Love Me

Love Me
Menitipkan ikan pada kucing


__ADS_3

Tiga hari sudah Alena pergi dan selama itu, ia tidak kunjung memberi kabar kepada Alana.


Membuat Alana cemas memikirkan keberadaan saudarinya itu.


Belum lagi Bram selalu menangis mencari keberadaannya. Alana semakin dibuat bingung dan tidak tahu harus melakukan apa! Menyusulnya. Tentu saja itu opsi yang tidak akan pernah Alana Ambil. Untuk saat ini ia hanya bisa mendoakan saudarinya itu. Semoga dia baik-baik saja disana.


Disisi lain. Alena di bawah ke rumah Sultan yang ada di kota itu setelah Saddam tiba! Dan selama berada di sana mereka terus bertanya dimana Alana! Mulai dari halus sampai dengan cara membentak sudah mereka lakukan, namun pendirian Alena begitu kuat! Dia tetap berpegang teguh pada satu jawaban tidak tahu. Sebab ia tahu, mereka tidak akan berani untuk menyakitinya.


" Apa yang harus kita lakukan! Alena tidak mau mengatakan apa-apa dan orang-orang suruhan aku, belum juga memberikan kabar." Ucap Sultan. Saat ini ketiga pria itu tengah berkumpul, memikirkan langkah selanjutnya untuk menemukan Alana. " Aku tidak bisa menetap lebih lama disini! Ada beberapa kasus yang menunggu untuk aku tangani." Lanjutnya. Menatap bergantian Aaron dan Saddam.


" Kita semua memiliki pekerjaan yang sedang menunggu untuk kita selesaikan. Aku pun rasanya telah lelah." Sahut Saddam, sambil mengusap pelipisnya dengan siku yang menopang pada pegangan kursi yang ia duduki." Lima tahun bukan waktu yang singkat. Dan sejujurnya Aku terlalu menganggap remeh dirinya! Mungkin itu juga yang membuat aku sulit untuk menemukannya." Akunya kepada kedua sahabatnya itu.


" Ya kamu memang benar! Terkadang memiliki istri yang terlalu pintar, tidak akan selalu menguntungkan! Alana misalnya dan apa yang akan kamu lakukan jika menemukannya nanti." Tanya Sultan.


" Apalagi, tentu saja menyeretnya keranjang dan memberikannya pelajaran sampai ia tidak akan berani mengulanginya lagi." Sahut Aaron dengan cepat padahal yang di tanya adalah Saddam. " Benarkan ucapan aku." Ucapnya sembari menatap kedua orang yang tengah berbicara serius itu.


Saddam tersenyum dengan seringai iblisnya. " Menyeretnya ke ranjang! aku bahkan sudah lama kehilangan minat untuk menyentuh wanita! Namun jika kita berhasil menemukannya, maka aku akan membunuhnya, saat itu juga! Agar aku tahu dia sudah tidak ada lagi dan tidak akan ada yang mengusik pikiran aku. Lima tahun ini sudah cukup untuk dia menyiksaku." Ucap Saddam dengan yakinnya.


Sultan mengeleng kepalanya, mendengar ucapan Saddam." Aku berikan lima puluh persen saham di perusahaan aku untukmu, jika kamu dapat melakukan hal itu." Tantang Sultan.


" Aku tambahkan sebuah kapal pesiar." Aaron pun ikut buka suara." Biar aku tanya Heri dan Andika! Apa yang akan mereka tambahkan." Lanjutnya, seraya mengambil ponselnya kemudian menghubungi Andika terlebih dulu.

__ADS_1


Dan sialnya Andika pun ikut-ikutan dengan mempertaruhkan saham di rumah sakitnya dan Heri siap menyerahkan satu hotel bintang lima yang dia punya kepada saddam.


" Apa kalian meragukan aku." Tanya saddam, dia terlihat begitu kesal kepada sahabat-sahabatnya itu.


" Tidak! Aku tidak meragukan kamu! Jika kamu ingin membunuh seseorang! tapi dia, Alana? Tentu saja ini harus di apresiasikan dan kamu berhak mendapatkan hadiah-hadiah itu jika kamu berhasil melakukannya." Ucap Sultan, kemudian tertawa.


" Aku akan melakukannya." Tegas Saddam.


" Oke! Kita lihat saja nanti." sahut Sultan lagi dan Pembicaraan itupun berakhir begitu saja.


Tidak lama setelahnya, ponsel milik Sultan berdering. Pria itu pun segera menjawabnya, begitu melihat Id penelpon yang tertera disana.


