
Alana dengan semangat empat lima, memperbaiki posisinya dari berbaring menjadi duduk, kemudian mengeluarkan map yang di berikan Sandrina, kepadanya beberapa saat lalu. " Ini hanya jaminan, ingat hanya jaminan." Ucapnya, penuh penekanan di setiap kata-katanya. " Sebelum aku mengatakan permintaan aku! Paman harus tanda tangan surat permohonan ini." Lanjutnya, Sembari menunjuk surat permohonan itu kepada Saddam dan yang lainnya.
" Tidak! Aku sudah mengatakan, kalau kita tidak akan bercerai." Tegas Saddam.
" Ya ya ya! Aku tahu dan bercerai nya kita atau tidak itu semua tergantung paman." Sambungnya. " Paman itu cuma menandatangani surat permohonan ini dan aku tidak akan menandatanganinya. Karena Setelah paman tanda tangan! Surat ini, akan langsung di pegang oleh paman Sultan, selaku pengacara yang paman tunjuk untuk mendampingi aku di persidangan kita nanti, kalau jadi lah ya. Dan bisa di bilang ini permintaan aku yang pertama dan permintaan yang kedua__ paman tanda tangan dulu dong." Alana menyerah map itu lagi kepada Saddam untuk dia tanda tangani.
Saddam Awalnya ingin menolak lagi, tapi pada akhirnya ia terpaksa menuruti dan membubuhi coretan tangannya di atas lembaran kertas itu sesuai permintaan Alana, Untuk melihat sampai dimana batas kesabarannya menghadapi istri kecilnya yang mulai cerdik itu.
" Katakan permintaan kamu yang selanjutnya." Ucap Saddam. Sembari menarik map itu dari tangan Alana dan memberikannya kepada Sultan. "Ambillah, kamu yang akan menjadi pengacaranya nanti." Serunya kepada Sultan.
Sultan pun mengambil map pemberian sahabatnya itu. Dan membacanya dengan teliti. Setelah itu kembali menatap kepada kedua pasangan penuh drama itu.
" Apa permintaan kamu yang kedua." Saddam mengulang pertanyaannya sekali lagi, karena Alana tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
" Paman nggak boleh, melakukan m*ke love ataupun m*ke out dengan perempuan mana pun, terkecuali aku. Jika paman sampai melanggarnya, maka saat itu juga paman setuju aku menandatangani surat permohonan itu. Dan ingat paman nggak boleh curang." Jawab Alana dan Selama dia berbicara, Saddam hanya memijit pelipisnya Sembari menatap wanita yang entah dia sadari atau tidak sudah berhasil mengusik ketenangan hidupnya.
Saddam kemudian melangkah mendekat kepada Alana. " Memangnya kamu sanggup? Penuhi kebutuhan aku." Ucap Saddam dengan nada berbisik, tapi samar-samar masih bisa di dengar, mereka yang ada di ruangan itu.
" Ya, itu balik lagi ke paman! Puas nggak puas tetap harus sama aku, kalau paman ingin lebih dan bebas tinggal bilang aja. Al kita cerai kamu terlalu lemah gitu." Ucap Alana dengan entengnya. Dan kali ini, Saddam kemali mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Oke, Anggap saja kamu menang! Tapi aku nggak mau ada penolakan atau drama apapun saat aku meminta hak aku, kapan pun, dimana pun kamu harus mau! Setuju."
" Oke, siapa takut! Cuma perkara ngang-kang doang kan." Sahut Alana membuat Naya melongo. Ia bingung apa Alana yang ini, masih Alana sahabatnya yang polos dan tidak tahu dunia perselang-kangan .
" Yakin! Entar nangis lagi. " Goda Saddam. Sembari menyibak selimut yang menutupi tubuh Alana, kemudian mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
" Nggak akan ya! Emangnya aku anak kecil nangis." Sahut Alana.
" Oke, kita lihat nanti ya! Sekarang mau di lepas sendiri, atau aku yang lepas." Ucapan Saddam terdengar sedikit ambigu! dengan satu tangan turun mengusap pipi Alana.
" Aku buka sendiri." Sahut Alana, sadar dengan apa yang di maksud suaminya.
