Love Me

Love Me
Kamu sudah menikah?


__ADS_3

Keesokan harinya Alena menghubungi Alana, untuk meminta bantuannya! Sebab ia mempunyai pesanan kue buat hajatan sore nanti.


Alana pun dengan senang hati mau membantu saudarinya itu. Ia bahkan mengajak Naya untuk ikut bersamanya.


" Hai, Nay! Terima kasih ya mau kesini bantu kita." Sapa Alena, begitu kedua orang itu tiba di depan rumahnya.


" Hmmm, nggak usah senang gitu! Aku mau bantu kamu karena di desak Alana. Kalau nggak juga! Aku mana mau." Sahut Naya. Alena hanya tersenyum sembari mengangguk, ia tidak tersinggung sedikit pun mendengar Naya berbicara seperti itu. Sebab dia tahu Naya bisa bersikap seperti itu kepadanya, karena sikapnya yang dulu.


" Nay! Jangan gitu dong." Tegur Alana, tetapi Naya hanya menaikkan kedua bahunya tak peduli. " Sekarang, katakan kita harus melakukan apa, untuk membantu kamu." Tanya Alana kepada Alena. Karena membujuk Naya berbaikan dengan Alena, sama saja dengan mencari jarum pada tumpukan jerami.


" Masuk dulu ya! Nanti aku kasih tahu kalian harus apa." Alana mengangguk, ia kemudian melangkah masuk mengikuti Alena seraya menarik tangan Naya untuk mengikuti mereka.


Setibanya di dalam rumah. Alana dan Naya menyimpan tas mereka kemudian membantu Alena.


Setelah beberapa jam mengerjakan pesanan kue Alena bersama-sama, Akhirnya pesanan itu selesai juga dan siapa untuk di antar.


" Kita yang antar?" Tanya Naya, wanita itu sepertinya sudah sangat kelelahan. " Kenapa mereka nggak datang ambil aja sih." Keluh Naya, tetapi kedua saudari itu hanya tersenyum. Sebab mereka tahu, gadis itu pasti sudah sangat kelelahan.


" Kalau kamu capek, kamu tunggu disini aja! Biar aku sama Alena yang antar kuenya, lagian tempatnya tidak jauh kok, cuma dekat sini aja." Ucap Alana memberi saran, tetapi Naya menolak dengan mengeleng kepalanya.


" Nggak aku ikut aja." Putusnya.

__ADS_1


Ketiganya pun pergi, mengantar pesanan itu, dan begitu selesai, mereka sekalian mampir di kios! Untuk mengambil hasil dagangan Alena yang pagi tadi. Jika biasanya, Alena langsung pergi belanja untuk bahan kue besok, tapi kali ini tidak! Ia memilih pulang bersama Naya dan Alana. Karena dia tahu kalau dia pergi belanja pasti Alana akan ikut dan Naya pun juga akan ikut walaupun dia lelah. Alena juga tidak sampai hati untuk menyulitkan gadis itu walaupun Naya sering menuduhnya yang bukan-bukan.


" Kamu nggak langsung belanja?" Tanya Alana, ketika mereka menyusuri gang menuju rumah mereka.


" Entar aja aku belanjanya! Aku juga udah capek, mau istirahat dulu." Sahut Alena. Alana pun hanya mengangguk saja.


Dan begitu mereka tiba di rumah. Ketiganya langsung berbaring di kamar Alena. Karena sudah sangat lelah! Alena lebih dulu tertidur sementara kedua wanita itu masih asyik bercerita.


" Al, balik yuk! Udah jam enam ini." Ajak Naya sembari perlihatkan jam tangan di pergelangan tangannya.


" Iya! Aku bangunin Alena dulu."


" Nggak usah Al, kamu nggak liat! Dia keliatan capek banget."


