Love Me

Love Me
Hadiah kelulusan


__ADS_3

" Sweetie, bagaimana keadaan Alena." Tanya Saddam ketika Alana kembali dari rumahnya.


" Dia baik-baik saja." Jawab Alana seadanya, sembari menatap lurus ke depan." Saat ini keduanya, tengah berada di balkon kamar mereka.


" Apa kamu tidak tahu tentangnya?" Tanya Saddam. Jika Alana lebih suka menatap rumah-rumah mewah yang letaknya berjejer di hadapannya. Maka Saddam lebih suka menatap keindahan wajah istrinya itu.


" Haah, maksudnya?" Tanya Alana, sebab ia tidak mengerti dengan maksud Saddam.


" Apa kamu tidak tahu ayah dari anak yang di kandung Alena." Jelas Saddam.


" Tidak, dia tidak pernah menceritakan apapun kepadaku! Selain minta maaf." Jawab Alana. Saddam tentu saja tidak percaya dengan jawaban istrinya itu, tetapi dia juga tidak ingin memaksa Alana untuk mengatakan sebenarnya. Dia akan menunggu sampai istrinya sendiri yang mengatakannya walaupun tidak yakin Alana akan melakukan hal itu.


Saddam berpindah dari samping Alana dan berdiri dibelakang istri dengan tangan yang kini sudah melingkar tepat pada pinggang ramping itu.


" Dua hari lagi, aku ada pekerjaan dengan Aaron dan tidak akan pulang selama beberapa hari. Tapi akan aku usahakan aku kembali di hari kelulusan kamu." Ucap Saddam memberitahu tanpa dia sadari, Alana mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Mendengar Saddam menyebut Nama Aaron. Orang yang pertama yang ingin Alana bunuh jika pembunuhan itu tidak dilarang. " Kamu ingin Hadiah apa untuk kelulusan kamu nanti." Lanjutnya.


" Terima kasih paman! Tapi aku tidak membutuhkan hadiah, aku lulus saja udah syukur banget." Sahut Alana.


" Baiklah kalau kamu tidak ingin meminta hadiah kamu! Aku sendiri yang akan memilih hadiah itu buat kamu dan aku harap kamu akan menyukainya." Putusnya tanpa menghiraukan penolakan halus yang di berikan Alana.

__ADS_1


" Terserah paman saja." Alana langsung melepaskan tau-tan tangan Saddam di pinggangnya dan berbalik meninggalkan pria itu. Untuk menyegarkan pikirannya di bawah guyuran air shower.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dan benar saja dua hari kemudian Saddam benar-benar menepati ucapannya, lelaki itu pergi bersama Aaron untuk perjalanan bisnis. Dan kesempatan itu di lakukan Alana dan Alena untuk menjual rumah mereka. Karena mereka membutuhkan uang untuk memulai masa depan mereka di tempat yang baru.


Dalam tiga Hari rumah peninggalan orang tua mereka dan seisinya telah laku terjual, dengan harga yang lumayan tinggi, cukup untuk mereka mencari tempat tinggal baru dan biaya hidup selama beberapa bulan sambil mencari pekerjaan.


" Kamu tidak perlu ke sekolah hari ini. Tetap saja di rumah, jika masih ada pakaian kita yang harus di bawa. Kamu siapkan saja, begitu semua sudah selesai kamu langsung pesan taksi kita bertemu di terminal. Aku akan menyusul kamu begitu mendapatkan surat keterangan lulus dari kepala sekolah dan mengurus pembalikan nama atas rumah ini kepada pemiliknya yang baru di notaris. Oke! Kamu bisa-kan pergi sendiri." Tanya Alana.


Hari ini adalah hari kelulusannya dan sebelum ke sekolah Alana memang sengaja mampir ke rumah mereka untuk mengecek kondisi Alena dan persiapan mereka. Ternyata sudah ada dua koper yang siap dan satu lagi masih Alena rapihkan.


