Love Me

Love Me
Chapter 04


__ADS_3

________


Meni memainkan permainan di depannya dengan serius, sesekali ia berteriak saat tertembak oleh lawan. Sudah empat jam ia berda di kawasan Timezone. Lima kali ia Menganti permainan. Tetapi ia belum merasa puas sama sekali mumpung ia sedang bebas sekarang, teman-temanya sudah mengeluh ingin pulang terkecuali Haikal. Haikal jadi lebih pendiam jika ditanyapun jawabnya tidak apa, hanya Haikal yang menemaninya bermain, sedangkan Varo dan Gifar sedang tebar pesona. Menggoda para gadis yang kebetulan sedang di arena Timezone.


"Sebel ih kala mulu," Protes meni, ia mengetuk-ngetuk tembakan di layar.


"Rusak ganti loh," Haikal memperingati, seakan sadar yang dia lakukan. Meni menciumi tembakan dan layar yang tadi ia sakiti.


"Aduh maafkan saya," Meni bermonolog Haikal menahan tawa dengan tingkah laku Meni.


"Kenapa ngga nyium gue aja sih," Tawar Haikal menggoda Meni melototkan matanya.


"Ganti yu, main basket aja," ajak meni, ia menggeret tangan Haikal, Haikal hanya pasrah mengikuti sang tuan putri kemana pun.


Street basketball, permainan ini cukup mudah bagi Haikal. Kebetulan ia juga kapten basket di sekolah, sangat mudah memasukan bola ke dalam ring, lain hal dengan meni selalu melesat gendang telinganya seakan ingin pecah mendengar teriakkan meni.


"Meni, bisa ngga sih ngga usah pake teriak-teriak segala," Decak Haikal kesal. Meni seakan sedang di ruqyah mulutnya tidak berhenti untuk berteriak.


Meni menyengir lebar "Sorry ganteng."


"Gue emang ganteng."


Meni fokus kembali dengan permainannya, Haikal mengecek ponselnya yang terus berdering ia tak mengangkat satu pun panggilan yang masuk. Ayahnya terus menghubungi nya.


"Kenapa ngga di angkat," Tanya meni heran. Biasanya jika ada panggilan masuk Haikal selalu mengangkatnya. Apalagi ini adalah panggilan dari papinya, bukan bermaksud tidak sopan Meni melihat sekilas nama kontak yang berada di layar.


"Ngga penting," jawab Haikal acuh Meni mengedikan bahu tak mengerti.


"Eh, pulang yu cape tau ngga gue,"  Ajak Varo ia ingin segera rebahan, Mulutnya sangat cape setelah menggoda para wanita, jomblo mah bebas.


"Idih, ngerayu cewek aja cape," sindir Meni


"Tenang aj beb gue ngga akan cape ko kalo ngerayu lu," terang Varo, ia mengedipkan sebelah matanya ke Meni.


Meni memutar bola matanya, ia tak akan pernah percaya jika Varo menyukainya. Ia hanya menganggap semuanya lelucon semata. Karena dalam persahabatan mereka dilarang untuk menyukai dirinya. Aneh memang.


"Aih, sih Gifar mana?," Tanya meni


"Lagi godain mb kasir biar dapet biar dapet jatah," Jawaban ngawur Varo langsung di hadiahi jitakan oleh Meni.


"Mulutnya ya pengen gue ruqyah," omel Meni, Varo kalo ngomong ngga pernah di filter terlebih dahulu asal, kan bisa mengotori otak sucinya.


"Tuh Gifar," Tunjuk haikal. Disana ada Gifar bersama seorang wanita paruh baya. Apa Gifar sudah pindah haluan menyukai tante-tante pikir mereka bersamaan. Wanita tersebut mencium pipi Gifar bergantian,  setelah mengasih uang wanita itu langsung melenggang pergi. Gifar menghampiri ketiganya yang sedang bengong dengan mulut terbuka.


"Tuh mulut, awas loh nanti ada kecoa terbang," Peringat Haikal kepada ketiganya.


Mereka langsung tersadar dan menatap Gifar horor.

__ADS_1


"Kenapa ada yang salah sama gue?, " tanya Gifar heran.


Varo menggeleng menunjuk Haikal untuk berbicara, sedangkan Haikal tetap bungkam, ia masih syok.


"Lu jadi gigolo ya Far," celetuk meni.


"Gigolo?."


"Iya lu jadi Gigolo, habis di sewa Tante-tante" Kini Varo angkat bicara.


Seakan sadar Gifar langsung tertawa terbahak-bahak, pasti mereka mengira jika wanita tadi adalah Tante-tante yang kurang belian Sampai menyewa pria untuk bisa di belai. Padahal wanita tadi adalah tantenya, adik dari ibunya.


Gifar menghentikan tawanya saat tak ada respon dari ketigannya, ia mengambil nafas dan membuang nya secara perlahan. " Tadi itu Tante gue, sorry aja ya keluarga gue masih kaya belum bangkrut."


Mereka bernafas lega. "Gue kira Lo pindah haluan, sukanya sama Tante2 gara2 sering di tolak Ama cewe," kata Meni.


