
Tidak terasa satu Minggu sudah Alana di tinggalkan ibunya. Wanita itu pun perlahan-lahan mulai merelakan kepergian sang ibu, walaupun sering kali air mata masih menetes dari kedua sudut matanya saat mengingat momen terakhirnya bersama ibunya.
Alana pun belum di beritahu jika Alena telah sadar dan sandrina sengaja membuat hal itu sebagai kejutan untuknya nanti. mengingat Alena kini sedang dalam masa pemulihan.
" Hei, ngapain bengong sendiri disini! Ibu kamu juga tidak akan tenang di sana jika melihat putrinya yang cantik ini terus menangis. Senyum dong walaupun kamu berat untuk melakukannya." Ucap Gio, saat ia berkunjung ke rumah Alana dan mendapati gadis itu tengah duduk termenung seorang diri di teras rumahnya. " Sorry ya, waktu itu aku nggak bisa melayat ibu kamu, karena ibu aku sendiri juga masuk rumah sakit di hari itu. Ini aku bawain coklat, katanya sih coklat bisa membuat suasana hati kita lebih baik. " Lanjutnya sembari memberikan papar bag yang dia bawa kepada Alana.
" Terima kasih ya! Kamu sama siapa kesini?" Tanya Alana sembari mengambil paper bag, pemberian Gio dan Meletakkan paper bag itu di sisinya.
" Aku sendiri aja! yang lain-kan sekolah! paling bentar lagi juga pulang."
Alana mengangguk kepalanya. " Maaf aku cengeng banget ya." Tanya Alana sembari mengusap kedua pipinya dan berusaha untuk tersenyum.
" Nggak kok! Wajar kalau kamu nangis, kamu baru saja kehilangan orang yang berarti dalam hidup kamu. Tapi__ kamu juga harus ingat, semua yang hidup pasti akan meninggal. Aku, kamu dan semua manusia di dunia ini pasti akan meninggal. Hanya menunggu waktunya saja, kemarin ibu kamu tapi besok dan seterusnya kita tidak tahu giliran siapa. Tetapi selagi kamu masih memiliki waktu, ada baiknya kamu melakukan sesuatu yang membuat mereka bangga kepada kamu dan tidak sia-sia meninggalkan kamu di dunia ini."
" Tapi untuk apa! semua usaha aku memang sudah sia-sia. Aku berkorban rasanya percuma. Ibu tetap pergi setelah semua yang aku lakukan. Kenapa hidup aku begitu menyedihkan seperti ini. Rasanya aku ingin menyusul ibu."
" Jangan ngomong seperti itu. Kamu itu masih beruntung_ nggak percaya ikut aku." Gio langsung menarik tangan Alana untuk pergi dari sana.
Pria itu membawa Alana ke Lampu merah dan berhenti di sana. Kemudian memanggil gadis kecil yang sedang berjalan kesana-kemari menjual koran sambil mengendong adiknya.
" Kakak mau beli koran?" Tanya gadis kecil itu menawarkan koran kepada Gio.
" Iya, kakak beli satu." Jawab gio sembari mengeluarkan lembar uang seratus ribu dua lembar dan memberikan kepada gadis kecil itu.
" Kakak, uang kakak kelebihan ini aja masih banyak kembaliannya." Ucap Gadis itu, mengembalikan uang seratus ribu untuk Gio.
" Nggak usah dek! Itu buat kamu. Tapi sebagai balasannya kamu Jawab pertanyaan kakak ya." Gadis itu mengangguk. Gio pun mulai bertanya." Kakak ini cantik nggak?" Tanya Gio.
__ADS_1
" Cantik! Lebih cantik kalau kakak senyum." Jawabannya Jujur, membuat Alana menarik kedua sudut bibirnya keatas.
" Nama kamu siapa?" Kini giliran Alana yang berinisiatif untuk bertanya. Gio hanya memancing saja dan Alana berhasil memakan umpannya.
" Nama Aku Nina."
