
Mata Saddam membulat, dia terkejut saat mendapat ciuman tiba-tiba dari istrinya, tapi keterkejutan itu hanya sesaat karena di detik berikutnya, saddam mengubah ciuman itu menjadi luma-tan. Lima tahun menahan hasrat dengan terus bersolo karir di kamar mandi membuat Saddam sedikit menggila, ia begitu bersemangat menyentuh tubuh Alana membuat gairah keduanya semakin menginginkan lebih. Saddam menyandarkan Alana pada pintu di belakang mereka, dengan tangan dan bibir yang terus bergerak liar menyentuh titik sensitif Alana.
" Tunggu dulu. Aku harus melakukan sesuatu." Ucap Alana disaat gairah mereka sedang menanjaknya dan menghentikan Saddam yang hendak melepaskan pakaiannya.
" Sweetie, jangan menyiksaku seperti ini." Sahut Saddam dengan nada memohon, kedua manik tajam itu, telah di selimut gairah.
" Hanya sebentar aku akan kembali." Alana mendorong tubuh Saddam, hingga pria itu mundur beberapa langkah, Sebelum ia menyingkirkan dari belakang pintu.
Membukanya kemudian melangkah keluar dari sana. Menyisakan Saddam yang terus memanggilnya. " Alana, sweetie Arrggghh." Geramnya. Pria itu memutar tubuhnya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi, ia harus melakukan solo karir lagi! karena ulah sang istri yang tidak bertanggung jawab.
Sementara Alana Sendiri, berjalan memasuki kamar dimana anak-anaknya sedang tidur siang. " Lena, kamu baru selesai mandi." Tanya Alana begitu mendapati saudari kembarnya itu tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk di tangannya.
" Hmmm, ada apa? Apa kamu sudah selesai berbicara dengan Naya?" Alana mengangguk. Wanita itu menatap pada ketiga anaknya yang masih terlelap dalam tidur mereka. " Sepertinya mereka sangat kelelahan."
__ADS_1
" Aku pikir juga begitu." Sahut Alana. " Lena, aku harus melakukan sesuatu, apa kamu bisa menahan mereka untuk tidak mencari aku sampai aku selesai. " Kening Alena berkerut bingung dengan permintaan Alana.
" Kamu ingin melakukan apa? Apa kamu akan pergi keluar."
" Tidak! Aku tidak akan kemana-mana, tapi aku butuh privasi! Aku rasa tanpa aku menjelaskannya kamu akan mengerti! Apa kamu bisa memastikan hal itu." Alena yang paham maksud dari saudarinya, menganggukkan kepalanya.
" Pergilah, aku akan menjaga mereka dan aku pastikan mereka tidak akan menganggu kalian, nikmatilah waktu kalian berdua. " Alana tersenyum senang mendengar kata-kata Alena.
" Terima kasih, kamu memang saudari yang terbaik. Aku titip mereka ya."
Wanita itu melangkah kembali ke kamarnya, saat masuk kedalam kamar ia tidak menemukan keberadaan saddam di sana. Setelah mengunci pintu kamar Alana langsung mengecek saddam di kamar mandi Ada perasaan bersalah saat melihat suaminya itu tengah bermain dengan Mr Peninya, tangannya menggenggam tongkat yang terbuat dari daging itu dan terus bergerak naik turun disana dengan kedua mata yang terpejam, saking nikmatnya ia tidak menyadari kehadiran Alana.
Wanita itu mendekat, ia kini berdiri tepat di hadapan saddam. Pria itu terlihat begitu seksi di mata Alana, dengan baju yang masih melekat di tubuhnya sementara celananya sudah merosot kebawah.
__ADS_1
Alana tersenyum, ia memberanikan dirinya untuk menggenggam Mr peni itu, membuat mata si empunya terbuka. " Biar aku yang melakukannya." Ucap Alana, telapak tangannya mengusap Mr Peni, begitu ia dapat menggenggamnya
" Maaf aku tidak bisa menahannya." Ucap Saddam dengan suara serak menahan hasratnya.
" Tak apa aku mengerti, kamu membutuhkan ini! harusnya aku yang minta maaf." Sahut Alana.
" Lupakan." Ucap Saddam, sembari menarik tengkuk Alana, kemudian melu-mat bibir wanita itu dengan kasar. Cukup lama keduanya saling menukar Saliva satu sama lain.
" Boleh aku melakukannya?" Ucap Alana sambil melirik Mr Peni yang berada dalam genggaman tangannya.
" Tidak sweetie." Tolak saddam.
" Aku menginginkannya! Hanya sekali ini saja. " Bujuk Alana, tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut saddam, yang Alana artikan sebagai iya. Wanita itu pun berlutut di antara kedua pa-ha Suaminya.
__ADS_1
Dia mulai dengan mengecup ujungnya terlebih dulu membuat saddam merasakan sensasi yang sangat ia rindukan. Awalnya hanya sekedar kecupan sebagai pengenalan, namun semakin lama, wanita itu semakin tertantang untuk melakukan hal lebih mengikuti nalurinya. Mulai dari menji-latinya, menge-mutnya layaknya permen sampai membiarkan Mr peni keluar masuk dalam mulutnya. Hal itu membuat Saddam merem-melek, ia tidak menyangka lima tahun, membuat Alana-nya yang polos menjadi begitu sangat pandai memanjakan Mr Peninya. Hingga bibirnya tidak berhenti mende-sah dan menyebut nama wanita itu, sesekali ia membantunya dengan memegang belakang kepalanya di ikuti pinggangnya yang bergerak teratur.
" Ahh, my sweetie."