
Sepulangnya dari tempat Alena, Alana langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Saddam. Pria itu juga baru pulang kerja dan sedang duduk bersama sandrina di ruang keluarga. " Kenapa capek banget ya." Tanya Saddam, menarik Alana agar semakin mendekat kepadanya.
" Iya sedikit!" Jawab Alana.
" Ya udah, kita kita ke kamar aja yuk, sekalian kamu bisa istirahat di sana." Alana awalnya ingin menolak karena tak enak hati dengan sandrina yang masih duduk disana, tetapi kakak iparnya itu justru mengangguk membuatnya mau tak mau ikut mengangguk. " Kak! Kita keatas ya." Pamit Saddam kepada sandrina. Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum kepada mereka. Sandrina begitu bahagia melihat hubungan Alana dan Saddam yang semakin hari semakin membuat seisi rumah resah dengan kemesraan mereka yang kadang kurang tahu tempat dan situasi itu.
" Ma! Aku senang bisa lihat paman membahagiakan Alana. Semoga mereka selamanya bisa seperti itu ya Ms." Ucap Naya dengan tulus.
" Amiin sayang, doakan saja mereka ya." Sahut sandrina. Naya dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di kamar, Saddam sedang duduk di sofa sementara Alana berbaring di pangkuannya sambil memejamkan matanya.
" Sweetie jangan tidur, mandi dulu ya! Baru setelah itu kamu boleh tidur, biar lebih nyaman tidurnya." Ucap Saddam tetapi Alana mengeleng kepalanya.
" Nggak deh paman! Aku capek banget."
" Kamu harus mandi biar segar. Nanti lanjut tidur lagi."
" Tapi aku malas, Paman."
" Aku bantu, kalau gitu." Tanpa menunggu respon Alana Saddam sudah mengangkat kepala Alana dari pangkuannya, kemudian berdiri, setelah itu dia mengangkat tubuh Alana membawanya ke kamar mandi.
" Ngapain aja di rumah ibu." Tanya Saddam sambil Mendudukkan Alana di atas closed kemudian mengisi air hangat ke dalam bathtub.
" Cuma bantuin Lena buat kue aja! Terus kita antara ke rumah Bu RT, buat anaknya lamaran malam ini." Jawab Alana sedikit bercerita.
" Hanya itu!" Tanya Saddam lagi, sembari menghampiri Alana Begitu air di bathtub telah terisi penuh. Dia meminta Alana melepas pakaiannya dan masuk kedalam bathtub. Alana pun hanya menurut saja. begitu Alena duduk di dalam bathtub Saddam pun melepas pakaiannya dan ikut masuk ke dalam bathtub.
__ADS_1
" Hmmm."
" Sweetie, besok masih liburkan?" Tanya Saddam, pria itu kini sedang bersandar pada pinggiran bathtub dengan Alana yang bersandar pada da-danya. Sesekali ia mencium pundak pol-os Alana dan meninggalkan jejak merah keunguan di sana.
" Iya, Kenapa emangnya." Jawab Alana, sekaligus bertanya.
" Aku mau ngajak kamu liburan." Sahut Saddam. Bibirnya menjawab sambil menyusuri punggung Alana. Membuat acara berendam air hangat mereka menjadi semakin panas.
" Ngghh,, nggak bisa pa-man ahh, ak-ku harus belajar." Ucap Alana sedikit tersengal-sengal, karena ulah Suaminya itu.
" Oke! Kita akan liburan begitu kamu selesai ujian. Tetapi sebelum itu, mari kita bermain! Dia sudah tidak sabar untuk memasuki kamu." Bisik Saddam. Ia pun mengangkat pinggul Alana sebelum mema-sukinya. Setelah itu hanya suara-suara akibat penyatu-an dua itim itu, yang terdengar memenuhi kamar mandi itu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Saddam yang baru saja tertidur, setelah permainan panasnya dengan Alana di kamar mandi dan berakhir di ranjang itu, Sedikit kesal saat tidurnya terusik. Karena suara dering ponselnya.
" Hallo." Ucap Saddam kepada Sang penelpon dengan suara khas bangun tidurnya. Bahkan ia sesekali masih menguap.
" Tentu saja aku sudah tidur! Kamu pikir sendiri ini jam berapa Ar." Sahut Saddam sedikit kesal kepada sahabatnya itu.
" Apa istrimu juga sedang tidur di samping mu." Tanya pria itu lagi. Ia bahkan tidak menghiraukan kekesalan Saddam saat ini.
