Love Me

Love Me
Bunda Jihan.


__ADS_3

Keesokan paginya! Alena terbangun dalam pelukan Aaron, wanita itu langsung mendorong pria yang masih tertidur pulas itu dan membuatnya terjatuh, Ketika mengingat apa yang di semalam.


Bruuk.


Tubuh Aaron mendarat dengan indah di lantai, setelah sedikit berguling di atas ranjang itu." Alena, apa yang kamu lakukan." Bentak Aaron. Pria itu sedikit kesal karena tidurnya di ganggu! Tapi menyadari siapa orang yang melakukan hal itu. Ia hanya bisa bertanya walaupun dengan nada membentak.


" Harusnya aku yang tanya seperti itu! Apa yang kamu lakukan, kepadaku?" Ucap Alena. Tidak cukup dengan mendorong pria itu sampai terjatuh, ia juga mengambil bantal dan guling. Kemudian melemparnya kepada Aaron. " Dasar tidak tahu malu! Apa Sudah tidak ada wanita di luar sana yang mampu untuk memuaskan kamu, sehingga kamu terus datang dan berbuat curang kepadaku. Kamu adalah lelaki paling menjijikkan yang pernah aku temui. Keluar dari sini sekarang juga." Usirnya. Namun Aaron tetap diam di tempatnya, menerima semua kata-kata pedas wanita itu dan menikmati bantal dan guling yang mendarat di wajah serta kepalanya itu.


" Sudah Selesai?" Tanya Aaron begitu Alena selesai mengomel. Pria itupun sudah mengubah posisinya duduk menghadap Alena." Ayo kita menikah." Lanjutnya lagi.


" Haah, apa?" Tanya Alena, untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah.


" Ayo kita menikah! Biarkan aku mempertanggung jawabkan perbuatan aku waktu itu dan semalam." Ucapnya. " Waktu itu, aku tidak tahu jika kalian adalah kembaran dan aku pikir! Saddam membohongiku untuk melindungi kamu! Andai aku tahu kamu adalah orang yang berbeda dengan rupa yang sama. Mungkin aku hanya akan mengantarmu pulang dan tidak akan menyeret kamu ke atas ranjang hingga menghasilkan anak kita__ Ciih ternyata bibit aku unggul juga, sekali mencoba di ladang yang subur langsung jadi." Di saat menjelaskan semuanya seperti ini, masih sempat-sempatnya pria itu memuji dirinya sendiri, dia tidak tahu saja kalau Alena hampir mual mendengar bualnya itu.


" Hentikan omong kosong kamu itu, semua itu hanya akan membuat aku semakin membenci kamu. " Sentak Alena. " Aku telah melupakan segalanya, aku anggap itu adalah kesialan aku. Dan aku harap kamu juga melupakan hal itu. " Sambungnya lagi.


" Tidak bisa begitu! Aku tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan aku kepada kamu. Apalagi ada anak di antara kita."


" Cukup sudah aku katakan, dia bukan anakmu tapi anakku."


" Kamu membutuhkan aku untuk membuatnya! Sekeras apapun kamu mencoba menyangkal. Dalam dirinya ada darah kita berdua yang mengalir disana. Kamu tidak perlu terburu-buru untuk mengambil keputusan. Karena kamu mempunyai banyak waktu untuk memikirkan semuanya dengan baik. Datanglah kepadaku jika kamu sudah siapa untuk menjadi istriku."


" Aku tidak mau! Dan kamu tidak berhak memaksa aku." Sahut Alena.

__ADS_1


" Tidak masalahnya jika kamu tidak mau! Toh aku punya sejuta cara untuk menikmati tubuh kamu. Silahkan buat pilihan, mau menjadi istriku dengan suka rela atau wanita yang hanya aku icip-icip saat aku ingin." Aaron berdiri dari duduknya. Mengambil boxer-nya kemudian mengunakannya di depan Alena . Bahkan pria itu tidak malu sedikitpun kepada Alena. Sementara pipi wanita itu sudah Semerah tomat, melihat gumpalan daging yang menggantung di antara kedua pa-ha Aaron.


" Pikirkan semuanya dengan baik. Malam itu aku berhasil masuk! Semalam pun sama, tidak menutup kemungkinan besok atau seterusnya akan sama. Bersihkan dirimu. Aku tunggu di bawah untuk sarapan. " Ucap Aaron lagi, sebelum pria itu melangkah keluar kamar setelah memastikan t-shirt dan boxer telah melekat di tubuhnya.