" Ya di tutuplah pintunya. Udah yuk pulang." Naya langsung mengambil tasnya dan tas Alana kemudian menarik tangan wanita itu untuk pulang tanpa membangunkan Alena.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Alena terbangun di jam sepuluh malam dan tidak menemukan keberadaan Alana dan Naya disana, begitu teringat dia belum belanja bahan buat besok. " Kenapa mereka nggak bangunin aku sih, aku kan belum belanja." Keluhnya sambil beranjak turun dari tempat tidur, kemudian bergegas ke kamar mandi.


Selesai mandi cepat dan berpakaian alena keluar untuk membeli bahan-bahan kuenya. Karena waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Kios-kios sudah pada tutup. Alena pun tidak punya pilihan, ia memesan ojek online, untuk mencari mini market yang masih buka di jam segini.

__ADS_1


Alana keluar dari mini market sambil membawa tas belanjaan dengan mereka mini market sejuta umat itu. Ia kemudian memesan ojek lagi melalui aplikasi di ponselnya dan memilih menunggu ojol itu di depan jalan tanpa dia sadari, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tidak jauh darinya dan sedang memperhatikan wajahnya! Posisi Alena yang berada tepat di bawah lampu jalan itu membuat sang empunya mobil dapat melihat wajahnya dengan jelas.


Setelah yakin jika wajah itu sama persis dengan wajah yang pernah dia lihat tertidur di ruang kerja sahabatnya. Mobil itupun mendekat setelah cukup lama berdiam di sana.


Tiiit.. tiiitt


Alana yang di klakson sedikit terkejut! Kemudian menatap tak suka kepada pemilik mobil yang kini telah berhenti di depannya.


" Hai cantik! Ngapain malam-malam disini? Suami kamu kemana." Tanya pria yang baru saja menurunkan kaca mobilnya dan melihat wajah Alena dengan lebih jelas lagi. Dan pertanyaannya itu membuat Alena mengerutkan keningnya.


" Om mabuk ya!" Itu respon pertama yang di tunjukkan Alena. Wanita itu sepertinya lupa jika saudari kembarnya telah menikah.


" Jadi kamu belum nikah?" Tanya pria itu lagi. Alena yang mulai tidak nyaman, segera pergi dari sana. Tetapi pria itu menjalankan mobilnya dengan begitu pelan mengikuti langkah Alena. "Hai kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu udah nikah atau belum."


Alena yang mulai kesal terus di ikuti langsung berhenti dan menatap tajam pria itu. Dia tidak tahu saja, kalau pria yang di beri tatapan tajam itu jauh lebih kejam dan breng-sek dari iparnya.


" Berhenti ngikutin saya. Dan jangan kira saya tidak tahu apa yang ada dalam isi otak kamu itu saat melihat wanita berdiri di pinggir jalan. Saya bukan wanita seperti itu dan saya belum menikah. " Tegas Alana, bersamaan dengan ojol yang dia pesan datang, Alena segera duduk di jok belakang kang ojek dan memintanya untuk jalan tanpa menghiraukan pria yang masih menatapnya dengan smirk liciknya itu.


Begitu ojol yang mengantar Alena pergi, pria itu langsung mengikuti mereka sembari mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. " Hai Dam! Apa kamu sudah tidur." Tanya pria itu.


" Apa istrimu juga sedang tidur di samping mu. " Hening sesaat untuk pria yang di sebut Dam itu berbicara. " Kamu yakin, kamu sedang tidak membohongi aku bukan." Ucapnya lagi dengan fokus tetap kepada objek di depan sana. Dimana Alena juga sesekali menengok ke arah mobilnya.

__ADS_1


" Baiklah berikan ponsel kamu kepadanya! Aku ingin berbicara dengannya." Ucap Pria itu. Dan sepertinya orang yang dia telpon menolak hal itu." Cih berhentilah membohongi aku! Tetapi jika kamu tetap pada pendirian kamu! Maka jangan salahkan aku jika aku memaksanya." Pria itupun segera mengakhiri panggilan itu secara sepihak dan segera menghadang ojol yang ada di depannya.


__ADS_2