" Tentu saja! Terus menurut kamu istri aku harus dimana." Balas Saddam.
" Kamu yakin, kamu sedang tidak membohongi aku bukan." Desak Aaron lagi dari Sabrang sana.
" Tentu saja! Lagian untuk apa aku membohongi kamu Ar, itu tidak ada untungnya buat aku." Tegas Saddam.
__ADS_1
" Baiklah coba berikan ponsel kamu kepadanya! Aku ingin berbicara dengannya."
" Untuk apa? Istri aku sudah tidur dan aku tidak akan mengganggunya, hanya untuk hal-hal tidak penting seperti ini." Tolak Saddam sembari mengusap wajahnya dengan kasar karena bingung dengan tingkah Aaron malam ini.
" Cih berhentilah membohongi aku! Tetapi jika kamu tetap pada pendirian kamu! Maka jangan salahkan aku jika aku memaksanya." Ucap Aaron. Saddam yang tidak mengerti maksud Aaron, tidak begitu menghiraukan kata-katanya, bahkan saat Aaron mematikan panggilannya secara sepihak, Saddam tetap tidak peduli. Ia justru meletakkan ponselnya di tempat semula dan kembali melanjutkan tidurnya sembari memeluk tubuh Alana.
Disisi lain Aaron yang salah mengira Alena sebagai Alana. Langsung menyeretnya turun dari ojol yang ia tumpangi setelah mencegat mereka.
" Kamu siapa! Aku tidak kenal dengan kamu. Lepaskan aku. Pak tolong aku, aku tidak kenal siapa dia." Teriak Alena, sambil menatap kepada Abang ojol yang ia pesan berharap abang-abang itu mau membantunya.
" Jangan ikut campur urusan kami! Sebaiknya kamu pergi dari sini, jika kamu masih ingin melihat keluarga kamu." Ancam Aaron kepada Abang ojol itu, membuat Pria itu gemetaran apalagi saat mendapat tatapan tajam Aaron yang begitu mengerikan." Aku bilang pergi." Bentak Aaron lagi. Abang ojol itupun pergi meninggalkan Alena disana.
" Ayo ikut aku " Desak Aaron. Tetapi Alena terus melawan dan Aaron pun tidak punya pilihan lain, selain mengangkatnya layaknya karung beras. Membuat semua bahan belanjaan Alena terjatuh, begitu juga dengan ponsel dan dompetnya.
Setelah menghempaskan begitu saja tubuh Alena ke dalam mobilnya, Aaron pun segera masuk kedalam mobilnya, sebelum Alena sempat memperbaiki posisinya. Dan mobil itupun melaju menuju apartemennya yang berada di gedung yang sama dengan Aparteman milik Andika.
" Sebenarnya kamu siapa? Apa yang kamu mau dari aku." Tanya Alena tetapi Aaron hanya diam. Sepanjang perjalanan ia terus saja mengoceh dan menganggu Aaron yang tengah menyetir. Bersyukurnya jalan itu mulai sepi jadi mereka berdua tidak sampai kecelakaan.
" Cepat turun." Desak Aaron begitu mereka tiba di parkiran apartemennya.
" Nggak! Aku nggak mau, aku nggak kenal siapa kamu. Kalau kamu terus memaksa aku. Aku akan berteriak." Ancam Alena membuat Aaron tersenyum penuh Arti.
" Ingin berteriak? Silahkan saja! Tidak akan ada yang datang untuk menolong kamu." Ucap Aaron dengan seringai iblisnya.
" Tolong... Tolong... Siapapun tolong aku." Teriak Alena sekencang yang dia bisa. " Tol__ mmpptt." Alena ingin kembali berteriak minta tolong! Tetapi Aaron dengan cepat menarik kakinya kemudian membekap mulutnya.
" Diam! Kamu berisik sekali." Bentak Aaron. " Sebaiknya kamu simpan suara kamu untuk meneriaki nama aku nanti." Lanjutnya. Kemudian mengangkat tubuh Alena. Layaknya memanggul sekarung beras.
__ADS_1
" Lepaskan aku! Aku nggak mau ikut kamu." Alena masih saja terus memberontak dengan memukul-mukul punggung Aaron. Tetapi pria itu tidak merasakan apapun. Seolah pukulan Alena hanyalah usapan lembut di punggungnya.
PLAAAK. " Diam." Aaron menampar bokongnya Alena dan menyuruhnya Diam. Tetapi gadis itu tidak kunjung menurut dan terus saja memberontak. Membuat Aaron sedikit kewalahan.