Setelah itu, Alana melepaskan, selotip wajah, yang membuat pipinya terlihat tirus. Sementara Saddam berjalan ke kamar mandi, membasahi handuk kecil di dalam sana dengan air hangat dan di berikan kepada Alana. Untuk mengusap wajahnya. Semua itu tidak lepas dari pengamatan sandrina dan Andika. Bingung tentu saja mereka bingung dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Tapi itu benar adanya.
" Si*l, aku di begoin sama bocah." Umpat Andika. Ia menyesal sempat kasihan kepada Alana. " Terus yang kamu hujan-hujanan itu akting juga." Tanya Andika.
Alana mengeleng kepalanya, sembari menjawab. " Tidak, itu serius." Ya awalnya alana memang kecewa banget sama sandrina dan ingin mengakhiri hidupnya! tapi setelah ia merenung dan memikirkan semuanya, Alana sadar,dia tidak bisa terus bergantung kepada orang lain, dia harus berusaha sendiri, berpikir, terus melakukan semampunya. Jika di bantu itu hanyalah keberuntungannya saja.
Di tambah kata-kata seperti ini dari anak pelayan yang menjaganya di rumah Andika. *jika kakak ingin bahagia, kakak harus membahagiakan diri kakak sendiri, jangan tunggu orang lain untuk membahagiakan kakak! Karena hidup kita tidak selamanya bergantung kepada orang lain. Ada saatnya orang akan bosan jika terus membantu kita sedang diri kita sendiri tidak berusaha sama sekali*Membuat Alana semakin termotivasi untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan dia juga yang membantu Alana mengunakan selotip pipi di tambah sedikit sentuhan make up. Maka wajah Alana bisa setirus itu dan terlihat natural banget, sehingga membuat empati siapa saja yang melihatnya. Jika di tanya kenapa seorang anak pelayan bisa memiliki bakat sehebat itu. Maka jawabannya karena dia belajar otodidak. Selain itu dia juga sekolah kejuruan, jurusan kecantikan. Sementara Saddam yang sudah bertemu dengan banyak wanita dari yang polos sampai ber-make tebal tentu saja dapat mengetahuinya.
__ADS_1
Setelah mengusap wajahnya sampai bersih, Alana berkata" Maaf ya kak." Sambil berjalan menghampiri Sandrina. " Aku Nggak bermaksud untuk membuat kak__"
" Nggak papa, Kakak mengerti kok! Tapi lain kali kalau orang ngomong dengarin dulu sampai selesai ya." Sandrina segera memotong ucapan Alana, sembari memeluk tubuh adik iparnya itu. " Kakak percaya apa yang kamu lakukan itu terbaik buat kalian berdua dan terima kasih sudah mau membantu kakak. " Lanjutnya. Alana tersenyum.
" Sudah selesaikan drama nya! Sekarang kita pulang." Ajak Saddam, sembari menarik tangan Alana.
" Eeh tunggu dulu! surat permohonan ini gimana?" Tanya Sultan. mencegah kedua orang itu untuk meninggalkan kamar di mana mereka berada saat ini.
" Itu tetap sebagai jaminan dan permintaan aku tetap berlaku, kalau kalian sampai curang! Aku bakalan lebih nekat dari ini." Sahut Alana dengan cepat.
" Ciih, dasar bocah! Dikit-dikit ngacam." Keluh Saddam, sembari mengacak-acak rambut Alana. Membuat Sultan dan Andika tertawa.
" Tunduk juga bro. Gimana rasanya jadi
Penjilat." Ejek Sultan saat mengingat kata-kata Saddam waktu itu. " Semoga dia tidak semengerikan Debby dan Viola ya! Selamat datang dalam dunia istri yang berkuasa Hahahha! Dik aku balik ya." Lanjutnya sembari menepuk pundak Saddam, setelah itu ia pamit kepada Andika dan mengajak istrinya untuk pulang.
Setelah Sultan pergi Saddam pun pulang bersama Alana. Sebab dia sudah sangat lelah! Karena istirahat yang tidak teratur dan terus mencari keberadaan Alana, seperti orang gila bahkan pekerjaannya pun menumpuk dan menunggu untuk di selesaikan! Sebab beberapa hari ini dia hanya fokus untuk mencari Alana.
Untuk Naya dan Sandrina, keduanya pulang di antara oleh Andika. Karena sang Adik dur-jana itu tidak mau mengantar mereka dan meminta tolong Andika.
__ADS_1