Love Me

Love Me
End.


__ADS_3

POV Alana.


Hidup itu ibarat roda yang berputar, hari ini kita di bawah esok atau suatu hari nanti kita akan berada di atas, mungkin.


Karena aku nggak tahu seperti apa hidup orang lain di luar sana, tapi untuk aku pribadi! Hidup aku ibarat roda yang berputar.


Aku yang dulunya bukan siapa-siapa, kini menjadi ratu di hatinya, hebat kan. Ya karena takdir tidak ada yang tahu akan seperti apa kedepannya. Dulu aku selalu berkata kepada diri aku sendiri. 'Alana kamu cuma punya dua tangan, kamu tidak akan bisa menuntut mulut banyak orang untuk berhenti menghina fisik kamu tapi kamu bisa menutupi telinga kamu mengunakan kedua tanga**nmu.' Dan sejauh ini itu cukup berhasil untuk aku.


Aku juga pernah berada di titik paling bawah sampai aku merasa Tuhan begitu tidak adil kepadaku. Dan aku sempat menjadi orang yang paling frustasi dan menyalakan Tuhan serta diri aku sendiri atas apa yang terjadi kepada ku.


Tetapi banyak orang baik yang berada di sekeliling aku. Mereka mengajarkan aku untuk bersabar serta melihat dari sudut pandang orang lain yang nasibnya lebih di bawah aku.


Ibu pembersih jalan yang beberapa kali aku temui serta Gio misalnya. Ngomong-ngomong soal Gio! Sejak hari kelulusan waktu itu aku telah mengakhiri hubunganku dengannya, awalnya dia menolak karena terlanjur sayang katanya. Lucu juga sih mendengar ada orang yang benaran tulus sayang sama aku. Tapi gimana Aku punya paman, walaupun awalnya kita menikah tanpa cinta, tapi perlahan aku mulai terbiasa dan merindukan dirinya, saat jauh darinya, belum lagi kak sandrina yang sudah berkorban banyak hingga aku dan Alena bisa berada di posisi ini.


Aku mungkin bukan orang yang baik, tapi aku tahu caranya berterima kasih. Dengan cara mencintai adiknya, tentunya. Sudahlah lupakan soal Gio, karena suamiku jauh lebih di atas pria mana pun.


Dan jika kalian bertanya apa aku bahagia sekarang, jawabnya tentu saja aku bahagia, aku memiliki suami yang begitu sangat mencintai aku, anak-anak yang sehat dan pintar serta kebutuhan hidup yang lebih dari cukup.


" Al, sini bantuin aku! Ngapain sih bengong di situ." Teriak Naya membuyarkan lamunanku.


Hari ini kita berkumpul di rumah Naya untuk merayakan ulang tahun Leon. " Apalagi sih Nay, baru juga aku istirahat udah di panggil aja." Keluhku sambil berjalan menghampiri sahabatku itu.

__ADS_1


"Bantu aku buat isi ini." Ucapnya, membuat aku mendesah.


" Memangnya ini tugas siapa?" Tanyaku.


"Tugas Alena, tapi Liat tuh saudari kamu! Ngidamnya parah banget! Perasaan aku dulu nggak kaya gitu deh." Keluh Naya sambil menunjuk ke arah Alena yang baru saja keluar dari bathroom, Setelah mengeluarkan isi perutnya.


" Lagian kamu sih, so-soan mau di urus sendiri acaranya, kenapa nggak pak__"


" Cit-cit, Nyonya Saddam yang terhormat! udah sombong ya sekarang. Lebih suka keluarin duit ya ketimbang di kerjakan sendiri." potongnya Sebelum aku selesai berbicara.


" Bukan seperti itu Nayaka! Tapi anak-anak yang kamu undang itu banyak, belum lagi taman harus di dekor sesuai keinginan kamu, kita itu nggak ada keahlian di bidang itu, mending aku rawat banyak pasien, belajar, masak atau desah sekalian di bawah di bawah paman. Ketimbang membuat ini."


Naya dan Alena memang seperti ini, rada-rada jaim saat berbicara soal urusan ranjang, berbeda dengan kak Viola dan Ka Deby yang selalu blak-blakan sehingga aku pun ikut-ikutan seperti mereka.


" Kalian lagi bahasa apa?" Tanya Alena, ketika ia menghampiri kami.


" Tidak ada. Bagaimana sudah lebih baik." Tanyaku.


" Sedikit."


" Waktu hamil Bram kamu juga kaya gini Len?" Tanya Naya.

__ADS_1


" Nggak, dulu cuma mual di pagi hari aja, ngidam pun jarang." Jawab Alena membuat Naya mengangguk-anggukkan kepalanya begitupun dengan aku. " Nay, nanti kan Abang kamu datang, apa kak leya juga ikut." Tanya Alena.


" Entahlah, kata mama sih, kak leya udah ikhlas aku sama paman Dika! mungkin kita emang jodoh, tapi dia masih sering merasa sakit hati jika melihat kita berdua." Sahut Naya, wajahnya terlihat sendu dan sedikit rasa bersalah untuk Aleya.


" Nggak papa Nay, itu manusiawi! Tapi aku percaya suatu saat, kak leya akan melupakan cintanya saat bertemu dengan jodohnya. "


" Aku pun berharap hal itu segera datang."


Ngomong-ngomong soal Naya dan kakaknya, hubungan keduanya udah agak membaik sih. Kak sandrina dan kak satyo pun tidak ada masalah sama Naya, soalnya Setelah paman Dika dan Naya nikah hati itu. Besoknya Paman Dika dan Sultan langsung pergi ke club itu dan mengambil rekaman cctv dan di tunjukkan kepada kak satyo, untuk membersihkan nama paman Dika. Dan alasan kenapa Naya menghindar, karena dia ingin menjaga perasaan kakaknya dan ingin orang tuanya fokus untuk Aleya, sebab kakaknya itu harus terluka dan malu karena keegoisan Naya. Seandainya dulu Naya lebih cepat jujur mungkin kak leya nggak harus mengalami hal itu, tapi waktu tidak dapat di putar kembali dan setiap kejadian hanya bisa di jadikan pembelajaran untuk kita.


Intinya Jangan egois dan overthinking, sebab hal itu hanya akan menunda kebahagiaan kita, atau menyakiti orang-orang di sekitar kita.


Aku, Naya dan Alena contohnya. Walaupun kita terlambat menyadari perasaan satu sama lain, tapi kita bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Karena kunci kebahagiaan itu, adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki.


Mungkin di depan sana masih ada krikil dan jalan terjal yang harus kita lewati, tapi aku percaya dengan kita bersama. Kita pasti bisa melewatinya bersama-sama.


...End....


Jangan lupa baca cerita aku selanjutnya.


__ADS_1


__ADS_2