" Katakan apa yang kalian dapat." Ucap Sultan kepada orang yang menelponnya. Setelah menekan tombol speaker.


" Itu pasti anak-anak aku." Sahut Aaron, sebelum ia kembali menutup rapat mulutnya, begitu mendapat tatapan tajam dari Saddam dan Sultan.


Setelah mendapat kabar dari orang-orang suruhannya, Sultan langsung mengajak Saddam untuk pergi ke sana. Sementara Aaron menjaga Alena agar tidak kabur. Kedua pria itu terlalu bersemangat mengurus Alana sehingga mereka lupa jika menitipkan ikan pada kucing lapar. Karena setelah kedua orang pria itu pergi! Aaron lantas, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya.


pria itu segera bergegas ke dapur, menyiapkan makan malam untuk Alena, setelah itu ngantarnya ke kamar Alena.


" Ini makan malam kamu." Aaron meletakkan nampan berisi makanan itu di atas nakas samping tempat tidur Alena sementara wanita itu terus menatapnya dengan waspada. " Aku tidak akan melakukan apapun kepada mu! Kalau kamu takut kepadaku aku akan menunggumu di luar." Ucapnya lagi, untuk meyakinkan Alena. Setelah itu ia keluar meninggalkan Alena seorang diri disana.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Aaron kembali masuk kedalam kamar untuk mengecek wanita itu. Dan bibirnya sedikit melengkung saat menyadari makanan dan minuman yang ia bawa untuk Alena! Telah wanita itu habiskan.


" Apa yang kamu campurkan dalam makanan ku?" Tuduh Alena. Saat melihat senyum tipis dibibir Aaron. Dan tubuhnya yang semakin panas dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.


" Apa maksud kamu! Aku tidak mengerti?" Aaron balik bertanya, sekaligus berpura-pura tidak mengerti apa yang di katakan Alena.


" Jangan bohong." Teriak Alena, wanita itu mulai bergerak gelisah. Dia merasakan sesuatu hendak meledak dari dirinya.


" Astaga Alena, apa aku seburuk itu. Sampai kamu menuduhku yang tidak-tidak." Aaron melangkah mencoba mendekati Alena dan wanita itu segera melompat dari tempat tidurnya, menjauh dari Aaron.


" Berhenti disana! Jangan mendekat kepadaku." Teriak ?wanita itu tetapi Aaron tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya. Setelah tiga hari hanya bisa melihat wanita itu tanpa bisa melakukan sesuatu yang lebih. Dan kini ia berhasil menjebak wanita itu dan melepaskan wanita itu begitu saja! Oh tidak, itu bukan ciri seorang Aaron.


" Baiklah, demi kamu aku tidak akan mendekat. " Aaron pun memilih mendaratkan bokongnya pada sofa yang berada di kamar itu. Sambil melihat, seberapa sanggup wanita itu menahan menyiksa dirinya sendiri. Menahan apa yang saat ini di butuhkan Pria itu.


Beberapa menit berlalu, Alena semakin tidak tahan! Rasa panas itu semakin menguasai dirinya, dia hampir saja melepaskan pakaiannya. Tetapi sebisa mungkin wanita itu mempertahankan kewarasannya.


" Butuh bantuan." Tawar Aaron.


" Si-alan, Dasar baji-ngan, Kamu itu menjijikkan..." Ucap Alena, di ikuti segala macam umpatan yang dia lontarkan kepada Aaron, tetapi pria itu tidak menghiraukan umpatan wanitanya itu! Hanya tersenyum penuh kemenangan. Karena dia yakin malam ini dia akan mendapati wanita itu tanpa paksa ataupun penyiksaan! Dia cukup sabar menunggu sampai kewarasan wanita itu habis.


" Sial, aku tidak tahan lagi." Alena pun, segera melepaskan pakaiannya dan memunggungi Aaron. Walaupun pria itu pernah menyentuhnya tapi Alena tidak akan memamerkan bagian da-da serta lembahnya begitu saja kepada ayah dari putranya itu.

__ADS_1


Tanpa dia sadari, dia menciptakan peluang untuk Aaron mendekati nya, pria itu dengan gerakan cepat sudah berada di belakang Alena. Dia tanpa permisi, menyentuh punggung itu membuat! Membuat pertahanan si empunya runtuh seketika. Malam itu Aaron berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Berkat obat perang-sang yang dia campurkan di makanan Alena, sehingga wanita itu dengan sukarela membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk Aaron.


__ADS_2