
Bunyi yang keluar dari ketukan pensil membuat seorang gadis tidak fokus dengan yang sedang dia kerjakan. Sudah hampir satu jam tapi ia tidak bisa menyelesaikan semua kerjaannya.
Karena kesal ia mengambil bantal dan melemparkannya ke asal bunyi ketukan tersebut.
ia sampai menjerit karena kaget dengan bantal yang tiba tiba melayang dan mendarat di wajah tampanya.
"Elah Lu kaya banci, sumpah," gadis itu terkekeh mengangkat kedua tangannya membentuk huruf v.
"Lu ngga sopan banget ya sama adik sendiri," dia membalas melempar bantal ke arah gadis yang kini naik di atas tempat tidur.
Dengan sigap ia menangkap bantal dan menaruh bantal di atas kedua liaptan kakinya.
"Yang ada elu kali yang ngga punya sopan santun sama gue. Gue cape ah, dari tadi ngga Nemu jawabanya," ia mengibaskan kan kedua tangannya karena lelah.
Naim menatap Meni jengah " alah bilang aja Lu ngga bisa kalo bodoh mah, bodoh aj ngga usah ngaku pinter," ia berdiri dari kursi mengambil semua bukunya yang berada diatas meja.
"Dah, Percuma punya kaka pinter tapi ngga bisa di manfaatin."
Meni melotot tanda tak terima.
"Maksud Lo apa ha " ia berteriak
Ia turun dari kasur menghampiri adiknya.
Naim tersenyum meremehkan " ya Lo, ngerjain ini aja ngga bisa katanya siswi paling berprestasi di sekolah."
Meni turun dari tempat tidur dan menghampiri adiknya.Karena kesal ia menjambak rambut adiknya " rasain nih. Sakit kan Lo"
"Bunda" Naim berteriak memanggil mamanya. Karena tak mungkin ia melawan Meni,kalo ia melawan dengan cara memukul itu artinya ia tidak jentel kalo melawan dengan cara menjambak sama saja dia seperti perempuan kalo berkelahi pasti Jambak-jambakan. Dua duanya bisa menurunkan harga di rinya sebagai seorang cowok.
"Bunda Meni kumat lagi," terikanya berulang kali. Saat tarikan terlepas ia segera turun ke bawah mencari Bundanya sedangkan kakanya Meni ikut mengejar dengan wajah memerah menahan amarah.
bundanya keluar dari dapur dengan membawa centong nasi " ada apa sih, kalian tiap hari berantem Mulu," tanya Bundanya (Sherin)
"Itu Bund meni penyakit kejiwaan ya kumat lagi," jawabnya sambil menunjuk Meni
"Naim nya duluan Bund. Masa dia bilang aku bodoh, terus tadi dia bilang penyakit kejiwaan.." Meni kembali berlari mengejar Naim. Sedangkan,Naim berlindung di balik tubuh Sherin
"Ya Allah kalian tuh udah besar, masih aja berantem kaya anak kecil," Sherin berusaha menasehati kedua anakanya
"Meni ngga akan nyerang kalo
__ADS_1
Naim ngga mulai," Belanya kepada diri sendiri.
"Eh jangan percaya sama makhluk gaib ini mah, orang meni duluan ko" Naim menjulurkan lidahnya ke arah meni.mengejek.
Sherin menghela nafas panjang " sayang meni itu Kaka kamu, pake ka ya. ka meni, terus makhluk gaib kalo ada ayah abis kami,"peringat ibunya
" udah ah ngga ada waktu buat ngurusin tuh banci, aku mau bocan (bobo cantik)sambil maskeran,besok kan aku mau ke kampus, mau liat-liat," Meni berbalik dan bergegas untuk ke kamarnya.
Tapi saat pijakan tangga ke dua meni menoleh " lo selamet karena ada Bunda. Lain kali abis Lo di tangan gue," setelah itu ia bergegas naik keatas.
"Astagfirullah ma, buku aku ketinggalan di kandang macan ma" Kata Naim ia lupa tadi tidak membawa bukunya.
"Ya di ambilah Naim,"
"Takut ah ma, masa iya Ade masuk ke kandang macan. Apalagi macanya lagi ngamuk gitu" Naim bergidik ngeri membayangkan wajah meni
"Di itu Kakak kamu , udah ah mama mau masak. Buat makan malem," karin melanjutkan aktifitas nya lagi setelah diganggu ke dua anaknya
Adi menepuk jidatnya "mampus gue, suruh ayah aja deh"
Setelah itu Adi segera naik keatas masuk ke dalam kamarnya dan juga tak lupa untuk menguncinya takut-takut meni akan membalaskan dendamnya saat ia tertidur. Dan dirinya hanya tinggal nama.
