
Setelah memikirkan semuanya, Andika memutuskan untuk menemui Sandrina di rumahnya. Untuk memberitahu keberadaan Alana! Andika tidak bisa melihat Alana terus seperti ini.
" Selamat sore, Mbak! Kak Rina-nya ada?" Sapa Andika, kepada Mbak Ning, yang menyambut kedatangannya.
" Masuk dulu tuan, Nyonya sedang ke rumah sakit! Sebentar lagi juga pulang. Tunggu aja di dalam." Sahut mbak Ning.
Andika pun mengikuti langkah Mbak Ning ke ruang tamu. " Emangnya siapa yang sakit mbak?" Tanya Andika sembari mendaratkan bokongnya pada kursi sofa yang beradab disana.
" Oh, itu! Saudari kembarnya non Alana. Nyonya emang sering mengunjungi Saudari dan ibunya non Alana di rumah sakit." Andika membulatkan bibirnya, sambil mengangguk kepalanya. " Ya udah tuan, mbak tinggal ke belakang dulu ya." Pamit Mbak Ning, di angguki Andika.
Beberapa saat kemudian, mbak Ning kembali lagi dengan membawa Nampan berisi cangkir kopi dan cake di atasnya. " Silahkan di minum tuan." Ucapnya mempersilahkan Andika. Setelah menghidangkan kopi dan cake itu di Atas meja tepat di hadapannya. Lalu meninggalkan pria itu sendiri disana menunggu kedatangan majikannya.
Cukup lama Andika menunggu kedatangan Sandrina. Sampai ia merasa jenuh dan berdiri dari tempat duduknya, bersiap-siap untuk pulang.
" Paman, kok paman ada disini?" Tanya Naya yang baru saja datang. Membuat niatnya untuk pulang ia urungkan.
" Iya! Paman nungguin mama kamu?" Sahut Andika. " Kamu dari mana? Kok masih pakai seragam sekolah?" Tanya Andika. Sembari melihat Naya! Yang masih mengunakan seragam sekolahnya itu. Kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam lewat lima menit.
" Aku dan teman-teman habis nyariin, sahabat aku! Yang waktu itu kita ke club itu loh. Tapi nggak ketemu-ketemu juga! Padahal aku khawatir banget sama dia, aku takut dia Kenapa-kenapa. " Ucap Naya. Gadis itu terlihat murung ketika menceritakan Alana.
" Oh, gitu! Emangnya sahabat kamu itu kepada sampai pergi?" Tanya Andika ingin tahu alasan kepergian Alana.
" Aku nggak tahu juga sih paman, hari itu dia ngobrol sama mama! Nggak lama kemudian dia keluar dari kamar mama dan berlari sambil menangis, aku ingin mengejarnya. Tapi karena di luar hujan papa mencegah aku. Dan meminta aku untuk mengunakan mobil untuk mengejarnya nanti, jika hujannya sudah sedikit reda . Tapi kita justru nggak ketemu sama dia. Aku udah ke rumahnya, ke apartemen paman, ke rumah sakit sampai ke tempat-tempat yang pernah kita datangi tapi nggak ketemu juga. Aku tuh bingung, harus mencari Alana kemana lagi, Padahal aku khawatir banget sama dia" Jelas Naya panjang kali lebar dan Andika hanya menanggapinya dengan senyum bersalah.
"Terus mama kamu di mana?" Tanya Andika.
" Lagi ngomong sama paman Saddam di depan." Jawab Naya, sembari menunjuk kearah pintu utama.
__ADS_1
" Paman kamu juga disini." Tanya Andika sekali lagi dan di jawab anggukan kepala oleh Naya.
Andika pun, melangkah keluar rumah itu, untuk melihat keberadaan kedua kakak beradik itu. Dan dari jauh ia masih bisa mendengar perdebatan mereka.karena volume suara mereka yang sedikit besar.