" Tidak keputusan aku sudah bulat, aku akan ikut bersama kamu. Dan berhenti membujuk aku, sebab itu tidak akan membuat aku berubah pikiran. Ini uang buat bayar taksi, aku pergi sampai bertemu di terminal. " Ucap Alana, kemudian berangkat ke sekolah. Meninggalkan Alena yang masih terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu harus dengan cara apa membuat saudarinya itu untuk tidak ikut. Mau langsung pergi sendiri, semua uang tabungan dan hasil penjualan rumah Alana yang memegangnya. Mau tidak mau dia hanya menuruti apa yang di katakan Alana.


Menjadi peringkat satu umum dari ratusan siswa di sekolahnya bukanlah sesuatu yang baru untuk Alana. Karena sejak duduk di bangku sekolah dasar Alana sudah menjadi yang paling unggul bahkan tawaran beasiswa dari universitas pun ia dapatkan, tetapi Alana tidak langsung menerimanya. Sebab ia harus pergi sejauh yang dia bisa agar Saddam tidak dapat menemukan keberadaannya.


Dengan bermodalkan surat keterangan lulus dari sekolah dan uang hasil penjualan rumah orang tua mereka kedua wanita itu meninggalkan kota itu, tanpa ada yang curiga. Apalagi Saddam sudah lama menghentikan orang-orang suruhannya untuk mengikuti Alana atas permintaannya dan Alana juga begitu baik dan patuh akhir-akhir ini jadi Saddam pun menurutinya, membuat kepergian mereka menjadi sangat mudah. Sementara Naya dan Sandrina tahunya Alana berada di rumah orang tua mereka menemani Alena.


...\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Perjalanan bisnisnya kali ini sedikit lama, sehingga Saddam terlambat memberi hadiah ke lulusan kepada Alana. Dan begitu dia kembali dari perjalanan bisnisnya bersama Aaron, Saddam langsung bergegas pulang ke rumah sang kakak dan menunda meetingnya siang itu. Sebab ia begitu merindukan istri tercintanya.


" Hai Sandrina, tumben kalian cuma berdua! Dimana Alana." Tanya Saddam, pria itu terlihat begitu tergesa-gesa hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya tetapi ia menghentikan langkahnya saat mendapati Naya dan Sandrina sedang duduk menonton TV di ruang keluarga.


" Itu buat Alana ya? Terus punya Naya mana paman." Tanya Naya saat melihat buket dari coklat dan paper bag yang di pegang Saddam.


" Iya! Dimana dia." Tanya Saddam sekali lagi.


" Di rumah orang tuanya, sudah tiga hari dia disana." Jawab Sandrina. " Mungkin sebentar lagi dia akan pulang, kalau tidak kamu hubungi saja dia dan minta dia pulang." Lanjutnya.


" Tapi nomor telepon Alana tidak bisa di hubungi, Ma! dari kemarin aku coba untuk menghubunginya tetap saja tidak bisa, coba aja kalau paman nggak percaya." Sahut Naya.


Saddam pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Alana dan benar saja! Panggilan itu berakhir dengan suara operator. Tanpa banyak berkata Saddam langsung membuang begitu saja hadiah kelulusan untuk istrinya itu dan bergegas ke rumah peninggalan mertuanya itu.


Setibanya di sana, Saddam tidak menemukan keberadaan Alana dan Alena. Melainkan pemilik rumah baru yang mengaku telah membeli rumah itu dari Alana.


Saddam awalnya tidak percaya, tetapi melihat tanda tangan istrinya tertera pada surat keterangan jual beli itu. Mau tak mau Saddam harus percaya dan yang paling menyakitkan untuknya, Alana pergi tanpa meninggalkan pesan apapun bahkan tanpa sempat menerima hadiah kelulusan yang dia berikan.


Satu buket besar yang terbuat dari aneka coklat mahal, sebuah kalung yang begitu indah dan tiket berlibur ke Hawaii dan menginap di Kapal pesiar selama tiga malam. Semua tidak ada artinya karena wanita itu telah pergi entah kemana dan tanpa saddam tahu salahnya dia dimana.

__ADS_1


__ADS_2