________
"Anjir, kemana sih mereka," Umpat Meni, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan angka 11 siang.
Meni mondar-mandir merasa bingung, ponsel mereka tidak ada yg aktif. Ia sudah mencoba menelfon beberapa kali.
"Ih, kesel sumpah," Meni menghentakan kakinya di sepanjang koridor, mulutnya tak berhenti mengomel. ia sangat lapar perutnya belum terisi makanan sama sekali. Tadi pagi ia belum sempat sarapan karena kesiangan kalau tau begini lebih baik sarapan terlebih dahulu.
Untungnya ia sudah mengetahui letak kantin, jadi tidak perlu repot-repot menanyakan ke orang sekitar.
Matanya menelusuri sudut kantin, suasananya lumayan rame. Matanya tak sengaja melihat keberadaan para sahabatnya yang sedang menikmati makanan. Meni menganga tidak percaya, dirinya sudah dua jam menunggu. Mereka malah sedang asik menikmati makanan tanpa ada rasah bersalah.
Meni mengayunkan langkah kakinya menghampiri mereka, disana hanya ada Varo serta Gifar. Nafasnya memburu menahan kesal, Meni berdiri di belakang mereka. Ia menjewer kedua telinga sahabat nya tanpa ampun.
"Anjing siapa nih yang Berani narik telinga gue," Varo mengumpat kesal. Ia memegang telinganya yang sedang di jewer, saat ia menoleh wajah Meni yang pertama ia lihat.
"Aduh Meni sakit bego," Gifar Meringsi menahan sakit di telinga kanannya. Bukanya melepaskan meni malah memperkuat jewera nya.
Mereka sampai berdiri dari tempat duduk, karena meni menariknya cukup kencang. Varo juga sudah menebak pasti kuping nya sudah merah, kan hilang satu persen kegantengan nya.
__ADS_1
"Bangsat emang kalian, gue udah nungguin dua jam lebih kalian malah asik makan," Protes meni pada keduanya. Meni melepaskan tangannya dari telinga mereka.
Bodo amat sakit emang gue pikirin.
"Gue kesiangan Men, tadi malem ada tahlilan di rumah ." Kata Gifar. Meni percaya dengan alasan Gifar tapi tidak dengan manusia yg satu ini.
Meni menunjuk Varo dengan dagunya "kalo lu sih kampret, habis ngapain?, Mandiin tikus lu?."
"Biasa Mabar beb, jadi kesiangan deh.." Varo mengusap telinga nya yang memerah.
"Alasan klasik," Meni mendelik kan matanya, "Kalo kampret satunya mana?"
Varo mengangkat bahunya Tanda tak tahu. Meni mendecak kesal "Dasar, makan aja dulu deh laper gue nungguin kalian," Meni berlalu membeli makanan.
"Kapan ngasih tau meni nya ?," Tanya Gifar cemas, ia takut berita yg ia bawa akan membuat meni semakin marah.
"Gue ngga tau, lu aja deh yg ngasih tau ke meni. Biar nanti Lu yang kena amukan," Sebenarnya mereka berdua sengaja datang terlambat, mereka belum siap untuk memberitahu meni perihal sesuatu.
"Dih... koe gue anjay, lu mah mau dapet enaknya aja."
"Lu tau kan, nih bahu siap buat tempat bersandar, " Haikal menepuk bahunya sebelah kiri menyeringai.
"Berita apa ?," Meni datang dengan membawa nampan yang berisi satu mangkok mie ayam dan jus mangga, ia mengambil duduk di sebelah Gifar. Ia tadi tak sengaja mencuri dengar tentang berita yg di bawa dan sepertinya ditunjukkan untuk dirinya.
Anjaayy kan niatnya pengen peluk ko duduknya di situ sih batin Varo kesal.
"Lu ko cepet banget dah belinya, belum juga satu menit" Gifar mencoba mengahlikan pembicaraan.
Meni merasa ada yang tidak beres dengan keduanya, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Ngga usah mengalihkan pembicaraan, gue tanya sekali lagi berita apa yang lu bawa" Meni menatap tajam ke arah Varo, memaksa cowok di depannya ini untuk bicara jujur, benar dugaannya ada sesuatu yang tidak beres.
"Men" Varo memegang tangan meni untuk memenangkan tetapi meni menepisnya cukup kasar.
Tuh kan udah pengen ngamuk takut gue.
"Apa ayo cepet ?"
"Sebenarnya...."
_______________
__ADS_1