Love Me

Love Me
Mengatai diri sendiri.


__ADS_3

Setibanya di kota, Alena langsung mencari kontrakan untuk ia tempati, setelah mendapatkan tempat tinggal alena langsung menempatinya, ia terpaksa mengambil kontrakan yang sudah lengkap dengan isinya, sebab Alana tidak membawa apapun dari kampung selain pakaian dan berkas-berkas untuk keperluannya.


Alena yang terlalu lelah karena menempuh perjalanan jauh, langsung tidur dan lupa mengabari Alana dan anaknya di kampung.


Keesokan paginya, ia bangun dan segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor! Dimana ia mendapatkan panggilan kerja dan kembali lupa mengabari Alana. Ia tidak tahu saja, Alana di kampung begitu mengkhawatirkan dirinya.


" Selamat pagi mbak! Nama saya Delisa, saya mendapatkan panggilan kerja di perusahaan ini." Ucap Alena, kepada resepsionis begitu tiba di perusahaan itu. Sambil menyerahkan surat panggilan yang ia terima dua hari yang lalu.


" Sebentar ya mbak saya hubungi bagian HRD-nya dulu." Alena mengangguk dan wanita dengan name tag, Linda itu langsung menghubungi bagian HRD, entah benar atau tidaknya alena juga tidak tahu. Sebab wanita itu hanya berkata iya pak, baik pak. Setelah mengatakan keberadaannya di sana. " Mari saya antar! Kamu sudah di tunggu di bagian HRD." Ajak wanita yang bernama Linda itu, Alana pun hanya mengangguk dan mengikuti langkahnya.


Saat berada di dalam lift, Alena sudah di buat bingung dan bertanya-tanya! Sebab gedung itu memiliki 17 belas lantai dengan rooftop. Dan sang resepsionis menekan angka enam belas, apa mungkin ruang HRD berada di lantai itu atau ada hal lainnya.


Alena memang tidak memiliki pengalaman berkerja tapi, ia juga tahu jika lantai tertinggi sebuah perusahaan biasanya di tempat petinggi-petinggi atau pemilik perusahaan itu.


" Kenapa! Kamu kok kaya khawatir gitu." Tanya Linda saat menyadari wajah cemas Alena.


" Nggak papa kok mbak! Saya hanya sedikit gugup saja. Maklum ini pengalaman pertama saya melamar kerja." Jawab Alana.


Ting..


Pintu lift terbuka, mbak Linda keluar lebih dulu dari sana, sementara Alena masih diam di tempatnya! Karena jantungnya semakin berdetak tak menentu! Ia takut sekaligus gugup.


" Hai, kenapa masih disitu? Kamu mau kerja kan?" Tanya Mbak Linda membuat Alena, mengangguk dan kembali mengikuti langkah wanita itu. " Silahkan masuk! Pak Sultan telah menunggu anda di dalam." Wanita yang bernama Linda itu, mengetuk pintu ruang kerja di depannya.


" Pak Sultan? Apa dia HRD perusahaan ini." Tanya Alena.


Mbak Linda hanya tersenyum, seraya berkata. " Masuklah, kamu akan mengetahuinya didalam."

__ADS_1


Jawaban mbak Linda itu, membuat perasaan Alena semakin tidak menentu. Ia hendak berbalik dan pergi dari sana tapi seseorang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan mendorongnya untuk masuk kedalam ruangan itu tanpa sempat ia melihat siapa orang itu. Dan begitu Alena masuk kedalam ruangan itu pintunya langsung di kunci .


Dari tempatnya berdiri, Alena dapat membaca Nama Sultan Milando, dengan Sagala gelarnya tertera di sana! Serta jabatan apa dia punya di perusahaan itu. Alena makin terkejut saat seseorang orang yang di hindari selama ini muncul dari belakang punggungnya dan orang itu juga yang mendorongnya masuk. " Keluar juga akhirnya." Ucapnya kemudian berjalan menghampiri Sultan di tempat duduk kebesarannya.


" Gimana rencana aku! Berhasilkan, kalau kalian kesana itu sama aja kalian memiliki peluang untuk menciptakan masalah baru. Kalau sudah seperti ini kan tinggal di urus. " Ucap Sultan kepada Aaron. Pria itu pun menganggukkan kepalanya.


" Jadi kalian jebak aku." Tanya Alena. Kedua pria itu hanya menatap satu sama lain kemudian sama mengangkat bahu masing-masing.