" Harusnya, kamu itu bisa bersikap lebih baik kepadanya! Kalaupun Alana pergi, itu karena kesalahan kamu. Kamu yang tidak tahu cara memperlakukan dia dengan baik. Kamu lupa, dia itu masih belasan tahun. Bukan wanita dewasa yang setiap hari kamu temui. Sebaiknya kamu ceraikan saja dia." Ucap Sandrina, masih bisa di dengar Andika dengan jelasnya. Walaupun pria itu menghentikan langkahnya sedikit jauh dari mereka karena tidak ingin menganggu pembicaraan mereka.
" Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan dia! Dia istriku dan tanpa persetujuan dari aku. Dia akan tetap menjadi istriku." Sahut Saddam, kemudian berlalu dari hadapan Sandrina setelah ia masuk ke dalam mobilnya.
Sementara sandrina sendiri berbalik untuk masuk ke dalam rumahnya dan ia begitu terkejut ketika mendapati Andika, berdiri tidak jauh dari tempatnya. " Dika, kamu ngapain disini? Sudah lama." Ucap Sandrina, setelah mengontrol rasa keterkejutannya.
" Iya! Ada yang ingin aku bicarakan sama kakak." Jawabannya, sembari mengatakan maksud dari kedatangannya.
" Ya udah kita ngobrol aja di dalam." Ujar Sandrina. Keduanya pun melangkah kembali kedalam rumah dan duduk di ruang tamu. " Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Sandrina, memulai pembicaraan mereka.
" Adik ipar kakak ada di rumah aku!"
" Iya! sudah seminggu dia di rumah aku kak." Ucap Andika sembari menatap kepada Sandrina. " Hari itu aku menemukan dia di jalan, aku juga hampir menabraknya waktu itu. Dan sekarang dia__" Andika sengaja menggantung ucapannya.
" Dia kenapa Dika?"
" Alana kenapa paman?"
Tanya ibu dan anak itu dengan kompaknya. " Dia sedang sakit! Aku terpaksa menginfusnya di rumah, karena dia tidak mau kemana-mana dan tidak mau makan juga. Setiap kali di tanya dia nggak pernah mau ngomong, cuma nangis aja. Aku bingung harus gimana lagi. Untuk itu aku datang menemui kakak." Ucap Andika membuat Naya dan mamanya merasa bersalah terlebih untuk sandrina.
" Dia ingin bercerai dari Saddam! Dan dia pikir aku mencegahnya. Padahal Aku juga ingin melepaskan dia dari hubungan yang tidak sehat itu, sayangnya Alana lebih dulu salah paham dan pergi tanpa mendengar ucapan aku sampai selesai." Jelas Sandrina. " Aku bahkan sudah meminta pengacara untuk memasukkan permohonan perceraiannya. Tetapi semuanya butuh proses dan tanda tangan Saddam juga. Kita tidak bisa begitu saja mengurus perceraian mereka. Bisa terkana pasal kita, kalau Sultan turun tangan untuk membantu Saddam. yang ada masalah akan semakin runyam nanti." Lanjutnya .
" Terus kita harus gimana, kak?" Tanya Andika.
__ADS_1
" Kita temui dulu dia! Nanti biar kakak coba berbicara sekali lagi dengannya. " Usul sandrina. Di setujui oleh Andika.
" Aku juga ikut, aku ingin bertemu dengan Alana." Ucap Naya.
" Ya. Ayo kita pergi sekarang." Sahut Andika.
" Kalian berdua duluan ke mobil! Aku harus mengambil sesuatu." Ucap Sandrina. Naya dan Andika pun menuju mobilnya, sementara Sandrina! Berjalan ke ruang kerja, untuk mengambil berkas permohonan yang di berikan pengacaranya kemarin. Setelah itu ia pun mengikuti Andika dan Naya.
Begitu Sandrina masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengaman. Andika langsung melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman sandrina dan menuju rumahnya.
Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah Andika dan berpapasan dengan pelayanan yang bertugas menjaga Alana baru saja keluar dari kamar yang di tempati Alana.
" Bi, kok belum tidur? Alana sudah tidur" Tanya Andika.
" Belum tuan. " Sahut pelayan itu. Andika kemudian mengajak Sandrina dan Naya ke kamar yang di tempati Alana.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung....
...Happy reading..💝💝...
__ADS_1