mempersilahkan Gio untuk naik di atas panggung kecil yang telah di sediakan di sana.
Setelah Gio naik keatas panggung itu ia pun dengan perlahan memotong kue ulang tahunnya. Kemudian mengangkat potong pertama itu, lalu meletakkannya di atas piring yang telah di sediakan. " Malam semua! Terima kasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk hadir di acara aku malam ini__ Potong kue pertama aku ini, akan aku berikan kepada seseorang yang spesial, walaupun aku baru saja mengenalnya tapi aku sudah sangat menyukai setiap hal yang ada pada dirinya. Polos, baik dan kadang ceroboh tapi dia sangat pintar dan penyayang. Jujur aku ingin mengenal dia lebih dalam lagi, aku ingin melindungi dan menjadi tempat bersandar disaat dia lelah atau pun tidak sama sekali. Dan aku ingin bisa menjadi orang yang dia andalkan." Ucap Gio, sembari menatap potongan kue di tangannya. Kemudian melangkah ke arah mejanya Alana dan teman-temannya berada. pria itu berdiri tepat di samping Alana. " Yes or no?" Tanya Gio, seraya menyerahkan potong kue itu kepada Alana. Membuat gadis itu bingung! Karena sejak tadi ia tidak begitu mendengar kata-kata Gio dan MC sebab fokusnya sejak tadi hanya pada ponselnya saja, dimana suami laucknatnya itu terus saja mengusiknya dengan pesan-pesan tidak pentingnya tapi Alana tetap meladeninya.
" Al, terima! Jangan mempermalukan dia." Bisik Naya sembari menyiku Alana. Untuk menyadarkannya." Yes aja dulu." Bisiknya lagi. Alana yang nggak mengerti situasi hanya mengikuti perintah sahabatnya itu.
Mengambil kue dari tangan Gio dan berkata " Yes. " Seketika itu sorak-sorai dan tepuk tangan dari tamu undangan yang hadir, menggema di pesta itu.
" Terima kasih." Ucap Gio, kemudian memeluk tubuh Alana! Membuat wanita itu membeku di tempatnya. Ia bahkan sampai keringat dingin karena takut kalau sampai Saddam melihat dia di peluk Gio dan marah kepadanya.
Padahal belum tentu suaminya itu ada disitu dan melihatnya. Hanya saja nalurinya sebagai istri dan hati serta tubuhnya menolak akan sentuhan pria lain.
" Selamat ya! Akhirnya teman kita yang satu ini tidak jomblo lagi." Ucap Alfian seraya memeluk Gio. Dan membuat Alana perlahan-lahan mulai sadar jika ia baru saja menerima pria yang sedang berulang tahun itu sebagai pacarnya.
__ADS_1
" Ciiee yang punya pacar! Pasti senang dong makin rajin dong sekolahnya, apalagi sekelas sama Ayang. " Goda Nilam dan Risa.
Sementara Alana hanya menatap tajam kepada Naya! Meminta perjelas dari sahabatnya yang telah membuat ia terjebak dalam situasi yang sulit ini.
" Maaf! Aku nggak bermaksud gitu. Aku hanya tidak ingin sampai dia malu. Kamu kan bisa meminta putus nanti." Ucap Naya tetapi Alana sudah tidak begitu mengharukan karena ia ingin segera pergi dari sana.
" Aku mau ke toilet." Ucap Alana kepada Gio selaku tuan rumah.
" Ayo aku akan meminta pelayan untuk mengantar kamu. " Sahut Gio tetapi Alana mengeleng kepalanya.
" Tidak perlu! tunjuk saja jalannya aku akan pergi sendiri." Gio pun memberitahu tahunya dan Alana pun, mengangguk, kemudian meninggalkan mereka. Wanita itu awalnya berjalan ke arah toilet yang di tunjuk Gio. Tetapi begitu ia berpapasan dengan pelayan rumah itu. Alana langsung meminta pelayan itu mengantarnya ke pintu utama dan ia pun segera pergi dari sana tanpa memberi tahu Naya dan berpamitan kepada Gio dan yang lainnya! Karena Alana begitu merasa bersalah kepada Saddam ia bahkan sampai gemetar dan tidak bisa bernafas dengan baik! Seolah dia adalah penderita Asma yang kini sedang kambuh. Setibanya di depan Gerbang. Rumah itu Alana begitu terkejut saat melihat mobil Saddam masih ada disana menunggunya.
" Cepat sekali! Apa acaranya sudah selesai?" Tanya Saddam setelah membukukan pintu untuk Alana.
" Belum! Tetapi aku bosan di dalam sana! Aku ingin pulang." Jawab Alana begitu ia duduk di samping Saddam dan pria itu memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. " Bisakah paman meminta supir untuk menjemput Naya, aku takut dia kemalaman dan tidak ada yang menjemputnya." Lanjutnya.
" Kamu tidak perlu khawatir sweetie! Akan ada supir yang nanti akan menjemputnya. Sekarang jawab aku! Apa saja yang kamu makan di dalam." Alana mengeleng kepalanya." Karena my sweetie aku ini belum makan malam! Ayo kita dinner." Lanjutnya.
__ADS_1
Alana pun hanya mengangguk saja, seraya mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Naya. Jika ia telah pulang lebih dulu karena tamu bulanannya datang. Ya hanya itu alasan yang paling masuk akal menurut Alana, lagian ia juga tidak mungkin mengatakan kepada Naya jika ia tidak suka dengan cara Gio tadi. Jadi yang bisa ia lakukan memberi alasan yang cukup masuk akal untuk mereka pahami tanpa berpikir yang tidak-tidak tenteng dirinya. Soal pernyataan iya-nya akan Alana pikirkan di lain hari sekaligus mengakhiri semua. Walaupun terkesan menyakitkan tapi itu yang terbaik untuk mereka berdua agar Gio bisa menemukan cinta yang sesungguhnya dan tidak lagi berharap kepadanya. Sekalipun Alana tidak tahu hubungannya dan Saddam nantinya akan seperti apa. Tapi untuk sekarang di hanya bisa patuh dan setia kepada laki-laki yang ada di sampingnya itu.
Dan malam itu Saddam dan Alana menghabiskan waktu untuk makan malam berdua! Selain makan malam, kedua juga menghabiskan waktu itu mengunjungi tempat-tempat yang biasanya di datangi para muda-mudi yang sedang berkencan dan hal itu membuat Alana dapat melupakan apa yang baru saja terjadi termasuk ungkap perasaan Gio.
" Kamu menyukainya." Tanya Saddam, keduanya kini sedang berada di sebuah cafe dengan pemandangan gelapnya air laut yang tenang dan disinari cahaya lampu.
" Ya." Jawab Alana.
" Kedepannya kita akan terus seperti ini." Ujar Saddam sembari mengecup puncak kepala Alana. Sementara Alana hanya menanggapinya dengan senyuman.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading...💝💝...