Love Me

Love Me
Mencintai dalam diam.


__ADS_3

Satu tahun setelah kepergian Alana. Andika dan Naya tidak memiliki hubungan spesial dan hubungan di antara mereka masih baik-baik saja sebagai orang yang saling mengenal dan sama-sama membantu saddam, untuk mencari keberadaan Alana.


Perasaan yang Andika punya untuk Naya pun, semakin lama, semakin dalam tetapi pria itu tidak berani untuk mengatakan langsung kepada Naya. Ia hanya bisa terus mencintai gadis itu dalam diam. Bahkan ia tidak peduli jika harus menerima ejekan dari teman-temannya karena mencintai anak kecil, karena Andika bisa apa namanya hati tidak akan bisa menyangkal siapa pemiliknya.


" Nay! Kalau paman ngomong paman Sayang sama kamu! Tanggapan kamu gimana? " Andika pernah bertanya seperti itu, saat mereka sama-sama mencari Alana dan jawaban yang di berikan Naya.


" Aku juga sayang sama paman, sama seperti aku menyayangi Paman saddam." Dan respon yang di tunjukkan Andika tentu saja, dia kecewa. Tapi dia tidak ingin memaksa Naya dan kembali bersikap seperti biasanya walaupun hatinya sakit. Karena harus kembali mencintai dalam Diam.


Sampai suatu ketika Aleya kakaknya Naya cuti dan memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya, selain itu Aleya juga memiliki alasan tersendiri, ya itu mendekati pria yang ia cintai.


Hal itu membuat Aleya dan Naya jadi semakin dekat, mereka sering habiskan waktu bersama. Dan ketika berada di kamar kakaknya itu. Naya iseng-iseng tanya kenapa kakaknya belum juga menikah padahal umurnya sudah seharusnya untuk menikah.


Aleya tersenyum sambil menjawab. " Kakak juga sangat ingin menikah dek! Tapi kakak mau nya sama orang yang kakak cintai."

__ADS_1


" Kakak punya pacar? " Tanya Naya lagi, tetapi Aleya mengeleng kepalanya. " Terus maksud kakak apa?"


" Kakak sudah lama mencintai seseorang dan kamu kenal siapa orang itu. Tapi jangan ngomong ke siapa-siapa ya. Kakak malu." Naya mengangguk, walaupun ia sedikit penasaran dengan pria yang di cintai sang kakak.


" Kalau Nay boleh tahu, dia siapa kak? Kan kakak sendiri yang ngomong kalau Nay kenal sama orang itu, siapa tahu Nay bisa bantu kakak."bujuk Naya. Membuat sang kakak tampak berpikir lama.


" Paman Dika." Jawab Aleya begitu yakin untuk mengatakan siapa orang itu kepada sang adik. Mendengar nama Andika di sebut, Naya langsung terkejut dan spontan berteriak sebelum Aleya menutup mulutnya.


" Serius? Kakak suka sama paman Dika! Cinta gitu. " Aleya hanya mengangguk-angguk saja. Tapi rona merah di wajahnya tidak dapat ia tutupi dan tampak begitu jelas. " Astaga aku senang banget. Kakak mau aku bantuin nggak, sama paman Dika, kebetulan belakang ini kita sering berkumpul untuk mencari Alana, sahabat aku." Setelah menguasai keadaan Naya mencoba menawarkan dirinya sebagai jembatan untuk sang kakak dan sahabat dari pamannya itu.


" Tentu saja! kakak senang, aku juga senang." Jawab Naya.


Dan setelah hari itu, Naya terus mendekatkan Andika dengan Aleya, Ia juga selalu menemani keduanya, membuat Andika semakin salah paham, karena setiap pertemuan mereka Naya selalu menghubunginya dan mengatakan ingin bertemu dengannya, sehingga Andika tidak curiga sama sekali walaupun setiap pertemuan ada Aleya di sana.

__ADS_1


Sampai suatu hari Naya sengaja membuat candaan saat mereka berkumpul di apartemen paman Saddam dan kedua orang itu hanya berduaan di ruang makan sementara yang lainnya di ruang tamu.


" Paman, paman nggak ada niat gitu! Ke rumah Naya sekalian ajak orang tua paman."


" Tentu aja ada! Kalau kamu mau, Besok juga paman siap ke rumah kamu sambil bawa orang tua paman." Sahut Andika.


" Benaran nih! Paman mau." Tanya Naya dengan begitu antusias seraya menggenggam tangan Andika, membuat jantung pria itu berdetak tidak menentu.


" Ya! Kalau kamu yakin dengan kata-kata kamu, kenapa tidak." Sahut Andika membuat, bibir Naya langsung melengkung sempurna.


Saking senangnya, Naya berdiri dari duduknya, menghampiri Andika kemudian memeluknya." Terima kasih ya paman! Kak leya pasti senang mendengar hal ini." Gumam Naya dengan begitu pelan sehingga Andika tidak begitu mendengar nama Aleya di sebut. Jangankan nama, orangnya di depan mata Andika pun, tidak terlihat oleh pria itu! Sebab pikiran dan hatinya hanya di isi tentang Naya, Naya dan Naya. " Jadi kapan paman akan ke rumah aku?" Tanya Naya lagi, setelah melepaskan pelukan mereka.


" Lusa! karena besok paman akan memberi tahu orang tua paman untuk menyiapkan semuanya dan lusa malam kita akan ke rumah kamu. Tepat jam delapan malam." Jawab Andika dengan begitu yakinnya.

__ADS_1


" Oke aku akan mengabari mama dan kak leya sekarang." Sahut Naya kemudian meninggalkan Andika yang tidak bisa berhenti tersenyum. Sebab penantiannya selama ini akan menjadi kenyataan dia akan melamar Naya dan menjadikan wanita itu pendamping hidupnya untuk selamanya.


" Aku juga harus mengabari mama." Gumam Andika, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya, setelah itu menghubungi wanita yang telah melahirkannya itu. Dia bahkan sampai lupa memberi tahu keempat sahabatnya. Termasuk saddam, Saking bahagianya.


__ADS_2