Love Me

Love Me
Medusa versi Andika


__ADS_3

Saddam yang melihat hal itu, langsung berdiri dari duduknya! Menghampiri Alana. Kemudian memeluknya. " Sabar ya! Kamu harus ikhlas-in Ibu." Ucapnya sambil mengusap punggung Alana.


" Diam! emangnya paman tahu yang aku rasakan, paman tidak sebaik itu dan berhenti bilang sabar dan ikhlas karena paman nggak tahu gimana rasanya sabar dan ikhlas itu! Aku ini lelah, Aku ingin ikut ibu! tapi kenapa paman tahan aku, harusnya paman biarkan aku ikut ibu."


" Karena aku sayang sama kamu__"


" Bohong. Paman nahan aku cuma karena paman butuh saja sama aku! Paman dari dulu emang gitu dan nggak akan pernah berubah. Dan kalau pun paman Sayang dan peduli sama aku. Kenapa paman baru datang sekarang. Dimana paman saat aku sendiri di rumah sakit, nggak orang yang bantuin aku panggil dokter, bahkan nggak ada yang bangun aku saat ibu akan pergi. paman kemana? kalian kemana? nggak ada kan. Aku sendiri__ ibu nggak tulus sayang sama aku, ibu baiknya cuma saat mau pergi aja. Sama seperti Paman yang nggak pernah tulus sama aku, paman mencari aku cuma karena paman perlu aja. Dan nggak ada yang benar-benar tulus sama aku. kalian sayang sama aku cuma untuk nyakitin aku." Ucapnya sembari mendorong tubuh Saddam.


" Maaf aku yang terlambat datang, maafkan aku yang tidak ada disisi kamu saat kamu butuh. Tapi aku tulus sayang sama kamu dan akan aku buktikan hal itu, Aku janji tidak akan melepaskan orang yang menyakiti kamu, termasuk diri aku." Akunya.


" Aku nggak sayang sama paman, Kenapa aku harus percaya dengan kata-kata paman."


" Iya! Nggak papa kalau kamu nggak percaya, nggak sayang sama aku, tapi izinkan aku untuk sayang dan menjaga kamu selamanya."


" Aku bisa jaga diri aku sendiri, aku nggak butuh paman! Aku udah biasa sandiri, ibu udah mengajarkan aku untuk berusaha dan melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain dan aku sudah terbiasa dengan hal itu. Aku hanya tidak percaya ibu akan meninggalkan aku secepat ini. Setelah aku merasakan hangat pelukannya yang selalu aku rindukan. Dan aku nggak mau lagi, merasakan sakit merindukan sesuatu di hadapan mata aku tapi aku tak bisa menggapai-nya, Aku nggak mau lagi merasakan sakit di tinggal dan aku tidak mau berharap kepada apapun dan siapapun termasuk Paman." Tegas Alana.


" Oke! Aku tidak akan pernah memaksakan kamu untuk itu. Tapi aku juga tidak akan pernah meninggalkan kamu dan melepaskan genggaman tangan kamu sampai takdir yang memaksa untuk melepaskannya." Sahut Saddam, pria itu sungguh sangat berbeda. Ia seperti bukan Saddam yang sandrina dan sahabat-sahabatnya kenal.


Karena yang mereka tahu Saddam itu hanya memiliki satu poin plus.yaitu tidak ada kebaikan dalam hidupnya tapi wanita titisan Medusa versi nyatanya Andika, mampu membuat seseorang Saddam tunduk dan memohon. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya dan sanggup kehilangan triliun rupiah hanya untuk menemani Alana yang jauh lebih berharga dari nilai uang itu. Hanya untuk memastikan wanitanya baik-baik saja walaupun ia tahu Alana tidak akan pernah baik-baik saja saat kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya.


Alana yang lelah berdebat dengan Saddam, berbalik untuk pergi ke kamar ibunya. Tapi Saddam masih menahan tangannya. " Mau kemana! Jangan sendiri, aku temani." Ucap pria itu dengan begitu lembutnya. Tutur katanya dan sikap nya dapat menggambarkan setulus apa perasaannya saat ini. Tapi itu hanya untuk orang yang tidak mengenalnya, sementara sahabat-sahabat laucknatnya itu, tentu saja masih ragu dengannya, begitu juga dengan Sandrina. Dan pada Akhirnya Saddam menemani Alana di kamar ibunya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Di saat Saddam tengah menemani Alana, Sandrina justru mendapat telpon dari rumah sakit dan mengabarkan Alena telah sadar dari komanya. Sandrina pun berjanji kepada orang yang menelponnya, bahwa ia akan datang ke rumah sakit sebentar lagi! Sembari menghampiri Naya dan Satyo untuk mengabari berita gembira ini. Karena sandrina tahu alana pasti akan sangat senang. Setidaknya bebannya sedikit terangkat dan ia Tidak merasa Sendiri lagi, karena masih memiliki keluarga ya itu saudarinya.


