Love Me

Love Me
Keinginan Alana


__ADS_3

Alana di jemput dari sekolah dan di bawah ke perusahaan Saddam, sesuai pesan suaminya, kepada sang supir." Hai, sweetie! Gimana sekolah kamu hari ini." Tanya Saddam. Pria itu turun dari ruangannya untuk menyambut sang istri di lobby perusahaannya dan membukakan pintu untuknya.


" Seperti biasanya, menyenangkan! Tapi kenapa aku diminta datang kesini sih. Aku tuh capek paman, mau istirahat di rumah. Malah di bawah ke kantor." Jawab Alana, sekaligus Mengeluh kepada suaminya itu. dia bahkan tidak kunjung keluar dari mobil itu dan membiarkan Saddam menunggunya. " Aku mau ngapain disini paman?" Tanya Alana.


" Temani Aku, hari ini aku ingin makan siang bersama kamu."


" Kita bisa bertemu di restoran paman, kenapa juga harus ke perusahaan paman segala. " Alana masih saja protes dan duduk manis di tempatnya. Sementara Saddam masih membungkuk untuk melihat Alana sekaligus menahan pintu mobil itu untuk istrinya itu.


Dan ini pertama kalinya, Saddam di buat menunggu tanpa mengeluh! Bahkan ia tidak menghiraukan tatapan ingin tahu dari karyawannya. Karena fokusnya saat ini hanya untuk Alana.


" Iya, itu kalau aku tidak punya pekerjaan! Tapi satu jam lagi aku ada meeting yang tidak bisa di tinggal dan aku sangat ingin makan siang bersama kamu." Jelas Saddam. " Ayolah sweetie, apa kamu tidak kasihan melihat suamimu terus membungkuk seperti ini dan menjadi tontonan pegawai aku." Bujuk Saddam. Ia berharap istrinya itu akan luluh tapi jika tidak, ia akan terus membujuknya.


" Tapi aku malu paman."


" Kenapa harus malu, aku suami kamu. Salahkah jika aku ingin makan siang bersama istriku sendiri."


" Nggak salah, tapi_ "


" Sudahlah, kamu terlalu banyak berpikir. " Saddam memotong ucapan Alana kemudian menariknya keluar dari mobil itu.


Keduanya berjalan bersama menuju lift, dengan tangan Saddam melingkar di pinggang Alana dengan begitu posesifnya. Dan semua karyawan yang ia lewati langsung menunduk begitu melihat tatapan peringatan yang di tunjukkan Saddam kepada mereka.


Setibanya mereka berdua diruang kerja Saddam, pandangan mereka langsung di sambut banyak makanan yang sudah tertata di atas meja sofa menunggu mereka berdua untuk menghabiskannya.


" Paman pesan makan sebanyak ini? Siapa yang akan menghabiskannya." Tanya Alana sambil menunjuk ke arah makanan itu.


" Kita berdua yang akan menghabiskannya, udah jangan bawel, sebaiknya kita cuci tangan dan makan karena aku tahu istriku ini, pasti sudah sangat lapar, ia kan." Alana tidak sadar menganggukkan kepalanya, membuat Saddam gemas dan mencium pipinya. Setelah itu ia mengajak Alana masuk keruang pribadinya untuk mencuci tangan di wastafel sebelum menyantap hidangan yang telah tersaji itu.


Begitu keduanya selesai makan Siang, Alana langsung berbaring di kamar pribadi Saddam yang berada di ruang kerjanya, sementara suaminya itu langsung menuju ruang meeting.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


" Kebetulan kalian sudah pulang! Kakak punya kejutan untuk kamu." Ucap sandrina begitu menyambut kepulangan Alana dan Saddam.


" Kejutan?" Tanya Saddam. Pria itu begitu antusias! Padahal yang ingin di beri kejutan bukan dirinya, melainkan Alana.


" Kamu tidak perlu berekspresi seperti itu! Karena bukan kamu yang kakak maksud tapi Alana." Ucap Sandrina sembari mendorong wajah adiknya. Dan menarik Alana pergi dari sana.


" Kak Rina, yang cantik, baik hati juga tidak sombong dan suka memaksa, aku juga adikmu! Tolong jangan kamu abaikan aku karena kita berdua adalah sepaket." Ucap Saddam, mempercepat langkahnya mengikuti Sandrina dan Alana.


Tetapi kedua wanita itu justru mengabaikannya dan terus berjalan sampai langkah mereka berhenti di ruang keluarga, dimana seorang wanita muda yang seusia dengan Alana dan Naya sedang duduk membelakangi mereka.


