
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mobil mereka tiba di kota. Ken, Za dan Bram yang baru pertama kali di bahwa ke kota, begitu takjub dan terheran-heran saat melihat banyaknya gedung-gedung tinggi berjejer sepanjang jalan yang mereka lewati walaupun tidak semua gedung-gedung itu tinggi, tapi setiap gedung yang mereka lewati kebanyakan lebih dari empat lantai dan mereka baru pernah melihat gedung setinggi itu. Sementara rumah ce Nelly orang terkaya di desa yang mereka tinggali hanya memiliki dua lantai. Jadi tidak salah jika ketiga anak itu sedikit kampungan maklum saja, selama mereka tinggal di desa! mereka tidak memiliki TV untuk melihat dunia luar! Ponsel bunda mereka pun hanya bisa untuk berkirim pesan dan menelpon. Dimana permainan dalam ponsel Alana, hanya ular hitam putih yang mencari makan, sampai panjang. Jadi tidak salah jika mereka bertiga sedikit ketinggalan.
Profesi Alana sebagai dokter di puskesmas, bukan berarti dia tidak mampu untuk membeli ponsel yang lebih modern! Tapi bagi Alana, memastikan nutrisi anak-anaknya terpenuhi jauh lebih penting dari pada sebuah ponsel keluaran terbaru. Sehingga setiap kali wanita itu gajian, ia lebih mengutamakan untuk menyetok susu untuk kebutuhan anak-anaknya serta persediaan makan mereka ketimbang membeli keperluan yang tidak terlalu di butuhkan.
" Wow! Bagus sekali, gedung itu terbuat dari kaca Bang! Coba lihat. " Ucap Ken sembari menarik Bram, sehingga wajah anak itu menempel pada kaca mobil, untuk melihat gedung yang baru saja mereka lewati.
" Bang, Kak sini liat! Ada air mancurnya." Giliran Za yang heboh saat melihat kolam air mancur di sebuah taman dari sisi sebelahnya." Bunda-bunda kita berhenti di sini ya! Za mau ke situ. " Ucapnya sambil menunjuk taman itu.
" Sayang! Nanti ya, kita harus pulang dulu, kalian kan belum makan, belum mandi juga! Nanti setelah sampai di rumah paman Sultan, kalian mandi, makan, bobo siang baru kita ke teman." Sahut Alana, mencoba membujuk putrinya itu.
" Yaaah Bunda." Ujar Za sambil memanyunkan bibirnya.
" Sayang." Panggil Alana, membuat Za terpaksa mengalah.
" Iya deh bunda! Tapi janji ya! Selesai tidur siang, kita langsung ke sana." Ucap Za, seraya memberikan jari kelingkingnya kepada Alana, agar ibunya mau berjanji membawanya ke sana.
__ADS_1
" Janji." Sahut Alana sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingnya Za.
Sultan dan Saddam hanya melihat interaksi ibu dan anak itu dari kaca spion dihadapan mereka begitu juga dengan kehebohan Ken dan Bram. Karena sepintar apapun mereka, mereka tetap anak-anak dan ada saatnya mereka bersikap seperti sekarang ini.
Tidak lama setelahnya, mobil Sultan berbelok untuk masuk ke halaman rumahnya. Ketiga anak itu kembali di buat melongo dengan kemewahan rumah Sang pengacara.
" Ken, awas mulutnya kemasukan lalat." Ucap Sultan untuk menggoda putra dari sahabatnya itu. Sebab pria itu masih kesal dengan Ken, karena selalu tinggal di desa, dia selalu di atur dan di omel-in anak yang belum genap Lima tahun itu.
Ken pung langsung menutup mulutnya dan menatap Sultan dengan tatapan tajamnya. " Om bohong, mana ada lalat yang masuk ke dalam mulut Ken." Ucapnya.
" Ya kalau nggak di tutup, pasti masuk lah! Coba mangap lagi."
" Ken, nggak boleh gitu, kalau ngomong sama orang yang lebih tua " tegur Alana.
" Om dulu yang ganggu aku bunda." Rengekannya.
__ADS_1
" Om bukan ganggu kamu, tapi kasih tahu." Jelas Alana, Agar putranya itu mau mengerti. " Ayo kita turun. Mama pasti udah nungguin kalian di dalam! Kalian kangen nggak sama mama." Tanya Alana untuk mengalihkan pembicaraan mereka, sebab ia tahu Putranya itu tidak akan mengalah kepada Sultan semalam dia yang di ganggu duluan.
" Kangen dong bunda." Jawab ketiganya kompak. Bersamaan dengan Alena yang keluar dari dalam rumah untuk menyambut mereka di ikuti Aaron di belakangnya. " Mama Lisa." Teriak mereka dengan kompak, sembari berlomba untuk turun dari mobil, kemudian berlari kecil menghampiri Alena.
Alena yang begitu merindukan ketiga anak itu, karena seminggu lebih tidak bertemu dengan mereka, langsung berlutut sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar, agar mereka dengan leluasa masuk kedalam pelukannya. " Mama kangen banget sama kalian bertiga. " Ucap Alena sembari mengecup puncak kepala putra-putrinya secara bergantian.
" Za juga kangen banget sama mama. Mama jangan pergi-pergi lagi ya."
" Bram juga kangen sama mama! Mama perginya lama sekali."
" Aku juga kangen sama mama! Mama sehat kan? Om di belakang mama tidak nyakitin mama kan?" Tanya Ken seraya menatap tidak suka kepada Aaron.
" Anakku sayang! Aku tidak menyakiti mamamu! Justru aku membuat mama kamu keenakan." Sahut Aaron blak-blakan.
PLak.
__ADS_1
Saddam langsung mengeplak belakang kepala Aaron. Membuat pria itu terkejut, hampir saja ia memaki sahabatnya itu. Tapi melihat tatapan tajam saddam, Aaron pun mengurungkan niatnya, sembari mengusap belakang kepalanya. " Jaga bicara kamu saat bersama anak kecil." Tegur saddam. Aaron pun hanya bisa mengangguk, sementara Sultan dan Alana mengeleng kepalanya berbeda dengan Ken yang mengeluarkan lidahnya, mengejek Aaron.
" Acara kangen-kangenan nya nanti di lanjut lagi ya, sebaiknya kita masuk dulu." Ajak Sultan. Dan mereka pun segera masuk kedalam rumah Sultan.