" Nina umurnya berapa tahun, ini adiknya ya." Tanya Alana lagi, sambil memegang tangan adiknya Nina.
" Iya ini Adik aku! Namanya Ari. Umur aku sembilan tahun kak."
" Orang tua kamu kemana? Kok adiknya di bawa-bawa?"
" Mama papa aku udah meninggal setahun yang lalu, aku dan adik nggak punya rumah, makanya kita jual koran dan ngamen, hasilnya entar di kasih buat bang damar agar kita bisa makan dan dapat tempat tidur." Jawabnya dengan jujur dan Kata-kata anak kecil itu berhasil menampar Alana, menyandarkannya. bahwa dia jauh lebih beruntung dari mereka yang hidup di jalanan dan harus berjuang untuk bertahan hidup. Sementara dia masih di berikan tempat tinggal oleh orang tuanya, masih di kelilingi orang-orang yang sayang dan peduli sama dia tapi kenapa dia tidak bisa bersyukur dengan hal itu dan terus menyalahkan takdirnya.
" Kamu hebat, pundak kamu yang kecil dan rapuh bahkan jauh lebih kuat dari aku. " Puji Alana.
" Terima kasih kak! Aku lanjut jualan koran dulu ya." Gadis kecil itu pun meninggalkan Alana dan Gio. berjalan tergesa-gesa, menghampiri mobil-mobil yang tengah berhenti dan kembali menjajakan korannya .
" Boleh aku menjenguk ibu kamu?" Tanya Alana.
" Tentu saja Boleh! ibu aku sudah bosan setiap hari di jenguk sama teman-teman aku yang itu-itu saja. Hari ini pasti ibu sangat senang di jenguk sama kamu. Tapi ingat kamu harus senyum di depan ibu aku, ingat senyum. " Ucapnya sembari menarik kedua pipi Alana.
" Aauuh , sakit Gio."
" Uppss, sorry! Sakit banget ya." Ucapnya lagi kemudian mengusap pipi Alana.
" Kamu mah gitu! Doyan banget cubit pipi aku." Rengeknya.
__ADS_1
" Habisnya, kamu gemesin sih! jadi pengen cubitkan. Ya udah kita ke rumah sakit sekarang ya." Lanjut Gio lagi. Alana pun menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun pergi ke rumah sakit di mana ibunya Gio di rawat.
Setibanya mereka di rumah sakit, Alfian dan yang lainnya juga berada disana masih dengan pakaian seragam sekolah mereka dan begitu mereka melihat Alana mereka langsung menyambutnya begitu juga dengan ibunya Gio. Alana duduk di samping ranjang ibunya Gio. Mereka bercerita dan bercanda bersama membuat Alana dapat melupakan dukanya.
Tanpa Alana sadari, Saddam kini sedang mencari keberadaannya. Pria itu hanya meninggalkan Alana sebentar untuk membelikan makanan yang di inginkan Alana. Tapi begitu ia kembali, istrinya sudah tidak ada di rumah. Ia hanya menemukan paper bag berisi coklat di dalamnya di teras rumah mertuanya itu sementara Alana tidak ada di mana-mana.
Saddam pun memutuskan untuk menghubungi orang suruhannya untuk mencari Alana." Cepat cari keberadaan istriku sekarang." Titahnya begitu panggilan itu terhubung. Dan setelah itu ia mengakhiri panggilan itu begitu saja.
" Paman, ngapain disini? Alana-nya kemana?" Tanya Naya, gadis itu baru pulang sekolah dan bertemu dengan Saddam yang baru keluar dari gang rumah Alana.
" Alana nggak ada di rumah! paman harus pergi untuk mencarinya."
Jawab Saddam seadanya.
" Emangnya alana kemana paman? Apa mungkin dia ke makam ibunya."
" Entahlah, paman akan mengecek ke sana."
" Aku ikut." Saddam mengangguk, keduanya pun masuk kedalam mobilnya yang terparkir di depan gang itu dan menuju makam ibu mertuanya Saddam itu.
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...