" Tara." Ucap Sandrina bersamaan dengan wanita itu memutar punggungnya hingga Alana bisa melihat wajah wanita itu.


Tapi ekspresi yang di tunjukkan Alana, biasa saja! Ia tidak terkejut sama sekali dan tidak ada raut wajah senang atau tidak suka. Alana hanya menatap datar wajah saudari kembarnya itu.


" Syukurlah kalau kamu sudah sadar." Hanya itu tanggapan yang di berikan Alana sebelum ia meninggalkan ruang keluarga itu dan masuk ke kamarnya. Saddam dan Sandrina di buat bingung dengan sikap Alana. Bukankah wanita itu berjuang keras selama ini untuk saudari kembarnya itu. Lalu mengapa ia bersikap seperti itu, ketika Alana sadar.


Begitu Saddam pergi, sandrina menghampiri Alena kemudian berkata. " Malam ini kamu menginap-lah disini, besok baru kamu akan di antar pulang ke rumah mu, Dan tunggulah sebentar disini sampai pelayan selesai menyiapkan kamar tamu untuk mu.


" Iya Tante! Sekali lagi terima kasih atas kebaikan hati Tante."


" Jangan mengucapkan terima kasih kepada aku.harus berapa kali aku mengingatkan kamu akan hal ini. Jika kamu ingin berterima kasih. Maka Alana-lah orangnya yang harus kamu ucapkan terima kasih. " Tegas sandrina.


" Maaf Tante! Aku akan mengucapkan terima kasih kepada Alana."


" Lakukan itu dari hati kamu! Bukan karena aku yang mendesak kamu." Sambungnya. Membuat Alena terdiam.


Dan tidak lama setelah itu Ida datang memberitahu, jika ia telah menyiapkan kamar untuk Alena. Sandrina pun meminta Ida untuk mengantarkan Alena ke kamar tamu.

__ADS_1


Begitu mereka pergi, sandrina langsung menyusul Alana, ke kamarnya ia ingin memastikan apa adik iparnya itu baik-baik saja.


Sementara itu di dalam kamar. Saddam menghampiri Alana, yang tengah duduk di tepi ranjang. " Are you okay?" Tanya Saddam kemudian berjongkok di depan Alana.


" Ya! Apa sikap aku salah?" Jawab Alana, seraya balik bertanya.


" Tidak! Kamu berhak bersikap apa adanya tanpa harus ada yang memaksakan dirimu. Jika kamu senang dengan kehadiran dia, tunjukkan itu jika tidak kamu juga harus menunjukkan itu, tidak perlu berpura-pura. " Jawab Saddam seraya mengusap pipi Alana dengan ibu jarinya.


" Aku ingin di peluk."


" Kemari-lah, kamu akan mendapatkan hal itu." Ucap Saddam, membuka kedua tangannya lebar-lebar dan membiarkan Alana masuk kedalam dekapannya. Karena dia tahu istrinya itu membutuhkan ketenangan sebelum menentukan sikapnya dalam menghadapi Alena nanti.


Akan tetapi pelukan Saddam tidak kunjung membuat Alana tenang,. Dan entah setan dari mana datang dan bersemayam dalam dirinya, sehingga di detik berikutnya Alana berani meminta sesuatu yang tidak terduga. " Aku menginginkan sentuhan mu paman." Bisik Alana, membuat Saddam refleks melepas pelukan mereka dan sedikit mendorong tubuh Alana sehingga ia dapat melihat keseriusan di wajah istrinya.


" Kamu yakin?" Tanya Saddam, untuk memastikan pendengarannya tidak bermasalah.


" Ya! Aku menginginkan paman sekar_" belum sempat Alana menyelesaikan kata-katanya. Saddam sudah lebih dulu mendorongnya sehingga Alana kini terlentang di atas ranjang dan Saddam mulai menindihnya. Ruang yang tadinya sepi kini sudah di penuhi desa-han Alana. Bersamaan dengan itu. Sandrina masuk ke dalam kamar mereka yang belum sempat di kunci.


Bersyukurnya Sandrina, mengerti situasi, sehingga ia kembali keluar dari kamar itu tanpa menganggu aktivitas panas di dalam sana dan mengunci pintu kamar itu dari luar agar tidak ada yang menganggu mereka.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung....

__ADS_1


...Happy reading..💝💝...


__ADS_2