Love Me

Love Me
Lihat aku, Ibu!


__ADS_3

Alana terus menangis sambil memeluk jasad ibunya. Ia tidak bergerak sedikit pun dari ranjang ibunya. " Ibu bangun Bu! Aku sayang banget sama ibu. Ibu jangan tinggalin Aku ya bu! Kalau Aku lelah siapa lagi yang harus Aku lihat, untuk menghilangkan rasa lelah ku, Bu." Ucapnya sembari mengusap pipi Ibunya. " Ibu, ngomong dong sama aku. Ibu mau apa? Mau aku buatkan apa. Aku pasti lakuin buat ibu. Jangan diam aja Bu." Ucapnya dengan sesenggukan.


Dan suara tangisannya itu berhasil mengusik rasa ingin tahu, dokter jaga yang lewat di depan ruang rawat Alena.


" Permisi." Ucap Dokter itu, sembari membuka pintu kamar rawat itu. Dan dokter sangat terkejut melihat Alana berbaring di atas ranjang ibunya sambil menangis. Entah sudah berapa jam ibunya itu pergi dan tidak ada yang tahu. Alana pun tidak memanggil perawat ataupun dokter ia hanya diam ditempat sembari menangisi ibunya.


" Dokter! Tolong lakukan sesuatu. Tubuh ibu saya semakin dingin." Ucapnya kepada dokter itu. Membuatnya langsung berlari ke arah ranjang ibunya dan mematikan kondisi wanita paruh baya yang kini sudah tidak bernyawa.


" Adek, yang ikhlas ya! Jangan seperti ini. ibu kamu sudah tenang, nggak sakit lagi. "


" Nggak! Ibu aku baik-baik saja, ibu hanya tidur! dan nggak akan kemana-mana, karena cuma ibu yang aku punya, aku nggak punya siapa-siapa lagi kali ibu nggak ada. Sebaiknya dokter keluar. Aku bisa mengurus ibu sendiri." Bentaknya kepada dokter. Bahkan Alana menolak saat jasad ibunya akan di tutup selimut tipis berwarna putih itu.


Dokter yang sedikit kewalahan, menghadapi Alana, menekan tombol yang ada di samping ranjang, memanggil perawat untuk membantunya. Sehingga jasad ibu Alana bisa segera di urus dan di pindahkan ke ruang jenazah sambil menunggu keluarganya.


Teriakkan dan tangisan Alana, berhasil mengusik alam bawah sadar Alena. Seakan wanita itu dapat merasakan jeritan hati dari saudari kembarnya itu. Membuat Alena yang telah lama tertidur perlahan mulai mengerakkan jari-jarinya. Cairan bening pun mengalir dari kedua sudut matanya yang masih tertutup rapat. Dan tidak ada yang menyadari akan hal itu, sebab fokus mereka saat ini kepada Alana dan ibunya.


" Hubungi pihak keluarganya." Titah sang dokter kepada perawat yang berada di sampingnya. Setelah alana di tangani dan branker ibunya di dorong ke luar dari ruangan itu.


" Baik dok." Sahut Perawat itu, ia pun Pergi untuk menghubungi sandrina. Sebab wanita itulah yang bertanggung atas biaya rumah sakit Alena dan ibunya.

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Di rumah Naya! Sandrina yang tengah tertidur, harus rela tidurnya terusik! Saat Dering dari ponsel yang ia letakkan di atas nakas menyapa indra pendengarannya.


Wanita itu meraih ponselnya, melihat jam yang tertera di sana sembari melihat id penelepon baru itu, sebelum akhirnya ia menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipi itu, pada telinganya. " Apa." Sandrina begitu terkejut dengan kabar duka yang baru saja ia dengar. " Terima kasih saya akan segera ke sana dan mengurus semuanya." Ucap Sandrina. Dan panggilan itu pun berakhir.


" Astaga, Alana." Ujarnya ketika mengingat adik iparnya itu.


Sandrina beranjak dari tempat tidurnya kemudian berlari ke kamar Naya. " Naya, Sayang bangun nak, kita harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Sandrina sembari menepuk punggung Naya.


" Ada apa sih Ma! Emangnya ini jam berapa." Naya tidak langsung bangun, dan masih sempatnya bertanya.


