
Setelah puas menangis dan mengeluarkan keluh kesahnya, Alana mencoba untuk berdiri, tetapi cahaya dari lampu mobil yang bergerak ke arahnya membuatnya terdiam. Dan berharap mobil itu menabraknya, tapi sayangnya mobil itu berhenti tepat satu senti dari tempat Alana berdiri.
" Si*l. Kalau mau mati jangan buat aku dalam masalah juga, woii." Yang punya mobil keluar sambil mengatai Alana sembari memegang payung untuk melindunginya dari derasnya air hujan. " Hei, kamu? Kamu bisu ya." Ucap pria itu lagi sembari menepuk pundak Alana.
Tetapi Alana tidak merespon ucapannya, ia justru kembali menangis dan menjerit sejadi-jadinya. " Kenapa tidak tabrak aku saja, Aku nggak mau hidup lagi, aku lelah. Ak___ Akkhhhhhh."
" Enak saja, kamu sih enak sudah mati! lah aku yang terkena masalah, bisa-bisa wanita idaman aku diperistri orang." Pria itu Mala curhat. " Lagian kamu tuh harusnya sadar, apapun masalahmu, kamu nggak boleh seperti ini! Kamu harus bersabar karena banyak yang memiliki masalah lebih dari kamu, kamu harus kuat dan sabar! Percayalah tuhan, sedang menyiapkan hadiah yang terbaik atas semua yang kamu alami." Ucap pria itu lagi.
"Hadiah! Hadiah ya. Hahahaha." Ucap Alana mengulang kata-kata pria itu, kemudian tertawa dan menengok kepada pria yang tengah berlindung di bawah payungnya." Kemari-lah, kita berdua tukar posisi sejenak, agar kamu tahu rasanya hancur dan aku pun tahu caranya menyemangati orang lain tanpa tahu apa yang dia rasakan." Lanjutnya membuat pria itu terdiam, selain karena ia merasa tertampar dengan kata-kata Alana ia juga kenal dengan wajah itu.
" Kamu, temannya Naya kan?" Ucap pria itu. Di angguki sekilas oleh Alana. " Kamu mau kemana? Biar aku antar kamu pulang." Ucap pria itu lagi, sengaja melupakan kata-kata Alana barusan. Tetapi Alana tidak menanggapinya, Ia dengan tubuh menggigil berbalik untuk meninggalkan pria itu, saat melihat wajahnya dengan jelas. Alana ingat dia adalah pria yang membawa mereka keruangan pribadi di club malam, tempo hari! Dia adalah teman Saddam, walaupun Alana mabuk, ia tidak sepenuhnya melupakan apa yang terjadi malam itu. Termasuk wajah sahabat suaminya. Ya Pria itu tidak lain adalah Andika, Sahabatnya Saddam.
" Hei, tunggu dulu! Kamu mau kemana." Andika mengejarnya dan menarik lengan Alana. " Ayo aku antar kamu pulang. Kamu bisa sakit." Bujuknya lagi.
" Biarkan saja aku sakit, aku mati pun! Apa peduli kalian. Lepaskan aku, aku tidak ingin pulang, aku tidak punya keluarga, aku tidak punya apapun dan aku tidak punya alasan untuk tetap berada di dunia ini." Teriak Alana, tetapi Andika tidak begitu saja melepaskannya.
" Aku tidak tahu masalah apa yang kamu punya! Tapi dengan menyakiti diri sendiri itu bukanlah tindakan yang benar dan sangat bodoh." Ucap Andika.
__ADS_1
" Ya Aku memang bodoh, karena terlalu percaya kepada mereka. Jadi kamu tidak perlu mengingatkan aku! Sekarang lepaskan tangan aku." Bentaknya. " Aku bilang lepaskan aku." Ulangnya lagi. Karena Andika tidak kunjung melepaskan tangannya.
" Kalau kamu tidak mau pulang, ikut lah denganku, kamu bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu. Sampai kamu siap untuk pulang. Kalau kamu tidak mau, sekarang juga aku akan menghubungi Saddam dan mengatakan kamu disini." Ucap Andika dengan sedikit mengancam. Sehingga membuat Alana kesal.
