
Alena menatap lelaki yang tengah duduk di hadapannya saat ini penuh dengan kebencian. Bagaimana tidak, dalam satu Minggu lelaki itu mampu membuatnya menganti status dari seorang single mom, menjadi nyonya Alexander. " Jangan menatap aku seperti itu, istriku." Ucap pria yang sedang asyik dengan tab di tangannya. Setelah keduanya selesai menikmati makan siang mereka.
" Ciih, kamu membuatku ingin muntah mendengar kata-kata menjijikkan itu. Dasar lelaki pembohong, penipu, breng-sek..." Dan segala kata makian Alena lontarkan kepada pria yang kini telah resmi menjadi suaminya secara hukum karena surat-surat nikah mereka jelas. Dan semua itu Aaron dapatkan dengan cara menipu Alana tentunya.
Sebab Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi, apalagi waktu yang dia punya hanya seminggu, jika menunggu Alena dengan suka rela setuju, sampai Alana dan yang lainnya datang, Alena tidak akan mungkin setuju. Jadi Aaron tidak punya cara lain selain menipunya. Bersyukur wanita itu tidak sepintar dan seberani saudari kembarnya, sehingga segala rencananya berjalan dengan lancar.
__ADS_1
" Apa kamu tidak tahu, kalau mengumpat suami sendiri itu termasuk dosa." Ucap Aaron tanpa mengalihkan pandangannya dari tab di tangannya.
" Tau apa kamu soal dosa! Hidup kamu setiap hari saja tentang dosa, kamu aja yang nggak sadar, jadi nggak usah ngajarin aku dan berhenti panggil aku istri kamu! Aku nggak Sudi punya suami bejat seperti kami."
Aaron menghentikan aktivitasnya, meletakkan tab yang ia pegang dia atas kemudian berdiri dari duduknya untuk mengambil sebuah dokumen berisi bukti kalau mereka telah resmi menjadi suami-istri. Lalu menunjuknya kepada Alena sembari berkata. " Apa perlu aku membaca isi dari dokumen ini sekali lagi, agar kamu sadar kalau kamu itu adalah istriku." Ucapnya dengan seringai tipis dibibir bibirnya, sangat tipis sampai Alena tidak dapat menyadarinya. " Eettddh mau apa? Tidak bisa, dokumen ini sangat berharga, kamu di larang menyentuhnya biar aku saja yang simpan." Lanjutnya saat Alena berdiri dari duduknya dan mencoba untuk menarik dokumen itu dari tangan Aaron.
__ADS_1
" Terima kasih atas pujian-mu istriku."
" Diam, aku tidak sedang memujimu kamu breng-sek, aku ini juga bukan istri kamu." Bentak Alena, rasanya wanita itu, bisa gila jika terlalu lama berurusan dengan pria tidak tahu malu itu. Alena pun berbalik ingin pergi dari sana namun suara Aaron membuat langkahnya terhenti. " Apalagi, sia-alan."
Bukannya marah karena terus mendapat umpatan dari Alena, Aaron justru bertanya dengan suara yang di buat selembut mungkin, tetapi entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu berhasil membuat Alena kesal dengan pria itu." Mau kemana istriku! Apa kamu lupa? Kamu tidak di izinkan keluar rumah ini, jika kamu tidak ingin melihat suamimu yang tampan ini, silahkan kembali ke kamarmu dan tunggu aku di sana. " Ucapnya sembari menunjuk tangga menuju lantai atas dimana kamar mereka berada.
__ADS_1
" Sia-alan kamu. Menyebalkan! Kenapa juga aku harus berurusan dengan kamu." Alena terus saja mengumpat sambil menaiki anak tangga menuju lantai atas di mana kamarnya berada. " Harusnya aku mendengar kata-kata Alana waktu itu! Ahhkk kenapa aku begitu sial." Ucap Alana pada dirinya sendiri, sesekali ia berteriak karena frustasi pada keadaannya saat ini.
Sementara di belakang sana, Aaron tersenyum penuh kemenangan dan semua itu bisa terjadi karena ide gila dari Sultan serta persetujuan dari saddam. Toh mereka tidak berniat buruk, mereka hanya ingin Aaron bertanggung jawab atas perbuatannya waktu itu.