" Jam tiga, ibunya Alana meninggal." Jawab Sandrina membuat Naya terkejut dan rasa kantuknya pun hilang. " Cepat ganti baju kamu, kita harus ke rumah sakit sekarang. " Lanjutnya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, sandrina terus mencoba untuk menghubungi Saddam, tapi ponsel pria itu tidak bisa di hubungi." Kemana sih dia." Gumam sandrina sembari mencoba lagi. walaupun hasilnya tetap sama. Pada akhirnya Sandrina memutuskan untuk menghubungi teman-teman adiknya. Ponsel Heri pun sama tidak bisa di hubungi, begitu juga dengan Sultan dan Aaron. Tapi bersyukurnya Andika masih bisa dia hubungi. Tanpa basa-basi Sandrina langsung mengabari berita duka itu kepada Andika agar di sampaikan kepada adiknya. Sebab sandrina tahu mereka bisa saling mengabari satu sama lain, sekalipun mereka berada di negeri antabranta.


Sampai di rumah Sakit Sandrina dan Satyo, mengurus administrasi, agar jenazah ibunya Alana bisa segera di bawah pulang.


Sandrina menawarkan agar ibunya Alana di bawah pulang kerumahnya. Tapi Alana menolak, dan pada akhirnya ibunya di bawah pulang ke rumah mereka. Walaupun kecil dan sempit. Itu adalah istana mereka! Istana kecil yang di bangun ayahnya untuk mereka, sebelum meninggalkan mereka untuk selama-lama dan kini giliran ibunya yang pergi.

__ADS_1


Tepat jam delapan pagi. Rumah Alana sudah di penuhi, tetangga dan kerabat yang hendak melayat. Teman-teman sekolah serta Gurunya pun ikut melayat ke rumahnya.


Alana duduk dan bersandar pada pundak Naya sembari menatap jasad ibunya yang telah terbujur kaku dan siap untuk di antarkan ke peristirahatan terakhir, sejauh ini ia berusaha untuk tenang tapi, saat jasad ibunya akan di bawah, saat itulah ia kembali meronta dan menolak, ia bahkan memeluk jasad ibunya. " Jangan, jangan bawa ibu pergi! Aku masih ingin di peluk ibu. Kalian jangan pisahkan aku sama ibu." Ucapnya dengan terus memeluk jasad ibunya. Sandrina, Naya di bantu teman-temannya mencoba untuk menarik Alana. Tetapi pelukannya begitu erat sehingga mereka sedikit kewalahan. " Ibu lihat aku, aku sudah berjuang untuk ibu dan Alena. Aku sudah mengorbankan segalanya untuk ibu. Ibu lihat kan, Aku janji nggak akan mengeluh aku nggak nangis lagi. Kalau ibu nggak mau peluk aku juga nggak papa. Tapi ibu jangan kemana-mana. Tetapi temani Aku, Aku butuh ibu. Ibu jangan biarkan mereka membawa ibu pergi. Aku sayang banget sama ibu. Cuma ibu yang Aku punya. Ayo bangun Bu, lihat aku , aku Sekarang udah cantik, nggak ada yang bakalan ngatain anak ibu jelek lagi. Ibu lihatkan keloid aku udah nggak ada. ibu nggak akan malu lagi sama tetangga, ia nggak akan menjadi bahan cerita tetangga karena memiliki anak jelek Bu." Ucapnya dengan seseguka.


" Al jangan kaya gini, kamu harus ikhlas ya. Kamu masih punya aku, mama, papa, paman Saddam dan kita semua ada disini untuk kamu. Ikhlas-in ibu ya Al, Biar ibu tenang." Ucap Naya, gadis itupun ikut hancur melihat Alana seperti itu.


" Sayang, lepas ya! Ibu kamu harus segera di makamkan. " Pinta Sandrina. Tapi Alana mengeleng kepalanya.


Mereka yang datang ingin memaksa dan menarik tubuh Alana dari jasad ibunya tapi tidak sampai hati mendengar tangisannya. Dan jika di biarkan kasihan jasad ibunya. Ia harus segera di semayamkan.


Hingga sebuah lengan kekar merangkul pinggang Alana dan menariknya dengan pelan tapi berhasil melepaskan Alana dari jasad ibunya dan jenazah bisa segera di bawa pergi untuk di makamkan.


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung....


...Happy reading...💝💝...


__ADS_2