" Aku nggak mau! Kamu itu sama jahatnya dengan mereka! Kalian semua jahat aku benci kalian. Aaahhkkkk." Jeritnya.
" Terserah apa katamu! Sekarang pilihan ada di tangan kamu, kamu mau ikut aku atau kamu mau menunggu suami kamu datang." Dan pada akhirnya, Alana memutuskan untuk ikut Andika. Pria itu membawa Alana kerumahnya, menitipkan dia kepada pelayan di rumah itu. Sebab Andika tidak tinggal di sana, dia sama seperti Saddam lebih suka tinggal di apartemen.
" Untuk sementara waktu, kamu bisa tinggal disini sambil menenangkan pikiran kamu, kamu tidak perlu khawatir, Saddam dan yang lainnya tidak akan tahu rumah aku ini, aku juga tidak tinggal disini." Ucapnya sebelum meninggalkan Alana.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sementara Andika yang mengetahui mereka mencari Alana dengan sengaja tidak memberi tahu mereka, karena kondisi kesehatan wanita itu yang buruk dan dia sendiri yang tidak ingin bertemu mereka.
Sehari setelah Andika membawa Alana pulang ke rumah. Ia langsung sakit di tambah ia tidak mau makan dan minum obat membuat kondisinya semakin lemah! sehingga Andika memutuskan untuk memasang infus kepadanya. Bahkan Ancaman demi ancaman yang Andika berikan kepadanya sudah tidak mempan lagi untuk membuat Alana menurut.
Andika ingin mengabaikan Alana tapi sisi kemanusiaannya tidak sampai hati untuk melakukan itu. Dan seperti biasanya setelah pulang kerja ia akan mengunjungi Alana, untuk memastikan kondisinya, sama seperti sekarang ini. " Tidak mau makan lagi?" Tanya Andika saat melihat, pelayan paruh baya yang ia tugaskan untuk membantu Alana, keluar dari kamar yang Alana tempati sembari membawa nampan berisi makanan yang belum di sentuh sama sekali.
__ADS_1
Pelayan paruh baya yang di tanya itu menganggukkan kepalanya. " Den, bibi tuh kasihan banget sama, Alana! Dia sampai tidak ada semangat hidup seperti itu. Tatapannya kosong, kalau di ajak cerita dia hanya menggeleng kepalanya kemudian menangis. Bibi nggak tahu apa yang dia rasakan! Tapi melihat dia seperti itu, hati bibi juga ikut sakit__ maaf Den , bibi udah lancang berbicara seperti ini, bibi pamit ke belakang." Pamit wanita itu, begitu ia menyadari terlalu jauh mencampuri urusan majikannya. Sementara Andika hanya mengangguk, kemudian wanita paruh baya itu pun pergi.
Dan Andika pun, masuk kedalam kamar yang di tempati Alana, menarik bangku yang berada dekat meja rias kemudian duduk sambil menatap Alana yang sedang memejamkan matanya. " Alana." Panggilannya.
Wanita itu pun membuka kedua matanya, baru seminggu Alana berada di rumahnya, tapi dia sudah seperti mayat hidup. Wajahnya tirus, sekitar matanya menghitam dan kulitnya yang putih pucat membuat siapapun yang melihatnya tidak percaya jika dia adalah Alana." Apa yang kamu inginkan? Jangan jawab mati, karena itu kehendak tuhan, bukan aku! Aku akan membantu jika aku bisa melakukannya." Ucap Andika penuh penekanan di setiap kata-katanya. " Kalau kamu masih nyaman untuk membisu. Maka hari ini juga aku akan menemui suami dan kakak ipar kamu agar mereka menjemputmu, aku tidak ingin membuat diriku dalam masalah jika terjadi sesuatu kepada kamu. "Lanjutnya lagi. Tapi seperti biasa Alana tidak menghiraukan kata-katanya, ia justru kembali memejamkan mata. Membuat Andika pusing sendiri.
Dan pada akhirnya ia meninggalkan kamar yang di tempati Alana, Sebab percuma saja dia terus berada di sana.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
__ADS_1
...Happy reading..💝💝...