"Yah, ngga lah banyak kali yang suka sama gue."


"Idih, muka udah kaya pantat panci aja sombong," seketika mata Gifar melotot. Ia mengapit leher meni dengan lengannya.


"Nih tuan putri, kalo ngomong udah kaya netizen serba bener dah."


"Sakit bego" protes meni, ia memukul lengan Gifar berulang kali, Gifar melepaskan lengannya pada leher Meni. Meni menendang betis Gifar cukup kencang.


"Rasain lu, beraninya lu ama tuan putri?."


"Rasain," Meni menjulurkan lidahnya ke arah Gifar, tertawa mengejek.


"Udah jangan berantem, bentar lagi mau Maghrib" Haikal melerai keduanya. Masih adu mulut tak ada yang mau mengalah dari keduanya, pasti ia akan rindu momen-momen seperti ini.


"Yu ah pulang," Varo berjalan mendahului keluar Mall dan di susul ke-tiganya.


__________


Kini keduanya berada di depan  rumah Meni. Gerbang hitam yang menjulang tinggi didepannya menambah rasa takut lebih mendominasi. Setelah mengantar Varo dan Gifar ia juga mengantar Meni pulang, nasib sialnya kali ini karena ia yang membawa mobil. Ia takut jika harus berhadapan dengan ayahnya Meni, Surya yang galaknya nauzubillah.


"Gue takut nih, ayah udah pulang belum ya.."


"Ih, bodo amat bukan urusan gue" kata Haikal cuek berbeda dengan hatinya yang sudah gelisah sedari tadi.


"Ih, ko gitu sih," Meni memasang wajah masam.


Haikal melipat tangannya di dada " Suruh siapa Lo mainnya lama banget, gue kan udah nyuruh lu pulang dari tadi."


"Ngga mau tau, pokoknya kalo gue di marahin bilang aja 'haikal ngelarang aku pulang yah', " Haikal memicingkan matanya mendengar ucapan Meni.


Meni benar-benar sudah gila, apa ia tak sadar jika ayahnya itu sangat menyeramkan melebih Thanos, entah apa yang akan terjadi jika Meni benar-benar akan memberi alasan tadi kepada ayahnya apa lagi melibatkan namanya.

__ADS_1


"Gue ngga mau, gue mau pulang kan gue udah nganterin lu," terang Haikal.


"Dasar cowo ngga bertanggung jawab,'' Meni memaki.


Haikal tak memedulikan makian meni, Ia mengayunkan kakinya ke arah mobil sebelum itu pintu gerbang tiba-tiba terbuka. Haikal menahan nafas begitu pun meni.


"Loh, ko kalian di luar kenapa ngga masuk?," Suara seorang wanita, mereka menoleh bersamaan ternyata disana bukan lah Surya melainkan Sherin Ibunya meni.


Keduanya menghembuskan nafas lega. " Eh Tante," Haikal bersalaman sebagi tanda sopan kepada calon mertua.


Ngarep juga ngga papa ya,


"Ini Haikal ?," Tanya sherin kembali.


Haikal menggangguk "iya Tante." 


"Kaka kenapa temanya ngga di suruh masuk ?, ko di biarin di luar kasian ka," tegur Sherin pada anaknya, anaknya yang satu ini seperti tidak punya rasa sopan pada tamu.


"Dih, dia mah bukan tamu bunda, tapi gembel yang lagi ngemis." 


Sherin meringis mendengar perkataan meni "ngga boleh gitu dong ka."


"Dia mah udah bisa Tan"  kini tatapan Sherin beralih ke Haikal.


"Yaudah Tan Haikal mau pamit pulang dulu, udah di tungguin papa soalnya,"


"Ih ngga mau mampir nih?, Makan  malam." Tawar Sherin, mumpung malam ini ia akan memasak banyak menu makanan


"Ngga usah Tante lain kali." Tolak Haikal halus, ia juga mau aja sih nyoba masakan calon mertua. Tapi sudah ada yg menunggunya di rumah.


"Yaudah titip salam buat papa kamu Ya" Sherin mengenal cukup baik keluarga Haikal, Papa Haikal adalah teman bisnis Surya dan teman kampusnya dulu.


"Assalamualaikum," Haikal kembali mencium punggung tangan Sherin.


"Wallaikumsallam, hati-hati ya jangan ngebut di jalan," peringat Sherin, karena anak muda jaman sekarang sukanya kebut-kebutan. Ada lampu merah pun tetap di terobos, Sudah seperti manula yang kabur akan penglihatan, jadi ada lampu merah pun tak tahu.


Haikal membalas dengan tersenyum. Haikal memasuki mobil, menjalankannya dan mulai  meninggalkan kompleks perumahan.


"Anak bunda mandi dulu ya, terus makan,"


"Iya bunbun," Meni memeluk Sherin dari belakang, wangi dari tubuh ibunya sangatlah menenangkan.


_____________________________________


Thanks you.


Boleh kasih kritik dan saran.

__ADS_1


__ADS_2