Bisa di bilang seperti itu. Dan semua itu berawal dari Sultan, yang melakukan kunjungan ke perusahaannya di kota ini. Saat tengah melakukan kunjungan! Seseorang tidak sengaja menabrak Punggung Sultan hingga beberapa map yang dia bawa jatuh berserakan. Dan map-map itu adalah berkas calon karyawan di perusahaan ini. Awalnya Sultan tidak begitu menghiraukan map berisi berkas lamaran kerja Alena, karena nama yang tertera di situ. Delisa tapi fotonya yang membuat Sultan penasaran dan terciptalah ide pemanggilan kerja itu. Setelah menelpon kedua temannya dan mengatakan apa yang dia temukan.


" Buka pintunya! Aku mau keluar." Desak Alena, wanita itu sudah berada di belakang pintu dan mencoba membuka pintu itu .


" Keluar! Tidak segampang itu Sayang, katakan dulu dimana anakku." Sahut Aaron.


" Anak? Anak apa! Kamu pikir aku Sudi melahirkan anak kamu." Ujar Alena membuat Aaron mengepalkan tangannya, wanita itu masih saja angkuh! Setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


" Lantas! Kamu pikir itu anak kamu? Memangnya laki-laki di dunia ini, yang bisa buat anak cuma kamu. "


" Tapi aku yang pertama untuk kamu." Ucap Aaron, suaranya mulai naik satu oktaf.


" Ya, akui itu! Tapi kamu bukan yang terakhir." Alena tidak peduli jika setelah ini mereka akan menganggap di wanita yang tidak benar. karena lebih baik begitu Dari pada dia harus menyerahkan anaknya kepada pria bajingan itu. " Buka pintunya." Teriak Alena sembari menarik pintu itu dan sesekali menendangnya.


" Tidak! Sebelum kamu mengatakan dimana Anakku dan istrinya saddam."


" Aku tidak tahu dan aku tegaskan sekali lagi dia bukan anak kamu." Ucap Alena.


" Baiklah, kamu menang! Sekarang katakan dimana anak kamu."

__ADS_1


" Buat apa?"


" Karena aku ingin bertemu dengannya."


" Untuk apa, memangnya kamu siapa?"


" Aku ayahnya harus berapa kali, aku mengulanginya."


" Cihh, hanya wanita bodoh yang mau dengan suka rela melahirkan akan untukmu."


" CUKUP." Teriak Sultan yang sudah sakit kepala mendengar perdebatan kedua manusia yang saling mengatai diri sendiri itu. Dan dia bahkan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, dimana Aaron bisa berdebat kekanakan seperti itu. " Berhenti mengatai diri sendiri. Sekarang katakan dimana Alana." Tegas Sultan. Saddam masih melakukan perjalanan bisnis saat Sultan memberitahunya tentang Alena, sehingga pria itu tidak ada disini, tetapi pria itu berjanji akan datang secepat yang dia bisa dan dia mempercayakan semuanya kepada Aaron dan Sultan.


" Aku tidak tahu dimana dia." Jawab Alena berbohong.


" Berhenti berbicara omong kosong, kalian kakak beradik! Sudah pasti kalian selalu bersama. " Sultan memilih menangani masalah ini dengan berbicara baik-baik dengan Alena, sebab ia tidak ingin membuang-buang waktu untuk mendengarkan perdebatan tak masuk akal dari keduanya.


" Siapa yang mengatakannya?" Tanya Alena.


" Tentu saja aku! Apa kamu tidak melihat dan mendengar aku berbicara." Alena memutar kedua bola matanya tidak peduli dengan ucapan pria itu. " Katakan dimana Alana." Ulang Sultan lagi. Sembari mengusap dadanya.


" Aku tidak tahu! Harus berapa kali aku mengatakannya."


" Ar, apa kamu masih membutuhkannya?" Tanya Sultan kepada sahabatnya itu.


" Tentu saja! Aku belum mengetahui dimana anakku, memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu." Jawab Aaron sekaligus bertanya sementara Alena hanya menatap kedua pria itu sambil bersandar pada pintu.


" Jika kamu tidak membutuhkannya! Akan ku jadikan dia sebagai umpan Hiu. Merepotkan sekali." Ujar Sultan." Sudahlah, biarkan Saddam yang mengurusnya. Aku mau istirahat! Bangunkan aku jika Saddam sudah datang. Dan ingat! Jangan berbuat yang tidak-tidak di ruanganku." Lanjutnya mengingatkan Aaron sebelum, ia menghilang di balik pintu ruang pribadinya yang masih berada di ruangan itu meninggalkan kedua orang yang saling memandang dengan tatapan berbeda itu. Aaron menatap Alena penuh minat sementara Alena menatap Aaron dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


__ADS_2