Berbeda dengan Naya yang terlihat begitu tidak suka dengan berita baik itu! Karena Ia khawatir Alena akan kembali menyakiti Alana seperti dulu, Dan Naya juga tahu Alana begitu menyayangi saudari kembarnya itu, kalau di sakiti sama Alena, Alana tidak akan berani membalas perbuatan saudari kembarnya dan selalu memanfaatkannya.


" Nay, kenapa? Muka kamu kok gitu! Kamu nggak senang ya Alena sadar." Tanya Sandrina setelah mengakhiri panggilannya.


" Nggak kok ma." Jawabannya sembari mengeleng kepala.


" Ya udah, mukanya nggak usah kaya gitu! Mama titip Alana sama kamu. Kalau kalian butuh sesuatu kabarin mama. Mbak Ning dan kak ida. Masih di sini untuk membantu kalian. Mama juga udah pesan kasur, siapa tahu teman-teman paman mau ikut nginap di sini." Ucap Sandrina memberi tahu putrinya itu. " Ya udah, mama dan papa pergi ya! Setelah dari rumah sakit, mama dan papa akan langsung pulang, besok pagi baru kita kesini lagi. "Sambungnya.


" Iya Ma." Jawab Naya.


" Heri, Sultan, Dika! Kakak balik duluan ya! Kalau kalian ingin makan sesuatu, langsung minta di buatin sama mbak Ning dan Ida aja. Mereka masih disini untuk bantu-bantu kalian."


" Siap kak."


" Kakak memang yang terbaik."


Jawab ketiganya kompak walaupun dengan jawaban yang berbeda. Setelah itu sandrina dan satyo pun pergi. Tanpa memberi tahu Alana dan Saddam, karena dia tidak ingin menganggu mereka. Sandrina akan memberitahu Alana tentang kondisi Alena setelah, suasana hati Alana sedikit membaik.


Malam harinya, mereka berkumpul diruang keluarga! Duduk beralas kasur yang di kirim sandrina. Malam ini mereka akan menginap di rumah Alana untuk menemaninya, agar wanita itu tidak merasa kesepian. Bahkan Viola dan Debby pun ikut bergabung bersama mereka setelah di kabari oleh suami-suami mereka. Sedangkan mbak Ning dan Ida telah kembali ke rumah sandrina. Saddam sengaja meminta mereka kembali, agar mereka bisa beristirahat, mengingat seharian mereka telah berkerja di rumah itu untuk membantu Alana dan yang lainnya.


Karena rumah itu hanya memiliki dua kamar dengan ranjang kecil. Tidak cukup untuk mereka tidur di dalam sana, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur bersama di ruang keluarga rumah itu, setelah menyingkirkan perabot yang ada disana dan mengalasnya dengan kasur.

__ADS_1


" Aku mau tidur dekat alana." Ucap Naya kemudian berbaring di sisi paling ujung dekat dengan Alana.


" Nanti kamu jatuh biar paman aja yang disini." Sahut Andika.


" Terserah paman yang penting aku dekat sama Alana. " Ujar Naya kemudian memeluk tubuh Alana, yang sudah lebih dulu tertidur! Atas bantuan Andika. Pria itu sengaja memberinya obat tidur lagi, karena begitu bangun Alana terus saja menangisi ibunya. Tidak mau makan dan tidak mau ngapa-ngapain cuma mau ibunya. Tetapi Saddam tidak akan membiarkan istrinya kelaparan. Walaupun hanya satu dua sendok, setidaknya ada makanan yang masuk kedalam tubuh istrinya. Pria itu begitu sabar menghadapi Alana. Untuk mandi saja Saddam harus menebalkan telinganya mendengar tuduhan Alana.


" Dika, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan, di bunuh sandrina nanti." Ucap Heri.


" Aku cuma tidur ya! Nggak ngapa-ngapain." Sahut Andika.


"Iya, tidur sih tidur tapi kenapa harus di samping Naya juga." Protes Heri.


" Udah sih, biarin aja! Kapan lagi, lagian pamannya aja nggak keberadaan. " Sahut Sultan.


" Kalian bisa diam nggak! Istri aku lagi tidur, kalau kalian nggak bisa diam, mending pulang aja sana." Tegur Saddam. Ruang itu seketika hening.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading..💝💝...


__ADS_2