Sementara di belakang sana. Alena berteriak dan mengumpat pria itu. Rasanya Alena ingin membunuhnya saat itu juga. Tapi apa dia berani? Baru beberapa hari saja pria itu sudah dapat menguasai tubuhnya dengan mudah. Tidak menutup kemungkinan Aaron juga dapat melakukan apa yang dia ucapkan itu suatu hari nanti. Dan Alena tentunya tidak ingin hal itu sampai terjadi kepada dirinya. Tetapi mengingat harus menikah dan tinggal bersama pria itu. Alena juga tidak mau.


...\=\=\=\=\=\=\=\= ...


Disisi lain. Semenjak Alena pergi, Alana sedikit kerepotan. Jika biasanya keduanya membagi tugas untuk mengurus anak-anak dan menyiapkan sarapan mereka. Kini Alana sendiri yang harus melakukan semua itu sendirian.


Bangun di jam empat pagi, menyiapkan sarapan dan membereskan rumah! Sebelum anak-anak bangun. Setelah itu membangunkan mereka, membantu mereka mandi dan berpakaian. Barulah dia sempat untuk mengurus dirinya sendiri setelah anak-anak telah selesai ia urus! seperti pagi ini.


" Kalian main dulu ya! Bunda mau mandi, nanti setelah bunda selesai mandi bunda, baru kita sarapan sama-sama ya." Ucap Alana kepada ketiga anaknya itu.


Saat tengah asyik bercanda! pintu rumah mereka tiba-tiba di ketuk dari luar. Membuat ketiga anak itu menghentikan aktivitas mereka dan menatap kearah pintu." Siapa ya bang." Tanya Za sambil melirik Bram dan Kenzo secara bergantian.


Kenzo menjawab dengan gelengan kepala? Karena dia juga sama tidak tahu siapa mereka, seperti adiknya.


Sementara Bram menjawab. " Teman bunda itu."


Tok Tok Tok.


Pintu itu kembali di ketuk. " Bang, ayo buka! Abang kan kakak! Abang yang harus buka." Ucap Za, Kepada Bram. Sementara ia memeluk Kenzo. " Kak, Za takut! Ntar orang jahat gimana?" Lanjut semakin bersandar kepada Kenzo.

__ADS_1


" Tunggu bunda aja." Ucap Bram karena ia juga takut. Sebab pintu itu hanya di ketuk tanpa ada yang bersuara.


" Bang, buka aja! Ini udah pagi, mana ada orang jahat." Ucap Kenzo untuk menyakinkan Bram. Anak kecil itupun berdiri dari duduknya dan membuka pintu itu.


Ia terlihat sedikit terkejut saat mendapati dua orang pria dengan kacamata hitam berdiri di depan pintu rumah mereka, sementara di belakang mereka ada beberapa pria berbadan kekar dan berotot. " Om cari siapa?" Tanya Bram dengan suara yang mulai bergetar ingin menangis.


" Hai anak ganteng! Jangan takut, om ini teman mama kamu! Apa mama kamu ada." Ucap salah seorang diantara mereka, seraya melepaskan kacamatanya dan berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Bram.


" Mama tiga hari pergi belum pulang." Jawab Bram sambil menunjuk empat jari nya.


" Salah, tiga seperti ini " pria yang berjongkok itu menurunkan satu jari Bram. " Ini baru benar tiga. Terus, kalau mama pergi kalian tinggalnya sama siapa?" Lanjutnya.


" Sama bunda! Tapi bunda lagi mandi." Jawab Bram dengan polosnya.


" Nama bunda kamu siapa?" Kali ini Lelaki yang berdiri itu yang bertanya, ia terlihat begitu tidak sabaran.


" Bunda Jihan." Jawab Bram. " Bunda Bram itu dokter loh, orang-orang suka manggil bunda. Dokter Jihan. Pasti paman mau berobat ya." Sambungnya membuat kedua orang pria itu tersenyum.


" Abang! Itu siapa yang datang, sayang?"


DEG.


Suara dari arah belakang itu. Membuat jantung pria yang sejak tadi berdiri dan menatap sahabatnya berinteraksi dengan Bram. Langsung berdetak dengan begitu cepatnya, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2